Cerpen Firdaus Abie (Rakyat Sumbar, 05-06 Mei 2018)

Amak ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Amak ilustrasi Rakyat Sumbar

HARUSKAH aku datang sekarang, membawa resah dan bara tak terhingga? Jika aku datang, seonggok budi sudah ku tanam padanya. Tapi, demi amak, biarlah. Aku tak kuat mendapatkan amak merintih. Memar di lengan amak, perih di batinku. Goresan di pipi amak, luka di ragaku. Demi amak, tak apalah. Sekali ini aku menghutang budi padanya.

Siti membatin.

Gemuruh jantung Siti tak kunjung berhenti. Batinnya perih. Memar di kedua lengan amak membuat hatinya tersayat-sayat. Orang tua yang sejak kecil merawat dan membesarkannya seorang diri, mengalami penyiksaan.

Lebih pahit lagi, amak disiksa karena mempertahankan hartanya, kekayaan yang kami miliki. Amak dianiaya karena harga diri. Hasil jerih payah abak dari amak, banting tulang siang malam, direnggut begitu saja. Upaya paksa itu dihubungkan dengan pembangunan. Kata mereka yang memaksa amak, ini demi pembangunan. Demi pembangunan, rakyat dipaksa dan disiksa. Ciss…!

“Tanah dan bangunan ini memakan badan jalan!” hardik seorang petugas seperti diceritakan Pak Hamdan, tetangganya.

“Jalan yang mana?” tanya amak.

“Jalan yang akan dibangun.”

“Bukan bangunan yang memakan badan jalan, tapi jalan ini yang memakan pekarangan dan rumah saya,” balas amak.

Jawaban amak membuat petugas mamburangsang [1] dan sejak saat itu, amak dibuat tak berkutik oleh petugas-petugas tersebut. Tangisan dan raungannya ketika menyaksikan alat-alat berat membongkar rumah, tak dihiraukan. Setelah semua hanya menjadi puing-puing, petugas itu meninggalkan amak yang terkapar pingsan.

“Kami sudah berusaha untuk menghadang, tetapi jumlah aparat melebihi jumlah warga. Mereka juga dipersenjatai,” jelas Pak Hamdan.

Siti terpurangah. Dia datang terlambat. Ketika di kampus, ia dapat kabar kalau ada pembongkaran paksa di Nagari Matipucuak. Darahnya tersirap, ia menduga pembongkaran paksa itu akan sampai ke rumahnya, sebab hanya rumahnya dan rumah Pak Hamdan yang belum dibongkar.

Begitu mendapatkan kabar, Siti langsung cabut dari kampus. Tapi ia terlambat. Ia sampai ketika semua sudah usai, dan hanya mendapatkan amak dalam kondisi pingsan. Ada memar di lengan dan goresan luka di pipinya.

Dadanya turun naik, sehingga dua tonjolannya tampak bergerak. Ada gemuruh dalam batinnya. Ia tak terima perlakuan buruk ini. Baginya, amak adalah segala-galanya.

Sejak kecil, ia hanya merasakan kasih sayang amak dan berusaha untuk melupakan abak, walau terkadang rindunya pada abak datang melintas.

Kata amak, abak pergi ketika Siti masih berusia dua tahun. Mulanya, ia pergi hanya untuk mencari kerja di ibukota kabupaten. Ia tak sanggup lagi untuk bertani. Amak melepas kepergiannya. Sejak pergi, jangankan pulang, kabar pun tak pernah dikirim.

Hingga sekarang, status amak masih digantuang indak batali [2] oleh abak. Hanya saja, amak tidak pernah sakit hati atau marah. Ia masih setia menunggu. Amak pernah menyampaikan pada Siti, ia akan tetap menanti abak pulang sehingga menolak secara halus pinangan Incek Saka, duda tanpa anak yang kematian isteri.

Sehari setelah kejadian, Siti memutuskan untuk tidak kuliah. Ia sudah berjanji akan membawa amak kepada seniornya di kampus. Setidaknya bisa menenangkan batin amak sebelum mengambil langkah-langkah berikutnya. Siti tak bisa menerima perlakuan semana-mena tersebut.

Ia kemudian teringat seniornya. Satu kampus, namun berbeda fakultas. Siti kuliah di fakultas kedokteran, temannya tersebut kuliah di fakultas hukum. Keduanya berkenalan secara tak sengaja, ketika sama-sama mengikuti pelatihan kepemimpinan dasar.

Sejak perkenalan pada pelatihan tersebut, keduanya sering jumpa di perpustakaan atau di rektorat. Sejak itu, keduanya semakin akrab. Belakangan Siti tahu kalau kawan barunya tersebut seorang pegawai negeri.

“Setidaknya, kita bisa mencari tahu langkah terbaik,” kata Siti kepada amak. Amak menurut. Ia berharap, teman Siti tersebut dapat menjadi penawar bagi penganiayaan yang dialaminya.

Harapan Siti, sebenarnya melebihi harapan amak. Kepedihan yang dirasakan amak bisa terobati, sembari ia bisa jumpa Dahlir, lelaki ganteng yang berpenampilan tenang, lembut, penyabar dan taat ibadah.

