Cerpen Faris Al Faisal (Banjarmasin Post, 15 April 2018)

Cerita Daun, Pohon dan Petrichor ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group
Cerita Daun, Pohon dan Petrichor ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

/1//

AKU terkesima dan hampir tak percaya melihatnya. Sehelai daun jatuh di lengan tanganku dan pohon itu mengajakku berbicara. Tidak, kau tak salah dengar, pohon itu mengajakku bicara. Seperti dalam ilmu filsafat yang telah ada berjuta-juta tahun lamanya, pohon lidak hanya dapat bicara bahkan juga dapat merasakan sakit bahkan juga menjerit. Sehingga pohon yang dirawat dengan kasih sayang dan diajak bercakap-cakap, bisa tumbuh lebih sehat dan subur. Nah, pohon itu malah mengajakku berbincang!

“Tahukah kamu, hai lelaki muda, mengapa daun itu jatuh?” seru pohon itu, ranting-ranting dahannya bergerak-gerak tertiup angin tetapi aku melihatnya seperti tangan seorang orator yang menunjuk-nunjuk saat bicara.

“Tidak, aku tidak tahu,” ucapku sambil kedua tanganku, juga bahuku.

“Ah, aku tidak suka jawaban seperti itu, kawan,” ujar pohon itu menanggapi.

“Oh! Aku tercekat. Dalam terkesiap aku mencoba untuk tidak mengecewakan pohon aneh itu. Ingin memuaskannya tentu saja dengan jawaban yang baik. “Tertiup angin mungkin, atau sebab tangkainya sudah tak kuat menahan beban gravitasi dari daun itu, atau juga karena sebentar lagi akan ada pergantian musim. Ah, tidak tahu Juga.” Jawabku tak mengenal kepastian.

Kembali ranting-ranting dahannya bergoyang. Akan tetapi, kali ini belasan bahkan puluhan daun jatuh berguguran tak jauh dari pokok batang dan akarnya yang centang perenang, berbongkol-bongkol dan menimbulkan kesan pohon itu telah hidup lebih lama dari umur manusia.

“Kau lihatlah lelaki muda! Daun-daun itu kembali jatuh! Kali ini lebih banyak lagi,” seru pohon itu menunjuk ke arah jatuhnya daun.

“Benar, aku melihatnya, tetapi kenapa?” tukasku.

Belum terjawab perlanyaanku, tiba-tiba cahaya matahari meredup, angin menderu dengan udara basah, awan hitam berarak-arak menggulung angkasa seperti sengaja dikirimkan malaikat Mikail ke tempatku berbicara dengan pohon ini, lalu langit riuh rendah dengan cahaya berkilat-kilat dan bunyi guruh bergemuruh. Angkasa hingar-bingar. Dari arah barat, butur-butir air dari langit terdengar berjatuhan gemeratak di atas daun-daun pepohonan. Lembut, rapat lalu tak tertahankan derasnya. Langit seperti meludah dan hujan pun tumpah.

Dengan terpontal-pontal, likang-pukang dan tergopoh-gopoh, aku merapat ke pokok batang pohon itu menghindari guyuran hujan. Pohon itu tersenyum menatap kekonyolanku.

“Kenapa kau tersenyum melihatku, hai Pohon?”

“Barangkali, hanya kaumku saja yang tak pernah beranjak dari tempatnya saat ditimpa hujan, panas, banjir, salju, angin ribut dan prahara. Biarpun terendam air, tenggelam lautan, kering-kerontang yang menggelegak atau ketandusan musim panas, pohon tetap bertahan.”

“Bukankah itu sudah ketentuan buat pohon?”

“Ha ha ha, kukira kau tak mengetahui apa-apa tentang ini.”

Aku terdiam. Dalam diam aku memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh pohon itu. Bukankah tidak hanya pohon yang diam saat hujan atau panas datang. Gunung, batuan, bukit, sungai, danau, atau lautan pun diam. Atau jangan-jangan pohon pun dulunya bisa bergerak dan berjalan seperti halnya manusia?

 

/2//

BUNYI hujan yang lebat membuat percakapanku dengan pohon terdengar samar-samar, akan tetapi aku ingin terns menyimaknya. Sekalipun berusaha melindungi tubuh dengan mencari perlindungan dalam naungan rimbun pohon, sebagian bajuku mulai meresap air hujan yang menetes dari celah-celah daun.

