Cerpen Mufa Rizal (Banjarmasin Post, 22 April 2018)

Kisah Seekor Rubah ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Kisah Seekor Rubah ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Sama seperti tahun lalu, kuil ramal oleh peziarah yang memohon keberuntungan juga keselamatan pada para dewa. Gadis-gadis memakai yukata bermotif kembang selalu menyejukan mata siapa pun.

Sepanjang jalan, beberapa penjual makanan bertebaran bagai cendawan di musim hujan. Lampion bergantungan di berbagai tempat, tinggal menanti kembang api meluncur ke udara. Tanda pergantian tahun. Aku membeli okonomiyaki guna mengganjal perut yang sedari tadi menyalak.

Tepat tengah malam pesta yang sebenarnya akan dimulai, banyak pasangan kekasih meramaikan festival. Sayangnya, tak satu wanita berhasil kuajak ikut. Maka di depan kuil, kurapal doa dengan khusyuk semoga tahun depan lekas mendapat jodoh. Koin kulemparkan dan membunyikan lonceng. Melewati stan makanan, kubungkus cemilan untuk dimakan saat perjalanan.

Jalan pulang amat lengang, angin berembus pelan membuat bulu kuduk berdiri. Jika harus memilih bertemu perampok atau setan, maka aku memilih bertemu manusia. Karena keduanya sama-sama jahat. Rasa cemas menjalar ke dalam tubuh juga pikiran. Lampu taman menyala walau bersinar redup, makin menerbitkan rasa khawatir.

Kupercepat langkah, suara semak bergesek memancing rasa ingin tahu. Jangan-jangan perampok atau penodong, batinku. Jam segini rawan berkeliaran bromocorah terutama di taman. Mereka tak segan membunuh korban, kemarin seorang wanita diperkosa ketika hendak melawan. Aku memasang posisi bertahan, berjaga-jaga atas kemungkinan terburuk. Ia berperawakan mungil dengan kulit seputih salju, poni menutupi wajahnya.

Ah, lebih buruk lagi, bertemu dengan hantu! Ingin menjerit seketika, tapi suara dalam kerongkongan tiba-tiba tak keluar. Tampaknya habis cerita. Napas tercekal, pada saat itu kuingat Kakek pernah mengajari sebuah mantra untuk mengusir mahluk halus. Segera kubacakan berulang kali sampai bayangan itu pergi. Tak dinyana, sosok itu merenggut bungkusan yang kugenggam. Ia duduk di bangku, makan dengan lahap makanan seperti orang tak makan seminggu. Aku mulai berpikir hantu bisa makan pula. Kuhampiri wanita itu lantas duduk di pinggirnya.

“Namamu siapa?” tanyaku penasaran.

“Kitsune.”

Puas melahap cemilan milikku, ia mengucap terima kasih.

“Kamu tinggal di mana?”

Ia menggeleng.

Entah, didorong oleh perasaaan apa, aku mengajaknya pulang ke apartemen. Ia manut saja ketika kuraih telapak tangannya yang dingin.

Aku heran, Kitsune mampu bertahan dalam kondisi dingin seperti ini tanpa mantel bulu. Sampai di sana, kami melepas sepatu dan menuju ruang tamu, mencari pemanas ruangan. Ia memandangku lekat, entah apa yang ia pikirkan. Matanya kosong bagai sebuah lubang hitam siap menyedot apa saja. Aku mengajaknya mandi air hangat. Kutanggalkan baju, masuk ke dalam bak mandi. Ia seolah ragu, namun melihat air mukaku menampakkan rasa nyaman. Kitsune mulai melepaskan kimono, aku tak dapat mengalihkan pandangan ketika melihat dada gadis itu padat juga kencang. Ah, kusesali kenapa tak menggubris nasehat ibu untuk lekas menikah. Tak usahlah membuang uang sampai ke tempat pelacuran. Ia mencelupkan tubuh sintalnya dan merapat kepadaku. Kami berpelukan, napasnya mendesah jua aroma tubuh Kitsune menggiring ke alam surgawi.

***

Butiran putih lembut turun dari langit dengan perlahan. Setelah kemarin badai telah membuat kota mati total layaknya jaman es. Anak-anak bermain lempar bola dan membuat manusia salju. Topi juga wortel menghiasi boneka raksasa itu juga ranting memakai sarung tangan. Kadang kami memberinya syal agar ia tidak kedinginan.

