Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 22 April 2018)

Boko ilustrasi Roumy Handayani Pesona - Kompas.jpg
Boko ilustrasi Roumy Handayani Pesona/Kompas

1.

Boko, mantan bromocorah diinsyafkan oleh rumah pemasyarakatan, ketika keluar dari penjara, ia banting setir total. Tidak lagi memeras, merampok atau membunuh, tetapi menjadi tukang ketoprak.

Pulang dari pangkalan, Boko membereskan peralatan ketoprak dibantu istrinya. “Ada yang beli, Pak?”

“Tidak. Dua porsi aku makan sendiri daripada basi.”

“Sudah tiga bulan, kok, begini terus?”

“Orang-orang bingung ketika melihat aku mendorong gerobak ketoprak dan mangkal di pinggir jalan. Tidak seorang pun yang berani mendekat. Bagaimanapun juga, di dalam gerobak yang aku dorong itu tidak hanya ada tahu, ketupat, tauge, dan saus kacang, tetapi juga ada pisau. Dan pisau di dekat seorang pembunuh, sewaktu-waktu bisa mengerat leher siapa pun, tanpa alasan.”

“Sabar, Pak.”

Baca juga: Keadilan – Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 7 Oktober 2012)

“Ya, sebagai mantan orang hukuman, aku paham nasibku. Aku tahu, tidak mudah bagi masyarakat melupakan sejarah hitamku. Tidak seperti orang-orang politik yang bisa dalam sekejap bertukar warna. Aku tahu, aku akan diuji lama sekali.”

“Legawa saja Pak.”

“Memang harus begitu. Kebebasan tidak langsung memberikan pembebasan. Inilah waktunya aku belajar, apakah aku mengerti pada kebebasan yang kembali diberikan kepadaku ini setelah 20 tahun di dalam bui. Kalau aku mau gampangnya aku bergabung saja lagi dengan kolega-kolegaku yang masih aktif. Banyak anak buahku yang akan memberikan aku jalan keluar. Tapi itu berarti tanganku yang sudah dicuci selama 20 tahun ini akan kotor lagi. Setelah itu, beberapa tahun lagi, aku akan masuk penjara lagi. Dan kalau itu terjadi tidak akan ada harapan keluar. Jadi, biarkan aku terima nasib ini. Ini percobaan.”

Istri Boko tidak menjawab. Ia terima saja dagangan ketoprak suaminya kembali utuh setiap hari karena tak ada yang beli.

“Uang sudah habis. Besok Bapak hanya akan mendorong gerobak kosong.”

Advertisements