Cerpen Ulfatin Ch (Kedaulatan Rakyat, 29 April 2018)

Senja di Zaman Now ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Senja di Zaman Now ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

LANGIT masih seperti dulu. Burung-burung masih siap berkicau merdu. Bunga pukul empat, bunga matahari masih riang bertengger di atas dahannya. Harum melati merasuk di hati. Anggrek yang mengangguk-angguk sesekali ditiup angin sepoi ke kiri dan ke kanan seolah mengikuti tarian maumere. Meski suasana alam tetap indah dan sahdu, namun udara panas musim pancaroba menjadikan manusia atau beberapa di antara kita menjadi sedikit bertemperamen tinggi dalam menghadapi persoalan kehidupan jaman now.

Mila masuk rumah. Ia baru saja pulang sekolah ketika matahari sudah condong ke barat, bahkan tak jarang juga pulang malam. Alasannya, ada ekstrakurikuler, ada kerja kelompok, atau sekedar refresing di warnet, movie box atau di gedung bioskop. Macam-macam saja alasan mereka. Tapi begitulah kenyataannya. Ayah-ibunya pun pulang menjelang matahari terbenam. Karena lalu lintas padat dan macet, sehingga harus menunggu longgarnya jalan.

Mila meletakkan tas sekolah dan mengganti baju, telpon selulernya sudah bolak-balik berbunyi line-thung, line-thung, line-thung tak henti-hentinya memanggil minta diperhatikan yang punya. Mila diam saja seolah tak menanggapi panggilan HP-nya. Namun begitu selesai ganti baju, Mila langsung bersanding dengan telponnya, memencet tuts dengan jari-jari kedua tangannya, membaca setiap pesan yang tertulis di layar HP. Ada tugas sekolah yang dikirim via WhatsApp oleh gurunya sudah menunggu. Mila pun mulai membuat jawabannya yang harus dikirim ditempat yang sama sampai batas waktu pukul 00. Sementara di line ada kabar Dino terserempet motor, tak seberapa lukanya, tapi sempat di cek ke rumah sakit terdekat. Kawan-kawannya pun memberikan empati di kolom komentar line grup. Mila pun ikut mengucapkan rasa empatinya.

“Dino, ikut prihatin. Semoga lekas sembuh ya.”

“Halo, Dino. Lain kali lebih hati-hati mengendarai motornya. Sekarang istirahat dulu, Din.” Kata yang lain di layar line.

“Dino, semangat ya.” Dan masih banyak lainnya. Mila tak membaca semua tulisan di grupnya. Ia kembali pada tugas sekolah yang harus segera dikumpulkan. Apalagi Dino yang masih menjalani perawatan tentu belum membuka HP.

Senja sudah mulai benar-benar tenggelam ketika Adin, kakak Mila pulang. Ia letakkan tasnya di pojok meja keluarga lalu ia mengeluarkan HP-nya, asyik dengan kiriman-kiriman grup dan Adin sibuk memberikan komentar balasan. Adin tak melihat Mila ada di satu meja dengannya, begitu juga Mila masih sibuk dengan tugas sekolahnya.

Udara malam mulai terasa dingin, tapi mereka berdua belum membuka pembicaraan atau bahkan mereka tak sempat untuk bicara. Keduanya masih sibuk dengan alat komunikasinya masing-masing. Adin sibuk mengomentari teman-teman grupnya di HP, Mila sibuk dengan tugas sekolahnya yang harus segera dikumpulkan sebelum tengah malam. Mereka kakak beradik, tapi tak bercengkrama seperti layaknya keluarga tempo dulu. Mereka lebih intens bercengkrama dengan kawan-kawannya yang jauh, bahkan mungkin kawan yang teramat jauh tempatnya. Mereka bisa sedekat dan seakrab seperti keluarga meski jarak tempat mereka berjauhan. Tapi dengan saudara yang dekat justru mereka hanya bertatapan saja, bahkan jika ada keperluan bersama mereka hanya saling kontak lewat HP layaknya kawan jauh. Ungkapan bahwa tempat dan jarak tak menjadikan persoalan dalam persaudaraan ternyata mungkin akan segera berubah, bahwa yang jauh akan terasa dekat dan yang dekat akan terasa jauh karena persoalan komunikasi. Bagaimana tidak, persoalan komunikasi sudah beralih pada teknologi. Atau kita sudah diperbudaknya?

Pagi kembali beranjak. Kesibukan kami masing-masing menata keperluan masing-masing. Mila sudah berangkat lebih awal. Adin menunggu HPnya dicas. Ayah-Ibu sudah siap berangkat kerja.

