Cerpen Rizky D Akbar (Pikiran Rakyat, 15 April 2018)

Happy Day ilustrasi Rizky Zakaria - Pikiran Rakyat.jpg
Happy Day ilustrasi Rizky Zakaria/Pikiran Rakyat

RINAI namanya. Ibunya mengambil nama itu setelah hujan rintik-rintik yang begitu singkat. Hujan yang tanpa ditemani angin, petir, dan berbagai macam kemungkinan buruk lainnya. Ayahnya, dengan cepat menyetujui nama anaknya; begitu mendengar pendapat istrinya.

BIASANYA, nama anak diberikan agar sifat dan tingkah lakunya sesuai. Tetapi, tidak berlaku untuk keluarga kecil tersebut. Rinai merupakan nama yang baik untuk mereka. Tidak memikirkan apakah nama Rinai membawa petaka, atau sebaliknya.

Pernah sekali-dua mereka ditegur oleh banyak orang. Kebanyakan dari mereka, menanyakan mengapa memilih nama demikian. Apakah mereka tak mau ambil pusing, atau sekadar iseng belaka? Pikiran buruk itu terus menerka-nerka.

Bahkan, oleh ibu mertuanya sendiri. Bagi mereka, nama Rinai itu tidak sembarang ditentukan. Nama yang asing bagi telinga banyak orang. Nama yang begitu puitis untuk dapat dipahami dengan baik.

Sesuai dengan namanya, Rinai, dapat membuat kebanyakan orang terlihat lebih sejuk. Bagai hujan yang senang membasahi kulit bumi. Rinai merupakan anak kecil yang begitu lincah dan aktif. Berlarian ke sana-sini. Bercanda ria dengan orang tua maupun kakek-neneknya. Tentu saja, orangtua beserta kakek neneknya, sangat senang melihat dia yang selalu bahagia. Suasana rumah yang tidak begitu luas, tiba-tiba menjadi luas oleh celotehnya.

Rinai masih duduk di bangku sekolah dasar. Di mana sekolah dasar merupakan awal dari cita-cita yang setiap anak inginkan. Rinai memiliki cita-cita yang sangat mulia. Ia ingin menjadi pelukis. Sejak kecil, ibunya, sering kali membelikan buku gambar. Kemudian, ia dapat menggambar apa pun dengan sesuka hatinya. Sering kali ibunya kewalahan. Tidak punya uang. Lantaran ia harus membelikan buku gambar yang banyak, dan pensil warna.

Apabila keinginannya tidak dituruti, ia akan marah. Bahkan, ia pernah melukis dengan menggunakan lipstik ibunya. Sebab, pensil warna yang ia miliki sudah tidak layak untuk digunakan.

Pada awalnya, ibunya sangat senang melihat bakat anaknya dalam hal melukis. Tetapi, lama-kelamaan ia sangat kesal karena perilakunya yang aneh dengan melukis menggunakan lipstik milik ibunya itu.

Ibunya, pernah berpikir akan membawa anaknya itu ke psikiater. Bapaknya tidak setuju. Ia berkata bahwa Rinai masih kecil dan sangat senang dengan dunia yang sedang ia jalani; menggambar dan melukis. Hal ini kemudian mereka ceritakan kepada mertuanya. Kakek dan nenek Rinai hanya dapat tertawa.

“Rinai itu sangat senang menggambar dan melukis. Apa salahnya kalau kalian mendukung bakat anak kecil itu?” tanya neneknya pada suatu waktu.

“Tetapi, Mah, ia sering menghabiskan lipstik punyaku untuk melukis gambarnya itu.”

“Kau kan bisa menasihatinya, bukan malah memarahinya.”

Ibunya bingung harus bagaimana lagi menghadapi tingkah laku Rinai. Suami dan juga mertuanya, tidak dapat ia harapkan. Mereka mendukung keinginan dan bakat dari anaknya.

Uang yang seharusnya ia belikan untuk biaya makan sehari-hari, dihabiskan oleh Rinai begitu saja. Rinai dapat menghabiskan buku gambamya dengan waktu tiga hari. Ibunya tidak mau lagi menyimpan lipstik sembarangan. Ia mencoba tidak membelikan buku gambar dan pensil warna. Akhirnya, Rinai marah dan mengadu pada ayahnya. Rinai masih tetap menggambar; di buku-buku tulis pelajarannya, di kertas kusam, bahkan di dinding kamarnya sendiri.

