Cerpen Muna Masyari (Radar Surabaya, 15 April 2018)

Somber Tomangar ilustrasi Radar Surabaya.jpg
Somber Tomangar ilustrasi Radar Surabaya

Burung-burung bercericit riang dari pohon sawo rindang yang hampir menutupi saparuh halaman. Diiringi lenguh sapi tetangga, kokok ayam jantan di kejauhan, embekan kambing yang diikat pada batang pohon sawo di sudut halaman.

Kaki kambing berbulu hitam itu bergerak liar kanan-kiri dengan mata tak sabar menyambut Madlawi merangkul daun pisang dengan langkah gegas. Bekas injakan kakinya berceruk dangkal di antara butir-butir kotoran berserakan.

Kuletakkan secangkir kopi dan sepiring ubi rebus mengepul di langgar. Sudah tergeletak sebilah pisau dengan mata mengilap basah di sana. Selembar kain kafan berukuran tiga meter dilipat rapi. Tiga jarum yang ditusukkan pada segulung benang putih, gunting bergagang hitam, dibungkus menyatu dengan sobekan kain kafan. Serbuk dupa berbungkus plastik bening, sabut kelapa kering dan korek kayu di dekatnya.

Madlawi berdiri dengan dua batang lengan disilang ke belakang menatapi kambing kesayangannya yang sibuk melahap daun pisang. Sebentar lagi kambing itu akan jadi tumbal kekonyolan, ejek Salu’din, penunai nazar sekaligus nganceng [1], sangkal Madlawi, dan sebaiknya diniatkan sebagai akikah, saran Sama’on.

Apa pun nama dan niatnya, pagi ini kambing itu akan dibawa ke Somber Tomangar, beserta sebilah pisau, selembar kain kafan, tiga jarum, segulung benang, gunting, serbuk dupa, sabut kelapa dan korek kayu.

***

“Aku akan membawa Embu’ ke Somber Tomangar!” Madlawi membuka pembicaran setelah menyeruput kopi pekat-hangat beraroma tajam dan menyilakan kedua saudaranya.

“Untuk apa?” dahi Salu’din mengeriput. Urung menyentuh gagang cangkir.

“Kabarnya, banyak penyakit yang berhasil sembuh setelah dimandikan dan meminum air Somber Tomangar!”

“Apa?” tawa ejek Salu’din berderai.

“Orang stroke, lumpuh, bahkan yang memiliki penyakit sesak napas berhasil sembuh setelah meminum airnya! Kau tahu, anak Sarkamin yang tidak bisa bicara meskipun hampir berumur empat tahun sekarang juga sudah belajar memanggil ‘eppak’ setelah dibawa ke Somber Tomangar!” Madlawi berusaha meyakinkan.

“Itu kabar burung. Sumber air yang tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama menghilang tidak akan menyembuhkan apa pun!” bibir Salu’din menyabit sinis. Rambut dan sepatu hitam klimis, baju dan celana putih bersih, menegaskan betapa ia menolak segala bentuk mitos dan hanya memercayai sistem medis.

“Kita coba saja! Siapa tahu Embu’ bisa sembuh,”

“Apakah kita harus percaya pada cerita bodoh semacam itu?” masih bernada ejekan, Salu’din mengangkat kedua tangan seiring empasan punggungnya ke sandaran kursi.

“Apa salahnya mencoba?” dari perubahan raut dan suaranya, jelas Madlawi berusaha menekan amarah. Lelaki itu sengaja memanggil kakak-adiknya untuk berembuk, bukan berdebat.

“Mencoba?” tawa Salu’din kian pedas. “Kau pernah membawa Embu’ ke dukun hingga harus menjual sapi. Hasilnya mana? Itu juga akibat coba-coba!”

“Apa obat-obatanmu tiga tahun ini juga memberi perkembangan pada kesehatan Embu’? Sama sekali tidak kan?” kesabaran Madlawi seperti kabut dalam cangkir kopi yang terus menguap.

“Kesembuhan Embu’ butuh proses,”

“Sampai kapan? Proses tanpa ada kemajuan?” kejar Madlawi. Nada suaranya mulai meninggi.

Sama’on masih diam menyimak. Dua kali membetulkan letak kopyah, diteruskan dengan membelai janggutnya yang panjang. Sepertinya, saudara bungsu itu jera dan tersinggung, ketika dulu, Salu’din membandingkan air infus dengan air japah yang pernah ia minta pada guru pondoknya. Atau, sebagai santri ‘sami’na wa atha’na’, Sama’on memilih diam demi memertahankan citra seorang kiai di matanya? Entahlah.

