Cerpen Ellyyana Said (Fajar, 01 April 2018)

Sorak-sorak Kampanye Ibuku ilustrasi Fajar.jpg
Sorak-sorak Kampanye Ibuku ilustrasi Fajar

GENDERANG kampanye dimulai. Di sana sini bendera warni warni tertancap rapih. Baliho berbicara penuh sensasi. Sosok ibuku salah satu menjadi perhatian. Perempuan yang gemulai dan keibuan. Maju sebagai calon pemimpin mendatang. Sepuluh tahun sudah ayahku menjadi “Raja” di kampung ini. Tahun terakhir semua warga meminta ibuku pun maju menjadi “Raja”. Aku termenung, gimana nanti nasibku. Diusiaku jelang 20 tahun. Aku butuh sosok ibu yang mendampingi setiap langkahku dan hari-hariku.

Maju menjadi bupati bukan pilihan ibu. Setelah ayah didesak warga, ibu pun terpaksa maju. Sejak ayah jadi bupati, aku tak pernah merasakan menjadi anak bupati. Aku tak mau diberi fasilitas, semua orang menjadi kaget dengan tingkahku. Satu hal yang aku inginkan perhatian ibu dan ayah.

Di kampung ini sosok kakekku juga yang dermawan, kakek tidak pernah lupa tetangga dan kerabatnya ketika daku. Puluhan hektar sawah dan tambak masih menjadi kekayaan turun temurun di keluarga ibuku.

Pernikahan ibu dengan ayah karena mereka dijodohkan. Dari kakek, ayah ibu dan kakek dari ayah, mereka sudah kerabat dekat. Dari dulu mereka selalu bersama duduk menjadi pemimpin. Keinginan keluarga besar membuat ibu maju menjadi calon bupati.

Sore itu ibu baru saja kembali dari lapangan berkampanye. Ibu lemas kecapean, badannya lunglai dan tidak berdaya. Saat aku liat ibu, aku sedih sekali, air mataku mengalir deras terisak-isak. Kebayang ibu akan pergi tinggalkan kami. Aku menangis melihat ibu yang memaksakan diri maju, padahal aku tahu ibu bukan sosok yang diinginkan banyak orang. Meski bisik-bisik, ayahlah nanti berada dibelakang ibu.

Pintu kamar dikunci, ibu tak mau ditemani banyak orang. Ibu ingin istirahat total. Ibu sangat letih. Suara ibu parau. Aku duduk disudut kamar membaca ayat ayat suci untuk menenangkan hati ibu. Suaraku samar-samar mendoakan ibu.

Tak lama ayah masuk kamar dan mencium ibu. Sepertinya ibu terlelap tidur, tidak merasakan ayah datang. Di kamar hanya ada aku dan tante Mina adik ibu. Ayah seperti kaget mendengar ibu sakit. Ayah tipe laki setia, aku tahu itu karena kedekatan ayah dengan ibu selalu menjadi cerita banyak orang.

Sore bergeser, senja tiba, suara adzan magrib terdengar bersahutan. Suasana kampung senyap. Warga menutup pintu, semua muslim menunaikan sholat magrib. Malam ini malam jumat terdengar ceramah di salah satu masjid.

Terlintas ada pengumuman kalau esok kerja bersih-bersih lingkungan sekitar. Kampung kami memang bersih. Semua warga sudah peduli dan mengerti kebersihan. Setiap Jumat warga silaturrahim dengan kumpul dan membawa alat sendiri.

Aku liat ibu sudah mulai bergerak dan membuka matanya. Ibu meminta aku membawanya ke kamar mandi untuk wudhu. Usai sholat magrib dan isya ibu minta aku mengaji untuk menenangkan pikirannya.

Lantunan surat al kahfi aku baca untuk ibu sampai selesai. Malam itu aku tidak meninggalkan kamar ibu. Aku sayang ibu. Aku tau ibu lelah tapi tak mau cerita. Ibu sosok perempuan bertanggungjawab. Tapi ayah mungkin lupa kalau ibu bukan perempuan yang bisa dinobatkan sebagai pemimpin kampung kita.

