Cerpen Abul Muamar (Republika, 29 April 2018)

Jelmaan Sam Pek-Eng Tay ilustrasi Amanina Asiah Qonita - Republika
Jelmaan Sam Pek-Eng Tay ilustrasi Amanina Asiah Qonita/Republika

Perempuan itu menatap ruang yang begitu luas tiada terhingga; dengan pohon-pohon teduh yang buahnya siap dipetik kapan saja, dan di bawahnya mengalir sungai-sungai [1]. Dia akan menempuh jarak beribu-ribu tahun cahaya untuk menemui kekasihnya. Sebelum berangkat, dia berpesan pada kekasihnya supaya dia dijemput di pintu gerbang stasiun kereta jurusan surga, pintu gerbang yang khusus disediakan untuknya, dekat lintasan di mana kekasihnya pernah menangis meraung-raung.

Dia turun ke bumi untuk meminta kekasihnya menjelaskan bagaimana sesungguhnya mereka dulu pernah bertemu. Dia ingin menuntaskan rasa penasaran yang terus menerus mengusiknya. Rasa itu terus membayanginya setiap waktu, membuatnya tak bisa tenang meskipun dia sekarang bermukim di sebuah tempat yang menyerupai istana di tengah-tengah kebun anggur yang membentang yang di bawahnya dialiri sungai-sungai, yang setiap sore ia bisa duduk-duduk manis di dipan yang indah sambil minum air dari mata air salsabil [2]. Konon, ketika mati, kita akan lupa pada semua yang pernah kita alami.

Berjuta-juta asteroid dan bintang nantinya harus dipapasi oleh perempuan itu di ruang galaksi yang entah apa namanya sebelum mencapai apa yang dinamakan orang-orang sebagai Bima Sakti. Setelah itu, setelah sampai di bumi, dia masih harus melewati hutan yang lebat dan gunung-gemunung yang curam dan terjal serta lembah-lembah yang tenang tapi mematikan yang dia sendiri tak akan pernah tahu di mana letaknya secara geografis. Lalu, setelah melewati labirin panjang yang di kanan-kirinya banyak pohon pinus, dia akan mencapai stasiun dan akan naik kereta dan dia akan berlagak layaknya manusia pada umumnya supaya tak mengundang curiga. Setelah itu, dia akan menemui kekasihnya pada stasiun perhentian pertama.

***

“Kenapa kau kembali?” tanya Lelaki kekasih perempuan itu.

“Dasar goblok! Bukankah aku sudah mengirimimu surat sebelum aku kemari? Apa kau tak membaca suratku? Apa suratku tak sampai?”

Lama laki-laki itu terdiam, tak menghiraukan pertanyaan si Perempuan mengenai surat. Padahal perempuan itu tak mau membuang waktu. Waktunya tak banyak, sangat terbatas. Terlambat sedikit akan membuatnya tak bisa lagi kembali untuk selamanya, dan bergentayangan di bumi. Dia harus segera mendapatkan keterangan. Tak mau membuang waktu, dia langsung bertanya:

“Benarkah kita dulu sepasang kekasih?”

“Ya. Seluruh makhluk di muka bumi ini tahu.”

“Kapan kita berkenalan?”

“Sudah lama,” jawab si Laki-laki.

“Sudah lama? Kapan?”

“Ya, pokoknya sudah lama. Tapi aku tak tahu berapa umur perkenalan kita dan kapan pertama kali kita bertemu. Aku tak tahu persis kapan itu.”

“Bisa ceritakan bagaimana waktu itu kita bertemu?”

“Waktu itu…,” si Laki-laki memulai dengan terbata-bata, “kita adalah sepasang kupu-kupu. Kita suka terbang di taman di kala petang.”

“Kupu-kupu?”

“Ya, kupu-kupu.”

“Banyak yang bilang, kita adalah arwah Sam Pek dan Eng Tay [3]. Konon, setelah mati, mereka menjadi kupu-kupu.”