Pada hari-hari pertama sakit, Embu’ sempat diopname di RSUD selama hampir sebulan, namun tidak ada perubahan. Akhirnya dibawa pulang. Sebagai mantri desa, Salu’din yang meneruskan perawatannya. Dua petak sawah pun digadaikan setelah semua perhiasan habis terjual demi menebus botol-botol infus, butir-butir pil dan kapsul, namun tetap tidak ada perkembangan.

Sama’on berinisiatif nyabisagi Embu’ ke kiai di mana ia mondok dulu. Tak ada hasil. Ujung-ujungnya Madlawi berkeras membawa Embu’ berobat ke dukun meskipun mendapat penolakan sekaligus ejekan dari Salu’din.

Kata Salu’din dan dokter rumah sakit Embu’ mengalami stroke akibat darah tinggi. Kata kiainya Sama’on, Embu’ tidak sengaja melangkahi sabuk jimat dan disarankan agar meminum air rendaman jimat tersebut kalau ingin sembuh, namun kami tidak tahu di mana Embu’ pernah melangkahinya. Jimat siapa? Sementara menurut dukun Madlawi, kemungkinan Embu’ terkena babalina lalakon [2].

Memang, menurut cerita Madlawi, kakek buyutnya, yang tak lain adalah kakek ibu mertuaku, dulu pemilik tenung yang sangat ditakuti. Tak seorang pun berani mengganggunya walau sekadar memetik selembar daun beluntas di pagar halaman kecuali ingin berperut bengkak dan berakhir maut. Yang datang-pergi untuk menyembuhkan atau mencelakai orang pun tak terhitung. Namun sampai ia meninggal, semua ilmu gelapnya tidak diturunkan pada anak-putu. Anehnya, sepeninggal lelaki bergelar dukun itu, anak-putunya meninggal dengan penyakit yang hampir sama dengan ibu mertuaku kali ini; perutnya bengkak, tubuhnya kaku, kulitnya hitam melepuh seperti terbakar, lidahnya mendadak kelu dan mulutnya menyorong ke samping. Tidak seperti malam-malam biasa, setiap malam jumat legi, suhu tubuhnya tinggi sampai menggigil. Matanya mendelik dan napasnya sengal (seperti) menahan sakit.

Apa pun nama penyakit dan penyebabnya, tiga jalan penyembuhan untuk Embu’ tidak memberi harapan apa pun. Embu’ tetap membujur kaku, berperang dengan penyakitnya. Tiga tahun kami merawatnya sebagaimana merawat bayi. Infus dan obat-obatan diberikan sewaktu-waktu.

Sama’on datang setiap malam Jumat legi, dan membacakan Alquran di samping perempuan tak berdaya dalam kesakitan itu. Demikian pula dengan Salu’din. Pada malam yang sama, ketika penyakit Embu’ kumat, ia pun sibuk dengan alat-alat medisnya; jarum suntik, selang infus, dan botol-botol obat yang disuntikkan ke botol infus. Di dada kami seolah hanya tersisa dua pilihan; merawat untuk mengurangi rasa sakitnya, sekaligus menunggu hari pelepasan dari rasa sakit itu sendiri!

Akan tetapi, kabar yang menguar tentang Somber Tomangar kembali menyulut sumbu-sumbu harapan di dadaku dan dada Madlawi. Meskipun mendapat ejekan pedas dari Salu’din, senja itu kami tetap membawa Embu’ ke desa Bulangan, di mana Somber Tomangar berada.

Jarak tempuh 2 jam dengan mobil pick-up membuat kami tiba di lokasi ketika matahari nyaris karam. Sudah banyak kendaraan terparkir. Pedagang kaki lima bertebaran beratapkan plastik. Ada juga yang menjajakan gorengan, talas rebus, pentol tahu, bahkan gayung dan jeriken air seharga lima ribu rupiah.

Somber Tomangar terletak di kaki bukit, berpagar pohon jati, dan airnya mengalir ke sawah. Ada dua sumber bersebelahan. Dan sejak dianggap air mujarab hingga banyak pengunjung yang datang. Dua sumber itu dibatasi pagar seng hingga menjadi dua lokal; khusus laki dan perempuan.

Kabarnya, bertahun-tahun silam, Somber Tomangar mati setelah ditemukan seorang bayi dikerubung semut dengan tali ari utuh, di dekat sumber. Diduga, bayi tersebut korban pergumulan nista orangtuanya. Seorang guru ngaji tanpa anak merawat si bayi hingga besar. Disekolahkan. Lalu dititipkan ke pondok pesantren selama dua puluh tahun. Pulangnya, ia menjadi lelaki penuh wibawa. Bersahaja. Ditakzimi dan dikeramatkan. Gelar kiai pun disandang. Ke Sakdulla. Santrinya bertambah setiap hari.

