Cerpen Iksaka Banu (Koran Tempo, 07-08 April 2018)

Teh dan Penghianat ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Teh dan Penghianat ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Begitu daun jendela terbuka, asap pipa tembakau yang semula terperangkap di ruang kerjaku berebutan ke luar, diganti udara sejuk. Kuhela napas panjang, seolah ingin mengisi paru-paru dengan kemurnian udara kaki Gunung Burangrang. Berharap hal itu bisa mengurangi rasa pening lantaran dua hari penuh menggelar rapat komandan lapangan.

Kantorku di lantai dua. Setiap hari sebelum mulai bekerja, aku memang selalu menyempatkan diri berdiri menghadap ke luar seperti ini. Di musim tanam, bila pandangan diarahkan ke kiri, kita bisa melihat para petani membajak sawah dengan kerbau mereka. Sementara di sisi kanan, tampak kesibukan pagi sebagian penghuni Loji Kembang Kuning, pos militer yang baru empat bulan kutempati ini.

Dibanding kantor sebelumnya yang kering di Batavia, loji ini jauh lebih menyegarkan. Sepanjang sapuan mata: alam pegunungan yang permai. Aku bahkan tidak keberatan seminggu tiga kali ikut berpatroli bersama pasukan, menjelajahi desa demi desa. Sambutan penduduk selalu ramah. Tentunya pada hari-hari normal. Bukan seperti saat ini.

Ya, kami sudah mendengar kerusuhan berdarah di perkebunan teh dua hari lalu. Tetapi tidak mengira perkembangannya begini cepat dan buruk. Apakah peristiwa ini akan memicu perang besar lagi? Semoga tidak. Kami sudah muak mengangkat senjata. Belum dua tahun mengenyam kehidupan tenteram setelah Perang Jawa berakhir.

“Masuk!” kujawab ketukan di pintu. Letnan Jacob Staplichten mendekat bersama seorang pria berpakaian putih, khas pejabat perkebunan. Lengan kanan orang itu dibebat perban. Di pundak kiri tergantung tas kulit besar.

“Kapten Simon Vastgebonden.” Letnan Staplichten memberi hormat. “Ini Tuan Karel Wijnand, deputi direktur perkebunan Wanayasa yang mengalami kejadian tragis kemarin. Ia ingin menanyakan kemungkinan menyewa tentara, mengawal perjalanannya ke Batavia.”

“Duduklah dulu, Tuan-tuan. Silakan tuang kopi di meja itu. Bagaimana tanganmu, Tuan Wijnand?” kusapa pria berkulit kemerahan itu. Ia memiliki dagu tegas, yang ditopang leher dan sepasang bahu kukuh.

“Jauh lebih baik. Sudah dijahit oleh Dokter Van Rossum,” Karel Wijnand menggerakkan tangannya.

“Syukurlah,” jawabku. “Dan bagaimana keadaan Raden Adipati Suriawinata pagi ini, Letnan?”

“Sedikit terguncang,” jawab Letnan Staplichten. “Bisa dipahami. Siapa sangka para buruh Cina itu berani bertindak di luar akal sehat seperti kemarin.”

“Di luar akal sehat? Mereka sering terlambat menerima upah, Letnan,” kataku. “Bahkan konon tidak dibayar sesuai kesepakatan kontrak kerja. Demikian yang kudengar. Mengapa hal memalukan semacam itu terjadi? Mungkinkah ada yang bermain di belakang dana perkebunan teh ini, Tuan Wijnand?”

“Aku tidak tahu-menahu soal upah, Kapten.” Air muka Karel Wijnand berubah. “Sudah ditentukan pemerintah. Tugasku menjaga ketertiban serta kelancaran produksi. Percayalah, itu bukan pekerjaan mudah dibandingkan gaji yang kuterima.” Karel Wijnand mengangkat bahu. “Selain itu, semua berlangsung cepat. Awalnya kukira mereka bergerak sendiri dan spontan. Ternyata ini sebuah komplotan besar.”

