Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 15 April 2018)

Kembali ke Kandang Wong Ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Kembali ke Kandang Wong Ilustrasi Budiono/Jawa Pos

AYAHKU pernah memboncengkan aku dengan sepedanya di jalanan ini 27 tahun lalu dan sandal kiriku jatuh dan aku baru menyadari ketika sampai di rumah bahwa satu sandalku jatuh. Kami melewati deretan toko-toko. Aku menempel di boncengan, memeluk perutnya kuat-kuat, dan mendengar ia mengatakan: Seto pernah membobol lemari besi milik juragan toko sepatu ini.

Aku senang mendengar ayahku bercerita sambil mengayuh sepeda; aku senang mendengar ia menceritakan Seto, rasanya seperti mendengar cerita kepahlawanan. Kakiku kesemutan; sering begitu setiap kali aku membonceng sepeda ayahku. Mungkin karena itu aku tidak merasakan sandalku jatuh.

Di jalanan ini, empat tahun setelah orang-orang yang dianggap sampah (kami menyebutnya gali) disapu bersih oleh para penembak misterius, Seto berjalan sendirian, dengan rias wajah yang membuatnya tak dikenali, menuju Pasar Induk dan berpikir akan membeli pakaian untuk si Cacing dan kedua anak mereka. Keduanya bukan anak kandung Seto—yang pertama adalah anak Broto, gali yang ia hukum karena berkhianat, dan yang kedua anak si Cacing. Seto sendiri hanya mempunyai satu anak dari Tari, putri Pak Kolonel, dan tidak mungkin mempunyai anak lagi.

Sesungguhnya Seto bersedia menikahi Tari meskipun ia hanya mencintai gadis asal Pekalongan dan sudah bersumpah di dalam hati tidak akan menikahi perempuan selain gadis Pekalongan itu. Namun Pak Kolonel, yang menampung Seto di rumahnya, tidak sudi menikahkan Tari dengan pemuda gembel. Ia mengusir Seto dan memerintahkan para algojo untuk memburunya dan mereka memotong perkakas yang telah membuat Tari hamil.

Bertahun-tahun setelah itu Seto menikahi si Cacing karena Ripto memintanya menikahi gadis itu.

“Adikku hamil dan ia harus punya suami,” kata Ripto.

Tidak mungkin menolak permintaan Ripto. Ia gali paling kuat di Semarang setelah Saroni mati ditembak prajurit angkatan laut karena urusan pribadi di antara mereka. Seto sesungguhnya tidak takut jika harus bertarung dengan Ripto; ia yakin bisa mengalahkannya, tetapi ia tidak ingin bertarung dengan orang yang telah menanam budi baik kepadanya. Ripto berpihak kepadanya ketika terjadi kerusuhan kecil di “Kandang Wong”. Ia datang ke sarang yang baru saja kehilangan pemimpin dan mengarahkan telunjuknya ke Seto. “Ia yang memimpin tempat ini sekarang,” kata Ripto, “jika kalian tidak sepakat, hadapi aku.”

Maka, dengan restu Ripto, Seto memimpin “Kandang Wong” menggantikan Saroni, mengepalai para gali sampai tiba waktu semua lelaki di tempat itu diberantas oleh para penembak misterius. Hanya Seto yang selamat, berkat rias wajah yang dikerjakan oleh seorang juru rias film-film hantu yang pada suatu hari merasa bosan menjadi kru film dan memutuskan bergabung dengannya, dan pada sore itu, ketika ia sedang berjalan menuju Pasar Induk untuk membelikan pakaian buat si Cacing dan kedua anaknya, ingatannya tiba-tiba melayang ke “Kandang Wong”, tempat yang sudah empat tahun ia tinggalkan.

Ia datang ke sana pada Kamis sore dalam rias wajah yang menjadikannya orang asing di mata Ratmini. Pintu seperti hendak lepas saat dibuka dan engselnya berderit seperti hewan mengerang kesakitan. Ratmini tidak banyak berubah kecuali ia tampak sedikit tua dan kurang mengurus diri dan kedua kelopak matanya menceritakan tahun-tahun terberat yang harus ia lalui. Sampai hari itu, ia tengah menjalani penantian yang tak jelas kapan akan berakhir. Ia menunggu Seto dan percaya bahwa lelaki itu akan datang menjemputnya, sebab sebelum pergi Seto mengatakan: “Bertahanlah di tempat ini, nanti aku datang lagi.”

