Cerpen Ida Fitri (Kedaulatan Rakyat, 06 Mei 2018)

Do Gani dan Kota Idi ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Do Gani dan Kota Idi ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

DI antara klakson motor dan mobil dan tukang becak yang memanggil calon penumpang, penjual buah dan pedagang kaki lima menawarkan dagangannya, aku berjalan dengan siku dan dadaku, dengan kata lain, merakak agar bisa bergerak, karena kedua kakiku sudah lama tidak berfungsi, sejak sakit panas menyerangku pada usia dua belas. Kardus bekas kotak rokok kujadikan alas badan, cukup untuk melindungi kulit dari sentuhan langsung dengan aspal jahanam itu, kecuali bagian lengan yang sudah berwarna lebih gelap karena kupakai merakak.

Oh, ya. Kamu cukup memanggilku Do Gani, aku tinggal bersama keluarga kakakku yang miskin di belakang pasar Idi, sehari-hari kakakku berjualan kue di pinggir jalan, sementara suaminya menjadi preman terminal yang menjual tenaganya untuk mengangkut barang, mereka harus menanggung hidup lima orang anak, sementara orang tuaku telah mati saat terjadi pengepungan kota Idi. Mungkin kamu tidak percaya jika kukatakan, kotaku pernah jatuh ke tangan orang-orang Seuhak Daut selama dua belas jam, di mana anak-anak kecil yang sedang mengaji mati, orang tua mati, perempuan mati, pemuda mati, ayah ibuku juga mati. Mereka mati bukan karena dibantai oleh salah satu pihak yang berseteru, mereka mati karena peluru nyasar, itu menurut kabar yang kudengar dari telivisi, radio dan surat kabar.

Jam di dinding warung kopi perempatan kota menunjukkan angka tiga, atap pekong bercat merah mengintip dari balik dinding pagar beton, seperti para dewa-dewi yang diam-diam mengintip ke arah pasar; berpikir untuk bergabung dengan keramaian, mencicipi buah anggur dan apel yang digelar di pinggir jalan, atau memberikan pelaris pada salah satu penjual makanan yang berada di sisi yang lain. Atau mereka kesepian di dalam sana, hanya tak pernah kulihat gerbang tempat ibadah itu terbuka. Menurut Shen, teman tionghoa-ku semasa SD dulu. Saat itu, aku masih bisa berjalan dengan kedua kakiku, mereka bersembahyang dengan menggunakan dupa dan membakar uang di pekong pada hari raya, tapi Shen dan keluarganya telah lama pindah, setelah tragedi kotaku dikuasai orang-orang Seuhak Daud selama dua belas jam.

Perempuan yang berprofesi sebagai tukang parkir memindahkan kardus di atas tempat duduk sebuah motor matik, menerima selembar uang seribu rupiah dari lelaki pemilik motor yang segera meninggalkan tempat itu. Dua perempuan muda yang baru keluar dari sebuah warung mi Aceh dengan menenteng bungkusan mi, menuju motor bebeknya dan mengangsur selembar dua puluh ribu pada perempuan tukang parkir. Wajah perempuan tukang parkir berubah keruh, mengacak-ngacak isi tas pinggangnya untuk mengembalikan uang perempuan muda. Setelah kedua perempuan muda pergi dengan motor bebeknya, perempuan tukang parkir mulai memaki, “Dasar sombong! Kenapa pula harus memberikan uang dua puluh ribu padaku? Ingin mengejekku? Tarif parkir hanya seribu! Seribu yang celaka!”

Aku kembali merakak meninggalkan perempuan tukang parkir bermulut tajam, melewati penjual jeruk yang menggelar dagangannya di pinggir jalan, tepat di depan pintu Pekong. Jeruk ranum berwarna oranye, menggoda orang-orang yang berlalu-lalang, salah satu di antara mereka, perempuan paruh baya berlipstik tebal berjongkok sambil menyeret anak perempuan berusia enam tahun, “Yang itu lima belas ribu sekilo,” tawar penjual jeruk sambil menyapu keringat di dahinya.

“Sepuluh ribu, bisa?”

“Sepuluh ribu yang di sebelah sana, Mak Cek. Lihatlah buahnya lebih kecil.”

“Saya mau yang ini,” ujar si perempuan paruh baya sambil memilih-milih buah jeruk.

“Tidak bisa, Mak Cek. Tapi dua kilo saya kasih dua puluh tujuh ribu saja untuk Mak Cek.”

“Tarok sepuluh ribu saja, tidak apa tidak sampai satu kilo.”

Wajah penjual jeruk menjadi sedikit keruh, tapi ditimbangnya juga jeruk-jeruk yang dipilih oleh perempuan paruh baya, lalu setelah mengangsur uang sepuluh ribu, perempuan itu berlalu sambil menyeret anak perempuan yang kini sedang mengupas jeruk di tangannya. Betapa segarnya jeruk itu, kerongkonganku menjadi sangat kering.

“Dasar pelit, pakai gelang dan cincin emas, beli jeruk hanya sepuluh ribu. Sepuluh ribu yang celaka!” maki penjual jeruk di belakang perempuan itu.

Dari toko penjual baju perempuan di depan sana, aku melihat penjaga toko berlari keluar sambil menenteng selembar celana berpaha besar, berusaha mencegah seorang pembeli yang ingin keluar dari tokonya, “Kakak mau berapa juga?”

“Saya hanya punya seratus dua puluh ribu.”

“Baiklah, saya berikan untuk kakak, yuk masuk dulu.” Perempuan calon pembeli kembali ke dalam toko. Saat tiba di depan toko itu, aku melihat, perempuan itu mengangsur tiga lembar lima puluh ribu pada penjaga toko, seketika wajah penjaga toko berubah keruh. Setelah perempuan pembeli meninggalkan toko, seperti menirukun tukang parkir dan penjual jeruk, penjaga toko juga mulai memaki, “Katanya nggak punya uang! Padahal…, seratus dua puluh ribu yang celaka!”

Dari arah masjid terdengar lantunan ayat suci, pertanda sebentar lagi azan asar berkumandang, aku kembali merakak, menuju ke arah pasar sayur, para tukang sayur di sana berhati cukup dermawan, mereka suka memberiku tomat, wortel dan sayur layu, sisa dagangan mereka. Yang akan dimasak kakakku untuk teman makan kami, atau jika sedikit lebih segar bisa digunakan untuk olahan bakwan yang akan dijualnya keesokan hari.

Tidak mengenal perempuan berbaju dinas yang tiba-tiba berjalan ke arahku, aku memandangnya tak berkedip, seraya bertanya-tanya apa yang hendak dia lakukannya padaku. Perempuan itu mengeluarkan selembar sepuluh ribu dari saku bajunya, dan mengangsur begitu saja padaku lalu meninggalkanku. Sebelum dia lebih jauh meninggalkanku, aku mengucapkan terima kasih, dia berpaling sebentar, ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, lalu dia kembali berjalan dan menyetop sebuah becak yang kebetulan lewat.

Menatap sepuluh ribu yang berada di tangan, aku berguman, “Sepuluh ribu yang tidak celaka!”

 

*) Ida Fitri, lahir di Bireuen, 25 Agustus. Kumcer pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong (Basabasi, 2017)

Advertisements