Cerpen Zhilan Zhalia (Rakyat Sumbar, 05-06 Mei 2016)

Bestie ilustrasi Rakyat Sumbar
Bestie ilustrasi Rakyat Sumbar

 

AKU berlari kencang mengejar seseorang yang meninggalkaanku.

“Ivannn!” teriakku memanggil.

Kemudian ia memberhentikan sepeda dan membalikkan badannya, “Apaa?” tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi.

Aku pun segera menghampirinya, “Kamu main tinggal saja,” ucapku segera berdiri di pijakan sepedanya.

“Ya kamunya yang lelet,”ucapnya sambil melajukan sepedanya.

Akhirnya kami sampai di sekolah dengan selamat, walaupun ada sedikit ada adu mulut di tengah jalan.

Ivan adalah sahabat baikku dari kecil. Kami sebaya. Rumah berdekatan, anak tunggal, sejak TK sampai sekarang masih sekelas, tak pernah pisah kelas. Tetapi semua karakter kami terbalik, aku heboh, dia tidak. Aku biasa saja, dia pintar.

“Ehm, dua sejoli kita datang nih guys!” sorak Fadli si biang kerok kelas, menyambut kehadiran kami di kelas.

Aku hanya memutar kedua bola mataku dengan dengusan. Ivan mengabaikan kata-kata Fadli. Kelas memang begitu, apalagi si biang kerok kelas, pembuat gosip tanpa fakta. Kalau Fadli tidak masuk sekolah, kelas terasa seperti kuburan, hening tanpa suara.

Tak lama Bu Isna datang sambil mendekap sejumlah buku. Pelajaran segera dimulai.

“Apa, buk? Ulangan?” histeris Fadli.

“Memangnya kamu ke mana saja saat ibu beritahu?” tanya Bu Isna. Fadli hanya menggarukkepalanya yang tidak gatal itu sesekali cengengesan.

Ulangan pun berlangsung. Suasana terasa sepi.

“Kamu tahu nomor 15?” tanya Ivan kepadaku saat ulangan baru berlangsung lima menit. Aku pun menggeleng dengan cepat agar Bu Isna tidak melihat kami.

“Ini…” Ivan memberikan seelembaran kertas dengan jalan yang panjang, ya sekarang sedang ulangan Matematika.

“Serius kamu?” tanyaku. Ia pun menggangguk.

“Ivana, Ivan kalian sedang ngapain?” tanya Bu Isna.

Tenggorokanku tercekat. Begitu juga dengan Ivan. Bu Isna adalah guru matematika yang sangat galak, kalau bercanda di waktu pelajaran, kalian akan ditunggu di depan pintu kelas saat pelajaran Bu Isna selesai.

***

Akhirnya kami di hukum membersihkan kelas, belum lagi Fadli yang makin membuat kelas semakin kotor, “Fadli! Stop! Gue sama Ivana udah capek beresinnya!” bentak Ivan.

“Hoho… ga salah aku. Salah kalian, kenapa kalian nyontek? Nakal-nakal gini, aku juga pintar,” ucapnya sambil duduk di atas meja dan menyeruput minumannya. Aku pun masih fokus dengan menyapu kelas. Ivan masih berdebat dengan Fadli.

“Stoopp, Fadli! Udah, kamu keluar sana! Jangan ganggu aku sama Ivan!! Apa kamu mau bantuin aku bersihin kelas? Capek tau, Fad! Capek,” bentakku sok dramatis.

Akhirnya Fadli pun luluh.Ia mana bisa dibentak cewek.

“Keren banget kamu,” ujar Ivan berdecak kagum.

“Ih, biasa aja kali. Aku masih marah sama kamu karena kamu, aku kena hukuman,” ujarku memalingkan muka dari wajah Ivan.

“Mengapa juga kamu mau menerima contekan dariku? Lemah benar imanmu.”

“Jadi itu kunci asal-asalan?” ucapku kaget.

“Iya,” ucapnya santai.

