Cerpen Muhammad Amir Jaya (Fajar, 22 April 2018)

Namaku Guntur Bumi ilustrasi Fajar.jpg
Namaku Guntur Bumi ilustrasi Fajar

NAMAKU Guntur Bumi (sejak menapak akil balik aku dipanggil Opu Guntur). Aku lahir di sebuah desa kecil yang bernama desa Lambongan, 25 tahun yang lalu. Dan menurut cerita sang kakek, saat aku lahir di bumi ini, desa Lambongan menjadi gempar dan menakutkan.

Alam tiba-tiba bergemuruh. Petir menyambar-nyambar. Guntur bersahut-sahutan. Padahal ketika itu tak ada tanda-tanda mendung di langit. Cuaca sangat cerah. Sinar sang surya bercahaya sempurna. Namun tepat pukul 12.00, matahari menjadi redup dan langit menjadi mendung kehitam-hitaman lalu kemudian berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Hujan pun turun dengan derasnya. Bukan hujan air tapi hujan pasir yang menderas dari langit.

Desa itu menjadi gelap diselimuti pasir. Baru pertama kalinya dalam sejarah desa itu diterjang oleh butiran pasir hitam. Semua warga desa tak ada yang mau keluar rumah. Semua warga menutup pintu dan jendela rumahnya. Tak ada warga yang berani mengintip ke luar jendela. Mereka dibalut ketakutan yang luar biasa. Mereka hanya saling mendekap dengan erat.

Ada seorang suami mendekap istri dan anak-anaknya. Ada istri memeluk erat suaminya. Ada anak yang memeluk ayah dan ibunya. Makhluk lain yang berada di sekitar rumah, atau yang ada di dalam kandangnya juga mengeluarkan suara yang tidak biasanya. Seekor kambing mengembik dengan kerasnya. Seekor sapi menguap tanpa henti. Dan seekor kuda yang tertambat di halaman rumah meringkik tanpa henti.

Pada saat itulah, kata sang kakek, ibuku juga meraung-raung kesakitan. Anehnya, ketika aku lahir di bumi, dan menangis untuk pertama kalinya, semua kejadian dan peristiwa alam berhenti. Hujan pasir yang semula menderas tiba-tiba berhenti. Lalu langit berangsur menjadi cerah. Suara kambing yang mengambik berhenti. Suara kuda yang meringkik berhenti. Suara sapi yang menguap tanpa henti tiba-tiba berhenti. Suara yang mengalun di penjuru dusun itu hanya suara aku.

Semua warga dusun terpana melihat kejadian alam yang tiba-tiba berubah. Semua warga dusun terpaku mendengar suara tangis dari bibirku. Suara yang mengalun indah yang sangat memesona. Aku berhenti menangis ketika suara azan dikumandangkan oleh ayahku di telinga kananku dan suara iqamat di telinga kiriku.

Warga dusun berlomba-lomba membuka pintu dan jendela rumahnya. Ada yang mendongakkan kepalanya ke luar jendela dan bertanya kepada tetangganya yang juga mendongakkan kepalanya ke luar jendela.

“Apakah mendengar suara tangisan bayi?” tanya tetangga.

“Ya. Saya mendengar tangisan bayi. Tapi tangisan bayi itu kayaknya jauh dari sini,” jawab tetangga lainnya mengirangira.

“Bukan. Tangisan bayi itu seperti sangat dekat,” kata tetangga yang lainnya.

“Iya, benar. Suara tangisan bayi seperti tidak jauh dari seratus meter.”

Tetangga lainnya pun mengira-ngira. Untuk membuktikan apakah suara tangis bayi itu jauh atau dekat, maka warga desa masing-masing ke luar rumah. Mereka saling berbisik, apa yang sesungguhnya terjadi di desa mereka. Alam bergemuruh, petir menyambar-nyambar, guntur bersahut-sahutan dan tiba-tiba hujan pasir dari langit sangat menderas. Dan ketika terdengar tangis bayi, semua peristiwa alam itu berhenti. Dan kemudian langit menjadi cerah.

“Pasti ada yang luar biasa di desa kita,” bisik salah seorang warga.

“Anak bayi yang lahir itu pasti bukan anak bayi sembarangan,” bisik warga lainnya.

“Maksudnya?” tanya tetangga yang lain.

“Ya, anak bayi itu bukan bayi sembarangan. Itu pasti bayi ajaib.”