Meski, banyak dari kami tahu manusia salju akan mencair ketika musim panas tiba. Saat hari sudah malam, kami lekas pulang ke rumah takut badai besar datang. Ayah sudah tiba dari kantor dan menselonjorkan kaki di meja pemanas. Ia minum sake, wajahnya mirip kepiting rebus sambil meracau tidak karuan. Ibu memasak sesuatu di dapur, baunya tercium sampai ruang tamu. Kadang aku iri pada Ayah karena bisa menghangatkan badan dengan minuman keras. Terbersit keinginan untuk mencobanya suatu hari tapi ketahuan Ibu, ia sontak murka dan menceramahi panjang lebar.

“Tak boleh minum kecuali umurmu sudah delapan belas tahun dan sudah bekerja!” ancamnya.

Tahun baru adalah waktu bagi sanak saudara berkunjung memberi saku. Acara televisi hanya menampilkan sampah juga kebosanan. Mulai dari berita politik, drama picisan juga komedi yang tidak lucu. Aku hampir tidak melihat televisi kecuali untuk melihat anime: Naruto, Bleach, Black Clover juga Gintama. Doraemon hanya untuk anak kecil bukan remaja.

Kalau ditanya soal impian, aku ingin sekali jadi mangaka dari dulu. Menggambar komik mingguan untuk majalah dan menghabiskan waktu di kamar, bergumul dengan cerita. Menurutku mereka orang-orang hebat, mampu mengalahkan ribuan orang dan bertahan dibawa tekanan juga persaingan. Tak sedikit yang bunuh diri, gagal memenuhi tuntutan editor juga jatuh sakit memikirkan komik. Sayangnya, aku hanya mampu menggambar pemandangan dua gunung bersama sawah juga burung.

Selain itu amburadul dan abstrak. Bukan cuma ayah dan ibu. di rumah kami tinggalah kakek-nenek. Kakek sering mendongeng legenda siluman juga para dewa. Setiap kali menyimak kisah darinya, mataku tak berkedip, menanti lanjutan ceritanya. Nenek biasa merajut saat kami tengah bersama di depan teras rumah. Ia sering menggoda kakek juga aku.

“Jangan percaya cerita kakekmu, ia sudah pikun.” Ejeknya.

“Kata siapa? Pikiranku masih setajamu dulu!”

“Kau lupa? Kemarin mencari kaca mata, padahal benda itu masih tersangkut di kepalamu.”

Kakek terdiam, kalah telak. Ia lalu mengalihkan pandangan ke arahku, meminta pertolongan.

“Apakah kau pernah mendengar kisah tentang rubah yang berubah menjadi manusia?”

Aku menggeleng. Lelaki tua itu berdeham, seolah ingin membuat tegang suasana. Nenek tak acuh seperti sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Syahdan, dahulu orang-orang mengamini rubah adalah utusan dari inari atau dewa yang turun ke dunia demi memberi petunjuk pada manusia. Ia bisa berwujud wanita dan menyukai beberapa makanan kita. Binatang suci itu memiliki ekor yang akan terus bertambah sesuai dengan tua usianya. Ekor itu menunjukan kekuatan dan kesaktiannya, setiap seribu tahun sekali bertambah hingga Sembilan. Ia sering berwujud sebagal roh yang meminjam raga perempuan untuk dirasuki. Setiap ekor memiliki bola menyala. Konon siapa yang bisa mencuri bola miliknya, bisa mempunyai sedikit sihir dari sang rubah.

Ada beberapa orang percaya mereka punya dua jenis golongan: satu setua terhadap dewa, satunya lagi yokai, siluman. Mereka sering mengganggu manusia. Jahil terutama pada siapa saja yang membuat masalah dan perhitungan. Rubah hanya takut oleh anjing, mereka akan lari terbirit- birit bila digonggongi. Masyarakat percaya untuk mengetahui seorang perempuan jelmaan rubah atau bukan dengan mengajaknya minum. Saat mabuk, rubah cenderung tak terkendali dan menampakkan wujud aslinya.

***

Sehabis berendam, kami langsung mentas menuju kamar. Kugendong Kitsune, meletakan tubuhnya di kasur. Kuraih botol sake, meneguknya beberapa gelas. Kutawari ia namun ditampik. Namun, karena ingin ditemani minum, kupaksa ia. Wanita itu pun meraih botol dan menghabiskan minuman. Wajahnya berubah merah, tubuhnya seolah tak berdaya. Aku memeluknya erat. Kami melakukan pergumulan selama beberapa menit. Selama itu kurasakan, Kitsune ditumbuhi bulu-bulu halus dan ekor panjang menjuntai. Bola-bola api melayang di udara mengelilingi dirinya. (*)

 

Mufa Rizal. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Karya cerpennya dimuat di Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Radar Bojonegoro dan Malang Post, serta antologi Api Ibrahim (2017). Domisili di Mojokerto.

Advertisements