“Mila, aku pinjam tasmu ya.” Tulis Adin di WhatsApp Mila.

“Pinjam terus. Kapan punya?” Jawab Mila di Whats-App.

“Nanti aku beli. Sekarang pinjam dulu.Ok!” balas Adin.

“Huh, dasar tukang pinjam.” Balas Mila. Adin pun berangkat dengan menenteng tas Mila ketika jarum jam sudah menunjuk angka delapan. Ia buka HPnya sebentar lalu menyimpannya di saku baju.

“Ibu, Adin berangkat. Hari ini ada tugas kuliah ke luar, mungkin menginap.” Pamit adin pada Ibunya lewat WhatsApp.

“Hati-hati, nak.” Jawab Ibu Adin. Adin pun menjawab, “ya,” lewat HP juga. Hari sudah berjalan sekian tahun tanpa terasa mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Ayah-Ibu mereka kini sudah tak bekerja lagi dan tinggal di rumah saja. Sesekali mereka menyibukkan diri dengan berbagai tanaman bunga di halaman rumah yang sudah dipenuhi dengan batako. Mereka menanam bunga-bunga didalam pot-pot yang diletakkan di lantai batako atau digantungkan dipinggir-pinggir atap rumah yang diberi paku.

Lama sekali ibu menggantungkan anggrek yang habis dibersihkan daun-daun keringnya. Beberapa kali ibu mencoba menaruhnya di paku yang ditancapkan di plafon agar anggreknya bisa menggantung, tapi gagal. Akhirnya ibu menyerah dan meletakkan pot anggrek di dekat dinding rumah bersama adenium dan lidah mertua. Ketika ayah pulang dari tetangga sebelah, Ibu menyuruhnya memindahkan anggrek ke gantungan plafon.

Selain Ibu, Ayah pun gemar menanam tanaman terutama kaktus. Beberapa macam kaktus bertengger dipot-pot kecil. Sebelum senja benar-benar sempurna, ayah selalu mendagir media yang menutupi kaktus. Sesekali Ayah menyiramnya dengan sedikit air, karena kaktus memang tidak banyak membutuhkan air seperti anggrek atau mawar yang mesti disiram pagi dan sore.

Senja sudah menanjak pergi, ketika Ayah-Ibu menyelesaikan bertamannya. Sebuah kabar tertulis di layar WhatsApp dan Ibu membacanya.

“Ibu, malam ini Adin dalam perjalanan ke rumah bersama anak-anak.” Kata Adin. Wajah Ibu pun sumringah membaca pesan itu, tapi kemudian Ibu tertegun sejenak membayangkan cucu-cucunya yang tak pernah berhenti kejar-kejaran atau asyik bermain dengan gadgetnya. Mereka seakan tak mempedulikan kerinduan nenek-kakeknya yang ingin juga bercanda. Wajah Ibu pun bersungut membayangkan itu. Ibu merasa tersisih dari mereka yang hanya menyapa ketika datang dan pulang, selebihnya mereka sibuk dengan permainannya sendiri tanpa mempedulikan nenek-kakeknya.

“Ibu, bu,” kata Ayah mengagetkan lamunan Ibu. “Apa pesan Adin?” kata Ayah kepada Ibu yang masih terbawa dengan lamunannya.

“Kenapa Ibu melamun?” kata Ayah kembali pada Ibu.

“Iya, Yah. Ini baru mau saya balas WhatsApp Adin.”

“Apa pesan Adin?” tanya Ayah mengulangi pertanyaannya.

“Sebentar, Yah. Ibu jawab WhatsApp Adin dulu ya.” Kata Ibu sambil jari tangannya menari diatas layar HP touchscreen. Baru kemudian Ibu menjelaskan kepada Ayah, kalau Adin malam ini sedang dalam perjalanan ke rumah. Ayah pun terlihat senang mendengarnya, tapi sebentar kemudian diam. Lama Ayah terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin seperti apa yang dipikirkan Ibu. Ayah membayangkan betapa senangnya anak cucunya datang mengunjunginya. Tapi juga sedih, karena mereka datang pun asyik dengan gadgetnya sendiri-sendiri. Padahal, Ayah ingin bermain bercengkrama dengan mereka.

Senja sudah hampir terlewat, malam mulai merangsek masuk dari celah-celah jendela dan menanjak semakin jauh menenggelamkan pikiran Ayah-Ibu yang menunggu kedatangan anak-cucunya. Tapi yang ditunggu belum juga datang. Ayah-Ibu pun terlelap dalam guratan cahaya bulan. n-e

 

Yogyakarta, 2018

Advertisements