“Lelaki muda, kau ingin tahu kenapa aku tak pernah beranjak dari tempatku ini?”

“Oh, tentu saja.”

“Apa kau mau mendengarkan kisahnya?”

Semakin menarik saja sepertinya. “Baiklah,” ucapku setuju, “lagi pula ketimbang berdiam diri menunggu hujan reda biarlah obrolanku denganmu menjadi penghangat tubuhku yang mulai menggigil kedinginan ini.”

“Sebenarnya kaum pohon dahulu dapat berjalan, berlari dan berpindah tempat seperti pohon Ent dalam kisah Lord of the Rings karya JRR Tolkien. Mereka bisa saling berkunjung, bepergian dari gurun ke lembah, dari pegunungan ke pantai. Kemudian pada suatu ketika peristlwa terjadi.”

“Sebentar,” selaku, “kalian dapat berjalan, berlari dan berpindah tempat? Menakjubkan!”

Aku penasaran. Diam-diam aku mulai merambat ke batang pohon itu. Seperti dua orang yang berdiri dan bercakap-cakap, aku dan pohon itu terus bercincang-bincang. Pembicaraan aku dengan pohon makin bertambah hangat saja.

“Gerangan peristiwa apakah itu?” tanyaku.

“Semua karena manusia,” jelas pohon itu seperti sangat mengetahui hai lhwal penyebab dari pohon tidak lagi dapat berpindah tempat.

“Maksudmu?” tanyaku meminta kejelasan padanya.

“Pohon tidak dapat lagi berjalan sejak manusia menghuni bumi. Tetapi pohon masih bisa berbicara dan memiliki rasa. Beberapa pohon pun dapat mengucapkan salam kepada Nabi dan di antaranya masih dapat bergerak untuk menaungi manusia utusan Allah itu dari panas matahari.”

“Bagaimana kau bisa tahu cerita itu? Aku saja merasa baru dengar?”

“Tentu saja. Aku adalah keturunan ke sembilan pohon itu. Manusia harusnya lebih tahu dari pohon, karena memiliki kelebihan akal dibanding pohon.”

***

 

/3//

HUJAN berangsur-angsur mereda lalu turunnya berinai-rinai. Udara terasa begitu segar, uap basah masih tempias di wajahku. Namun, aku merasa senang. Begitupun pohon itu, daun-daunnya tampak bersih, hijau memukau, dan aku mulai bisa menikmati bau tanah tercium di udara usai hujan turun. Aromanya sangat menyenangkan menurutku. Senyawa aromatiknya karena aktivitas bakteri tanah Actinomycetes yang menghasilkan aroma petrichor, semacam bau kasturi yang menyegarkan ketika hujan menyentuh tanah. Konon, petrichor di percaya untuk membuat bumi menjadi awet muda.

“Apa kau suka dengan aroma petichor itu?” Pohon itu bertanya padaku.

“Suka. Aku sangat suka.” Jawabku.

“Itulah sebabnya mengapa daun-daun itu jatuh ke bumi. Mereka pun ingin mencium bau petrichor di tanah,” lanjutnya.

“Dengan apa daun mencium petrichor?” tanyaku.

“Mulut daun. Apa kau lupa daun punya mulut?” tukas pohon itu mengingingatkanku.

Aih, lagi-lagi aku merasa bodoh. Lalu tergelak menertawakan kebodohanku. Entah pohon itu bergurau atau tidak, yang jelas memang seperti itulah maksudnya. Beberapa hari ke depan, daun-daun itu akan diurai pengurai dan menjadi humus. Menyuburkan kembali tanah yang kekurangan zat hara sehingga pohon-pohon yang hidup masih bisa mengambil manfaat dari apa yang telah dibuangnya. Menakjubkan! Seandainya manusia pun seperti pohon, apa yang yang telah dikeluarkannya sebagai sisa masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan hidupnya, tentu tak ada yang tersia-sia.

Bau petrichor terus merebak, menggelitik kepekaan hidungku. Selintas anganku membawa ingatanku akan masa yang telah lampau. Saat aku masih tingal di desa Parean Girang, kampung nelayan dan tani sekaligus. ***

 

Faris Al Faisal, lahir dan domisili di Indramayu. Karya yang terbit novella Bunga Narsis (2017). Kumpulan Puisi Bunga Kata (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek (2017), dan buku Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia (2017), di beberapa media massa.

Advertisements