“Kemarin sudah kami petakan persoalannya. Aku yakin sedikitnya Tuan juga sudah tahu. Mari kita lihat sekali lagi.” Kuteguk kopi pagiku yang mulai mendingin. “Ada dua kelompok Cina yang memberontak. Pertama, Cina asal Makau yang membuka lahan perkebunan teh milik pemerintah di Wanayasa. Mereka merasa kecewa oleh dua hal pokok: gaji yang jauh dari kesepakatan, dan kekejaman pemilik perkebunan yang kerap menghukum berlebihan, sehingga…”

“Wanayasa di bawah pengawasanku. Dan Tuan Sheper Leau bukan orang kejam,” potong Karel Wijnand. “Kapten harus membedakan antara ‘kejam’ dengan ‘tegas’ di sini.”

“Tuan Wijnand, aku sedang menyampaikan fakta yang kuketahui. Jangan menyela!” Aku tersulut. “Nah, kelompok kedua adalah Cina asal Makau di Purwakarta. Partikelir. Mereka kecewa karena dilarang membuka lahan baru di sana.”

“Mustahil menyerahkan lahan luas kepada partikelir, apalagi bukan orang Belanda. Apa yang tidak kita berikan selama ini kepada orang-orang Cina itu? Tanah, pekerjaan, perlindungan? Dan ini balasan mereka? Pengkhianat tak tahu diuntung!” Karel Wijnand mendengus.

“Mereka menyewa tanah, bukan memiliki,” sahutku.

“Sebaiknya kita membicarakan masalah yang baru saja terjadi. Dua kelompok ini terbukti menggalang kekuatan untuk melakukan perlawanan. Entah siapa yang memulai. Mereka sangat berbahaya. Itu sebabnya aku minta pengawalan ke Batavia.” Karel Wijnand mengambil kotak cerutu dari tasnya, lalu mengangsurkannya kepada Letnan Staplichten dan kepadaku. Aku menggeleng. Letnan Staplichten tampak ragu menatap cerutu mahal itu, tetapi kemudian mengambil sebatang setelah Karel Wijnand memaksanya.

“Yang pertama bergerak adalah Cina di Purwakarta. Mereka membakar gudang-gudang Pelabuhan Cikao. Beruntunglah Raden Adipati sempat bertemu patroli kami, sehingga ia dan keluarganya bisa dilarikan ke sini,” Letnan Staplichten angkat bicara.

“Aku bisa merasakan kengerian Raden Adipati. Aku mengalaminya sendiri,” kata Karel Wijnand. “Kelompok Cina Wanayasa bergerak tanggal 10 Mei kemarin, melintasi perkebunan teh menuju Purwakarta dari arah Selatan. Aku baru usai sarapan bersama Tuan Sheper Leau ketika mereka datang merangsek kantor kami.” Karel Wijnand berhenti sebentar, menghirup cerutunya.

“Aku lari ke istal. Seorang dari mereka mengayunkan parang. Kutangkis dengan tangan.” Karel Wijnand menunjuk lengannya yang dibebat. “Syukur aku bisa memacu kudaku lari dari neraka itu. Tuan Sheper Leau tidak beruntung. Dari mandor bumiputra kudapat kabar Tuan Leau terjatuh, lalu dipenggal kepalanya. Mayatnya dibuang ke tengah hutan. Biadab!”

“Kita semua berduka untuk nasib malang Tuan Leau. Tetapi untuk memadamkan api pemberontakan, kita perlu mengetahui duduk perkara sesungguhnya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sejak dulu orang Cina gigih dan rajin. Membuat mereka sering berada dalam posisi kurang menguntungkan,” kataku.

“Bila Tuan membaca catatan tentang Perang Cina seratus tahun lalu, akan Tuan temukan bahwa penyebabnya mirip dengan yang terjadi hari ini. Kecemburuan sosial yang berujung pada pembantaian besar warga Cina di sepanjang Kali Angke. Sebagai balasan, mereka meletupkan perang yang merepotkan kita. Bahkan mengakibatkan Kerajaan Mataram terbagi dua. Padahal awalnya mereka hanya mencari keadilan. Dan sebetulnya kita juga membutuhkan mereka.”

“Maaf, apakah Tuan punya keluarga dari etnis Cina?” Karel Wijnand mencondongkan badan ke arahku.

“Tidak. Mengapa Tuan bertanya demikian?”

“Karena, kalau Tuan bertemu mereka setiap hari, Tuan akan melihat bahwa mereka tak lebih dari––sekali lagi––pengkhianat licik yang tak bisa dipercaya. Beri sedikit peluang, mereka akan berulah! Jangan lupa, mereka baru saja membantai Tuan Sheper Leau seperti seekor anjing!”

