Cerpen Endah Sulwesi (Tribun Jabar, 15 April 2018)

Sopir Sang Bintang ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Sopir Sang Bintang ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

Betul, nama saya Jumadil Akhir, tetapi panggil saja Pak Jum. Pekerjaan saya dari dulu sampai sekarang, ya, nyopir. Pernah juga kerja yang lain, tetapi paling lama, ya, jadi sopir. Sopir pribadi. Baru dua bulan yang lalu saya pensiun setelah 30 tahun jadi sopir pribadi Ibu Maria Puspita. Kenal? Tidak? Oh, orang tua Mbak pasti kenal Maria Puspita. Dia bintang film senior. Jadul. Sangat ngetop di tahun tujuh puluhan sampai akhir delapan puluh. Oh, Mbak tidak suka nonton film Indonesia? Bu Maria pernah juga main sinetron. Oh, Mbak tidak suka nonton sinetron juga? Ha-ha-ha. Iya, sih. Anak-anak sekarang senangnya film Korea, ya.

Saya mulai nyopirin Bu Maria waktu umur saya 27. Waktu itu Ibu Maria umurnya 35. Ya, ya, tentu dia masih cantik. Dia tetap cantik sampai tua. Jadi, ceritanya waktu itu saya baru berhenti kerja di sebuah rumah makan padang yang bubar karena pemiliknya meninggal dan anak-anaknya berebut harta. Perebutan itu tambah seru karena ternyata ayah mereka, pemilik restoran, punya istri lagi. Dari bini keduanya itu, si ayah punya anak dua. Mereka minta jatah juga. Ha-ha-ha. Rame deh jadinya. Padahal restorannya lumayan laris. Sayang, gara-gara itu jadi harus tutup.

Sebelumnya, saya kerja di kapal. Bukan, bukan kapal pesiar. Cuma kapal penumpang biasa jurusan Jakarta-Medan. Saya di bagian dapur. Kemudian bapak saya menyuruh saya pulang—saya asli Palembang—mau dikawinin. Zaman itu, kan, kawin masih dijodohin. Saya nurut. Begitu juga waktu bapak saya minta saya berhenti kerja di kapal. Kamu sudah punya istri sekarang. Jangan kerja di kapal lagi. Tidak baik sering-sering pisah dengan istrimu. Cari kerja lain saja. Begitu katanya.

Lalu, saya sempat menganggur beberapa bulan, sebelum akhirnya paman saya nawarin saya kerja jadi sopir pribadi Ibu Maria Puspita. Paman saya itu yang ngajarin saya nyetir waktu saya masih remaja. Paman saya sopir taksi. Suatu hari, dia dapat penumpang Ibu Maria Puspita itu. Awalnya, sih, paman saya yang ditawarin, tetapi paman saya malah nyodorin nama saya. Besoknya, saya diantar Paman ke rumah Ibu Maria dan langsung hari itu juga saya kerja.

Rasanya jadi sopir orang terkenal? Ya, senang. Ibu Maria orangnya baik. Murah hati. Waktu istri saya melahirkan anak kedua, semua biaya rumah sakit, beliau yang membayar. Terus, waktu anak saya disunat, dia nyumbang kambing. Dua. Dan Bu Maria juga yang kemudian membantu anak saya itu dapat pekerjaan di tivi. Bu Maria orangnya tidak pelit. Kalau beliau habis dapat honor main film, saya pasti dibeliin hadiah. Macam-macam. Bisa baju, sepatu, jam tangan, atau makanan. Istri dan anak-anak saya juga sering dikirimin hadiah. Apalagi kalau Ibu dari luar negeri.

Bu Maria juga perhatian pada keluarganya. Saudara-saudaranya yang datang minta bantuan selalu dia tolong. Kepada teman-teman artisnya juga begitu. Saya dulu juga orang susah, Jum, begitu kata Bu Maria.

Namun, Bu Maria bisa sangat galak kalau saya salah. Misalnya, kalau saya terlambat datang. Dia marahin saya karena dia jadi telat datang ke tempat syuting. Dia artis yang disiplin. Dari dulu kalau main film bagus aktingnya. Dia banyak dapat penghargaan, termasuk Piala Citra. Sayang, rumah tangganya kurang bahagia.

Ya, saya pasti tahu. Lah, hampir setiap hari saya bersama Bu Maria. Bahkan kadang- kadang Minggu juga saya kerja kalau beliau ada syuting. Tiga puluh tahun yang lalu, kan, Ibu masih laku main film. Baru setelah kurang laku, Ibu mulai ambil sinetron.

