Cerpen Syaiful Irba Tanpaka (Lampung Post, 15 April 2018)

Senja di Atas Kolam ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Senja di Atas Kolam ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Bongkot jatuh cinta kepada senja. Senja yang memantulkan cahaya matahari yang kuning keemasan, dalam balutan udara yang sejuk menyegarkan. Senja yang mendekap dirinya dengan sejuta kenangan. Ya!

Sebab itu saban sore Bongkot duduk di sebuah kursi santai di pinggir kolam yang ada di pekarangan belakang rumahnya. Sambil memandangi air kolam yang memantulkan cakrawala. Ia tahan berlama-lama melakukan hal itu. Hingga terdengar azan magrib menggema, barulah ia masuk ke dalam rumah. Dan manakala ia ketiduran, maka asisten rumah tangganya akan membangunkan dan mengingatkan.

“Bapak! Bapak…, maaf, sudah waktunya salat magrib…”

Rumah yang ditempati Bongkot terbilang cukup besar. Sebuah rumah yang terbuat dari kayu dengan desain artistik tradisional. Ia tinggal bersama dua orang asisten rumah tangga yang berusia paruh baya, Paman Budam dan Batin Somad. Mereka berdua penduduk desa yang diminta Bongkot untuk membantunya. Tentu saja dengan imbalan setiap bulannya.

Sejak pensiun dari pegawai pemerintah Bongkot memang merencanakan membangun rumah di desa. Ia ingin menjalani hari tuanya dengan tenang dan damai. Mengisi sisa-sisa umurnya dengan beribadah. Meluruskan langkah menuju amar makruf nahi munkar. Menyesali dosa-dosa yang diperbuatnya di masa lalu dan menghapusnya dengan sepenuh sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur masih diberi kesempatan oleh Allah swt menjalani kehidupannya hingga di usia 66 tahun.

Beruntung ia mendapatkan desa yang memiliki cuaca teduh dan udara yang sejuk. Setiap pagi saat ia berolahraga renang di kolam belakang rumahnya, kericau burung-burung dan suara-suara binatang lainnya sesekali meningkah. Sungguh suasana desa yang asri dan tenteram.

Terlebih penduduk desa masih menjunjung nilai-nilai paguyuban. Amat jauh jika dibandingkan dengan suasana kota tempatnya dulu. Kota yang dilumpuri nilai-nilai modernitas yang sekuler dan hedonistik. Kota dengan masyarakat yang individualistik dan mekanik. Sungguh!

Hari-harinya di desa dirasakan Bongkot begitu indah. Terutama di saat senja.

“Betapa senja selalu memesona di hatiku,” batinnya. Saat-saat ia duduk di kursi santai sambil memandangi air di kolam yang memantulkan cakrawala.

Di air kolam itu Bongkot seakan menatap kembali masa lalunya yang pudar namun gemuruh menghujani ingatan. Ingatan yang mulai rapuh dalam tubuh yang mulai renta. Sendiri saban hari di temani kesepian demi kesepian. Dan di ujung semua itu adalah kerinduan yang utopis. Ya!

Ketika segalanya telah menjauh. Ketika orang-orang yang disayanginya telah pergi. Istrinya telah tiada. Tiga orang anaknya telah berkeluarga dan tidak lagi tinggal bersamanya. Dan amat jarang mengunjunginya. Masih bersyukur sesekali anak-anak dan menantunya menyapa lewat hape, atau aplikasi media sosial lainnya.

Tapi yang dirasakan Bongkot; setiap kali anak-anaknya atau menantunya menyapa, setiap kali itu pula kerinduannya meranggas. Terus meranggas. Makin meranggas. Meranggas-ranggas. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang-yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [1]

Tanpa terasa mata Bongkot berkaca-kaca. Namun wajahnya mencoba tersenyum. Meski terlihat getir. “Ach! Anak-anak yang dulu kusayang dan kumanja. Kini terpisah jauh, masing-masing hidup bersama keluarganya.”

Bongkot tahu anak-anaknya sekarang sudah hidup senang dengan status sosial menengah atas. Ia bahagia untuk itu. Dan karenanya ia menangis.

Air mata tua menetes ke dalam kolam

Air memendar menggoyang cakrawala

Indahnya cinta timbul tenggelam

Ahai…, menatap sasar buaian senja

Pernah terpikir oleh Bongkot; kenapa ia begitu menanti-nanti saat senja tiba. Barangkali bukan lantaran senjanya yang betul-betul memancarkan keindahan, melainkan tersebab jiwanya yang terbuka menikmati kenangan demi kenangan.

Peristiwa-peristiwa masa lalu, terutama masa mudanya. Masa-masa di mana gairah cinta mekar berseri. Cinta kepada perempuan-perempuan yang datang dan pergi. Cinta duniawi yang dibarengi nafsu birahi.

“Tidak! Aku tidak ingin kau mencintaiku karena nafsu dan hasrat memiliki. Tapi cintai aku karena Allah.”