“Lalu, kita mereka?”

“Tidak bisa dipastikan. Aku tidak terlalu yakin dengan apa yang orang-orang katakan. Lagipula, bagaimana kita bisa meyakini masa lalu tatkala masa lalu sering diceritakan dengan rupa-rupa kisah yang bermacam-macam, terutama jika ada peran politik dan kekuasaan di sana.”

“Ya sih. Terus?”

“Di taman itu, ada banyak bunga-bunga. Lalu kita hinggap di atas salah satu puncak dandelion.”

“Dandelion?”

“Ya, dandelion tua. Bulu-bulunya yang ringan buyar ketika sayapmu dan sayapku berkitar-kitar di sekelilingnya.”

“Kenapa dandelion? Kenapa kita tak memilih bunga yang lain? Kan ada banyak bunga-bunga. Mawar, anggrek, kamboja. Atau bunga jambu, bunga rambutan, atau bunga kelengkeng. Kenapa dandelion? Cantik tidak, bermadu juga tidak.”

“Kau yang lebih dulu memilih dandelion. Katamu, dandelion lambang ketulusan, lambang keapaadanyaan.”

“Masa aku pernah bilang begitu?”

“Kau memang bilang begitu. Dandelion adalah kupu-kupu dalam wujudnya yang lain, menurutmu. Kau bilang, dandelion serupa kita. Dandelion dan kupu-kupu sama-sama rentan gugur, sama-sama berumur pendek. Sama-sama terlalu lemah untuk melawan kuatnya angin, apalagi badai. Angin dan badai selalu dikendalikan oleh makhluk-makhluk yang kuat. Itulah kenapa kita memilih dandelion. Dia tak berduri dan karenanya tak menyakiti. Dia juga tak harum dan karenanya tak mengundang iri. Dia tak bermadu dan karenanya tak menjadi rebutan.”

Si Laki-laki masih meneruskan. Si Perempuan mendengar dengan saksama, tanpa banyak sahutan, kecuali gumaman.

“Kita hampir-hampir tak bisa mendarat karena batang dandelion terlalu kecil untuk dapat menopang tubuh kita berdua. Tapi kita akhirnya tetap bisa hinggap dengan keseimbangan cinta yang kita miliki. Kita memutuskan mendarat menyamping. Aku menggantungkan tubuh dengan seluruh kakiku dari sebelah sisi. Kau merengkuhku dari sisi yang lain. Untuk beberapa lama kita menggantung, terayun-ayun di atas puncak dandelion. Meski terhalang, aku tetap bisa menatap wajahmu dari sela-sela bulu-bulu dandelion yang renggang karena beberapa helainya telah gugur. Lalu kau mengembus-embuskan bulu-bulu itu ke wajahku. ‘Biar aku bisa melihatmu lebih jelas,’ katamu. Karena itu aku membalasmu dengan embusan bulu yang lebih banyak. Kau tertawa, aku tertawa.”

“Aku sungguh merasa sulit untuk percaya bahwa kisahku dulu seperti itu,” si Perempuan menyela. “Lalu?”

“Ayunan batang dandelion yang menopang tubuh kita semakin kencang. Kau lantas mengencangkan pelukanmu. Tak lama, rupanya dandelion itu tak sanggup lagi menahan kita lebih lama. Batangnya mem bengkok, jatuh ke tanah tepat di arah kau merengkuh tubuhku, dan dandelion itu tak dapat kembali tegak. Tubuhku mengatasimu. Menindihimu. Untuk beberapa saat kita bergumul di atas rerumputan. Matahari menjadi saksi perpaduan keindahan sayap kita.”

“Lalu, sejak kapan kau dan aku jadi manusia? Atau, jika benar kita adalah jelmaan Sam Pek dan Eng Tay, kenapa kita kembali jadi manusia?”