Ratmini mematuhi pesan itu. Ketika para lelaki penghuni “Kandang Wong” dibunuh satu demi satu, ia tetap percaya bahwa Seto masih hidup. Ia yakin Seto memiliki cara untuk menghindari kematiannya. Dan ia benar.

“Tempat ini seperti dihuni hantu-hantu,” kata Seto.

“Semua lelaki sudah mati, kecuali satu orang,” kata Ratmini.

“Siapa?” tanya Seto.

“Kau tak perlu tahu,” kata Ratmini. “Lagipula tak ada perlunya kukatakan kepadamu.”

“Aku pernah kemari lima atau enam tahun lalu,” kata Seto. “Kalau tidak salah tempat ini dulunya panti pijat.”

“Ya,” kata Ratmini.

“Seingatku aku dipijat oleh Darti atau siapa, aku tidak terlalu ingat namanya. Aku juga pernah bercakap-cakap dengan Seto. Kurasa ia pemilik panti pijat ini.”

“Kau siapa sebenarnya?”

“Sudah kukatakan aku pernah kemari. Sekarang ke mana orang-orang yang dulu tinggal di sini?”

“Semua sudah menjadi hantu.”

“Maksudku para perempuannya. Apakah mereka juga membunuh para perempuan?”

“Hanya para lelaki, dan sejak itu tak ada yang berani datang ke tempat ini.”

Seto hampir tak tahan untuk terus berpura-pura; ia ingin berterus terang saja kepada perempuan itu bahwa ia adalah Seto. Namun, ia tidak cukup bernyali untuk membuka diri. Mata perempuan itu seperti api yang layu; ia tidak tega menyaksikan mata perempuan itu. Sambil menoleh ke arah jalanan ia mengatakan: “Boleh kutahu di mana Seto sekarang? Waktu itu aku punya utang cukup besar kepadanya dan aku ingin membayar utangku.”

“Ia sedang pergi beberapa waktu,” kata Ratmini.

“Kapan ia kembali?”

“Aku tak akan mengatakannya.”

“Aku hendak membayar utang kepadanya.”

“Lain waktu saja kau kemari lagi.”

“Aku tidak yakin akan datang lagi ke kota ini. Apa bisa kutitipkan kepadamu?”

“Berapa utangmu kepada Seto?”

“Satu juta.”

Ratmini memperhatikan lelaki yang ada di depannya. Ia merasa orang ini aneh, tetapi matanya bisa dipercaya dan ia merasa agak mengenal mata itu: hampir seperti mata Seto. Perempuan itu nyaris berteriak ketika menyadari bahwa ia mengenal mata orang yang berdiri di depannya—mata yang menutup rapat-rapat ketika melihat ia menanggalkan kainnya satu demi satu hingga tubuhnya telanjang dan tetap tidak mau membuka sampai ia mengenakan kembali pakaiannya.

“Aku seperti mengenal matamu,” kata perempuan itu.

Seto memandangi tanah, menghindari bertatapan mata dengan perempuan itu. Ratmini tidak tahu bahwa ia sudah menikahi si Cacing.

“Kenapa kau tetap tinggal di tempat ini?” tanya Seto.

“Aku sudah berjanji tak akan meninggalkan tempat ini,” kata Ratmini.

“Kau menunggu seseorang?” tanya Seto.

Ratmini tidak mau menjawab. Sore itu ia mengenakan kaus usang yang umurnya sudah lima tahun. Seto mengenali kaus itu. Itu kaus pemberiannya, yang ia beli pada hari Minggu ketika berjalan-jalan ke Pasar Induk. Kau bisa mengatakan bahwa itu hanya kebetulan: Seto datang untuk menemui Ratmini dan perempuan itu mengenakan kaus pemberiannya. Tetapi aku yakin tak ada yang benar-benar kebetulan di bawah langit ini. Mungkin saja ada dorongan kuat yang memaksa perempuan itu mengenakan kaus tersebut pada hari itu. Ia tidak menyadari kenapa tangannya memilih kaus itu, namun ia memilih kaus itu dan bukan kaus yang lain.

“Tolonglah aku,” kata Seto. “Kutitipkan uang ini kepadamu. Bagaimanapun utang harus dibayar. Aku tak ingin dikejar-kejar sampai ke liang kubur jika tidak mengembalikan uang yang kupinjam kepada Seto.”

“Kau tidak khawatir aku membawa lari uangmu?” tanya Ratmini.

“Aku percaya kepadamu,” kata Seto.

Seto kemudian mengeluarkan segepok uang dari saku celananya dan menyerahkan uang itu kepada Ratmini. Jari-jari mereka bersentuhan. Seto memandangi wajah perempuan itu. Ratmini balas menatap mata Seto dan kemudian menunduk.

