Cerpen Abidah El Khalieqy (Kedaulatan Rakyat, 08 April 2018)

Bersama Angin ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Bersama Angin ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

MAYA tertawa, bergurau melawan duka. Bukan! Bukan duka yang dilawan. Maya hanya sekadar membahasakan perasaan yang sedang gelora seperti burung-burung di angkasa. Andai saja makhluk penjuru itu mau meminjamkan sayapnya, tentu ia sudah mengangkasa, bersemuka dengan penghuni langit kedua. Menginterupsi seputar kondisi arwah suami.

“Hello Pak Malik, apa Anda baik-baik saja? Sudah bertemu suamiku lom?”

“Hello juga. Alhamdulillah aku baik dan sehat. Tapi aku belum ketemu dia.”

“Ah masa? Bukankah dia sudah sampai situ?”

“Belum. Baru di barzakh. Coba kau tanya kabarnya pada pak Munkar atau pak Nakir.”

Maya pun terbang nuju barzakh. Alam sahara riuh menyemesta. Jalanan berlapis, bermilyar shaf. Wajah-wajah berbeda rupa, sesuai nama yang tertera di jidatnya. Terpampang juga nama jalan dan gang. Dari ketinggian, berpasang-pasang mata mendelik, menghitam, memerah, menjuling, mengapi, mengobar, mematahari.

Maya terbang rendah di atas sebuah jalan yang dipenuhi mata juling. Secepat kilat geleng-geleng kepala. Terlihat olehnya sepasang mata, seperti mata kuda sedang membara. Nyaris pingsan.

Dalam titik hampir kolaps, sekelebat sosok terbang rendah menghampirinya. Putih menyeluruh di tiap helai bulunya. Ada yang tembus dari balik peputihan. Seberkas cahaya menyala, menyilaukan. Memberi senyuman seperti larik rubaiyyat Khayam. Hingga dari senyumnya, berpuluh kendi anggur meluap lautan, melepas semesta dahaga para pejalan. Maya pun siuman, dan bertanya pada Cahaya.

“Wahai Cahaya (Maya tak tahu jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan), bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Diriku adalah kumpulan jawab. Silakan diajukan.”

“To the point aja ya. Aku penasaran dengan shaf suamiku. Di mana ia berada?”

Advertisements