Cerpen Adam Gottar Parra (Suara Merdeka, 29 April 2018)

Filsuf Bersepatu Merah ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Filsuf Bersepatu Merah ilustrasi Suara Merdeka

Tidak ada angin, tetapi semak belukar di belakang gedung itu bergoyang-goyang seolah ada yang menggerakkan. Aneh, malam-malam begini, siapa pula sudi menyusup ke semak-semak, lalu menggoyang-goyang pohon berbatang kerdil itu? Ular dan biawak pun enggan masuk ke situ, apalagi manusia. Lantas siapa? Iblis? Dedemit? Makhluk terkutuk itu juga tak punya alasan masuk ke dalam semak berduri itu. Pasti tak ada alasan yang masuk akal bagi segala jenis makhluk untuk masuk ke situ.

Namun seperti sering terjadi dalam banyak peristiwa, pikiran manusia memang kerap meleset. Ketika seekor burung emprit terbang keluar dari semak-semak, pikiran pun jadi terheran-heran, menyadari kenyataan yang berbeda dari bayangan.

Pucuk perdu terus bergoyang-goyang dalam gelap yang masih muda. Para penangkap kodok yang menyusuri parit dengan lampu gantung mereka merasa heran, sehingga menarik ujung tongkat yang runcing dari parit yang digenangi limbah pabrik kecap. Mereka mendadak mengarahkan lampu minyak bertudung seng dan berlapis kaca di bagian depan itu ke semak-semak yang dikelilingi potongan jerami bekas panen. Kepala mereka yang bertopi pandan celingak-celinguk dalam gelap, saling bertanya dalam bahasa isyarat. Ada apa gerangan di dalam semak?

Dibantu penerangan cahaya lampu, keempat penangkap kodok itu bergerak serentak mendekati perdu. Sorotan nyala lampu membentuk empat garis merah tua di antara batang-batang jerami. Ujung cahaya yang kusam mengabur di gundukan perdu yang terus bergoyang, bahkan makin kencang! Saat melangkah di antara batang-batang jerami yang menimbulkan bunyi berkeresek, telinga mereka juga mendengar suara kentut dan desah perempuan.

Langkah dan sorot lampu gantung mereka mendekati semak-semak. “Ahhaaa!” teriak yang terdepan, tetapi mulutnya seketika dibungkam oleh tangan rekannya yang berjalan di belakang, untuk menahan suara agar tak mengganggu pemilik dua pasang kaki yang sedang bertumpang-tindih di semak-semak. Kaki yang di atas bersepatu merah.

Tak jauh dari kedua pasang kaki itu tergeletak setumpuk benda, antara lain sepasang sandal jepit, tas wanita, celana jins biru, cermin kecil, sisir, dan sebuah buku tebal mirip kitab suci. Dengan lampu gantung yang bersinar merah, seorang penangkap kodok menyorot sampul buku itu. Terbaca tulisan: Sejarah Filsafat Barat. Di atas judul tertera nama sang pengarang: Betrand Russell. Melihat buku setebal batako itu, macam-macam pikiran bergelayut di kepala para penangkap kodok.

“Quran?” tanya Si Cebol sambil mendongak ke wajah rekannya.

“Bukan.”

“Kitab Injil?”

“Bukan. Itu buku sekolahan,” jawab Sapar, yang pernah sekolah sampai kelas VSD.

“Saya ambil ya? Siapa tahu Pak Dosen Nurdan mau menukar dengan sebungkus rokok.” Si Cebol mengetuk-ngetuk sampul buku filsafat itu dengan ujung tongkat.

“Jangan, itu buku mahal!” cegah Sapar.

“Ada gambar pornonya?”

“Ngawur! Itu pelajaran orang atas.”

“Kode togel ada?”

“Hua-ha-ha-ha…. Ha-ha-ha!” Sapar tak mampu menahan tawa. “Beginilah kalau orang tak pernah sekolah, menganggap semua buku kode togel. Ha ha ha!”

“Lo, Pak Nurdan yang pintar saja sering nanya nomor jitu ke saya,” kata Si Cebol.

“Iya, dia pernah dapat yang dua angka,” ujar Kidah, membenarkan.

“Bukan cuma Pak Nurdan. Istrinya juga beberapa kali titip beli nomor pada saya,” kata Si Cebol.

Saat mereka bercakap-cakap, dari dalam semak-semak terdengar suara ah oh ah ohÖ dari mulut perempuan serta bunyi ranting perdu bergesek akibat gerakan tubuh turun-naik seperti orang push up. Mereka menjadikan adegan di dalam semak belukar itu sebagai tontonan gratis. Kisah cinta di semak-semak itu juga memberi pelajaran pada mereka: cinta dan nafsu terkadang membuat manusia lebih rendah daripada hewan.

