Cerpen Febri Tesalonika (Analisa, 15 April 2018)

Sisi Gelap Eleanor ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Sisi Gelap Eleanor ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

“Lea, apa kamu sudah membahas buku seleksi ujian nasional yang kemarin papa beli?” tanya Adi, nama ayah kandung Eleanor.

Eleanor menghela nafas pelan, takut terdengar kedua orangtuanya. “Satu perempatnya sudah Lea baca.”

“Baguslah,” kata Adi, “Kamu harus belajar bagus-bagus kalau mau diterima di SMA unggulan.”

“Iya, Pa.”

“Kalau kamu sudah diterima SMA itu maka masa depan kamu sudah cerah,” timpal Ana, ibu kandung Eleanor. “Mungkin setelah lulus dari sana kamu bisa mudah masuk PTN lalu lolos masuk UI.”

“Iya, Ma,” jawab Lea seraya melap mulutnya sehabis memakan semua makanan yang ada di piringnya. “Lea kembali ke kamar ya, Ma, Pa, Dek, Kak, mau belajar. Selamat makan.” Kemudian Lea berjalan kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas.

Setelah masuk ke kamarnya, Eleanor menghela nafas berat. Rasanya dia ingin menangis. Memang sudah biasa kalau segala sesuatu di hidupnya diatur dengan baik Adi dan Ana. Eleanor tidak bisa sembarang bicara kepada orang-orang tertentu sejak SD dulu. Sekolah, baju, tempat les, penampilannya, gaya bahasannya, bahkan buku yang harus dibacanya.

Eleanor mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia membuka room chat kelasnya, lalu membaca pesan dari atas sampai bawah. Ia sempat cekikikan karena lelucon dan lawakan yang dilontarkan temantemannya. Eleanor suka saat-saat seperti ini. Ketika dirinya disayangi tanpa memandang kalau Eleanor orang pintar atau sebagainya.

Adi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Eleanor dan menangkap basah Eleanor yang asyik memainkan ponselnya, bukannya belajar seperti Eleanor katakan tadi.

“Eleanor!”teriak Adi mengagetkan sampai ponselnya jatuh.

“Pa-pa?” Eleanor gemetaran, takut Adi murka.

“Kamu kenapa tak belajar? Kenapa malah asyik main ponsel, ha?” bentak Adi membuat Eleanor bergidik ngeri.

“Ma-maaf, Pa…,” lirih Eleanor.

“Maaf, maaf, Papa sita ponsel kamu! Sini!” gertak Adi sembari merampas ponsel Eleanor.

“Ja-jangan, Pa…,” bela Eleanor. Dia tidak ingin kehidupan sehari-harinya hanya dihiasi buku-buku tebal berisi tips-tips belajar. Setidaknya di ponsel itu Eleanor sedikit tertawa karena lelucon temannya di grup kelas.

“Kenapa? Biar kamu kerjanya main ponsel melulu, ya? Kalau kamu tak lulus memang ponsel ini bisa bantu kamu?” gertak Adi dengan suara tinggi membuat Ana, Dahlia-kakak Lea dan Farel-adik Lea, datang ke kamarnya.

Eng-enggak, Pa. Bukan begitu.” Kini air mata Eleanor luruh.

“Jadi?”

Eleanor bungkam, berusaha menenangkan dirinya. Jika ia menangis, pasti dia akan merasa sesak akut. Eleanor mengatur nafasnya agar gemuruh di dadanya bisa berhenti. Secara perlahan, Eleanor kembali tenang walaupun beberapa kali masih sesenggukan.

“Ponsel kamu Papa sita. Lebih baik kamu giat belajar, menetap di rumah sampai kamu lulus tes seleksi SMA itu. Jika tidak lulus, jangan harap kamu dapat ponselmu kembali dan bisa jalan-jalan,” kata Adi tegas.

Eleanor duduk di kasurnya. Memeluk dirinya sendiri sambil menangis. Kapan dia bisa bahagia?

Keesokan harinya, Eleanor pergi sekolah dengan mata sembab. Eleanor terduduk lesu di kursinya. Bahkan saat pelajaran, ia hanya melamun dan menidurkan kepalanya di atas lipatan tangannya di meja. Saat jam istirahat pun, Eleanor masih di tempatnya.