“Dan menurut Tuan, orang Belanda tak ada yang licik?” tanyaku.

“Aku malas berdebat untuk masalah yang sudah sangat kupahami,” Karel Wijnand memalingkan wajah. “Aku ke sini ingin menyewa tentara. Bukan minta dikuliahi atau diinterogasi.”

“Aku juga tak ingin berdebat. Pun tidak memihak kepada para pemberontak. Tugasku sekarang memadamkan api ini sedini mungkin. Aku hanya ingin mengatakan, cukup sering kekacauan bermula dari kita sendiri. Seandainya kita lebih bijaksana, hal seperti ini tidak akan terjadi,” kataku.

“Kemarin sore Tuan Heinrich Christian Macklot pergi ke Purwakarta membawa tiga meriam berikut pasukan gabungan dari Cianjur, Sumedang, serta Bandung. Semoga ia berhasil membendung kerusuhan ini.” Letnan Staplichten mengalihkan topik.

“Heinrich Christian Macklot? Bukankah ia seorang botanikus?” Karel Wijnand menautkan alis. “Tahun lalu ia datang ke Wanayasa, mengambil spesimen teh untuk bahan penelitian Natuurkundige Kommissie.”

“Ia memang belum lama menjadi komandan artileri. Pria sederhana dan banyak bakat,” sahutku. “Mengenai pengawalan ke Batavia, Tuan Wijnand, dengan segala hormat, karena seluruh tentara disiagakan menumpas kerusuhan, aku khawatir tak bisa mengabulkan permintaanmu. Semoga Tuan bisa mengerti. Tinggallah di sini barang sepekan, sampai keadaan lebih aman.”

“Sepekan terlalu lama.” Karel Wijnand bangkit dari bangku. “Soal keluarga, aku bisa menunggu. Tetapi laporan penting harus kubawa sendiri ke Batavia. Tidak bisa diwakilkan. Biar kutunggu dua hari ke depan. Terima kasih, Kapten!” Karel Wijnand menjabat tanganku sebelum melangkah ke luar diantar Letnan Staplichten.

Birokrat teh keparat. Mengira mereka orang penting! Aku memaki dalam hati. Perlahan kutarik dokumen dari laci. Sejarah Teh. Salinan ringkas yang kuperoleh dari perpustakaan botani di s’Lands Plantentuin Buitenzorg beberapa hari sebelum aku pindah ke kantor baruku di daerah perkebunan teh ini. Kusalin atas nasihat pimpinanku di Batavia, agar aku mengenal daerah kerjaku.

Teh berasal dari Negeri Cina. Tahun 1595 dibawa ke Eropa oleh Jan Huijghen van Linschoten. Masuk ke Hindia Belanda tahun 1684 dalam bentuk biji teh dari Jepang. Saat itu teh digunakan sebagai tanaman hias saja. Setelah diketahui manfaat dan kenikmatannya, tahun 1826 teh dikembangkan di s’Lands Plantentuin Buitenzorg. Tak lama kemudian, Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, menanam teh secara besar-besaran di Banyuwangi dan di Wanayasa. Kebun teh Wanayasa dianggap berhasil, sekaligus membuka jalan bagi usaha perkebunan teh di Pulau Jawa.

Untuk meningkatkan mutu produksi, Jacobson mengambil buruh Cina dari Karawang dan Batavia. Ia juga mendatangkan 15 buruh langsung dari Negeri Cina. Tujuh di antaranya pakar teh. Mereka semua disebut Cina Makau, karena memang berasal dari daerah itu. Mereka ditempatkan di sekitar kaki Gunung Burangrang.

Terdengar ketukan pada pintu kamar. Aku berhenti membaca. Letnan Staplichten lagi. Sepucuk surat tergulung rapi dalam genggamannya.

“Dari Purwakarta.” Tangannya terulur.

Kubaca surat itu dengan cepat. Lalu kutatap lesu Letnan Staplichten.

“Buruk?” tanya Letnan Staplichten.

“Para pemberontak sudah mencapai Subang. Diduga akan masuk Batavia dari Tanjung Pura. Tentara Tuan Macklot telah tiba di Desa Dawuan, menunggu di situ. Kita diminta memperkuat bala bantuan dari Batavia, memukul para pemberontak agar mundur ke Dawuan, lalu menjepit mereka di sana,” sahutku.