“Kau bosan terlalu lama hidup bersama. Ya, kupu-kupu harusnya memang berumur pendek. Kupu-kupu lain mati pada hari kelima atau keenam. Kita sudah bertahun-tahun bersama. Terbang ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Sejak saat itulah kita kembali menjadi manusia.”

“Setelah jadi manusia?”

“Kau menjelma menjadi perempuan tercantik di muka bumi. Kecantikanmu mengalahkan kecantikan seluruh srikandi yang pernah ada. Tapi kecantikanmu pula yang jadi petaka bagi cinta kita.”

“Kenapa begitu?”

“Semenjak jadi manusia, kau tiba-tiba bilang kepadaku bahwa kau bukan siapa-siapa untukku. Aku mencoba membantahmu, tapi kau bersikukuh. Nyata-nyatanya kau yang membukan-siapa-siapa-kan dirimu sendiri terhadapku.”

***

“Oke, aku kira semuanya sudah jelas sekarang. Terima kasih sudah menceritaiku.”

Si Laki-laki hanya mengangguk. Sembari menatap si Laki-laki, perempuan itu mencoba keras mengingat. Semua yang diceritakan lelaki di hadapannya terasa seperti mimpi. Mimpi yang pernah dia alami.

Hal pertama yang dia ingat ialah sosok lelaki di hadapannya. Dia mulai menyadari bahwa dulu, laki-laki itu selalu bersamanya. Tapi, mengingat Si Laki-laki, membuatnya ingat juga masa-masa dimana dia pernah meninggalkan laki-laki itu.

Pada suatu malam yang sendu, ketika mereka tak lagi bersama, wajah laki-laki itu datang menghampirinya ke kamarnya. Wajah yang sama tapi dengan tubuh yang berbeda. Tubuh yang berbeda dengan wajah yang sama dengan laki-laki itu mendekat, melekat perlahan ke arah perempuan itu. Melekat sangat dekat, bercampur keringat dan desah napas yang menderu. Dia tak tahu harus bagaimana melepaskannya. Tapi itu justru satu-satunya cara yang dapat membuatnya dapat menikmati malam itu, untuk menghapus laranya.

Tapi setelah itu…

“Kau masih saja mengingatnya. Apa aku kurang mencintaimu? Apa lagi yang kau inginkan dariku?” seorang lelaki yang menjadi suami sah perempuan itu meradang, ketika perempuan itu salah menyebutkan nama. Dari mulut perempuan itu, malah nama laki-laki si kupu-kupu yang disebutnya, bukan nama suami sahnya.

Sejak saat itu, perempuan itu hanya bisa memohon maaf. Maaf dan maaf. Hingga sampai di suatu petang kelabu, sembari menapaki rel kereta seorang diri, untuk kesekian kalinya dia masih menggumamkan maaf. Dia tak bisa menebusnya lebih dari itu. Sedari awal, dia memang tak pernah bisa mencintai suaminya seperti dia mencintai Si Lelaki kupu-kupu. Hingga bunyi panjang klakson sebuah kereta memekik, lalu seketika jiwa perempuan itu buyar, dan keutuhan raganya dalam sekejap ambyar, menjadi kepingan-kepingan yang berserakan dan menjadi tontonan warga.

Perlahan perempuan itu mulai ingat, bahwa lelaki di hadapannya, yang tak lain adalah Si Lelaki kupu-kupu, tak berubah. Laki-laki itu tetap saja membuatnya ingin merebahkan tubuhnya di sisinya. Cerita yang dia butuhkan dari laki-laki itu telah cukup. Tapi Si Laki-laki tetap meneruskan juga.

“Kerumunan warga menyatu dengan bau amis tubuhmu. Tepat di sini, di selintasan rel ini. Aku tak kuasa mendekat. Tiba-tiba, dari sela-sela kerumunan itu, seekor kupu-kupu terbang mendekatiku,” lanjut si laki-laki.