“Apakah nafsu mampu mengalahkan rasa sakit akibat tertusuk duri?” tanya Si Bungkuk Udang.

“Buktinya kamu lihat sendiri.”

“Berarti cinta lebih ampuh daripada obat generik?”

“Ya, begitulah.”

“Kerbau saya yang galak juga jadi jinak setelah punya pasangan.”

“Betul, betul. Dulu Si Jampong sering ngamuk, sekarang berhenti.”

Namun Darbas dan sang kekasih tak terpengaruh oleh suara percakapan mereka. Juga bau busuk bangkai kucing yang mengambang di parit. Nafsu mereka yang tertahan berbulan-bulan telah mengalahkan semua kendala yang merintangi. Seluruh jiwa-raga seolah tenggelam dalam percintaan yang membara.

***

Warga kota yang sebagian telah mengungsi karena konflik sosial itu mengenal Darbas sebagai filsuf. Wajahnya sering nongol di televisi dan surat kabar, memberikan tanggapan tentang berbagai fenomena di tengah kota yang dikepung industri itu. Ia menempati sebuah apartemen mewah di bilangan Pinang Square dan hidup dari hasil bicara mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Sebagai ahli filsafat, dengan rambut tinggal beberapa helai di belakang telinga, Darbas sering diundang menjadi narasumber di berbagai forum. Ilmu yang dia timba di berbagai kampus terkenal di Eropa dan Amerika membuat Darbas tak punya rival. Sementara para intelektual dan cendekiawan lain lebih banyak menggeluti bidang ekonomi, politik, hukum, industri, dan lain-lain. Dan yang membuat Darbas tambah populer, ia sering berbeda pendapat dengan para tokoh agama.

Suatu ketika Darbas pernah mengusulkan supaya pemerintah menerbitkan larangan naik haji dan membangun masjid baru. Karena menurut Darbas, salah satu penyebab kemiskinan terbesar di kota ini adalah kegemaran warga naik haji dan membangun masjid baru. Sebagian besar warga menjadikan naik haji sebagai cita-cita hidup. Karena makin sering seseorang naik haji akan kian tinggi martabat dan wibawanya di masyarakat. Jika seseorang ingin menjadi pejabat di kota ini, setidaknya harus menyandang gelar haji. Orang tidak akan bertanya apa prestasi sosial yang telah dia buat untuk masyarakat, tetapi sudah berapa kali naik haji?

Dalam buku Orang Kentrung Naik Haji, Darbas mengisahkan tentang seorang tokoh perempuan bernama Hajjah Masyitoh, yang sudah enam kali melaksanakan umrah. Namun, aneh, Masytoh masih ingin kembali lagi ke Makkah.

Selain berziarah ke Makkah, penduduk kota juga akan berlomba-lomba membangun masjid. Banyak masjid di antara permukiman kumuh, kendati bangunan megah berarsitektur Bani Umayyah itu sering terlihat sepi, kecuali hari Jumat. Karena warga yang miskin lebih suka nongkrong di trotoar, menunggu orang mengajak kerja galian.

Memperhatikan keadaan masyarakat yang terpuruk itu, akhirnya Darbas mengusulkan pemerintah menerbitkan larangan naik haji dan membangun masjid baru. “Alangkah baik uang-uang itu untuk membiayai hidup fakir-miksin dan jutaan warga yang menganggur,” kata Darbas, seperti dikutip Singkongpos.com.

Sudah bisa ditebak, ide ngawur itu langsung dicap “kafir” oleh para kiai dan ustadz. Namun itu dulu, sebelum kota gulung tikar, dan Darbas masih jaya, berkat kepintarannya berbicara. Sekarang, tepatnya sejak empat tahun silam, ketika lembaga-lembaga tak mampu lagi menyelenggarakan seminar dan diskusi, dan televisi lebih suka menayangkan iklan ketimbang ocehan orang pintar, Darbas pun jatuh miskin. Uang terakhir yang dia miliki adalah hasil penjualan mobil yang dihabiskan di kafe-kafe. Setelah itu ia hidup menggelandang dari kota ke kota, tidur di bawah pohon atau emper toko.

Malam itu, setelah sejumlah mantan pacarnya menolak diajak bercinta, karena tubuhnya yang bau dan dekil, Darbas terpaksa mengencani seorang gelandangan tua yang sehari-hari mengamen dengan kendang di lorong-lorong. Ia menyeret perempuan bergaya punk itu, ketika mereka berpapasan di jembatan. Wanita tua itu pun tidak menolak ketika Darbas mengajak bercinta.

Dan kini, para penangkap kodok masih mendengar mulut Darbas yang berdecap-decap di puting susu berkerak. (44)

 

Mataram, 2015/2018

Adam Gottar Parra, lahir di Praya, 12 September 1967. Cerpennya terbit di Media Indonesia, Jawa Pos, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Nova, Basis. Dia tinggal di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Advertisements