“Eleanor!”

Eleanor tahu itu suara siapa. Jesslyn, sahabatnya. Dirinya tidak berniat untuk mendongak dan menyapa balik Jesslyn. Dia masih lemas, ponselnya disita, itu adalah salah satu alasannya. Tapi itu bukan alasan utamanya. Tadi pagi Eleanor tidak sempat sarapan. Bukan hanya karena ia tidak minat, tapi ia masih takut dengan Adi. Ya sudah, Eleanor berangkat sekolah lebih dulu dari Dahlia dan Farel.

“Eleanor, balas dong,” kata Jesslyn sambil menggoyang-goyangkan bahunya.

Eleanor mendongak lalu menangkap sosok Jesslyn yang menatap ngeri wajah Eleanor yang seperti zombie. “Apa?” tanya Eleanor. Bahkan suaranya terdengar parau.

“Lo kenapa? Kebanyakan belajar? Muka kayak zombie, gitu,” ujar Jesslyn.

“Diam deh,” kata Eleanor. “Tadi pagi gue gak sempat sarapan jadi lemas.”

“Terus mata kamu kenapa? Beler gitu,” kata Jesslyn.

“Oh, ini karena kebanyakan ensiklopedia makanya beler,” dusta Eleanor. Tentu tidak mungkin Eleanor bicara jujur karena ponselnya disita.

“Ye…, makanya jangan kebanyakan belajar, stress loh nanti,” kata Jesslyn yang dibalas dengan anggukan Eleanor.

Terkadang Eleanor merasa iri dengan Jesslyn. Ia begitu sempurna. Wajahnya manis dan lumayan pintar, walaupun sedikit nakal dan dia juga cewek humoris, makanya punya banyak teman, yang paling penting dia punya dua orangtua yang begitu pengertian.

Mungkin bagi kebanyakan orang berpikir, kalau Eleanor memiliki kehidupan sempurna. Kepintaran yang tiada tara, cukup populer di kalangan murid dan guru, bahkan bisa dikatakan Eleanor memiliki kekuasaan di sekolah. Tapi tidak ada yang tahu kalau si juara dua umum ini merasa tertekan di rumah.

Adi, adalah kontraktor terkenal di kota tempat tinggal Eleanor sekarang. Karena itu Adi mementingkan gengsi dan harga diri. Dia tidak ingin martabatnya turun karena anak-anaknya yang tidak memiliki IQ cukup tinggi. Dahlia, yang berumur 18 tahun, kemarin gagal lulus tes seleksi UI, jadi Dahlia masuk ke STAN. Entah kenapa, Adi tidak merasa puas karena Dahlia hanya bisa masuk STAN. Padahal menurut kebanyakan orang STAN dan UI setara. Karena itu Adi berharap banyak pada Eleanor. Tanpa tahu harapan tingginya membuat Eleanor terbebani.

Gak deh, Jess, lo duluan aja, gue menyusul,” tolak Eleanor sambil tersenyum tipis.

“Yah, tak asik lo,” Jesslyn cemberut. “Eh, semalam kenapa tidak balas chat gue sama tak muncul grup kelas?”

Eleanor terhenyak, bingung ingin menjawab apa. “WiFi rumah gue mati, makanya gak aktif semalam.”

“Yaudah, gue duluan ya,” kata Jesslyn. Sementara Eleanor duduk di kursinya sembari membuka buku latihan matematika.

Sepulang sekolah, Eleanor langsung mengemas tasnya dan berniat langsung ke tempat lesnya. Sebenarnya jatah les Eleanor hanya dua kali seminggu, tapi Adi menyuruhnya agar diskusi di les setiap hari. Tanpa bisa menyela, Eleanor menurut.

Baru saja Eleanor akan berjalan mencari angkot, Jesslyn datang menghampiri. “Lea, kamu mau ke toko buku ?”

Ngapain?”

“Beli novel remaja bareng Shanin sama Alana,” kata Jesslyn.

“Papa pasti gak izinkan,” batin Eleanor. “Enggak deh. Kalau beli buku rumus fisika sih gue mau.”

“Otakmu belajar melulu, awas stress,” tutur Jesslyn.

