Cerpen Fadhil Adiyat (Fajar, 08 April 2018)

Kepada Luka, kepada Rahasia ilustrasi Fajar
Kepada Luka, kepada Rahasia ilustrasi Fajar

Setelah melewati tahun 1946 yang memulai sekaligus mengakhiri banyak hal. Akhirnya Said dan Rudi dipertemukan kembali.

***

SAID, lelaki yang sedari tadi mondar-mandir di jalanan kampung mencari alamat akhirnya menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah. Ia menatap ke arah seorang lelaki yang ada di beranda rumah itu. Setelah cukup yakin ia berjalan menghampiri.

“Ia adalah orang yang selama ini saya cari. Codet di pipinya adalah tanda yang tidak dimiliki orang lain. Itu bukan tanda biasa, itu tanda persahabatan.”

Said mengatakan dalam hati sambil terus berjalan mendekat, tak kuasa ia menahan gejolak di dalam hatinya dan langsung memeluk sahabat lamanya itu. Pikirannya tiba-tiba bercabang. Ia menggebu-gebu sekaligus ragu. Di satu sisi ia ingin menyampaikan kejujuran yang mengendap di hatinya, di sisi lain ia ingin tetap merahasiakan semuanya.

***

Rudi seorang pandai senjata tajam, dari tangan dinginnya tercipta badik dan parang. Ia mewarisi ulet dari ayahnya yang kini entah rimbanya. Di kampung bernama Lapadde ini ia juga nyambi jadi guru mengaji untuk anak-anak di masjid kampung.

Di sebuah rumah batu berukuran lima kali enam yang cat dindingnya sudah mulai usang. Beberapa anai juga terlihat menempel di sudut-sudut rumah. Kedua sahabat yang lama tidak bersua itu duduk bersila di ruang tengah.

“Setelah berpuluh tahun berlalu, akhirnya kita bertemu kembali. Kukira kau sudah mati.”

Rudi membuka percakapan dengan nada suara agak berat. Ia masih tidak percaya bertemu dengan sahabat lamanya.

“Justru saya yang mengira kau mati hari itu.” Said menimpali.

Kedua sahabat itu bercakap sambil mengingat-ingat masa lalu mereka yang memilukan. Keduanya tak mampu menyembunyikan mata yang mengilap serupa kaca mengenang kejadian pembantaian itu. Waktu memang telah berlalu tetapi kenangan pahit akan tetap matang di tungku pikiran keduanya. Terutama Rudi.

Tiga puluh tahun yang lalu, keduanya adalah kawan akrab yang sering turun ke sawah mencari belalang. Di sepanjang pematang sawah mereka berlomba mencari. Siapa yang dapat belalang paling banyak akan keluar sebagai pemenang. Tanpa menghiraukan terik yang menerpa kulit dan rerumput gatal yang lekat di pakaian mereka. Dengan cekatan, alat sederhana yang terbuat dari bilahan bambu sepanjang satu meter dan ujungnya ada gelas plastik yang dipaku sebagai alat penangkap.

Sedikit demi sedikit botol plastik yang disampirkan di pinggang mereka terisi oleh belalang. Di tengah keasyikan berburu belalang. Rudi yang berlari tiba-tiba terjungkal dan ujung bilah bambu penangkap belalangnya menggores pipinya. Ia memegangi pipinya yang mulai mengeluarkan darah sambil mengerang kesakitan. Melihat kawannya kesakitan, Said dengan cekatan menggendong Rudi berlari menuju ke rumah untuk diobati segera. Sesampainya di rumah, Ibu Rudi kaget bukan kepalang. Dioleskannya minyak ramuan yang sudah dibacakan mantra ke pipi Rudi. Codet itulah yang menjadi tanda persahabatan mereka.

***

Situasi kampung berubah ketika pemerintah Belanda mengeluarkan pernyataaan darurat perang. Kabar pasukan Westerling tiba di Makassar dan sedang menuju ke kampung mereka serupa petir tanpa hujan. Semua panik dan gusar. Beberapa pemuda yang pernah bergabung dalam laskar pemberontakan melawan penjajah ditugasi menjaga di perbatasan kampung. Tak berselang lama kabar itu sampai di telinga orang-orang kampung. Sepasukan orang putih tinggi tegap berhidung mancung dengan menenteng bayonet itu datang. Westerling.

Mereka datang pada sebuah malam tanpa sinar rembulan. Keadaan kampung seketika berubah mencekam. Angin bertiup pelan. Tidak ada suara apapun terdengar kecuali suara bahasa Belanda bercampur bahasa Indonesia yang berantakan.

Pintu rumah Rudi digedor, suara permintaan untuk pintu dibuka terus terdengar. Tak lama kemudian terdengar suara hentakan keras. Pintu rumah itu terempas ke lantai. Pak Jedi digiring paksa keluar dari rumah. Ia adalah mantan pemimpin laskar. Rudi meringkuk di pelukan ibunya menyaksikan ayahnya diseret seperti hewan. Sejak saat itu ayahnya tidak lagi jelas nasibya.

Pagi begitu lengang dan hening, tidak ada yang berani keluar rumah. Para pemuda penjaga kampung sudah tergeletak tak bernyawa dan dikuburkan bersama di tengah-tengah kampung dalam satu liang. Pasukan Belanda berjaga di setiap sudut. Mereka bergantian masuk dari rumah ke rumah. Mencari lelaki dewasa. Mencari orang yang dianggap menentang.

Tidak puas dengan itu ketika cuaca sangat terik, mereka mengumpulkan semua warga di tengah kampung tanpa terkecuali. Satu per satu ditanyai oleh Belanda itu dan yang tidak berhasil menjawab akan diantar menuju maut.

“Siapa pemimpin kalian?” Komandan pasukan itu terus mengulang perkataannya sambil terus membentak.

Ketika malam tiba, hujan mengguyur disertai petir dan badai. Keadaan menjadi ricuh, warga berlarian mencari selamat, pasukan itu kewalahan dan menembak ke sembarang arah. Rudi dan ibunya berhasil menyelamatkan diri kabur ke hutan. Said dan keluarganya tidak terlihat sejak tadi siang.

***

“Saya ke sini untuk memberimu uang kompensasi untuk korban perang tahun 1946 itu. Semoga ini cukup membantumu. Sekarang saya tinggal di Makassar. Kalau kau ada waktu, berkunjunglah. Saya pamit.” Said menyodorkan amplop dan alamatnya.

Rudi menggenggam amplop itu sambil menangis. Ia mengingat ayahnya, dan tidak pernah tahu kalau yang menunjukkan rumah Pak Jedi adalah Pak Mudi, ayah Said. Said berpamitan pulang dengan membawa rahasia yang tidak pernah diketahui Rudi.

 

Makassar, 2018

Fadhil Adiyat, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Advertisements