Cerpen Mira Pasolong (Fajar, 29 April 2018)

Perempuan ilustrasi Fajar.jpg
Perempuan ilustrasi Fajar

“TERIMA kasih sudah menyemangati. Tapi itu bukan dunia saya.”

Come on. Kau butuh mata orang lain untuk melihat sisi dirimu yang lain.” Rama memaksa.

Yes, I know. Tetapi saya jauh lebih mengenal diri saya dibanding siapa pun di dunia ini.”

Perdebatan yang akhir-akhir ini sering mewarnai perjalanan kisah Rama dan Mutiara. Hubungan mereka baru seumur jagung. Tiga bulan kenalan, dan sebulan lalu sepakat untuk tidak hanya sekedar bersahabat.

“Kita memang baru saling mengenal, tetapi bukan berarti saya tidak bisa menemukan potensi dirimu. Kamu dibutuhkan, Ra. Pikirkan itu!”

“Kenapa mesti saya? Kenapa bukan perempuan lain di luar sana?”

“Karena kali ini kau yang mendapat kesempatan.”

“Ah, tidak juga. Semua memiliki peluang sama.”

“Bagaimana kalau semua perempuan berpikiran sepertimu?”

“Tolong berhenti membujukku.”

“Kau dibutuhkan.”

So?”

“Hargai niat baik mereka.”

“Hargai pula pendirianku. That’s not my passion.

“Perlukah mempertimbangkan passion untuk melakukan suatu kebaikan?”

“Kau yakin ini suatu kebaikan? Saya justru melihat sesuatu yang abu-abu. Buram.

Hening. Hanya suara nafas memburu keduanya yang terdengar. Cafe bernuansa hitam putih itu sudah lama kosong. Pemilik cafe sejak tadi ingin memberitahu bahwa mereka sudah tutup. Namun diskusi yang memanas itu sayang untuk diputus begitu saja.

Well. Kau pikirkanlah dulu.”

No. This is my final decision. That’s not my world”

“Ok. Sorry kalau saya sudah terkesan memaksamu.” Suara berat lelaki tinggi besar itu seolah menusuk ke jantung Mutiara.

“Ayo kita pulang.” Diulurkannya tangannya ke arah Mutiara. Mutiara tahu Rama sedang emosi, namun ia tetap bersikap lembut. Mutiara merasakan betapa Rama adalah lelaki yang sangat menghormati perempuan.

***

Ruangan berpendingin itu serasa panas bagi Mutiara. Otaknya masih mendidih, tak kuasa menerima segala pendapat Rama. Satu bulan menyatu memang waktu yang sangat singkat untuk saling memahami. Mungkin Mutiara keliru karena lupa menyampaikan keinginannya. Ia yang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar telah memiliki cita-cita menjadi ibu rumah tangga. Ia telah memuaskan diri aktif dalam berbagai kegiatan sebelum menikah.

Sejak kuliah hingga memiliki pekerjaan mapan, ia fokus berorganisasi. Ia penulis perempuan yang cukup diperhitungkan. Bukan semata karena kecerdasannya, namun juga karena kecantikan dan idealismenya yang seolah tak bisa tergerus apapun. Ia mampu memadukan ritme hidupnya, tetap menjadi perempuan di tengah gempuran aktivitas yang banyak bersentuhan dengan laki-laki. Maka setelah menikah, ia dengan senang hati meninggalkan semua aktivitasnya. Kecuali menulis, tentu saja. Karena itu adalah dunianya.

Mutiara tak bisa memejamkan mata. Ada bayang Rama di setiap lekuk kamar tidurnya. Berkali-kali ia membolakbalikkan badannya, senyum Rama tetap menari di pelupuk mata. Memorinya bertualang ke masa awal pertemuan mereka. Mereka tak menyangka, dari pertemuan itu akan tumbuh benih-benih yang lebih dari sahabat. Rama yang begitu peduli dan perhatian mampu merebut simpati Mutiara yang selama ini begitu menjaga jarak dengan lawan jenis. Perhatian-perhatian kecil yang membuai.

Mutiara terkesan dengan kepekaan Rama. Air di botol minumannya tidak pernah kering karena Rama sudah akan menggantinya dengan air baru, sebelum Mutiara meminta. Mutiara tidak akan pernah berjalan tergesa untuk menjejeri langkah lebar Rama karena Rama yang mengikuti ayun kakinya. Jangan ditanya soal makanan. Rama akan makan apapun yang ingin dimakan Mutiara. Lantas apalagi yang harus disangsikan Mutiara? Perempuan itu sejatinya hanya butuh ketulusan, pun itu dari hal-hal sepele. Dan Rama telah mempersembahkan untuknya.