Kening Bongkot berkerut. Seketika wajahnya gamang serupa langit dilingkupi awan kelabu. Tatapannya lurus ke arah kolam. Mata tuanya seolah melihat sosok wajah seorang gadis. Gadis manis yang pernah mengisi kehidupannya. Gadis keturunan yang bermata sipit, berkulit putih bersih, murah senyum dengan lesung pipit di pipi.

“Alaysa…!?” spontan Bongkot menyebut nama.

Ya! Alaysa, gadis yang dikenal Bongkot dalam pesawat; suatu hari dalam suatu perjalanan, Kebetulan, saat itu, Bongkot duduk bersebelahan dengan Alaysa. Sesekali Alaysa melirik dan menatap Bongkot dengan pandangan gelisah. Wajah Alaysa terlihat pucat dan tubuhnya kadang gemetar.

Bongkot mencoba tersenyum ramah sambil menganggukan kepala. Namun benak Bongkot dipenuhi tanda tanya memperhatikan Alaysa yang seperti paranoid. Meski wajahnya tetap terlihat manis dan cantik. Namun tatapan matanya sayu dan kosong.

Setelah beberapa kali Alaysa melirik dan menatap Bongkot, kemudian Alaysa menuliskan sesuatu di secarik kertas dan memberikannya kepada Bongkot. “Help me” itulah kata-kata yang tertulis di kertas.

Bongkot memandang Alaysa lekat-lekat. Tapi tatapan Bongkot terasa sia-sia lantaran Alaysa menunduk dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bongkot kembali memandangi kertas di tangannya. “Help me,” apa maksudnya?

Namun belum tuntas Bongkot merenungi maksud kata-kata di kertas itu, secarik kertas kembali disodorkan Alaysa kepadanya. Kali ini tertulis sepotong kata “please”. Kembali Bongkot memperhatikan wajah Alaysa. Bongkot menunggu beberapa saat hingga Alaysa menoleh kepadanya.

“Baiklah! Baiklah,” ucap Bongkot lembut. Alaysa mengangguk.

Turun dari pesawat Bongkot memapah Alaysa. Karena ternyata Alaysa setengah gemetar dan seakan tidak kuat melangkah.

“Bantu saya ke alamat ini,” tutur Alaysa sambil menunjukkan selembar kartu nama.

“Baiklah,” jawab Bongkot.

Dengan menggunakan taxi bandara Bongkot mengantar Alaysa ke alamat yang dituju, sebuah perkantoran elite di pusat kota. Alaysa meminta Bongkot untuk singgah di sebuah kafe di dekat perkantoran itu. Alaysa menelpon seseorang. Lalu memesan minuman dan makanan. Sekitar satu jam seorang lelaki tengah baya datang menemui Alaysa.

“Alex,” ucap lelaki tengah baya itu memperkenalkan diri seraya menyalami Bongkot.

“Bongkot!”

“Ini Bongkot teman abangku, dia diminta menemaniku kemari,” tutur Alaysa berbohong

“Its ok,” ucap Oom Alex lagi.

Saat Oom Alex dan Alaysa berbincang, Bongkot pamit untuk ke toilet. Hingga Bongkot tidak mendengar substansi pembicaraan keduanya. Lantaran sekembali Bongkot dari toilet, Oom Alex segera pamit.

Alaysa kemudian minta diantarkan chek-inn di sebuah hotel. Setelah itu Bongkot pamit untuk ke tempat tujuannya datang ke kota itu.

***

Pertemuan demi pertemuan terulang dan berkembang. Lantaran Bongkot dan Alaysa tinggal di kota yang sama. Semakin hari; keakraban keduanya terus memekar. Hingga tak ada rasa sungkan di antara mereka berdua untuk curhat tentang kehidupan masing-masing. Terutama Alaysa. Dan Bongkot berupaya menjadi pendengar yang baik, setiap kali Alaysa bercerita tentang kehidupannya.

Bongkot selalu berupaya mencerna setiap masalah yang dialami Alaysa, untuk kemudian berkomentar memberi solusi. Karena itulah Bongkot menjadi tahu tentang siapa dan bagaimana Alaysa. Ya! .

Alaysa adalah bungsu dari empat bersaudara. Usianya dua puluh lima tahun. Tamat esema ia diarahkan orang tuanya untuk mengelola toko elektronik. Orang tuanya melarang Alaysa kuliah, padahal Alaysa ingin sekali melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Karenanya Alaysa merasa tertekan. Dan sebagai pelampiasannya ia tercebur dalam gaya hidup anak-anak muda modern. Pergaulan bebas dan narkoba.

Alaysa kemudian bertemu Oom Alex yang bersedia membiayainya kuliah. Jadilah tanpa sepengetahuan orang tuanya, dengan cara sembunyi-sembunyi, Alaysa melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi sambil menjadi sepia.

“Karena mau bagaimana lagi…?!” tanya Alaysa kepada Bongkot. Dan Bongkot hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.

