Cerpen Ozik Ole-olang (Radar Surabaya, 08 April 2018)

Perempuan yang Menjajakan Bunga ilustrasi Radar Surabaya.jpg
Perempuan yang Menjajakan Bunga ilustrasi Radar Surabaya

Kira-kira sudah dua kali aku bertemu dengannya. Ah, maksudku dengan perempuan itu. Ketika musim hujan tahun lalu dan dua tahun sebelumnya. Perempuan yang kuingat dengan kedatangannya setelah hujan reda dan menyisakan aroma kesunyian di udara, sembari perlahan kota sudah mulai dirayapi kesibukan masing-masing penduduk dan deru kendaraan bermotor.

Kalau saja aku tidak bertemu dengannya, barangkali kerinduan pasti akan melepasku begitu saja layaknya hewan buruan yang dibuang. Ah, maksudku entah kenapa tiba-tiba di setiap musim hujan seolah ada yang aku tunggu. Perempuan itu seolah menyisakan hujan abadi. Bila kemudian di kotaku sedang musim kemarau seperti sekarang, maka akupun akan membuat hujan sendiri dalam hatiku, dan mengkhayalkan seolah dalam salah satu hujan yang kubayangkan tadi, perempuan itu hadir dan menungguku di sela-sela keramaian seusai hujan reda.

Setidaknya ada dua hal yang bisa kuingat setelah kedua kali pertemuanku dengannya, baju merah dan bunga melati. Jika kau bertanya kenapa bukan mukanya saja? Lha, barangkali itulah yang mungkin perlu aku ceritakan padamu.

***

Tepatnya, pada awal Juli tiga tahun lalu ketika kotaku diguyur hujan bertubi-tubi, berkepanjangan, dan semua warga kota yang belum beristri terpaksa harus membayangkan dirinya seolah ditemani oleh kekasih, bagaimanapun caranya. Termasuk juga diriku.

Berhari-hari hujan tiada ampun. Kantor-kantor yang pada mulanya memaksa pekerja tetap masuk meski sedang hujan, akhirnya kewalahan dan banyak dihiraukan oleh para karyawannya. Mereka hanya akan masuk kalau ada hal yang sangatlah penting. Hanya toko-toko dan kios-kios bunga yang masih tetap buka sampai malam. Itu pun hanya pada jam tertentu. Sebab penghuni kota juga butuh belanja dan memandangi bunga-bunga.

Aku baru saja tiba dari kunjungan luar kota. Setelah berbulan-bulan tidak pulang, akhirnya bos memberiku waktu cuti sejenak untuk sesekali memandang kota tempat tinggalku. Sebenarnya aku bukan penghuni kota yang setia. Ah, maksudku karena seringnya melakukan perjalanan dan kunjungan yang memakan waktu berbulan-bulan, akhirnya aku sendiri belum pernah lama tinggal di rumah sendiri. Paling lama setidaknya satu minggu.

Setelah kedatanganku di rumah dan meletakkan semua barang bawaan di kamar, aku melihat bunga di ruang tamu ternyata sudah layu. Yah wajar sajalah, sudah lima bulan kutinggalkan tanpa perawatan. Akhirnya akupun berniat untuk membeli bunga di kios terdekat yang berjarak lima blok dari rumah.

Di luar masih hujan. Kudengar ini sudah hari ke tiga hujan belum juga reda. Setelah kupikirkan lagi beberapa lama, akhirnya kuputuskan untuk tetap berangkat. Aku berjalan di bawah naungan payung dan balutan mantel. Menerjang trotoar di antara keriuhan jalan raya, lalu sampailah pada tujuan.

Ah, tidak biasanya toko itu tutup. Terpaksa aku harus menambah langkah lagi beberapa blok ke arah timur menuju kios berikutnya. Lumayan melelahkan juga ternyata setelah perjalanan dari luar kota dan harus langsung berangkat membeli bunga. Akhirnya sejenak aku duduk di halte yang pada waktu itu tanpa sengaja kulewati. Ada tiga orang, total empat dengan diriku.

Cuaca serasa tidak terlalu dingin. Kulipat payung dan mengambil sebatang rokok. Setelah satu batang habis dan tanpa kusadari orang-orang yang duduk di sebelahku sudah tinggal satu orang. Kemudian kuputuskan untuk kembali berjalan dengan tujuan tetap seperti tadi, membeli bunga. Tak sempat melangkahkan kaki, orang yang duduk di sebelahku terdengar sedang berteriak. “Bunga!” Seolah dia meneriaki pedagang asongan yang sedang mendorong gerobaknya. Padahal tak kulihat seorang pun.

