Cerpen Daruz Armedian (Kedaulatan Rakyat, 22 April 2018)

Lukisan Air Mata Danarto ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Lukisan Air Mata Danarto ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

DANARTO melukis dengan air mata yang mengalir di pipinya. Melukis di dinding-dinding rumahnya. Melukis di tembok-tembok bangunan di pinggir jalan. Melukis di tengah taman. Melukis di tempat peribadatan. Melukis di mana saja tergantung yang ia inginkan.

Seperti itu dan selalu seperti itu. Begitu dan selalu begitu.

Ketika orang-orang bertanya kenapa ia melukis dengan air mata dan bukan dengan cat seperti sewajarnya, ia menjawab, karena air mata adalah lambang kesedihan. Dan, mungkin saja, ia ingin meluapkan segala yang menyesakkan dadanya dengan pekerjaan yang demikian. Sebab, dilihat dari wajahnya, ia sangat berduka. Seperti menandakan kalau hatinya penuh luka.

Ia melukiskan apa saja. Kadang-kadang berbentuk perempuan berambut panjang dengan muka yang duka menatap jalanan sambil duduk di bangku taman seolah-olah menunggu seseorang. Kadang-kadang berbentuk anak-anak yang membawa jaring untuk menangkap malaikat. Kadang-kadang berbentuk pohonan yang merangggas, kering kerontang karena musim kemarau panjang. Kadang-kadang berbentuk derai-derai hujan yang kerapkali menyuarakan kepiluan karena terpisah dari lautan. Dan kadang-kadang juga berbentuk sesuatu yang tidak mudah dipahami.

Sambil melukis, sering ia mendendangkan lagu kesedihan. Seperti itu dan selalu seperti itu. Begitu dan selalu begitu. Seolah-olah di dunia ini tidak ada lagu yang lain kecuali lagu kesedihan. Seolah-olah di dunia ini ia diciptakan untuk menurunkan wahyu kesedihan pada setiap orang.

Awalnya, orang-orang mempertanyakan kewarasannya. Dan memang ia mirip sekali dengan orang gila. Tetapi, karena orang itu tidak mengusik kenyamanan, maka akhirnya ia tidak dipusingkan. Bahkan hampir menyerupai “diabaikan”. Orang-orang tak peduli sama sekali. Mereka bukan lagi mempertanyakan kewarasan, namun menyatakan bahwa ia memang gila. Dan orang gila tidak perlu dibahas lebih lanjut dalam kehidupan normal mereka.

Walaupun, pada suatu waktu tertentu, orang-orang pernah merasa tidak nyaman atas lukisan-lukisannya. Sebab, ia melukis juga di tembok-tembok rumah mereka. Mereka khawatir atas kebahagiaan mereka karena bisa saja lukisan dari air mata itu menghapusnya. Menghapus kebahagiaan mereka.

Tetapi, lama-lama menjadi biasa juga. Mungkin karena terlalu sering orang-orang melihat ia melukis dengan air mata, di mana saja. Dan, boleh jadi, bahkan mereka bakal merindukannya bila suatu saat ia tiada.

Itu adalah cerita ibu beberapa hari yang lalu. Sekarang, Danarto entah pergi ke mana. Tidak ada orang yang benar-benar tahu hal itu. Dan seluruh lukisan-lukisannya juga hilang, meski tidak benar-benar hilang. Banyak orang masih mengingat-ingat lukisannya.

“Ya, jelaslah. Air mata, kan, cepat mengering.” Gumamku waktu itu.

Aku tak pernah habis pikir, kenapa ada orang aneh seperti itu. Kadang-kadang aku bertanyatanya, siapakah Danarto? Di manakah ia sekarang? Apakah ia benar-benar ada?

Tetapi, kadang-kadang pertanyaan itu aku sanggah sendiri. Ah, hanya mitos. Itu hanya cerita dari mulut ke mulut orang saja. Toh, jika memang benar-benar ada, tidak ada hubungannya juga denganku. Ya, begitulah akhirnya, aku juga tidak mempedulikannya.

Pada pagi yang sejahtera, artinya pagi dengan udara yang menyejukkan dada, aku duduk di warung warung Mbah Salihen. Aku melihat-lihat hidangannya: bakwan, tempe goreng, kacang, teh, dan kopi. Kopi kupesan, seperti biasa, tanganku sambil merogoh sebatang rokok di kaleng. Kusulut rokok itu dan kuhisap asapnya perlahan-lahan. Lalu asap itu kuembuskan ke udara.

Ah, harusnya dunia memang tidak butuh hal yang aneh-aneh.

Seseorang datang dan duduk di sampingku dan mengambil bakwan dan memakannya dan menanyakan keberadaan Danarto. Aku bingung karena tidak tahu harus mengucapkan apa. Ingatanku menuju pada cerita ibu mengenai lelaki yang melukis dengan air mata.

“Dia telah gila. Dia mencari Izrail, yang jelas-jelas tidak ada di dunia.”

Ia mengerutkan dahi dan agak memelototkan mata. Tidak membutuhkan waktu lama, ia berlalu. Aku bengong. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa setelah kejadian itu.

Penjual angkringan memberitahuku perihal lelaki yang mencari Danarto tadi. Ia adalah teman dekat Danarto. Aku menanyakan di mana Danarto? Penjual angkringan itu menggelengkan kepala. Semua orang mencarinya, semua orang rindu melihat lukisan-lukisan air matanya, semua percaya hanya Danarto yang mampu menyelamatkan manusia dari kepedihan-kepedihan dunia, katanya kemudian.

Apa Danarto sudah menemukan Izrail? q– g

 

*) Daruz Armedian, penulis lahir di Tuban. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan menjadi mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Editor LPM Humaniush.

Advertisements