“Butuh dua hari ke tempat itu dengan artileri,” Letnan Staplichten menatap peta di dinding.

“Tidak perlu.” Aku menggeleng. “Kita akan melambung mendahului mereka, lalu bergabung dengan pasukan Batavia. Di bagian inilah aku merasa kurang nyaman.”

“Mengapa?”

“Pasukan kavaleri Batavia itu dipimpin seseorang yang pernah menjadi musuh besarku empat tahun lalu dalam pertempuran di Jawa Tengah. Ia pernah dengan gemilang menghancurkan pasukan Mayor Buschkens. Namanya, Alibasah Sentot Prawirodirjo.” Kuulurkan surat tadi kepada Letnan Staplichten. “Bacalah.”

“Alibasah?”

“Itu salah satu gelar kepangkatan pasukan Diponegoro saat berlangsung Perang Jawa.” Aku mengaitkan tangan ke punggung. “Alibasah. Diambil dari istilah kemiliteran Ottoman, Pasha. Jabatan setingkat jenderal.”

“Apa yang kaukhawatirkan dari orang ini?”

“Di mana engkau saat Perang Jawa berkecamuk, Letnan?” Aku menoleh tergesa kepada Letnan Staplichten. “Ia tangan kanan Diponegoro. Kemampuan tempur dan penguasaan strategi lapangannya sangat tinggi. Dibutuhkan mental kuat bagi pasukan kita untuk tidak terbirit-birit mendengar namanya disebut di medan perang.”

“Bukan begitu. Maksudku, ia toh kini sudah berada di pihak kita,” Letnan Staplichten mengembalikan tatapanku.

“Memang. Akibat kondisi keuangan yang memburuk, ditambah para petani yang sudah bosan diajak perang, dan pajak pasar yang tidak bisa lagi dikutip pasukannya, Sentot bersama 500 orang tentara andalannya mendatangi markas kami. Jenderal De Kock sendiri yang menyambutnya. Ia diberi pangkat letnan kolonel, diberi gaji tetap, dan diperbolehkan memimpin pasukannya sendiri. Ini penugasan pertama mereka. Masalahnya, percayakah engkau kepada pengkhianat yang meninggalkan junjungannya demi uang? Bagaimana bila pasukan Cina Makau yang kuat ini memberi ilham kepadanya untuk berbalik lagi melawan kita? Pengkhianat tetaplah pengkhianat.”

“Apakah ini tidak berlebihan?” Letnan Staplichten tampak ragu.

“Aku tidak mau mengambil risiko. Bentuklah satu detasemen khusus. Amati gerak-gerik Sentot dan pasukannya,” kataku. “Kalau terlihat mencurigakan, hantam mereka saat itu juga.”

Letnan Staplichten bergegas ke luar ruangan.

Sore harinya, di bawah pimpinanku, pasukan kavaleri pemukul berkekuatan 300 orang bertolak menuju Tanjung Pura. Hampir tak ada halangan besar. Jalanan berlumpur yang sulit dilalui pada musim penghujan telah berubah menjadi sekeras batu terpapar terik matahari bulan Mei.

Pukul satu siang keesokan harinya, kami memasuki wilayah Tanjung Pura. Di tugu tapal batas sudah menanti pasukan bumiputra dalam kemah-kemah darurat. Wajah mereka gelap dan berurat. Bahkan sorot mata mereka, sejujurnya, mengingatkanku pada rombongan begal yang sering mengganggu desa.

Aku melompat turun dari kuda. Seorang pria dengan kumis tipis, sorban, gamis putih, dan jubah berwarna hijau mendekat. Alibasah Sentot Prawirodirjo, kueja nama itu dalam hati. Kami bertukar tatap tanpa suara. Tampaknya ia berusaha keras mengais potongan wajahku dari tumpukan ingatan di benaknya. Membuat sepasang matanya tampil lebih buas.

Tak berapa lama, tarikan wajahnya mengendur. Mungkin ia tidak menemukan satu pun ingatan tentang diriku, dan memutuskan tidak terlalu menganggap penting jati diriku. Ia memberi sedikit senyum. Dari jarak sedekat ini aku semakin paham mengapa dulu pasukan kami segan berurusan dengannya. Tetapi aku tidak boleh kalah wibawa.