Wajar kalau kemudian Mutiara seperti tak mengenali Rama, kala ia dipaksa untuk menjadi anggota sebuah partai politik. Itu sungguh bukan dunianya. Mutiara lebih memilih menjadi ibu ruman tangga yang mengurusi keperluan anak dan suaminya kelak dibanding harus tercebur dalam sebuah dunia yang selalu bias antara kawan dan lawan.

“Kalau semua orang baik berpikiran seperti kamu, maka akan kacaulah negeri ini.” Demikian Rama beralasan.

“Gerakanmu terbatas kalau hanya menulis.” Masih bujuk Rama.

“Kartini menjadi pahlawan hanya karena tulisannya, Ram. Ingat itu. Ia menulis berlembar-lembar surat kala fisiknya terkungkung dalam istana.”

“Beda.”

“Memang beda. Sekarang kesempatan untuk berbuat lewat tulisan bagi perempuan semakin luas. Pikiran, jiwa dan fisik perempuan kini tidak lagi terpenjara.”

“Nah, maka wajar bila perempuan diberi jatah 30% di legislatif.”

“Betul. Tetapi itu perempuan lain. Bukan saya.”

Hening. Keduanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kita butuh saling menyendiri.” Suara Mutiara memecah kebisuan.

“Saya minta maaf. Saya tidak lagi akan memaksa.” Rama mendekat. Pelan disentuhnya tangan mungil Mutiara.

“Kau tak salah. Seperti juga saya. Kita hanya butuh waktu untuk lebih bisa memahami.”

“Ya, Awalnya saya pikir kau akan menyetujui permintaanku. Bukankah kita dipertemukan di dunia itu? Berarti sedikit banyaknya kau sudah pernah melibatkan diri.”

“Betul. Lebih tepatnya saya tercebur ke sana. Dan saya tidak nyaman.”

“Baiklah. Kita sudahi diskusi ini. Saya sepakat, kita perlu menyendiri.” Selepas berkata seperti itu Rama meninggalkan Mutiara yang tertegun sendirian di depan televisi. Rama pergi. Namun sebelum ia menghilang di balik pintu, Mutiara memanggil.

“Sampai berapa lama?”

“Sampai salah satu dari kita tak mampu lagi menahan rindu,” jawab Rama sambil terus melangkah.

Mutiara menatap langkah Rama tanpa kedip. Hatinya hampa. Baru berbilang pekan lelaki itu mewarnai hari-harinya dan kini ia pergi. Ada aliran hangat di dada Mutiara. Rindu bertalu seiring menghilangnya Rama dari pandangan.

***

Rama menatap langit-langit kamar yang ditempatinya sejak kecil. Ia memilih kembali ke rumahnya, ribuan mil dari sosok yang dicintainya. Demi menenangkandiri. Namun jelang satu pekan ia jauh dari Mutiara, ia semakin gelisah. Ia merindukan perempuan manis berlesung pipi. Ia merasa telah gagal memahami perasaan istrinya. Ia salah. Tak seharusnya Mutiara dipaksa melakukan sesuatu yang tidak sesuai kata hatinya. Sekarang ia sadar, Mutiara terlalu bersih untuk dilibatkan dalam sebuah ruang yang penuh intrik. Maka dengan menumpang pesawat penerbangan pertama, ia kembali ke pangkuan Mutiara, satu-satunya perempuan yang mampu membuatnya jatuh cinta.

“Akhirnya kau pulang. Saya rindu.” Sendu suara Mutiara menyambut Rama di depan pintu. Rama memeluk erat tubuh mungil itu, menenggelamkannya dalam dekap hangat seorang suami.

“Maafkan saya. Tetaplah menjadi Mutiaraku. Lakukan apapun itu yang bisa membuatmu bahagia,” Mutiara menatap mata Rama. Ada ketulusan terpancar. Mutiara tersenyum. Rama telah mampu menyelami hatinya. Perempuan, seberapapun ia ingin bebas, tetap akan merasa bahagia bila ada yang menggenggam tangannya dan mengikat hatinya. Hanya itu yang dibutuhkan Mutiara.

***

 

Mamuju, 19 April 2018

Advertisements