Setelah tolah-toleh sejenak mencari siapa yang orang itu panggil, ternyata ada seorang perempuan berkerudung dan berbaju merah di seberang jalan sedang memanggul sesuatu di seberang jalan mencoba menghalau beberapa kendaraan. Terlihat seperti akan menuju ke arahku berdiri. Benar saja, perempuan itu menyeberang jalan kemudian berhenti tepat di hadapan orang yang tadi berteriak, “Bunga!” Langsung ia turunkan benda yang dipanggulnya tadi.

Kukira namanya Bunga, namun ternyata dalam benda yang dia panggul berisi setumpukan bunga. Bermacam-macam, bahkan beberapa sudah disulam rapi. Karena penasaran dengan perempuan itu, lantas kuurungkan niat berjalanku untuk mencari bunga dan lebih-lebih sudah ada yang menjajakan bunga di dekatku.

Aneh juga, belum pernah kutemui pedagang bunga asongan yang setiap malam berkeliling menjajakan bunga di kotaku ini, apalagi seorang wanita. Padahal sudah banyak kios bunga berjejeran dan penjual via online pun saya rasa pasti tidak akan kekurangan. Mencoba berprasangka baik, akupun berpikir bahwa barangkali perempuan itu orang yang tergolong kurang mampu. Tapi tetap saja aku merasa aneh, baru kali ini kutemukan penjaja bunga di kotaku.

Untuk ke dua kalinya aku mencoba berprasangka baik. Paling-paling juga karena sudah lama aku tidak pulang, dan ketinggalan informasi bahwa sudah ada orang-orang yang mulai berjualan bunga dengan cara menjajakannya ke mana-mana.

***

Aku sudah sampai rumah dengan membawa bunga yang tadi kubeli dari perempuan berbaju merah itu. Langsung setelah menggantung payung di tempatnya, kuletakkan bunga tadi dalam vas yang sudah kuisi dengan air.

Orang-orang di kotaku memang sangat menyukai bunga-bunga, seolah mereka mencintainya dengan segenap jiwa raga. Terbukti setiap aku berkunjung ke rumah teman-teman, di sana pasti selalu ada bunga yang terpajang yang diletakkan pada vas berisikan air. Ditambah dengan banyaknya kios bunga di setiap tikungan seperti semakin memperjelas seolah kota ini adalah kota bunga. Karyawan yang bekerja di kios itu kesemuanya adalah perempuan. Jadi sangat cocok untuk orang-orang seperti saya agar sering berkunjung ke sana.

Sambil bersandaran di depan perapian, kunikmati oleh-oleh khas kota yang baru saja kukunjungi sembari menunggu air mendidih dan akan kuseduh segelas teh hangat. Tak lama, seseorang mengetok pintu. Ternyata Amin, teman sekelasku waktu SMP.

“Kebetulan sekali Min saya baru selesai keluar kota, banyak oleh-oleh. Kebetulan lagi air sudah hampir mendidih. Mari duduk akan kubuatkan teh hangat.” Sambil mempersilahkannya duduk, akupun pergi ke dapur untuk menyiapkan teh.

“Tidak sia-sia juga nih mendidihkan air.” Benakku.

Aku dan Amin memang sering menghabiskan waktu bersama sudah sejak lama, bahkan sampai besar seperti sekarang. Jika dilihat lagi, aku dan Amin memiliki nasib sama perihal asmara. Kami sama-sama belum menikah.

“Tahu dari mana kalau aku ada di rumah?” Tanyaku sambil menyajikan teh ke hadapannya.

“Ah, rumahmu kan biasanya padaman, gak ada orang. Eh, pas lewat kok malah hidup lampunya, sekalian aja mampir.” Jawabnya.

Memang selama aku meninggalkan rumah, semua listrik kumatikan. Benar kata Amin tadi, mati dan hidupnya lampu menjadi pertanda bahwasanya aku sedang atau tidak sedang di rumah.

“Dapet dari mana bunga, kok lewat tengah malam begini sudah seger?” Celetuknya sambil meminum teh.

Hah? Lewat tengah malam? Aku terheran-heran dalam benakku. Tapi benar juga, sampai sekarang diriku ternyata tidak menyadari dan setelah kulirik jam tangan memang sudah lewat tengah malam. Aku bilang saja pada Amin bahwa bunga itu kubeli dari seorang wanita penjaja bunga yang kebetulan lewat dan kutemui sehabis sampai di rumah.