Sebelum matahari mencuat, tamu sang kiai sudah antre untuk memohon air japah bagi kerabatnya yang sakit. Atau jimat selamat bagi yang hendak merantau, meminta air berkah untuk benih yang bakal ditanam, dan segala ragam kepentingan lainnya. Namun sejak beliau terpilih jadi anggota dewan daerah, air japahnya tidak lagi mujarab. Tak sekadar itu. Santrinya juga terabaikan karena beliau sering bepergian ke luar kota. Bahkan banyak yang memilih berhenti meskipun tambahan asrama sedang dilakukan.

Suatu pertengahan malam Jumat legi. Ketika hanya tersisa desau angin menggesek dedaunan dan jerit jangkrik di sawah, gemuruh seperti suara air mengempas dinding terowongan terdengar menindih. Esoknya, seorang petani kaget melihat sawahnya tergenang air.

Somber Tomangar muncul lagi, dan tetua kampung mengaku dapat wangsit tadi malam bahwa air Somber Tomangar bisa dijadikan jalan penyembuh seribu penyakit. Kabar pun menguar hingga ke desa sekitar. Warga setempat beranggapan, air Somber Tomangar adalah pengganti air japah kiai.

***

Ketika kami tiba, pengunjung yang antre di pinggir Somber Tomangar sudah memagar. Rata-rata mereka menenteng gayung untuk mandi dan botol bekas air mineral untuk membawa air pulang.

Seorang perempuan ringkih beruban dipapah perempuan muda dan seorang lelaki berkulit legam di sisi kanan-kiri, menyela antrean. Melihat dua batang betisnya yang hanya terbungkus lapisan kulit kering-keriput dan tampak bergetar saat menuruni undakan lokasi air sumber yang mirip kolam dangkal itu membuat yang lain terdiam tanpa protes.

Sudah ada enam perempuan yang bercebur separuh dada di bawah sana. Salah seorang di antara mereka, tanpa rasa malu membuka lipatan sarungnya hingga bukit kembarnya yang sebesar buah kelapa terlihat jelas. Banyak memar di seputar bukit.

“Sembuh, sembuh, sembuh!” seru perempuan itu seraya menabuhkan air ke bukit kembarnya dengan dua belah tangan.

Dua perempuan lain sedang mengambil air dari sumbernya langsung, di hulu, hingga botol bekas air mineral yang dipegangnya penuh. Sarung basahnya melekati tubuh.

Madlawi berdiri di tubir, menunggu salah seorang yang sedang mandi segera naik. Perempuan ringkih yang baru turun mulai dimandikan. Bibirnya menggigil. Giginya merapat. Gelung rambutnya yang tak sebesar kepalan tangan dilepaskan oleh perempuan muda yang mendampingi. Rambut itu segera basah disirami dua gayung air Somber Tomangar.

Tangan kekar Madlawi masih membopong tubuh Embu’ seringan membopong kayu kering. Penyakit menggerogoti daging di tubuh Embu’ selahap rayap memakan kayu kapuk. Tinggal perutnya yang membengkak.

Hampir setengah jam kami menunggu, hingga akhirnya Madlawi memiliki kesempatan membawa Embu’ turun, didampingi olehku. Saat tubuh Embu’ mulai disirami air Somber Tomangar, kulihat matanya mengerjap-kerjap dan bibirnya berusaha digerakkan. Entah mau bicara apa.

Ketika hendak pulang, kami melihat segerombol orang melingkar, tidak jauh dari lokasi Somber Tomangar. Suara ribut mereka saling tindih dengan embekan kambing yang menjerit parau. Aroma dupa menguar ke udara.

“Ada apa?” Madlawi bertanya pada seorang ibu yang tengah berjalan gegas seraya menenteng gayung.

“Selamatan menyembelih kambing karena penyakit anaknya sembuh.”

Kami terpekur sejenak. Pada saat itulah Madlawi mengaku hatinya membisikkan nazar, jika Embu’ sembuh akan menyembelih kambing juga di tempat yang sama.

Akan tetapi, saat kami hendak menunaikan nazar itu pagi ini, Somber Tomangar terlihat sepi. Tidak ada kendaraan sama sekali. Tenda-tenda pedagang kaki lima sudah dibongkar. Pagar pembatas antara tempat mandi laki-perempuan juga hilang tanpa bekas.

Somber Tomangar tidak mengalir lagi sejak Ke Sakdulla meninggal seminggu lalu,” jawab warga setempat pada kami. (*)

 

Madura, Juni 2017

 

Catatan:

Nganceng [1]: syarat ritual agar penyakit tidak kembali (kumat).

Babalina lalakon [2]: balasan perbuatan buruk yang disengaja. Biasanya dikaitkan dengan ilmu hitam.

 

Penulis tinggal di Pamekasan, Madura.

Advertisements