Soal rumah tangganya? Dia kawin tiga kali. Pertama, dengan Pak Banu. Pak Banu itu guru piano Bu Maria. Kata Bu Maria, waktu itu dia dapat peran jadi gadis kaya yang pintar main piano. Lantaran dia tidak bisa main piano, dia disuruh belajar dulu. Nah, gurunya itu Pak Banu. Mereka kemudian jatuh cinta. Ketika itu status Pak Banu duda. Istrinya meninggal.

Beda umur Pak Banu dan Bu Maria cukup jauh dan Pak Banu cemburuan. Bu Maria hanya boleh main film setelah naskahnya dibaca dan disetujui Pak Banu. Begitu juga urusan model untuk majalah. Pokoknya, tidak boleh yang syur.

Lama-kelamaan Bu Maria tidak betah juga dikekang seperti itu. Dia mulai berani membangkang. Mereka jadi sering ribut. Puncaknya adalah waktu Bu Maria ketahuan selingkuh dengan Pak Kenny. Betul, dia sutradara film. Kok, Mbak tahu? Oh, cuma nebak. Iya, cinlok. Cinta lokasi.

Terus, Bu Maria dan Pak Banu bercerai. Bu Maria menikah dengan Pak Kenny. Anak mereka yang dua orang ikut Bu Maria semua. Pak Kenny juga cerai sama istrinya. Tahun itu—tahun berapa, ya?—banyak, tuh, film bikinan Pak Kenny yang dibintangi Bu Maria.

Sayang, kemudian mereka sering bertengkar gara-gara Pak Kenny mata keranjang, sering main mata dengan pemain-pemain baru yang masih segar-segar. Bu Maria cemburu. Kalau lagi ribut, saya, deh, ketempuhan jadi asbak. Tempat curhat. He-he-he. Biasanya, Ibu akan pergi ke hotel langganannya dan menginap di sana beberapa hari sampai baikan lagi dengan suaminya itu. Selama di hotel, Ibu tidak pernah keluar kamar. Makan juga di kamar. Kadang-kadang saya yang belikan kalau pas dia ingin nasi padang dari rumah makan langganannya. Apa? Oh, dia suka rendang dan kikil. Dia juga suka sekali jengkol. Kalau Pak Kenny? Hmm… apa, ya? Kalau tidak salah, dia suka mi godok. Soalnya, saya jarang, sih, ngelanyanin Pak Kenny. Cuma sekali-sekali saja kalau sopirnya tidak masuk dan pas Ibu lagi tidak pakai saya.

Serunya, tuh, waktu mereka masih hot-hot-nya pacaran. Sering sekali saya bawa mereka ke motel. Mereka sengaja pilih motel atau hotel kecil yang tidak terkenal supaya aman. Biasanya habis syuting, tuh. Pernah juga beberapa kali ke luar kota. Ke Bandung, ke Puncak, ke Bogor. Iya, saya yang antar. Saya, ya, tidak berani cerita ke Pak Banu. Bisa runyam, dong. Tanpa saya cerita pun akhirnya Pak Banu tahu juga.

Dari Pak Kenny Bu Maria tidak dapat anak. Mungkin karena cuma sebentar, ya, rumah tangga mereka. Cuma lima tahun. Bu Maria akhirnya menyerah, tidak kuat menghadapi Pak Kenny yang senang main perempuan. Banyak pacarnya. He-he-he. Mereka pisah.

Setelah itu, Bu Maria lama tidak kawin. Paling-paling cuma pacaran. Tidak serius. Sampai kemudian suatu hari, dia bilang ke saya bahwa dia mau menikah dengan Pak Joko, kolonel polisi.

Ya, saya cuma bisa jadi pendengar yang baik. Dia juga tidak butuh pendapat saya. Emangnya saya siapa? Eh, Mbak bosan tidak dengar cerita saya? Syukur kalau tidak bosan.

Tidak lama setelah dia cerita, betul tuh dia lalu menikah—nikah siri—dengan Pak Joko. Pak Joko masih punya istri, anaknya tiga. Bu Maria jadi istri kedua. Waktu itu, Bu Maria sudah jarang main film dan sinetron. Bintangnya mulai redup, walaupun masih tetap cantik dan awet muda.

Siapa? Oh, istri pertama Pak Joko? Mulanya, sih, tidak tahu, tetapi akhirnya, ya, tahu. Mungkin ada yang kasih tahu. Kan anak sulungnya pernah melabrak Bu Maria. Waktu itu Bu Maria lagi syuting sinetron Ramadan. Habislah Bu Maria ditunjuk-tunjuk sama anak Pak Joko itu. Siapa? Oh, perempuan. Anak Pak Joko perempuan semua. Bu Maria dikata-katain lonte, sundal, perebut suami orang. Macam-macam. Bu Maria tidak bisa ngomong apa-apa. Cuma bisa nangis. Besoknya, di tivi dan koran muncul, deh, beritanya. Wajah dan nama Bu Maria yang hampir tenggelam mendadak terkenal lagi. Sayangnya, terkenal karena kasus. Skandal.