Si Perempuan, yang telah memperoleh kembali ingatannya, menyela, “Itu aku, kan?”

“Ya, itu kau,” Si Laki-laki tersenyum.

“Aku menyesal menjadi manusia. Menjadi manusia membuatku lupa akan kesetiaan,” kata perempuan itu.

Si Laki-laki membelai rambut Si Perempuan. Si Perempuan menjatuhkan kepalanya ke dada Si Laki-laki. Hening mengambil alih percakapan mereka.

“Aku akan tinggal di sini. Aku akan jadi kupu-kupu lagi,” Si Perempuan berkata lirih, mengurai keheningan, setelah lama mereka terdiam. Si Laki-laki terperanjat, roman mukanya semringah, tapi tak yakin yang ia dengar.

“Aku akan tinggal di sini bersamamu. Aku tak akan kembali ke sana,” Si Perempuan mengulangi.

“Tapi bukankah kau bahagia di sana?”

“Tidak tanpa kau.”

Si Lelaki memeluk si perempuan erat-erat. Lalu mereka saling tatap, saling tersenyum dan saling mengangguk, dengan anggukan dan senyuman yang tipis, samar-samar.

“Setelah ini nanti, gantian kau yang ceritai aku tentang kisah kita ya. Aku kan pasti lupa,” Si Lelaki meminta.

“Pasti aku ceritakan.”

“Janji?”

“Janji!”

Si laki-laki melangkah mantap.

***

Di pinggir rel itu, di saat gelap mulai merayapi langit, kecelakaan serupa seperti setahun lalu terulang. Kali ini korbannya seorang laki-laki. Orang-orang berkerumun, penasaran ingin melihat.

“Sepertinya, selintasan rel ini perlu dipasang tanda peringatan,” seorang petugas keamanan jalur kereta berucap.

“Ya, supaya tidak ada lagi korban berikutnya!” rekannya menyahut.

Tak jauh dari kerumunan itu, sepasang kupu-kupu terbang ke arah barat. Sayap mereka mengertap. Siluet mereka berkejar-kejaran, berjingkrak-jingkrak di atas dandelion yang tumbuh di sepanjang tepi rel kereta. ■

 

Keterangan:

[1] Gambaran surga dalam Alquran. Antara lain dapat ditemui dalam Surah Al-Baqarah: 25 dan Al-Kahfi: 30-31)

[2] Masih keterangan berupa gambaran surga dalam Alquran. Diterangkan bahwa Mata Air Salsabil berupa air yang sejuk dan beraroma wangi dan berasa jahe. Antara lain dapat ditemui dalam Surah Ar-Rahman: 68 dan Al-Insan: 11-15.

[3] Sam Pek dan Eng Tay adalah sepasang kekasih dalam cerita rakyat Tiongkok yang telah sering diangkat dalam pertunjukan teater. Sam Pek adalah seorang pemuda papa dari Kuaiji, sedangkan Eng Tay seorang putri tunggal dari sebuah keluarga kaya raya di Shangyu, Zhejiang. Keduanya bertemu dan saling jatuh cinta, namun cinta mereka tak beroleh restu dari orangtua Eng Tay. Ketika mendapati Eng Tay hendak menikah dengan laki-laki lain, Sampek sakit hati dan meninggal dunia. Di hari pernikahan Eng Tay, terjadi badai di area pusara Sampek. Eng Tay kemudian mendatangi kuburan kekasihnya itu dan meminta agar kuburannya terbuka. Saat terbuka, Eng Tay masuk ke dalam kuburan dan mati tertimbun bersama mayat Sampek. Keduanya lalu dihidupkan kembali sebagai sepasang kupu-kupu yang terbang bersama-sama.

 

(Abul Muamar. Lahir di Perbaungan, Serdangbedagai. Sehari-hari mewartakan sepakbola internasional sembari mengarang cerpen dan menulis esai)

Advertisements