“Kau bilang mengenal mataku,” kata Seto. “Apakah menurutmu mataku bisa dipercaya?”

Pelan-pelan perempuan itu mengangguk dan Seto melanjutkan:

“Aku tidak tahu apakah Seto akan pulang ke tempat ini atau tidak. Yang jelas aku tak akan datang lagi. Jika Seto tidak datang kemari, uang ini menjadi milikmu. Kau berhak menggunakannya untuk apa saja.”

Ratmini mengangkat mukanya, mengamati lelaki tak dikenal yang berdiri di depannya. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya.

Seorang perempuan lain muncul dan bercakap sebentar dengan Ratmini. Seto kenal dengan perempuan ini; ia salah satu dari empat pelacur tepi sungai yang dibawanya ke “Kandang Wong” dan diberinya pekerjaan baru sebagai pemijat. Rupanya ia juga masih bertahan.

“Kalian masih memijat?” tanya Seto.

Ratmini menggeleng.

“Aku sebetulnya ingin dipijat,” kata Seto, “kalian masih mau memijat?”

Ratmini tidak menjawab. Perempuan di sebelah Ratmini menganggukkan kepalanya ragu-ragu sambil memandang ke arah Ratmini.

“Lakukanlah jika kau mau,” kata Ratmini.

“Ayolah,” kata perempuan itu.

Seto mengikuti perempuan itu, memasuki bilik pijat yang keadaannya sudah mengenaskan. Hidungnya mencium bau langu ketika ia memasuki bilik tersebut.

“Jika kalian sudah tidak memijat lagi, bagaimana kalian mendapatkan uang?” tanya Seto.

“Ratmini berjualan di pasar,” jawab perempuan itu.

“Yang lainnya?”

“Tinggal tiga orang di tempat ini.”

“Kau juga berdagang di pasar?”

Perempuan itu mengatakan bahwa ia kembali ke tepi sungai, tempatnya semula sebelum Seto mengajaknya ke “Kandang Wong”.

“Aku berharap Seto akan datang lagi ke tempat ini suatu hari,” katanya. “Hanya ia yang tahu cara menghidupkan lagi tempat ini.”

Sambil berbicara, perempuan itu membersihkan alas tempat tidur.

“Bukalah bajumu,” katanya.

Seto membuka kancing bajunya, tetapi gerakan tangannya berhenti pada kancing kedua dan tiba-tiba ia mengatakan ada janji dengan seseorang dan harus segera pergi. Ia merogoh saku celananya sebelum meninggalkan bilik dan menyerahkan uang, tanpa menghitung jumlahnya, kepada perempuan itu.

Ratmini masih di luar ketika Seto melangkah melintasi ambang pintu. Perempuan itu duduk di teras, seperti sengaja menunggunya keluar. Kepadanya Seto mengulangi ucapan yang disampaikannya kepada perempuan yang tadi hendak memijatnya bahwa ia ada janji dan harus buru-buru pergi.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Ratmini.

“Teman Seto,” kata Seto. “Oya, boleh kutanyakan satu hal padamu?”

Ratmini mengangkat dagu, menatap lawan bicaranya.

“Apakah kau mencintai Seto?” tanya Seto.

“Bukan urusanmu,” kata Ratmini.

“Hanya rasa cinta yang membuat orang sanggup bertahun-tahun menunggu,” kata Seto. “Aku merasakan hal yang sama denganmu.”

Hari sudah mulai gelap ketika Seto meninggalkan tempat itu, meninggalkan perempuan yang bertahun-tahun menunggu kedatangannya dan mungkin masih akan menunggunya sampai bertahun-tahun nanti. Ia menyayangi Ratmini, tetapi tidak mungkin meladeni rasa cinta perempuan itu. Kalau saja di dalam hatinya tidak ada gadis Pekalongan, dan jika perkakasnya masih utuh, ia tentu akan menerima perempuan itu dengan senang hati. Setidaknya, ia tak akan menyia-nyiakan kesetiaan perempuan itu.

Kini bahkan untuk berterus terang kepada Ratmini bahwa ia adalah Seto, ia tidak berani melakukannya. Tidak sanggup ia melukai perempuan itu dengan menceritakan bahwa ia terpaksa menikahi si Cacing atas permintaan Ripto.

Sepanjang jalan menuju Purwodadi, ia merasa selalu ingin kembali ke “Kandang Wong”.  ***

 

A.S. Laksana, Sastrawan kelahiran Semarang, kini tinggal di Jakarta.

Advertisements