Dari model mukanya, agaknya Amin sedikit terheran-heran dan kebingungan. Baru kali ini dia mendengar bahwa ada perempuan yang menjajakan bunga pada malam hari. Sebagai orang yang memang saya tahu lama tinggal di kota—maksudnya tidak sering keluyuran seperti saya—saya pun akan lebih mempercayainya bila terkait informasi perihal keadaan kota.

Kalau memang begitu, keherananku dari awal membeli bunga tadi boleh dikatakan benar. Sampai kemudian Amin pulang dan jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi, aku tidur dengan segenap keanehan dan rasa penasaran yang menghantui. Aku merasa aneh. Tidak biasanya ada perempuan yang mengganjal di otakku, lebih-lebih seorang pedagang bunga asongan.

***

Sekarang tahun musim kemarau dan terpaksa aku harus membuat hujan sendiri di hatiku agar dapat terus kubayangkan perempuan penjaja bunga itu. Baju dan kerudungnya yang merah, serasi dan sedikit basah terkena percikan air hujan membuatku terus terbayang. Ah, bukan bermaksud mau beralay-alay, tapi kenyataannya memang begitu.

Aku sedang berada di luar kota. Sampai pertemuan keduaku, belum bisa kulihat seperti apakah mukanya. Tapi aku yakin di setiap pertemuan, aroma dan suasana yang terasa adalah milik perempuan itu. Baju dan kerudungnya pun selalu sama, merah. Aku yakin bunga-bunga akan memberiku ingatan. Oleh karena itu, penduduk kotaku juga termasuk diriku sangat mencintai bunga-bunga.

Kali ini bos menugaskanku di kota dengan penduduk yang kurang bersahabat dengan kebiasaanku. Mereka kurang mencintai bunga-bunga. Bahkan sangat jarang ditemui kios-kios yang menjual bunga, bahkan hampir tidak ada. Andai kata perempuan itu ada di sini, niscaya aku tidak akan mempunyai pengalaman berkejaran dengan petugas keamanan karena tepergok sedang mencabuti bunga-bunga yang ada di pinggir pagar-pagar milik orang.

Bunga yang kubawa dari rumah sudah layu, tapi masih tetap kusimpan. Sebab bunga tersebut kubeli dari perempuan pengasong bunga yang kutemui tempo hari. Waktu itu, seperti biasa dia muncul secara tiba-tiba dan menghampiri orang-orang yang berkerumun ingin membeli bunga.

***

Kali ini musim penghujan dan aku sedang berada di kotaku. Tapi belum sama sekali kutemui perempuan itu lagi. Ingin rasanya membeli bunga darinya yang menyisakan aroma rindu sampai bermusim-musim lamanya. Sampai pada suatu ketika aku bertemu dengan orang yang sempat aku lihat juga pernah membeli bunga pada perempuan itu. Ketika kutanya, dia seolah tidak pernah mengingat kalau saja dia pernah membeli bunga pada perempuan berbaju dan berkerudung merah yang sedang menjajakan bunga-bunga. Padahal aku sangat yakin kalau orang itu memang pernah kutemui membeli bunga padanya.

***

Sudah hampir musim kemarau, dan kau belum juga kutemui. Setidaknya ada bekal sekuntum bunga yang bisa kubawa ke kota lain yang akan kukunjungi setelah ini. Sayang, aku sudah berada sangat lama di kota dan sekarang masih musim hujan, tapi serasa musim kemarau di hati. Barangkali jika memang sampai mati aku belum pernah bertemu denganmu barang sekejap, setidaknya datanglah ke makamku dan letakkanlah seikat bunga yang akan terus membuat musim hujan di kotaku tetap membahagiakan. Sekali lagi sayang, bunga-bunga darimu akan terus hidup dalam dadaku, merah dan membara.

***

Musim hujan tahun 2017 ketika banyak kios bunga di kotaku bangkrut dan gulung tikar, tepat di sekitar nisan bertuliskan namaku, terlihat seorang perempuan berbaju dan berkerudung sama merah berjalan sambil memanggul sesuatu. Berjalan ke luar dari gerbang pemakaman. Semerbak aroma melati menyebar di seluruh area pemakaman. Semerbak, sangat semerbak …. (*)

 

Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura yang mukim di kota Malang.

Advertisements