Cerpen Djenar Maesa Ayu (Kompas, 15 April 2018)

Saat Ayah Meninggal Dunia ilustrasi Yuswantoro Adi - Kompas.jpg
Saat Ayah Meninggal Dunia ilustrasi Yuswantoro Adi/Kompas

Saya bertemu dengannya beberapa saat setelah ayah meninggal dunia. Saat pagi hari lebih menyerupai malam hari. Saat gurat senja lebih menyerupai lukisan nestapa. Saat kelopak bunga lebih menyerupai kelopak mata luka. Saat rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan. Kehidupan mendadak lebih menyerupai kematian. Seperti ada yang merenggut paksa lain mcnghempaskan saya ke lubang yang lebih kelam daripada kelir malam. Dan induk dari segala sunyi menyambangi.

Saat itu tamu-tamu, baik saudara maupun kerabat dekat ayah sudah mulai berdatangan. Teman-teman saya pun datang dan itu membuat saya heran. Dari mana mereka mendapat kabar? Saya sama sekali belum sempat memberi kabar. Dan peristiwa itu terjadi saat saya masih berumur sebelas tahun, sekitar tahun delapan puluhan. Tidak seperti zaman sekarang di mana kita bisa tahu segala hal mulai dari pensil alis merek apa yang seseorang kenakan hari ini, makanan apa yang mereka konsumsi malam tadi, dan segala hal remeh-temeh lewat sosial media, zaman itu telepon genggam pun kami tak punya. Satu-satuya alat komunikasi di rumah kami hanyalah telepon warna jingga yang tak henti-hentinya berdering tanpa bisa saya mute atau reject, kecuali dengan cara mengangkat gagang telepon lalu menutup kembali atau dengan cara mencabut kabelnya. Tapi otak saya tengah enggan berpikir.

Keheranan saya begitu saja menguap di antara lantunan para tamu yang tengah berdzikir. Ucapan belasungkawa yang tak berhenti mengalir. Sedu-sedan. Pertanyaan-pertanyaan. Yang semua terdengar bagai suara ledakan kembang api yang selalu saya benci. Melengking dengan notasi tinggi sebelum menggelegar, bergetar di langit hitam yang mendadak warna-warni. Saya selalu benci dengan keindahan sejenis itu. Keindahan yang congkak, pekak, begitu memaksa untuk diaku. Dan saya membenci semua suara yang saya dengar saat itu. Selain satu suara, dari mulutnya yang tak sekali pun berkata-kata.

Ia datang bersama teman sekelas saya yang langsung menubruk, memeluk, dan menangis lebih keras daripada saya. Di belakang punggungnya bisa saya lihat antrean orang-orang yang menunggu giliran dengan tangis yang tak kalah kerasnya. Wajah-wajah yang saya kenal. Wajah-wajah yang tidak saya kenal. Wajah-wajah yang berusaha keras untuk menunjukkan simpati dengan akting sekelas pemain sinetron. Jika tidak bisa menangis, paling tidak mengernyit sedikit dengan mulut mengerut seperti ikatan balon. Seolah tahu diri, ia yang datang bersama teman saya langsung memisahkan diri. Ia hanya menganggukkan kepalanya kepada saya, lalu pergi. Hal itulah yang membuat saya menyadari.

Ada banyak cara untuk menunjukkan simpati. Dan antrean simpati memanjang yang mengingatkan saya dengan permainan “Ular Naga Panjangnya Bukan Kepalang” ini, bukanlah bentuk simpati yang saya butuhkan. Bahkan saya merasa tidak semua dari mereka yang datang karena memang benar-benar ingin memberi dukungan. Banyak dari mereka yang hanya ingin melihat dan dilihat. Mungkin juga supaya wajahnya ikut masuk siaran berita. Mengingat ayah saya adalah seorang pelukis ternama. Atau mereka hanya ingin menjadi salah satu saksi, atas gosip apa yang mungkin timbul setelah ini. Atau bisa jadi ada yang berharap mendapat warisan. Semasa ayah hidup, tidak jarang saya menyaksikan keluarga maupun kerabat datang meminta bantuan. Saya masih di bawah umur, maka masih harus berada di bawah perwalian. Sementara sejak orangtua saya bercerai, Ibu bak raib ditelan bumi. Ada yang bilang ia masih sendiri. Ada yang bilang ia menikah lagi. Saya tak peduli. Tapi saya berharap mereka peduli di situasi seperti ini. Jadi tidaklah berlebihan jika saya merasa mereka hanya pura-pura menaruh simpati. Sebab jika memang mereka benar bersimpati, mengapa mereka tidak peduli dengan apa yang saya butuhkan? Mengapa mereka lebih banyak berbicara ketimbang mendengarkan? Saya hanya butuh sendiri. Terlebih saya tak butuh pertanyaan-pertanyaan seperti:

Advertisements