Cerpen Tiqom Tarra (Fajar, 15 April 2018)

Pemakaman Firman ilustrasi Fajar
Pemakaman Firman ilustrasi Fajar

AKU tak yakin tetanggaku yang meninggal semalam bisa masuk surga. Aku berkata demikian bukan karena ia tak pernah salat dan sering berpesta tuak, tetangga sekaligus sepupuku itu sangat rajin salat, aku saja kalah. Dan ia paling benci pada minuman keras. Sepupuku itu terbiasa salat subuh berjamaah di masjid, sedangkan aku mendengar azan subuh saja jarang. Kalaupun aku mendengarnya, lebih baik aku menarik selimut dan kembali tidur. Namun, kali ini aku benar-benar tak yakin lelaki saleh itu bisa masuk surga yang sebelumnya begitu mudah ia masuki.

Aku tak berniat menghadiri acara pemakamannya, tapi karena rumah kami bersebelahan dan lokasi pemakaman yang tepat berada di depan rumah membuatku ragu. Belum lagi suara Ibu yang sejak semalam terus memenuhi telingaku untuk segera melayat memaksaku beranjak.

Rumah keluarga sepupuku sudah ramai sejak semalam oleh para pelayat yang hadir. Mereka tak henti-hentinya datang, mengucapkan simpati dan memanjatkan doa untuk almarhum.

“Doakan Firman, ya, semoga amal ibadahnya terima dan ditempatkan di sebaik-baiknya tempat,” ucap Tante Julaiha, ibu almarhun, dengan tangis dan tubuh lemah karena sejak semalam menangis tiada henti. Aku tak tahu harus menjawab apa karena menurutku Firman tak akan bisa masuk surga. Namun, melihat keadaan Tante Julaiha, aku paksakan untuk tersenyum dan mengangguk.

Tubuh Firman telah dikafani setelah sebelumnya dimandikan oleh Om Ansar, ayah Firman, dibantu saudara lakilaki yang lain. Suara dari lantunan ayat suci riuh di ruang tamu dengan tubuh Firman berada di tengah-tengah. Aku duduk terpekur di kursi yang berada di halaman rumah bersama Ayah, Paman, para tetua dan Pak Ustaz yang akan ikut ke pemakaman. Sempat aku mencuri dengar dari ibu-ibu yang menyayangkan meninggalnya Firman.

“Anak saleh padahal, tidak pernah ketinggalan salat di masjid. Sayang sekali harus meninggal seperti itu.”

“Iya, padahal Firman itu bakal calon menantu idaman, ya?”

Bisik-bisik seputar meninggalnya Firman yang saleh, bakal calon menantu idaman terus terdengar hingga jenazah dimasukkan ke keranda dan digotong menuju pemakaman. Aku ikut memikul keranda tersebut di bagian belakang. Hanya beberapa langkah dari rumah duka menuju liang yang sudah disiapkan, tapi entah mengapa aku merasa jaraknya begitu jauh, seolah aku harus melewati jalanan kampung yang panjang dan berkelok padahal lokasi pemakaman berada tepat di depan rumah kami.

Jenazah segera diturunkan ke liang lahat begitu sampai di lokasi. Perlahan liang mulai ditimbun dengan tanah bersama lantunan doa agar semua amal ibadah Firman diterima. Tante Julaiha tak kuasa menahan kesedihan ditinggal anak semata wayang akhirnya jatuh pingsan dalam dekapan Om Ansar. Ibu pun tak kuasa menahan tangisnya. Bagi ibu dan ayah, Firman bukan hanya sekadar keponakan, ia sudah seperti anak sendiri karena kedekatanku dengan Firman semasa sekolah.

Kini tanah telah menggunung, taburan bebungaan warna-warni menghiasi tempat peristirahan terakhir Firman. Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman, tapi aku masih bertahan di sana dan belum berniat mengucapkan doaku. Aku mengingat semua yang terjadi sepanjang hidup kami.

Kami tumbuh besar bersama, sekolah di tempat yang sama. Namun, aku tak mengerti mengapa jalan pikiran Firman begitu pendek ketika dia ditinggal menikah oleh Astri, pacarnya. Gadis berkerudung merah yang sudah dipacarinya sejak lima tahun lalu itu lebih memilih anak kepala desa ketimbang sepupuku. Firman tak banyak bicara padaku bahkan pada keluarganya sepulang dari acara resepsi pernikahan Astri.

Sebelum berangkat, kukatakan padanya bahwa ia tak seharusnya ke sana untuk melihat Astri bersanding di pelaminan dengan orang lain. Firman hanya tersenyum sebelum berangkat dan di sana ia terlihat tenang ketika mengucapkan selamat kepada sang anak kepala desa. Namun, malamnya, ia ditemukan gantung diri di kamar. Dokter yang mengumumkan kematian Firman memastikan itu murni bunuh diri.

Aku tahu Firman sangat mencintai gadis itu. Dalam hidupnya, Firman hanya mengucapkan kalimat cinta pada satu orang, yaitu Astri. Dia pernah berkata, “Aku hanya akan mencintai dan menikahi satu orang di dunia ini dan orang itu harus Astri. Tak ada yang lain.”

Ingin aku bertanya pada Pak Ustaz, apakah orang yang bunuh diri bisa masuk surga? Tentu amal ibadah Firman semasa hidup tak dapat aku hitung dengan jari. Jadi, bisakah semua amal ibadah itu menyelamatkannya? Sebagai sepupu, tentu aku ingin doa yang terbaik untuknya, meski aku sendiri tak yakin. Itu sebabnya aku membatalkan niatku untuk menenggak racun tikus semalam. Sama halnya dengan Firman, aku pun patah hati melihat Astri yang selama tiga tahun ini menjadi pacarku malah menikah dengan anak kepala desa. Orang lain mungkin tak tahu tentang hubunganku dengan Astri, tapi sama seperti Firman, aku pun patah hati dan sempat berpikir untuk bunuh diri.

“Ah, Firman, padahal di luar sana masih banyak gadis yang lebih baik dibanding Astri. Tapi kenapa kau memilih mengakhiri hidup hanya karena patah hati pada gadis tak setia seperti Astri?”

 

Tiqom Tarra, lahir di Pekalongan pada 30 Oktober 1992. Menulis novel dan cerpen. Telah menerbitkan novel Farewell (LeutikaPrio, 2017)

Advertisements