***

DI tempat yang jauh dari hiruk-pikuknya kota, Rinai membuka mata dan menghirup udara segar. Padahal, ibunya telah berkali-kali membangunkan Rinai untuk segera mandi dan berangkat ke sekolah. Ibunya membukakan tirai jendela. Rinai masih mengucek-ucek matanya dan masih ingin bermalas-malasan. Rinai mengangkat kaki dan menuju kamar mandi.

Selesai mandi, Rinai melihat jam di dinding. Ia lupa bahwa sebentar lagi jam pelajaran dimulai. Kemudian, ia bergegas ke sekolah dengan berlari-lari. Sebab, jarak dari rumah ke sekolah hanya dilewati dengan beberapa meter saja. Rinai dapat berangkat jam berapa saja, asalkan ia tidak datang terlambat

Hari ini ibunya tidak ikut mengantarkan Rinai ke sekolah. Ia sedang sibuk dengan urusan rumahnya. Sebab, sore hari akan ada pengajian rutin setiap satu minggu sekali. Dari satu rumah ke rumah yang lain, pengajian rutin itu terlaksana dengan baik. Sementara ayahnya, sejak fajar menyapa sudah berada di pasar untuk berdagang. Penghasilan dari berdagang itu tidak seberapa. Apalagi, setiap ada pedagang makanan yang mampir di depan rumahnya, Rinai selalu membeli. Dan, harus selalu sedia buku gambar dengan pensil warna yang harus ayahnya belikan.

Rinai sudah tiba di sekolah. Tepat pada saat bel berbunyi nyaring. Rinai mengucap hamdalah, karena ia datang tidak terlambat. Beberapa menit kemudian, ruangan seketika menjadi hening. Ibu guru— mata pelajaran seni budaya—masuk kelas dengan tersenyum. Para murid menyambutnya dengan amat riang. Ibu guru mendata para murid yang hadir dan mengikuti pelajaran hari ini. Selesai mendata para murid, ia memberikan materi pelajaran dengan waktu yang cukup singkat. Ibu guru memberikan tugas kepada para murid.

“Tugas kalian hari ini adalah menggambar. Kalian harus menggambar keindahan alam. Boleh memakai objeknya apa saja. Mau gunung, laut, sawah, itu terserah kalian dan sesuka hati kalian. Sampai di sini apakah kalian sudah paham? Atau ada yang ingin bertanya?”

“Paham, Bu,” serentak para murid menjawab.

“Baiklah, kalau begitu, siiakan kalian kerjakan!”

Setiap kepala dari para murid, memiliki berbagai macam intuisi. Ada yang menggambar pemandangan laut, rumah yang megah, gunung-gunung yang menjulang tinggi bak gedung-gedung pencakar langit, dan hampir semuanya menggambar dengan sedemikian baik.

Tetapi, dari sekian banyak murid, ibu guru menemukan satu gambar dari murid yang bernama Rinai. Ia menggambar dengan cara pandang yang berbeda. Ia tahu, ibu guru hanya ingin menggambar keindahan alam. Tetapi baginya, keindahan alam itu sudah tidak ada.

“Apa yang sedang kamu gambar, Rinai?” ibu guru bertanya.

“Rinai lagi menggambar keindahan alam di kota ini, Bu.”

“Mana keindahan alamnya? Di gambar ini kan tidak ada gunung, sawah, atau pun kebun.”

Mata ibu guru itu terus memperhatikan kertas yang sedang digambar Rinai. Ia tidak menemukan gambar keindahan alam. Ibu guru berpikir keras. Mungkin, Rinai tidak tahu apa itu keindahan alam.

“Ibu tidak melihatnya. Di mana gambar keindahan alam itu, Rinai?” ibu guru bertanya kembali.

“Ini, Bu,” telunjuk Rinai bergerak mengarah kepada seluruh gambarnya.

“Rinai tidak mau menggambar sawah, karena hari ini sawah sudah diganti dengan supermarket. Rinai juga tidak mau menggambar gunung, karena hari ini gunung sudah dipenuhi sampah. Biasanya kan bu, kalau ada gunung pasti ada gambar burung yang terbang.

Rinai tidak menggambarnya, karena burung-burung itu banyak yang sudah punah karena diburu,” ibu guru terkejut dan tersenyum tanpa rencana. ***

Advertisements