Cerpen Aswita Magdalena Simarmata (Analisa, 15 April 2018)

Misteri Tumah Baru ilustrasi Agustian - Analisa.jpg
Misteri Tumah Baru ilustrasi Agustinan/Analisa

AKU tak pernah percaya dengan orang-orang kampung sini yang mengatakan rumah yang baru kutempati bersama ayah ibuku adalah rumah angker. Terlebih Alea teman baru sekaligus teman pertamaku di kampung ini yang selalu berat hati kuajak ke rumah. Sebenarnya aku berat hati untuk pindah dari kota yang penuh gegap-gempita dan suara-suara desing knalpot kendaraan yang lalu lalang dari pagi menuju ke pagi lagi.

Namun tak kuasa kutolak pinta ibu yang tak ingin berjauhan denganku. Maklum saja aku anak yang paling disayangi dan paling dinomorsatukan terlebih setelah ibu divonis tak bisa lagi mengandung.

Bukan tentang ibuku yang kuceritakan karena rahimnya telah diangkat, tetapi rumah yang kami tempati ini bagiku tak ada yang aneh dan tak ada yang menyeramkan di dalamnya. Pepohonan yang rindang dengan daun berjuntai. Rerumputan yang meranggas di celah tembok teras rumah ini. Intinya kami bertiga—aku, ayah, dan ibuku nyaman-nyaman saja tinggal di sini. Walau dalam hati kecilku selalu tak ada yang bisa menandingi nyamannya tinggal di kota.

“Ma, apakah mama ada yang aneh di rumah baru kita?” Kuhampiri mama yang sedang duduk di teras memperhatikan bunga-bunga kesukaannya.

Mama mengernyitkan dahi, menatapkapku lama. “Aneh? Apanya yang aneh Fan?”

Kuperjelas lagi kepada mama yang belum bisa menangkap pertanyaanku. “Mama pura-pura nggak tahu atau memang nggak mau ambil pusing perkataan orang-orang kampung sini yang mengatakan rumah kita angker. Kalau mama tidak ambil pusing, Ifan juga sama ma, nggak ambil pusing yang mereka bilang.”

“Terus kalau nggak pusing, ngapain dipikirin?” Kali ini mama berhasil menjebakku dengan pertanyaan yang sebenarnya tak ingin kujawab.

“Apa sebaiknya kubilang saja pada mama?” bisikku dalam hati.

“Fan.” Mama memanggil namaku dan menggerak-gerakkan tangan kanannya pas di hadapanku yang melamun.

“Mama perhatikan mulai dari semalam tingkahmu jadi aneh, Fan. Apa kau sudah terpengaruh kata-kata orang kampung sini dan ikut mempercayai tentang makhlus halus penunggu rumah ini, Fan?”

Benar dugaanku, ternyata mama sudah tahu cerita tentang rumah ini, persis seperti yang dikatakan Alea padaku. Di rumah ini ada makhluk halus berkelamin perempuan, hanya itu yang dikatakan Alea, teman baruku yang mampu membuatku tenggelam jauh ke dasar mengikuti arus rasa penasaran mengenai rumah yang baru kami tempati ini. Ayah bilang berhasil membeli rumah ini sangat menguntungkan. Harganya murah, pekarangannya luas, dan ada taman-taman bunga. Aku pun merasakan kenyamanan tinggal di sini yakni kenal Alea.

***

“Hei, siapa kamu? Sedang apa di pekarangan rumahku?” teriakku di belakang rumah dekat teduhan pohon durian yang kebetulan sedang musim panen buah.

Gadis itu diam, tetap duduk di bangku taman dekat pohon durian itu. “Oh… aku tahu, kamu mau mencuri ya? Kupikir orang kampung beda dengan orang kota. Kata Alea orang kampung memiliki tata krama dan sopan santun. Bukan menyelinap diam-diam ke rumah orang. Ternyata sama saja kayak orang di kotaku suka mencari kesempatan dalam silap mata hilang segala barang yang kupunya bisa-bisa kalau begini jadinya. Mengambil yang bukan haknya.” Aku kaget seraya menutup mulutku dengan tanganku. Tak biasanya aku berkata seenaknya dan berkata kasar terhadap orang lain, terlebih pada seorang gadis.

Dia tetap diam, tapi semakin merunduk menatap rerumputan yang menutupi kedua kakinya. Kudekati gadis itu, duduk di sampingnya. “Maaf, aku hanya bercanda, jangan menangis ya? Aku lupa kata ibu pohon durian ini, memang diperbolehkan diambil siapa pun jika buahnya jatuh. Maaf ya, jangan nangis.” Kusodorkan tanganku berinisiatif mengajaknya berkenalan.

“Ifan, panggil saja Fani biar kedengaran imut-imut.”

Kupikir dia akan tertawa mendengar panggilan namaku yang sebenarnya bukanlah nama panggilanku. Dugaanku meleset, dia hanya menjawab seadanya. Kania, itu namanya, serasi disandingkan dengan wajahnya yang cantik. Rambut sebahu, lesung pipi yang indah, bentuk mata dan alis yang sangat serasi dengannya. Sedikit luka di pergelangan tangan kanannya sepanjang enam sentimeter.

“Mana Ifan ma?” Suara itu tak asing kudengar. Membuatku tersentak bangun dari tidur. Kulihat jam 9 pagi. Untung hari ini libur, jika tidak sudah pasti kena hukuman di sekolah datang terlambat.

“Wah, paten sekali anak papa, jam segini baru bangun. Dari tadi mamamu bilang kamu nggak bangun-bangun.” Papa menyindirku halus, sehalus wajah Kania. Ya, Kania namanya.

“Ah papa sedap kali nyindirnya.”

***

Aku ke rumah Alea memulangkan buku cerita yang kupinjam darinya. Selain itu sebagai alasanku untuk bertemu dengannya juga untuk berlama-lama berdua dengannya. Aku merasa nyaman dan senang saja bila bersamanya di lingkungan yang baru dan memang sulit bagiku mendapatkan teman yang pas selain dia.

“Fan, betulan kau tidak pernah diganggu di rumah itu?” Lagi-lagi Alea menyinggung rumah yang kutempati.

“Nggak ada. Cuma tadi aku ada mimpi bertemu dengan…”

Alea langsung melanjutkan, “Perempuan ‘kan, usianya tak lebih sama seperti kita. Kania namanya? Ada sedikit bekas luka di pergelangan tangannya?”

Jantungku berdegup tak beraturan mendengar Alea menyebut nama Kania. Tepat seperti yang ada dalam mimpiku.

“Dia gadis yang bunuh diri di rumah itu, Fan!”

Aku terdiam. Teringat ucapan Kania yang menyuruhku untuk jangan takut tinggal di rumah itu karena rumah itu tak angker dan tak menyeramkan.

“Benar kata Alea, dan juga orang kampungku selama ini, bahwa rumah yang kutempati ada makhluk halusnya. Tapi aku tidak takut, selagi aku tidak diganggu,” gumamku dalam hati. *

 

Mei 2017

Advertisements