Cerpen Indra Tranggono (Kedaulatan Rakyat, 15 April 2018)

Interogasi Pagi ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Interogasi Pagi ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

“HONEY, papi akan maju lagi….” Warza menatap putrinya, Nofrita yang mulutnya sibuk memainkan sendok kopi.

“Jadi walikota?” Nofrita bicara datar.

“Kamu tidak setuju?”

Nofrita bungkam. Ia mengaduk kopi di cangkir. Sangat keras.

“Kalau aku tidak jadi walikota lagi, mereka pasti mengadiliku…” tangan Warza mengusap rambut Nofrita.

“Mengadili? Apa papi korupsi?”

Ruang makan tergetar oleh pertanyaan Nofrita. Warza membisu. Napasnya turun naik. Pikirannya berkecamuk. Perasaannya teraduk-aduk. Ia mendadak merasa menyesal telah merusak suasana sarapan pagi bersama anak tunggalnya itu.

“Soal korupsi, pasti papi akan menjawab ‘tidak’. Ya seperti yang papi sering bilang, korupsi itu bla…bla..bla.. Pemimpin itu harus bla..bla…bla.. Tapi aku tak ingin mendengar kalimat itu lagi.”

Warza menahan nafas. Kalimat Nofrita menggores jiwanya.

“Buktinya? KPK menangkap banyak kepala daerah…” Mata Nofrita tajam menikam wajah Warza. Penuh tuduhan.

Warza terdiam, memandangi kaca jendela yang dipahat butiran-butiran air hujan.

“Kamu menyamakan aku dengan para koruptor itu… Nofrita sayang, aku hanya ingin bilang, sebagai walikota aku telah membangun banyak jembatan, terminal, stasiun, jalan-jalan, gedung-gedung, jembatan layang… Dan semua itu akan mangkrak jika aku tidak bisa jadi walikota lagi. Lalu, mereka pasti menggelandangku ke pengadilan,”mata Warza berkaca-kaca.

“Mereka?”

“Ya, musuh-musuh papi. Politikus. Juragan parpol. Pedagang…. Kamu tahu, orang selalu menganggap pembangunan tak lebih dari bancakan yang harus dijarah. Dan, aku ketat menjaganya. Satu peser pun aku tak mengambil uang dari proyek itu…”

Nofrita semakin tajam menatap. Darah Warza berdesir. “Pasti kamu menduga duit ratusan milyar itu pasti bocor ke mana-mana.”

Nofrita tetap bungkam. Pagi itu, Warza merasa seperti menghadapi jaksa pemeriksa yang sangat tangguh justru karena tidak banyak bicara, kecuali menatap atau memainkan bahasa tubuh. Interogasi pagi dalam kesunyian itu, dirasakan Warza menghajar jiwanya.

“Nof…kamu sudahi dewasa. Kamu sudah bisa menimbang dan menilai persoalan. Kamu pun berhak curiga…” Warza memegang tangan anaknya “Tapi percayalah, papi… tidak mencuri.”

Nofrita melepaskan genggaman tangan itu. Cara menghindar yang begitu halus itu dirasakan Warza mencabik-cabik jiwanya.

“Aku yakin papi orang baik, maksudku ayah yang baik. Dan, kuharap papi pun jadi pejabat yang baik. Papi pernah bilang, tidak akan membesarkan aku dengan uang dari comberan? Papi masih ingat?”

Warza mengangguk. Berat. Ulu hatinya dirasakan nyeri.

“Kamu setuju jika papi kembali maju dalam pemilihan walikota?” Warza bicara lirih.

Nofrita diam. Matanya menyapu roti, minuman, dan buahbuahan yang memenuhi meja. Satu persatu benda-benda itu ditatapnya, seolah ia ingin minta persetujuan pada mereka.

“Kalau papi ingin kembali jadi walikota demi menghindari tuduhan dan hukuman musuh-musuh papi, sebaiknya papi tidak usah maju lagi. Ya, untuk apa? Orang-orang yang memilih papi tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali kewajiban meyakini bahwa papi orang baik, pejabat jujur, bersih dan…. ah..perutku mulai mual…” Nofrita berdiri dan beranjak meninggalkan meja makan. Masuk ruang dalam.

“Nofrita…nof…nof…” Warza mencoba menahan, tapi sia-sia. Warza melemparkan tubuhnya di sofa. Memandang langit-langit. Beberapa saat handphone bersuara. Ada pesan WhatsApp dari Bronjonk: Ketua Partai sudah setuju Anda maju lagi jadi walikota. Bravo Warza.” Warza membacanya lalu menutupnya. Kepalanya terasa berputar-putar. Vertigo mendadak menyerangnya. q-e

 

*) Indra Tranggono, penulis cerpen dan esai. Buku cerpennya: Iblis Ngambek, Sang Terdakwa dan Perempuan yang disunting Gelombang.

Advertisements