Di luar terdengar suara lelaki seperti berkumpul, berbicara menanyakan kabar ibu. Mereka kawatir ibu sakit parah. Suara perempuan terdengar samar-samar. “Iya, ibu hanya kecapean, semoga cepat sembuh, supaya bisa aktif lagi.”

“Iyaa, kami juga berharap demikian, buat ibu.”

“Kalau bisa kita mengaji untuk ibu.” Salah seorang memotong.

Malam larut kondisi ibu semakin menurun. Dokter yang menangani hanya mengatakan ibu kecapean. Ibu memang bukan politisi, aku sudah bilang sama ayah. Tapi semua tidak ada yang mau mendengarku. Mereka semua membuat ibu sakit. Kalau seperti ini ayah pun tak bisa bicara.

Aku melihat ayah hanya terpaku bagai patung. Seperti ada penyesalan akan kejadian ini. Detik-detik terakhir kampanye akan berakhir. Semua sudah memberi sinyal kemenangan ibuku. Tapi aku malah marah dan menangis, terbayang jika ibu duduk sebagai bupati. Ibu hanya akan menjadi boneka yang dimainkan. Karena ibu bukan sosok seperti yang mereka inginkan. Ibuku, perempuan yang penuh perhatian pada keluarga. Aku kawatir pekerjaannya sebagai bupati akan berantakan.

Tiga hari kondisi ibu sudah membaik. Ibu kembali ke panggung dengan teriakan-teriakan yang tidak masuk diakalku. Secarik kertas aku tulis untuk ibu. Semoga ibu paham akan perasaanku sebagai putrinya yang butuh perhatian. Sejak awal kuliah aku meminta ibu untuk tidak menggantikan posisi ayah. Cukuplah perjuangan ayah selama 10 tahun untuk daerah ini.

Jelang pemilihan kepala daerah suasana rumah semakin rame. Pagi, siang dan malam tak terasa waktu berjalan dengan mimpi-mimpi. Aku semakin bingung. Ingin rasanya meninggalkan rumah untuk menenangkan pikiran. Tapi aku kasian ibu yang pasti akan berpikir kondisiku. Sementara aku telah berpikir keras akan kondisi ibu.

Ibu terserang penyakit jantung. Seminggu di rumah sakit. Semua menjadi bingung. Dua hari lagi pesta demokrasi dimulai. Aku berbisik pada ayah. Kenapa cerita ibu seperti ini. Kalau saja ayah mau bijak, jangan ibu yang menjadi tumbal politik orang-orang diluar sana. Aku marah dengan ayah, karena semua karena ijinnya. Ibu hanya ikut keinginan semua orang termasuk ayah lelaki yang sangat dicintainya.

Bendera politik yang mengantar ibu berkibar. Sementara ibu berbaring lemah di rumah sakit. Pendukung ibu rame-rame datang menjenguk. Mereka memberi semangat dan berdoa untuk ibu. Aku sempat marah. Karena merekalah ibu menjadi sakit. Kalau saja ibu tidak mengikuti, ibu pasti masih di rumah dengan segala masakan untuk kami. Meski berada disamping ayah sang bupati. Ibu tetap memperhatikan kami anak-anaknya.

Perhitungan suara menjadi tegang. Beberapa kecamatan menjagokan ibu. Hasil sementara ibu unggul dengan jumlah suara teratas. Dokter bekerja maksimal, kondisi ibu semakin kritis. Operasi jantung yang barusan dilakukan membuat ibu semakin lemah. Aku menangis disamping ibu. Saat-saat tegang ketika tak ada lagi sinyal yang positif. Ibu lemah dan tak bisa tertolong. Sementara total suara ibu unggul dan membuat semua orang berteriak menang. Kita menang!!

Aku jatuh dari pembaringan. Kulihat ibu didepanku membawa pisang goreng dengan teh hangat. Aku baru saja bermimpi. Sudah seminggu aku lemah, karena sakit. Kupeluk ibu, ada senyum yang selalu kunanti. Ibupun memelukku.

“Kamu sudah sehat, Nak?”

“Iya buu…aku baru saja mimpi, ibu jangan tinggalkan kami.”

“Iyaa, ibu selalu di sampingmu, Nak.”

 

Ellyyana Said, penulis merupakan Staf Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku KLHK, Pemerhati Lingkungan Hidup. Anggota IPIM Sulsel.

Advertisements