Mendengar kata bayi ajaib, semua warga desa yang berkumpul di bale-bale itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Benar. Itu bayi ajaib. Tapi bayi siapa? ”

“Di desa ini tidak ada yang hamil tua selain Ibu Sahidah. Tapi rumahnya kan cukup jauh? Mana mungkin kalau Ibu Sahidah melahirkan lalu suara tangis bayinya sampai di sini. Rumahnya saja ada di ujung desa,” kata warga lainnya.

“Iya, ya. Pasti bukan Ibu Sahidah.”

“Atau mungkin bukan suara bayi.”

“Siapa tahu itu suara bayi anak jin,” kata warga setengah berbisik.

“Ah, ibu ini ada-ada saja. Mana ada suara bayi anak jin.”

Warga desa ramai-ramai penasaran. Mereka hanya mengira-ngira suara anak bayi yang terdengar ringkik dan nyaring itu adalah suara anak bayi siapa. Mungkinkah suara anak bayi Ibu Sahidah? Karena ia satu-satunya perempuan yang sedang hamil tua di desa ini. Atau suara anak bayi yang nyaring itu adalah suara anak bayi desa seberang? Tapi mana mungkin suaranya terdengar dari seatero desa Lambongan. Itu tidak mungkin!

Desas-desus terus berkembang di antara warga desa. Semua warga desa mengira-ngira tangis bayi yang melengking itu. Ada yang menyebut, tangis bayi dan peristiwa alam adalah tanda bahwa desa itu ke depan akan mengalami perubahan drastis dengan lahirnya sosok bayi yang ajaib. Ada yang menyebut bayi itu akan menjadi bayi penyelamat bagi desa yang dikenal sebagai desa miskin dan terkebelakang. Ada pula yang menyebut, anak bayi itu kelak akan menjadi sosok manusia yang memiliki kharisma yang akan menjadi panutan bagi semua umat manusia. Bahkan ada yang meramalkan bayi itu akan menjadi sosok pemimpin yang sengaja diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di desa itu sebagai panutan. Kata-kata dan perilakunya akan di dengar dan ditaati. Semua warga desa mencoba meramal tentang sosok bayi itu.

***

Itu cerita kakek masa lalu. Hari ini, aku telah menapak usia 25 tahun. Selama 25 tahun pula aku hidup normal-nomal saja. Hidup di sebuah desa dengan segala kekurangan dan kemiskinan. Ayahku hanya seorang petani biasa. Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Kami hidup seperti layaknya warga desa lainnya. Aku adalah anak tunggal. Ayah dan ibu memperlakukanku seperti biasa. Tidak ada yang istimewa.

Secara pribadi tidak ada juga hal-hal aneh yang terjadi dalam diriku. Namun ketika sang Kakek, Opu Langit, meninggal dunia seminggu yang lalu, keanehan itu mulai datang satu persatu. Rumah kami, kata sejumlah warga, diliputi cahaya yang terang benderang. Tetapi kami (aku, Ayah dan Ibu), tidak melihat cahaya itu.

“Tadi malam, usai salat isya, rumahmu diliputi cahaya,” kata tetangga sebelah.

“Iya, sudah tiga malam aku melihat rumahmu bercahaya terang benderang,” kata tetangga lainnya.

Mendengar pengakuan tetangga, Ayah dan Ibu hanya menggelengkan kepalanya. Mereka tidak berkata sepatah kata pun. Tetapi aku melihat ada air bening menetes di pipinya.

Keanehan yang lain, setiap aku berkumpul dengan teman-teman sebaya, beberapa di antaranya melihat aku selalu dikelilingi cahaya. Ada juga yang melihat aku didampingi oleh sang Kakek.

Namun yang lebih aneh lagi, kata sejumlah warga desa, aku selalu dilihat diberbagai tempat dalam waktu bersamaan. Pada saat aku lagi menyapu di mushallah menjelang sore, pada saat yang bersamaan pula aku dilihat di sumur atau di tempat lain.

Melihat peristiwa aneh itu, warga desa Lambongan tidak ada yang panik. Peristiwa itu tidak membuat heboh warga desa. Karena sejak aku bayi peristiwa aneh sudah terjadi 25 tahun yang lalu.

Karena keanehan-keanehan itu pula, warga desa Lambongan sepakat mengangkat aku menjadi Kepala Desa Lambongan, menggantikan sang Kakek, Opu Langit, yang telah meninggal beberapa waktu yang lalu.

Aku sempat menolak amanah warga desa dengan pertimbangan umur yang masih relatif muda. Namun warga desa semua sepakat bahwa yang menggantikan Opu Langit sebagai Kepala Desa adalah aku yang bernama Guntur Bumi (Opu Guntur).

 

Makassar, 23 Desember 2017

Advertisements