Setelah angkot yang menuju lesnya datang, Eleanor naik angkot menuju tempat lesnya. Hari demi hari berlalu dan tes seleksi SMA unggulan tiba. Sebelum mengerjakan tesnya, Eleanor mengerjakan tes itu dengan sungguhsungguh. Ia berharap usahanya berbulan-bulan tidak sia-sia. Eleanor belajar di les sampai malam dan menetap di rumah saat hari libur untuk belajar. Selama berbulan-bulan, Eleanor menolak semua ajakan jalan-jalan bersama temannya. Selama berbulan-bulan, Eleanor hidup tanpa ponsel.

Detik demi detik berlalu, usai mengerjakan tes, ia mecek kembali hasil kerjanya sebelum dikumpulkan. Lalu keluar dari ruangan, sekarang ia tinggal berpasrah pada yang di atas dan menunggu hasilnya.

Hari ini, tanpa Eleanor sangka, seseorang menelpon Adi dan mengatakan kalau Eleanor lulus tes seleksi SMA tersebut. Eleanor bahagia, dengan begini Adi pasti akan bahagia. Nyatanya tidak, ekspresi Adi biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa.

“Pa, aku lulus tes SMA itu, apa Papa tidak senang?” tanya Eleanor.

“Alah, tes begitu saja sudah bangga. Tes begitu mah gampang, sana masuk kamar dan belajar lagi materi kelas 10!” suruh Adi.

Eleanor melongo, tak percaya. “Pa, ponselku bagaimana?”

“Sudah dibuang,” kata Adi santai sembari merapikan berkas-berkas kerjanya.

“Apa? Tapi kata Papa akan dikembalikan kalo aku lulus tes SMA itu,” kata Eleanor melas.

“Kamu masih lulus tes akademik, masih ada tes fisik dan tes psikotes, sebaiknya kamu masuk kamar lalu baca buku psikotes yang Papa berikan kemarin,” kata Adi tegas.

“Tapi, Pa, bukankah setidaknya Lea bisa santai sebentar?”

Gak usah bawel kamu, masuk sana! Papa sibuk!” usir Adi. Eleanor masuk kamarnya lalu menangis. Agar suara tangisnya tak terdengar, ia menyetel lagu keras-keras.

Hampir setengah jam Eleanor menangis. Eleanor sibuk belajar sampai-sampai dirinya ketiduran di atas buku psikotesnya. Keesokan paginya, tepat jam setengah lima pagi, Adi masuk ke kamarnya.

“Hei, bangun!” kata Adi sambil menggucangkan bahu Eleanor dengan kasar. Eleanor yang masih setengah sadar, mendongak, dan ketika tahu itu adalah Adi, ia langsung sadar sepenuhnya. “Eh, Papa. Kenapa, Pa?” tanya Eleanor, berharap dalam hati kalau Adi datang ke kamarnya untuk menyemangatinya. Nyatanya tidak.

“Sana jogging, sekalian push up, sit up, dan restock di lapangan kompleks,” kata Adi tegas.

“Tapi, Pa, ini masih jam setengah lima. Lea bisa olahraga jam lima gak?” bujuk Eleanor karena masih mengantuk, apalagi semalam sibuk belajar sampai jam sebelas malam.

Enggak ada tapi-tapi, sana olahraga!”seru Adi.

Eleanor segera keluar kamar dan olahraga yang diawasi Adi dari jendela kamarnya.

Selama dua minggu Eleanor berlatih dan berusaha untuk memahami materi dari buku psikoter dan semua jerih payahnya terbayar. Dugaan Eleanor, Adi akan senang dan akan memeluknya layaknya putri, seperti Adi memeluk Dahlia. Tapi kenyataan berkata lain. Adi hanya menatap Eleanor dengan tatapan curiga.

“Kamu gak buat curang kan?” tanya Adi membuat Eleanor terbelalak.

“Maksud Papa apa? Papa anggap anak Papa ini penipu?” tanya Eleanor sarkasme. “Aku lulus SMA itu, Pa! Dengan usahaku sendiri! Papa bukannya bersyukur atau ucapkan selamat, tapi malah sinis! Sebenarnya Papa senang gak sih aku lulus?”