Berhari-hari Bu Maria stres. Dia menutup diri, tidak mau bertemu siapa-siapa, termasuk anak-anaknya. Sementara itu, banyak wartawan yang datang ingin mewawancara Bu Maria. Bu Maria menolak. Sialnya lagi, Pak Joko membantah bahwa mereka pernah menikah siri. Mungkin dia takut dipecat. Bu Maria tambah sedih. Dia merokok seharian. Tidak mau makan. Saya ikut sedih.

Lalu, suatu hari, akhirnya Bu Maria keluar kamar. Dia manggil saya. Hari itu Bu Maria dandan seperti mau pergi. Ternyata, Ibu minta diantar ke hotel langganannya. Bu Maria tinggal tiga hari tiga malam di sana. Saya tidak tahu apa yang dia kerjakan di kamar hotel itu. Sepertinya Ibu cuma ingin sembunyi. Selama tiga hari itu, ya, saya stand by di sana. Tidak bisa pulang. Saya tidur di mobil. Ha-ha-ha.

Waktu akhirnya Bu Maria pulang, dia bilang ke saya: Jum, saya sudah habis. Karier saya tamat. Hidup saya selesai. Dia bicara dengan nada yang datar, hampir tidak pakai emosi. Tidak nangis sama sekali. Cuma mukanya kelihatan kosong. Saya diam saja. Saya takut salah omong. Yang saya tahu kemudian setelah peristiwa dia dilabrak itu, kontraknya langsung diputus. Dan sejak itu, Ibu tidak pernah main film atau sinetron lagi. Tidak ada lagi tawaran. Dia seperti orang yang disingkirkan.

Siapa? Teman-temannya? Ya, ada juga satu-dua yang datang ke rumah, terutama teman-teman yang seangkatan Bu Maria. Mereka berusaha menghibur dan membesarkan hati Bu Maria, tetapi lama-lama tidak pernah ada lagi yang datang. Bu Maria kesepian. Apalagi setelah kedua anaknya kawin dan tidak tinggal di rumah Bu Maria lagi. Yang bontot malah tinggal di luar negeri. Suaminya orang bule.

Ya, kasihan, sih. Saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tetap jadi sopirnya walaupun kadang-kadang tidak digaji. Tapi saya ikhlas. Saya pikir, hitung-hitung balas budi. Bu Maria sudah banyak menolong saya. Istri saya juga tidak keberatan. Anak-anak juga sudah mandiri semua. Malah, kadang-kadang istri saya menginap di rumah Ibu, menemani ngobrol, nonton tivi, masak.

O, iya, keponakan saya ada juga yang dibantu Bu Maria jadi artis. Tahu, kan, Dara Ayu? Itu, loh, yang main sinetron Cantik-Cantik Merpati. Tidak tahu? O, iya, Mbak tidak suka nonton sinetron, ya.

Begitulah, Mbak. Kenapa? Oh, ya, saya akhirnya berhenti jadi sopir Bu Maria karena Bu Maria meninggal, dua bulan yang lalu, kanker payudara. Saya ikut menggotong jenazahnya ke makam. Saya juga ikut masuk ke lubang, menguburnya.

Ibu sakit cukup lama dan akhirnya meninggal di rumah anak yang sulung karena rumah dan harta Ibu habis dijual untuk berobat, kecuali mobil tua kesayangannya. Mobilnya Merci tua, tapi boleh dibilang tidak pernah mogok, karena saya rawat baik-baik. Sebelum meninggal Bu Maria bilang bahwa mobil itu dia kasih ke saya. Mobil itu untuk saya. Saya terharu betul.

Mobil itu lalu saya jual. Uangnya saya pakai untuk uang muka beli mobil ini. Ya, tidak cukup, tapi kan kekurangannya ditambahin dari uang tabungan saya dan pengasih anak saya. Nah, cicilannya dari uang narik taksi online ini, Mbak.

Oh, sudah sampai ya, Mbak. Saya keasyikan cerita. Kembali enam ribu, ya. Oh, tidak usah? Waduh, terima kasih ya, Mbak. Semoga Tuhan menambah rezeki Mbak. Amin….

***

 

Jakarta, 10 Januari 2017

Endah Sulwesi, lahir dan tinggal di Jakarta, seorang editor dan kolektor kain batik.

Advertisements