“Dasar banget anak satu ini! Kenapa aku bisa kenal sama dia?” ucapku setengah berteriak. Ivan tetap terkekeh dan meninggalkan kelas.

“Ehhhh Ivan! Mau kemana?” teriakku.

Ya beginilah kami, di mana-mana selalu ada debat, walau sering berdebat, tapi kami tak bisa dipisahkan. Aku berharap tidak akan berpisah selamanya.

***

Sudah seminggu ini aku tidak melihat Ivan, rumahnya kosong. Aku sudah menghubunginya, namun tak satu pun nomor kontaknya yang aktif. Aku heran kepada Ivan dan keluarganya sekarang. Biasanya mereka akan memberikan kabar atau setidaknya menitipkan kunci dirumahku. Sudah seminggu ini pula aku harus mejalankan hidup tanpa Ivan.

Kelasku sudah bertanya tanya ke mana perginya Ivan, tak biasanya aku pergi menggunakan angkutan umum, melaikan bersama Ivan.

“Mana Ivan?” tanya Fadli ucapnya menghampiri mejaku. Aku hanya mengangkat ke dua bahuku yang mengartikan ‘tidak tau’.

“Serius kamu tak tahu? Masa? Kamu kan dari dulu dekat sama Ivan, masa tak tahu kemana ia pergi?” Fadli tetap mengajakku bicara. Tetapi aku enggan membalas perkatannya.

Besoknya aku melihat Ivan pulang ke rumah. Ada perubahan dari hari-hari sebelumnya. Aku segera menghampiri Ivan. “Van! Kemana aja? Kok pergi tak bilang-bilang? Semua juga mencari kamu,” ucapku. Ivan hanya membalas dengan senyuman tanpa arti.

“Hei! Jawab dong!” desakku.

“Maaf, Na. Aku tak kuat untuk menyampaikannya, apalagi kamu,” ucapnya menunduk.

“Ada apa? Ayo cerita! Aku suka cerita! Kamu juga sudah lama tak ngomong serius sama aku!” ucapku.

“Besok aku pindah!” ucapannya tegas. Aku tersentak.

Tenggorokanku tercekat mataku memedas. Mengapa Ivan pindah?

“Hah? Ke mana? Kenapa?” tanyaku sambil menyeka air mataku.

“Papaku ditugasin ke luar kota. Walaupun itu aku tak akan melupakanmu.”

“Hahah! Nggak mungkinlah! Papa Tio kan juga sering tugas di luar kota. Jangan ngaco deh, Van! Kan aku jadi nangis,” ucapku tak percaya sambil memukul lamban bahunya.

Tak lama datanglah mama putri, mamanya Ivan. Ia menghampiri kami berdua.

“Tadi mama dengar, Ivana nangis ya? Ivana bilang Ivan bohong? Semuanya benar, Na. Apakah selama ini, mama, papa sama Ivan pernah bohong ke Ivana? Nggak kan? Mama, papa sama Ivan bakal pindah ke Jogja. Tapi Ivana janji! Ivana tak boleh nangis. Nanti kami bakal balik ke sini kok. Janji…” ujar mama Ivan sambil menahan air mata.

Mama Putri dan Papa Tio adalah orang tua Ivan. Mereka juga aku anggap seperti kedua orang tua ku sendiri juga. Mereka baik sekali, pernah suatu hari mama dan papa harus pulang malam, aku dititipkan pada keluarga Ivan. Mereka juga sering mengajakku ke mall agar aku tidak nangis di tinggal mama dan papa sewaktu kecil. Ivan pun begitu.

***

Hari ini keberangkatan Ivan ke Jogja. Aku, mama dan papa juga ikut serta mengatar mereka. Aku tidak mempunyai kakak maupun adik, mama dan papa juga sibuk, tanpa Ivan mungkin aku akan kesepian. Hanya Ivanlah sahabat terdekatku.