“Jaga omongan kamu ya! Papa ini ayah kamu, bersikaplah lebih sopan! Kayak tak diajari sopan santun kamu!” tutur Adi dengan suara yang meninggi membuat Ana, Dahlia, Farel datang ke ruang kerja Adi. Sedangkan Eleanor menangis di tempat.

“Papa tak tahu kalau aku tak mau masuk SMA itu! Papa cuma minta aku masuk SMA unggulan hanya untuk Papa pamerkan ke temen-temen Papa! Papa cuma maksa aku belajar, belajar, dan belajar biar bisa memenuhi gengsi Papa! Menurut Papa lebih penting gengsi daripada kesehatan psikologis Lea kan? Lea selama ini nurut saja, tapi sekarang Papa sudah kelewat batas! Aku lulus, Papa sinis dan anggap aku main curang. Kalo aku tak lulus? Haha, mungkin aku bakal diusir dari sini!” Eleanor murka. Membuat Adi, Ana, Dahlia, dan Farel terhenyak. Eleanor mengusap pipinya yang basah karena air matanya.

“Papa tak pernah memeluk aku tulus kayak Papa meluk Dahlia dan Papa gak pernah muji aku kayak Papa muji Farel. Apa aku ini emang gak dianggap, Pa?” lirih Eleanor penuh luka, membuat hati Adi sedikit terenyuh. Hening sejenak, membuat Adi memeluk Eleanor tapi sesuatu di dirinya menahannya. Eleanor terkekeh menyedihkan. “Apa Papa ngirim Eleanor ke SMA asrama karna gak butuhlagi? Ah iya, di sini kan Eleanor gak dibutuhkan, mending Lea pergi saja.”

Kemudian Eleanor berlari ke lantai bawah, untuk keluar rumah. Sahutan dan panggilan dari Ana, Dahlia dan Farel tak dihiraukannya. Ia hanya berlari dengan pikiran terfokus kalau Adi memang tak menyayangi dan tak peduli dengannya. Ia terlalu sibuk menangis tanpa tahu kalau sebuah mobil sedang melintas dan telat mengerem .Tabrakan itu terjadi. Bagian depan itu menabrak tubuh Eleanor membuat Eleanor berguling ke atas kap mobil lalu berguling jatuh ke bawah. Ke dinginnya jalan raya sore itu. Tepat ketika matahari terbenam, tepat Eleanor akan menutup matanya, dia berbisik setulus hati.

“Sampai kapan pun Papa adalah ayah Lea. I loveyou, Ayah….” Dan Eleanor pun pergi.

Farel dan Dahlia yang saat itu mengejar, langsung menghampiri tubuh Lea yang berdarah di beberapa bagian. Mereka histeris. Farel meminta Dahlia memanggil Adi dan Ana. Beberapa saat kemudian, Adi dan Ana datang. Ana histeris melihat kondisi putri keduanya dan menjadi fokus perhatian banyak orang.

Sedangkan Adi masih diam, menatap tubuh putrinya yang terkapar di jalan raya yang dingin dengan mengenaskan. Perlahan Adi berjalan mendekat. Adi merengkuh tubuh Eleanor yang lemah.

“Pelukan ini yang kamu mau kan, Nak? Papa sudah berikan, ayo bangun,” lirih Adi penuh penyesalan. Air matanya luruh. “Bangun, Lea, bangun! Papa sudah meluk kamu, apa yang kamu mau lagi? Kamu putri Papa yang paling manis, cantik, baik, pintar dan penurut. Papa sudah muji kamu, ayo bangun! Jangan pergi, Nak. Papa tahu selama ini Papa selalu maksa kamu dan selalu keras sama kamu. Maafkan Papa yang memang kelewat batas ini, Papa nyesal. Bangun, Lea sayang, kamu penting buat Papa. Bukan sebagai alat pemuas harga diri tapi kamu putri Papa. Papa sayang kamu, Lea….”

Eleanor senang mendengar itu. Ia bahagia mendengar Adi sayang padanya serta pelukan kasih sayang dan pujian Adi. Bukankah penyesalan selalu datang terlambat?

Tapi fakta tidak bisa diubah bahwa Eleanor memang sudah pergi. *

Advertisements