“Ini rencana kita,” kataku dalam bahasa Melayu. Kusorongkan denah penyerangan kepadanya. Ia lekas menangkap maksudku, dan sepakat dengan semua yang kukatakan.

Tanpa membuang waktu, kami segera bergerak. Pasukan Sentot secara bertahap membentuk formasi huruf U lebar. Sepit Urang. Capit Udang. Jurus ampuh yang dahulu menggentarkan kami di Perang Jawa.

Beberapa jam kemudian, kami beradu muka dengan rombongan pasukan yang kami buru itu: para pria berkulit kuning dengan rambut taucang, tombak, dan golok panjang. Sebagian di atas kuda, sisanya berjalan kaki sembari mengawal pedati yang dihela dua ekor lembu.

Mereka berusaha memancing kami menuju celah sempit di antara dua bukit di depan sana. Jebakan usang. Sudah kami duga sebelumnya. Sesuai rencana, pasukan Sentot menyibak, memberi jalan kepada kami untuk maju. Sekejap kemudian, senapan Beaumont kami menyalak bergantian, menyapu bersih para penembak jitu yang sejak tadi telah menunggu di kedua sisi bukit.

Mendadak pasukan tombak mereka muncul dari balik gerobak, dan dengan nekat berlari ke arah kami. Beberapa anak buahku terpelanting dari kuda memegang dada atau perut. Namun barisan tombak tadi tidak berusia panjang. Dari jarak sangat dekat, pistol kami menghentikan serangan brutal itu.

Ketika mereka mulai bergerak mundur, giliran bala tentara Sentot berderap maju, menebas kiri-kanan dengan pedang. Membawa ingatanku melayang jauh ke masa lalu: Pertempuran sengit antara laskar Diponegoro dengan pasukan gabungan pimpinan Kolonel Cochius, Letkol Le Bron De Vexela, dan Mayor Sollewijn di daerah Siluk. Namun itu masa yang berbeda. Kali ini Sentot dan anak buahnya yang menggiriskan hati itu berada di pihak kami.

Kurang dari satu jam, pasukan Cina Makau luluh-lantak. Mayat bergelimpangan. Sebagian yang selamat berbalik arah, kembali menuju Subang. Gerobak berhasil kami rebut. Selain berisi makanan, ternyata alat angkut itu dijejali senapan dan amunisi. Sentot menahan laju pasukannya setelah mencoba mengejar cukup jauh, kemudian memutar arah, menghampiri pasukanku.

Aku melirik Letnan Staplichten dan anak buahnya yang sejak tadi berjaga di sayap kiri. Senapan mereka satu per satu terangkat, mengikuti gerak kuda Sentot. Jantungku mulai bertalu kencang. Sangat perlahan, jari kananku merayap ke arah ujung pelatuk senapanku. Pengkhianat tetaplah pengkhianat, aku mengulang perkataanku kepada Letnan Staplichten kemarin dalam hati.

Sentot terus mendekat. Sekitar tiga langkah di depanku, ia menarik kekang. Lalu mengangkat tangan kanan. Senyum lebar terbit di wajahnya.

“Tugas kami selesai!” teriaknya.

“Kerja bagus, Tuan Sentot!” sahutku sambil mengendurkan tekanan pada pelatuk senapan. “Gerombolan itu akan berhadapan dengan pasukan artileri Tuan Macklot di Dawuan. Kami akan beristirahat sebentar sebelum menyusul ke sana.”

“Kalau begitu, kami pamit!” Sentot memberi aba-aba. Pasukannya menjauh.

“Tugas lagi?” tanyaku.

“Sumatra Barat!” Sentot menoleh. “Memadamkan perang di sana!”

Aku mengangguk. Sentot balas mengangguk lantas menyentak tali kendali. Kudanya melonjak, melesat menyusul rombongan. Debu tipis beterbangan di belakangnya. Kuamati jubah hijau yang berkibar di atas punggung kuda itu sampai mengecil dan lenyap ditelan tikungan.

 

Jatiwaringin, Maret 2018

 

–           Natuurkundige Kommissie: Komisi Ilmu Pengetahuan Alam

–           Taucang: Kucir

 

Iksaka Banu. Penulis dan praktisi periklanan. Tinggal di Jakarta.

Advertisements