“Karena hanya itulah pilihan terbaik untukku,” lanjut Alaysa.

Pelangi terbentang dalam pandangan gemerlap di cakrawala sehabis hujan begini nasib yang kupeluk dalam dekapan sebab kehidupan yang begitu kurindukan

“Kamu masih percaya Tuhan, Alaysa?!” Tanya Bongkot suatu kali.

“Tentu!”

“Kamu masih punya agama?!”

“Tentu!”

“Kamu tahu itu dosa?!”

“Tentu!”

“Kenapa kau lakukan?”

Mendung turun di mata Alaysa. Lalu menjadi butiran-butiran bola kaca. Dan Alaysa menangis. Terisak. Terisak-isak.

“Aku tahu, kehidupanku bergelimang dosa. Kehidupanku diliputi awan hitam. Aku penjelmaan iblis di dunia. Tapi tidak bisakah aku membenahi kehidupanku? Ketika ada hasrat lain yang menggelegak dalam jiwaku. Aku ingin menjadi manusia baik-baik”

“Tentu, tentu Alaysa. Kau dapat memulainya dari awal. Tuhan itu Maha Pemaaf dan Maha Pengasih. Senantiasa menerima tobat hamba-Nya.”

“Kalau begitu…, ajarkan padaku!” pinta Alaysa dengan sisa isaknya

“Bagaimana aku bisa? Meski Tuhan kita satu, tetapi agama kita berbeda!”

Alaysa menatap Bongkot. Perlahan-lahan kemudian Alaysa merebahkan kepalanya di bahu Bongkot sambil memejamkan mata. Senja begitu indah!

***

Setahun berlalu, Alaysa benar-benar berubah. Ia tidak lagi menjadi pecandu narkoba. Ia tidak lagi suka clubbing. Dia tidak lagi menjadi sepia Oom Alex. Ia tidak lagi menolak keinginan orang tuanya mengelola toko elektronik. Dan yang utama dari semua itu: Alaysa telah menjadi seorang mualaf yang tekun beribadah dan berhijab. Ya! Cinta telah memberi kekuatan baru bagi jiwanya.

“Abang…, kau telah memberi kehidupan baru bagiku. Sungguh! Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi suamiku?!” Tutur Alaysa, suatu senja di sebuah taman.

“Alaysa…, aku pun cinta padamu. Tapi aku sudah punya anak dan istri,” jawab Bongkot

“Jika kau mau menerimaku, aku mau menjadi yang kedua,” Bongkot gamang. Seekor burung kecil terbang menggaris taman. Langit diliputi awan kelabu.

“Jawablah, Abang” suara Alaysa kembali terdengar.

“Sungguh aku ingin kau menjadi istriku, tapi…”

“Tapi apa abang?”

“Aku tidak ingin menyakiti hati anak-anakku.”

“Maksudmu?!” kening Alaysa berkerut

“Aku tidak ingin memberi saudara tiri bagi mereka, maafkan aku Alaysa. Aku begitu menyayangi anak-anakku.”

“Baiklah, Abang. Kau cintaku. Kau imamku. Kau yang telah membuka jalan kebaikan untukku. Demi Allah yang memberkahi kehidupanku. Aku berjanji memenuhi keinginanmu. Tidak akan ada anak di antara kita. Jadilah suamiku! Meski kita menikah siri. Cintai aku karena Allah,” suara Alaysa gemetar mengucapkan janjinya. Bongkot terkesima. Gerimis turun mengarsir cahaya matahari yang kuning keemasan. Senja temaram.

***

Kening Bongkot berkerut. Tatapannya lurus ke arah kolam. Mata tuanya seolah melihat wajah Alaysa membayang begitu jelas di dalam air. Lalu gerimis. Air kolam bergoyang memudarkan wajah Alaysa.

Mata Bongkot berkaca-kaca. Ia ingat betul; hanya dua tahun kebersamaannya dengan Alaysa. Ya! Hanya dua tahun. Alaysa meninggal dunia. Dengan wajah tersenyum. Begitu bahagia.

………………………………………….

Batu hitam di atas tanah merah

Di sini akan kutumpahkan rindu

Kugenggam lalu kutaburkan kembang

Berlutut dan berdoa

Syurgalah di tangamu, Tuhanlah di sisimu [2]

………………………………………………………………

“Alaysa…!!!” Bongkot berteriak histeris sambil memegang dadanya

Gerimis semakin deras. .Paman Budam dan Batin Somad yang mendengar teriakan Bongkot berlari dari dalam rumah.

Bapak…! Bapak…” panggil Paman Budam sambil mengangkat tubuh Bongkot.yang tergeletak di pinggir kolam. (***)

 

Bandar Lampung, Maret 2018.

 

Catatan:

[1] Terjemah Alquran Surah Al-Asr: 1—3

[2] Petikan lirik lagu Camelia IV (1980), Ebiet G Ade.

Advertisements