Sosok ideal yang ada dalam pikirannya. Berbeda dibandingkan abaknya yang seakan hilang ditelan bumi, sebelum ia dapat merasakan kasih sayang abak sesungguhnya.

Kepadanya, amak sering memuji abak. Ia seorang lelaki yang gagah. Tenang dan terkesan pendiam. Pernikahan abak dengan amak karena dijodohkan orang tua.

Pesta pernikahan berlangsung meriah. Keluarga abak tergolong orang terpandang di kampung. Begitu pun keluarga amak.

Setelah kelahiran Siti, abak sering gelisah. Ia tak mau lagi bekerja di kampung, padahal sawah dan ladang pembagiannya dari orang tua tergolong besar. Sebelum abak merantau, semuanya sudah diberikan kepada amak. Amak tak curiga sama sekali. Sejak kepergian abak, jangankan pulang, kabar pun tak pernah datang. Hanya saja, amak tetap yakin, saatnya abak akan pulang.

Siti hanya bisa menatap foto abak dan amak ketika keduanya menggenakan pakaian pengantin. Itu pun hanya ada dua foto. Keduanya dipajang di ruang tamu.

Perjalanan ke rumah Dahlir termasuk melelahkan, karena keduanya harus menaiki ojek. Beberapa kali ojek terpaksa berhenti sejenak karena amak merasakan sakit-sakit di punggungnya. Malahan beberapa kali ojek yang ditumpangi amak sempat oleng, karena amak terkantuk-kantuk.

Setelah bertanya kepada beberapa orang yang dijumpai, akhirnya Siti dan amak menemukan juga rumah lelaki ganteng itu. Ada gemuruh dalam dada Siti. Ini kali pertama ia ke rumah lelaki yang menjadi sosok ideal dalam pikirannya.

Setelah mengucapkan salam di depan pagar rumah Dahlir tiga kali, seorang perempuan menghampirinya.

“Maaf, uni [3]. Benarkah ini rumah uda Dahlir?” tanya Siti yakin.

“Benar. Anda siapa?” tanya perempuan itu. Siti menduga, perempuan tersebut pasti saudaranya Dahlir.

“Saya Siti, yunior uda Dahlir di kampus,” jawab Siti mantap. Perempuan itu kemudian mempersilakan Siti dan amak masuk.

“Uda [4] Dahlir sedang di kamar mandi. Sebentar lagi juga selesai,” kata perempuan tersebut, kemudian mempersilakan Siti dan amak duduk, lalu ia minta izin ke dapur.

Siti kemudian menceritakan perihal lelaki yang hendak ditemuinya kembali kepada amak. Bagaimana awal perkenalannya hingga sampai ia begitu akrab. Ada kekaguman dalam kalimat-kalimat Siti kepada amak tentang Dahlir.

Ketika ditanya amak, siapa perempuan tersebut, Siti terdiam. Ia tak bisa menjawab, sebab ia pun tak tahu. Selama pertemanan dirinya dengan Dahlir, sama sekali tak belum pernah menceritakan tentang kehidupan pribadi. Siti sengaja tidak menanyakan, sebab sekalipun berlahan ia mulai mengagumi Dahlir, namun dirinya masih menyimpan rapat-rapat kekaguman tersebut.

“Mungkin adiknya,” Siti menjawab singkat. Ada senyuman tersungging di bibir amak. Senyuman yang ganjil.

Tak lama, perempuan yang membukakan pagar, kembali. Ia membawa nampan berisi gelas dan dua botal kue kering.

“Silakan diminum dan dicicipi kuenya,” sapanya sembari meletakkan kedua gelas dan botol kue kering.

Baru saja Siti dan amak mengangkat gelas untuk meminum teh manis yang disuguhkan, sebuah langkah berat dari belakang mengarah ke ruang tamu.

“Uda, ini tamu yang mencari uda,” kata perempuan tersebut sembari berdiri dan mengapit mesra lengan lelaki yang dicari Siti dan amak.

Amak terpana. Tatapannya nanar. Ia seperti mengenal wajah lelaki itu. Dicobanya mengingat. Terus diingatnya. Keningnya tambah berkerut. Berlipat-lipat. Kemudian matanya dipejamkan, menjemput waktu-waktu yang telah berlalu.

Amak menatap tajam kepada lelaki itu. Siti pun demikian. Ia melihat ada perubahan di wajah amak. Diamati raut wajah amak, seakan memendam sesuatu. Tatapannya pun kemudian beralih kepada Dahlir. Juga ada perubahan dalam raut wajah Dahlir.

Tatapan Siti kemudian beralih kembali kepada amak. Bibir amak bergerak. Gerahamnya bergemertak. Nafasnya naik turun tak karuan. Tatapan mata amak semakin liar kepada Dahlir. Nafas amak pun turun naik semakin tak karuan. Belum sempat Siti bertanya, sekelabat tangan kanan amak mengusap goresan luka di pipinya. Usapan itu berulang dilakukan. Siti tak paham apa yang dilakukan amak.

Kemudian amak roboh.

Pingsan! []

 

Kapehpanji, 13 Februari 2013

 

(Footnotes)

[1] Marah semarah-marahnya.

[2] Tidak ada kepastian

[3] Panggilan kepada perempuan yang lebih tua

[4] Panggilan kepada lelaki yang lebih tua

Advertisements