Cerpen A. Warits Rovi (Tribun Jabar, 01 April 2018)

Orang Gila di Bawah Papan Iklan ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Orang Gila di Bawah Papan Iklan ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

AZAN subuh baru saja berlalu, seolah lenyap bersembunyi ke setiap tetes embun yang mengeramasi tanah. Aku masih dengan doa purba, di tempat yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya, di sebuah pasar tradisional, duduk bersimpuh menengadah, angin lesap di sepasang tangan yang tertangkup sunyi, air mataku jatuh, hatiku luluh, kenangan masa lalu menusuk-nusuk dalam dada. Tangisku semakin pekik, dan sepuluh malaikat yang semalaman menemaniku mengelus-elus rambutku, lantas pamit karena matahari segera terbit. Sepuluh malaikat itu mengepakkan sayap, lalu terbang jauh, menembus langit yang temaram. Aku memandangnya dengan mata yang lengang, tanpa tangan melambai. Ketika matahari sudah terbit, aku kembali ke asal mula, menjadi orang gila, seperti kata mereka, walau sebenarnya keadaanku tak seburuk yang mereka duga. Aku tidak gila.

Matahari kian meninggi, melumati pepucuk waru yang masih bersanggul titik-titik embun, di pohon yang condong ke barat, di sisi papan iklan. Orang-orang sudah mulai ramai berdatangan. Kuselipkan selembar foto kenangan ke dalam saku. Foto itu tak boleh hilang karena foto itu adalah kekuatan bagi hidupku, kekuatan untuk tersenyum sekaligus kekuatan untuk menangis. Dan siapa pun tak boleh tahu foto itu, kecuali kelak bila perempuan di foto itu datang kembali, menyelamatkanku dari kesunyian ini.

***

JIKA orang Sumenep mendengar nama Mahmud, pasti ia akan ingat kepadaku; orang gila yang biasa mangkal di pojok tenggara Pasar Gapura, tepat di bangku beton di bawah papan iklan. Karena orang menganggapku gila, maka aku sering diledek, padahal hari ini orang gila itu bermacam-macam. Banyak di antara mereka yang mengaku waras sebenarnya juga gila, hanya saja mereka mendapat takdir yang baik sehingga baik-baik saja di tengah masyarakat, tanpa dipasung, meski kenyataannya mereka mengamuk secara diam-diam. Mereka gila.

Orang-orang hanya memandang fisikku yang tak pernah mandi, berkuku panjang berdaki hitam, berambut gimbal apek penuh kutu, tanpa kukenakan baju, sandal, dan peci, kecuali hanya sarung lusuh yang lekat di tubuhku, motif batik liris dengan sisa tetes getah di sana-sini. Ciri-ciri fisik semacam itu sangat cukup syarat bagi seseorang untuk disebut gila. Padahal kalau orang-orang mau melihat hatiku, mereka pasti malu menyebutku gila. Setiap hari aku memungut sampah, menyapu dan membersihkan sekawanan rayap di Pasar Gapura, tentu tanpa kuabai salat lima waktu beserta seluruh amalan sunahnya. Tapi kelakuan waras yang menempel pada fisik yang nyeleneh tetaplah disebut kelakuan gila. Ah, sebenarnya yang menilaiku juga gila.

Satu hal yang tak gampang kulupa, pada suatu malam yang disorot kilau rembulan, ketika kunang-kunang mengitari tiang-tiang listrik, angin lirih menyapu plastik transparan hingga beterbangan ke emperan toko. Pada saat itu seorang lelaki memarkir mobil di depan sebuah toko, setelah tak terdengar bunyi mesin mobilnya, lelaki berdasi dan bersepatu itu membuka pintu, ia turun pelan seperti ragu dan berdiri agak lama di samping mobilnya seraya tak kedip menatapku. Aku yang kebetulan sedang duduk bersila hanya diam melihat kedatangannya. Seketika keadaan pasar disekap sunyi, minus suara, kecuali hanya kucing betina yang mengeong, memberi makan anak-anaknya di pojok warung tukang cukur.

Setelah menoleh ke sana-kemari, barulah ia melangkah pelan ke arahku. Jantungku berdetak agak kencang, dengan kekhawatiran dan dugaan-dugaan buruk tentang kedatangan lelaki itu. Beruntung kehawatiranku sirna, setelah tahu lelaki itu menyapa dengan lembut, bibir ranumnya yang disorot bulan tak henti tersenyum. Ia berbicara begitu santun, seraya tak banyak mengubah posisi duduknya yang bersila di paving, sekitar setengah meter di bawah ketinggian bangku beton yang yang kududuki. Lantas kami bercakap banyak hal, dan beberapa kali lelaki itu menyodorkan rokok, roti, dan minuman ke hadapanku, tapi semuanya kutolak dengan sopan karena aku memang kenyang.

“Maukah sampean membantu saya, Mas?” ucap lelaki itu menunduk muram.

“Apa yang bisa diandalkan dari orang gila sepertiku?”

“Saya yakin, Mas bisa membantu masalah ini.”

“Apa itu?”

“Saya ingin Mas bisa menyebut angka apa saja yang akan keluar minggu ini. Saya suka berjudi, Mas.”

“Kenapa suka judi?”

“Karena saya banyak utang dan tahun depan ingin mencalonkan diri di bursa caleg. Untuk dua hal itu tentu saya harus banyak uang.”

“Kenapa banyak utang?”