Tiba di bandara, semuanya berderai air mata, tak sanggup melepas yang telah lama bersama. Sedih sekali Ivan pergi. Sebelum pergi, Ivan memberiku amplop kecil sebanyak 10 buah. Sebelum membukanya ada syarat di amplop kecil itu. Syaratnya sesuai dengan pesan di sampul amplop itu. Ada yang, buka ketika kamu sudah lulus! Congrast! Buka ketika aku melupakanmu, buka ketika dapat teman baru. Melihat pesan yang menjadi syarat itu, aku terkejut.

“Ivan! Kamu sudah janji sama aku kemarin kan?” ucapku.

“Buka ketika kamu udah dapet teman baru! Cieee!”

“Iyaa bawel,” ucapnya lembut.

Ivan dan keluarganya menghilang di balik kerumunan orang-orang menuju ruang tunggu bandara. Aku sungguh sedih sekali apalagi mama yang tidak bisa lagi meminjam kebutuhan dapur ke mama Putri.

***

Dua tahun kemudian.

Aku membuka tirai jendela, ternyata hari sudah pagi. Langkah gontai aku menuju kamar mandi. Selesai dari kamar mandi dan berkemas, tiba-tiba ada suara klakson mobil sangat keras persis di depan rumah.

“Siapa sih pagi-pagi berisik?” ucapku meihat keluar jendela.

Ternyata sebuah truk berhenti di depan rumah yang ditinggalkan keluarga Ivan. Aku berpikir, truk siapa? Setahuku, rumah Ivan tidak dijual. Pikiranku belum loading.

“Ivannnnn! teriakku segera menuruni anak tangga dengan cepat.

Saat aku membuka pintu rumah, aku melihat mama Putri dan papa Tio menangis. Kenapa? Seharusnya mereka bahagia bisa pulang ke rumah lama mereka.

Aku pun menghampiri mereka. Mama Putri memelukku erat dan kubalas pelukan hangat itu. Mama Putri menangis tersedu-sedu.

“Ma, mana Ivan?” ucapku menekan kata-kata Ivan. Mama dan papa semakin menangis. Aku tidak mengerti. Aku melihat ada anak laki-laki menuruni truk tersebut. Aku pun melepaskan pelukan dari mama dan mengejar Ivan.

“Ivaaann!” ucapku.

Ivan hanya tersenyum tipis dan sibuk mengambil barang-barangnya.

“Van! Kamu tak kenal aku?” ucapku berteriak, karena ia memasuki rumahnya. Mama dan papa keluar rumah melihat keluarga Ivan datang.

Semejak dua tahun Ivan di Jogja, kami tidak pernah kontak-kontak sama sekali. Hapenya selalu sibuk, terkadang mati, terkadang hidup. Apalagi mama Putri dan Papa Tio, mereka jarang sekali memegang handphone.

Mama putri menghampiriku.

“Na, yang sabar ya,” ucap mama Putri mengelus pundakku.

“Kenapa, Ma? Ivan kenapa?” ucapku juga ikut berderai air mata.

“Ivan…hiksss Ivan…” mama Putri tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Kenapa, Ma? Pa, Ivan kenapa?” tanyaku menghadap papa.

Papa Tio menunduk, “Ivan amnesia, dia tak bisa ingat apa-apa lagi.”

Mendegar ucapan papa Tio, hatiku bagaikan ditusuk, rindu dan penatian panjang telah sirna dengan satu nama penyakit itu. Ivan, tidak akan ingat Ivana.

“Belum ada yang bisa ia ingat, Na…” lirih mama di ruang tamunya.

Ivan juga duduk di sana. Aku pun mengingat sesuatu. Secepat kilat aku berlari ke rumah mengambil amplop bersyarat, yang di sampulnya tertulis; buka ketika aku melupakanmu.

Aku pun memberikannya kepada Ivan. Ivan menggeleng, mengartikan ‘tidak tau’ hilanglah sudah harapan yang telah terpendam dengan rindu. Ivan tidak mengingat Ivana. Semuanya harus kembali kulakukan agar besok atau lusa Ivan mengingat semuanya. (*)

 

Penulis adalah pelajar SMP Islam Al Azhar 32 Padang.

Advertisements