Cerpen Doni Ahmadi (Koran Tempo, 05-06 Mei 2018)

Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Cerita Dodit

Dalam pengakuannya, pembunuh itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak berniat membunuh kawan saya, Joni. Begini pembelaannya, “Saat itu saya sedang membawa televisi dan sudah mengantongi beberapa jam tangan serta gawai dari ruang tamu korban, namun tiba-tiba korban keluar dari kamarnya, saya pun reflek dengan melepas televisi tersebut dan segera menodongkan bedil ke arahnya, namun korban malah tersenyum, korban juga menyuruh saya agar segera melepaskan tembakan ke arahnya. Saya heran, dari mana korban tahu saya membawa bedil, saya pun berusaha kabur ke arah jendela yang saya rusak, tapi saat saya mencoba kabur ia malah mengancam akan menelepon polisi dan mengatakan jika saya tidak menembaknya maka rencana masa depannya akan gagal, saya betulan dibuatnya bingung. Ancaman dari korban tidak main-main, ia juga langsung mengambil gawainya dan mengancam untuk segera menelepon polisi. Karena saya tidak punya pilihan lain, saya pun menembakkan timah panas ke arahnya.”

Saya yakin, itu hanyalah omong kosong.

Rahasia Penulis Joni

Setelah menyelesaikan seluruh tugas kantor—mengedit naskah yang akan tayang besok—saya memang terbiasa menikmati sore di taman dekat kantor alih-alih pulang ke rumah. Saya akan membaca, menghisap beberapa batang rokok, menikmati kopi hangat sambil menunggu malam, atau lebih tepatnya menunggu jalanan lenggang. Ya, ini jadi kebiasan yang menyenangkan buat saya ketimbang harus menghabiskan waktu dengan bermacet-macet di jalan. Sayang betul umur jika dihabiskan hanya untuk menikmati macet.

Kebiasan inilah yang membuat saya bertemu dengan Tuan Trout dan kesampaian untuk menjadi penulis terkenal di masa depan.

Waktu itu, tepatnya 20 Mei 2018, saya yang sedang duduk membaca di taman dikagetkan oleh suara seperti benda jatuh. Sebetulnya suara itu tidaklah terlalu berisik, tidak juga mengganggu orang lain yang berada di taman, hanya saja bunyi itu cuma berjarak satu meter di belakang bangku tempat saya duduk yang otomatis membuat menoleh.

Advertisements