“Entahlah, Mas. Padahal saya sering korupsi dan menyunat banyak proyek, tapi utangku malah bertambah. Saya pusing.”

Aku tak merespons permintaan lelaki itu meski dia menangis sambil memeluk betisku, ia terus membujukku agar membantunya menyebut nomor. Aku lebih banyak diam meniru bulan, hingga lelaki itu pulang dengan kecewa, setelah menendang keras sebuah botol bekas. Ia adalah satu di antara sekian banyak orang waras yang justru meminta saran atau nasihat kepadaku. Aku heran, kenapa di saat zaman semakin maju dan sebagian besar orang memuja rasionalitas justru masih banyak yang memimpikan nasihat dari dunia sunyi yang jauh dari jangkauan akal sehat. Mereka menyebutku gila dan menganggap diri waras, tapi percaya kepada kata-kataku, meminta pendapat dan doa kepadaku. Aku jadi berkesimpulan bahwa kegilaan masa kini hanya disekat oleh tampilan fisik, sementara inti jiwa setiap orang hampir semuanya pernah gila.

Malam itu, aku tertawa bersama sepuluh malaikat yang menjagaku, sambil kuamati selembar foto rahasia milikku, kuelus kertasnya, seiring air mata jatuh dan sepuluh malaikat menatapku tanpa kata-kata.

Bulan mematung di balik rimbun dan waru.

***

SETIAP hari, aku berjalan dari lokasi pasar ke beberapa tempat yang tak lebih dari satu kilometer untuk meminta makanan kepada warga. Jika sudah lelah, aku akan balik ke lokasi pasar, kembali ke bangku beton, menyandarkan tubuh ke tiang papan iklan, atau tiduran sambil mengamati tampilan iklan yang ada di atasku. Kali ini ada iklan sabun mandi. Tampak gambar seorang model tersenyum sembari memegang sabun, sedang di bawahnya tertera kalimat-kalimat sanjungan terhadap sabun itu, dan di bagian pojok kanan, pada sebuah lingkaran hijau tertera tulisan diskon 15%. Banyak orang-orang membaca iklan itu dengan mata yang melotot.

“Wah! Model cantik itu memakai sabun itu juga,” ujar salah seorang kepada temannya.

“Iya. Ada diskonnya lagi,” jawab temannya sembari menunjuk lingkaran hijau.

Mereka berdua rela berlama-lama di depan papan iklan meski keduanya menjinjing barang belanjaan yang agak berat. Lalu keduanya sepakat untuk membeli sabun itu. Aku tertawa mendengar keputusan mereka. Mereka adalah di antara orang-orang yang mudah dijebak oleh iklan. Dari beberapa iklan produk yang dipampang di papan ini, semuanya memakai dua alat jebak bagi konsumen. Pertama, dijebak dengan kehadiran tokoh artis. Kedua, dijebak dengan janji diskon. Padahal belum tentu artis di iklan itu memakai produk yang diiklankan dan diskon yang ditawarkan tentu sudah dikalkulasi dengan laba. Ah, tapi ini pikiranku, pikiran orang gila dan mereka menganggap dirinya waras meski cara berpikirnya kadang gila.

Di akhir tahun, ketika memasuki masa kampanye caleg, papan iklan di atasku dipasangi baliho salah seorang caleg. Fotonya tersenyum wibawa dengan jas hitam, diapit dua tokoh masyarakat dengan lilitan serban agak tebal, di bawahnya ada tulisan tercetak warna biru “Pembela Hak-Hak Rakyat”. Aku hanya tersenyum, sebab aku tahu caleg itu selama ini sering menyunat dana proyek dan menggelapkan dana bantuan rakyat.

“Dua tokoh yang mengapitnya belum tentu memilih dia. Tulisan yang dicetak tebal itu hanyalah bahasa iklan, semuanya serba iklan,” gumamku kecut sembari kuelus dada.

“Lihat! Dia orang gila,” teriakku tiba-tiba sambil menunjuk foto caleg itu, dan orang-orang menoleh ke arahku. Beberapa di antara mereka berkata, “Kau yang gila.”

“Kalian juga gila, percaya sama caleg seperti dia,” suaraku meninggi, dan aku beranggapan bahwa hampir semua orang di dunia ini pikirannya pernah gila.

Keesokan harinya, saat loper koran melepas lelah di sampingku, secara tak sengaja kulihat di halaman utama sebuah koran lokal, caleg bangsat yang sok merakyat itu berfoto dengan istrinya. Melihatnya, hatiku jadi teriris. Wanita yang ia nikahi ternyata wanita yang sama dengan wanita di fotoku. Kukeluarkan selembar foto dari saku celana kumal dengan sangat hati-hati, tanganku gemetar, jantungku berdebar dan mataku nanar. Air mataku tak henti memancar.

“Sayang! Sejak kau dipisah oleh ayahmu dariku, sejak saat itu aku jadi begini. Aku berharap kaulah suatu saat yang bisa menangkisku dari duniaku yang sunyi ini. Tapi nyatanya…,” air mataku semakin deras, merambahi lengkung dagu.

“Orang gila biasanya cenderung tertawa, tapi orang gila ini kok malah menangis. Hei! Sebenarnya kamu gila atau pura-pura gila?” tanya loper koran, membuatku terperanjat, dan aku tak tahu harus menjawab apa.

***

 

Gapura, 01.18

A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya dimuat di berbagai media nasional dan lokal: Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, dll. Ia juga guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura.

Advertisements