Cerpen Dody Wardy Manalu (Lampung Post, 01 April 2018)

Negeri Kepompong ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Negeri Kepompong ilustrasi Sugeng Riyadi/ Lampung Post

Bila memintaku untuk bercerita, bagaimana aku tiba di negeri kepompong, aku akan ceritakan secara utuh padamu. Mungkin kamu tidak akan percaya karena semua terjadi seperti mimpi.

***

Ketika itu, malam Jumat bergerimis. Aku duduk di kursi mobil paling belakang menuju kota Medan. Pemuda di sebelahku memakai parfum beraroma bunga mawar. Aroma itu memenuhi lubang hidungku.

“Hai, nona cantik, pernah ke negeri kepompong?” Ucap pemuda beraroma mawar. Hanya menanggapi dengan senyum.

“Tolong berpegangan yang kuat. Sebentar lagi kita akan melintasi terowongan menuju negeri kepompong. Terowongan itu dipenuhi kupu-kupu.”

Terowongan menuju negeri kepompong? Yang benar saja. Sebentar lagi kami akan melewati terowongan. Namun bukan terowongan menuju negeri kepompong, negeri anta-beranta seperti ia tuturkan.

Terowongan itu namanya Batu Lubang. Terowongan sepanjang sepuluh meter penghubung Kota Sibolga dengan kota Medan. Batu lubang itu dibangun di masa penjajahan Jepang.

“Kita akan tiba di terminal ulat bulu. Kamu bisa menikmati kembang gula yang dijajahkan ibu-ibu tua di terminal. Di negeri kepompong, para ibu tua itu disebut mami butterfly.”

Mobil memasuki terowongan. Aku mengacuhkan perkataan pemuda itu. Mataku tertuju pada dinding terowongan ditumbuhi lumut, pakis, dan air yang tak berhenti menetes.

Seekor kupu-kupu bersayap kuning hinggap di hidungku. Kemudian kupu-kupu jenis lain berdatangan hingga jumlahnya ribuan. Kupu-kupu itu menabraki wajahku.

Mobil belum juga keluar dari terowongan. Ada yang tidak beres. Aku menoleh ke arah pemuda di sebelahku.

“Sekali-kali percayalah pada omongan orang lain.”

Akhirnya, mobil keluar juga dari terowongan. Hamparan bunga merekah di sisi jalan. Ini bukan jalan menuju kota Medan. Bunga beraneka warna menutupi permukaan bumi. Ribuan kupu-kupu beterbangan di atasnya. Kupu-kupu itu tidak seperti kupu-kupu biasa. Mereka mirip manusia yang memiliki sayap bercahaya.

“Kita telah sampai di terminal ulat bulu.”

Suara pemuda itu membuatku tersadar. Para penumpang bergegas keluar. Aku mengekor di belakang. Terminal ini tidak beda jauh dengan terminal yang ada di kotaku.

Kursi berjejer di sepanjang koridor terminal dipenuhi orang tengah menunggu jam keberangkatan. Di setiap lorong berseliweran para pedagang menjajakan jualan.

“Ini kembang gula, terbuat dari benang ulat sutera dicampur sari bunga melati.”

Setangkai kembang gula ada di hadapanku. Pemuda beraroma mawar menyodorkan.

“Di negeriku, benang ulat sutera digunakan sebagai bahan pembuat kain. Bukan untuk makanan,” ujarku sembari meraih kembang gula itu.

“Coba dicicipi, kamu pasti suka.”

Aku mencicipi. Rasanya seperti minuman botol beraroma melati. Namun ini lebih nikmat. Ada sesuatu membuat lidahku tak berhenti untuk mencicipi.

“Tak pernah berpikir mengapa kamu berada di negeri kepompong?”

Aku terdiam. Dari tadi aku tidak memikirkannya.

“Setelah kembang gulamu habis, kamu akan tahu alasan keberadaanmu di sini.”

Apa sesungguhnya terjadi? Aku berhenti mencicipi kembang gula.

“Tolong habiskan.”

Aku melanjutkan jilatan terakhir. Begitu kembang gula habis, sekelilingku berubah seketika. Tidak ada lagi taman bunga terhampar indah. Terminal ulat bulu menghilang. Tanah negeri kepompong sekejap berubah merah mengeluarkan asap seperti habis terbakar. Bangunan di sisi jalan tinggal puing-puing. Mayat bergelimpangan di mana-mana.

“Apa yang sesungguhnya terjadi?”

“Ini alasannya mengapa kamu dipanggil. Seekor kelelawar raksasa yang tinggal di Bat Mountain telah menghancurkan negeri kepompong. Hanya satu orang yang sanggup terbang ke puncak Bat Mountain untuk membunuh kelelawar raksasa itu. Orang itu adalah kamu, Nona!”

Aku akan melawan kelelawar raksasa? Pemuda ini pasti salah orang.

“Boro-boro membunuh kelelawar raksasa, melihat kecoa saja aku takut. Aku tidak bisa melakukan itu.”

“Apa kamu tega melihat kaummu sendiri mati? Bunga-bunga tidak ada lagi. Bagaimana warga negeri kepompong bertahan hidup.”

“Kaumku sendiri?”

“Kamu adalah manusia kupu-kupu sama sepertiku. Ratusan tahun silam, kamu dititip ke rahim manusia di bumi untuk mewujudkan ramalan yang ditulis ribuan tahun lalu.”

“Mana sayapku kalau aku manusia kupu-kupu.”

“Nanti kamu akan melihat sendiri sayapmu. Sekarang kita harus pergi. Kita tidak punya banyak waktu.”

Sepasang sayap muncul dari punggung pemuda itu.

“Ikuti aku.”

Aku tidak punya pilihan. Aku berlari mengikuti ke mana pemuda itu terbang

“Boleh tahu siapa namamu?” Teriakku sambil berlari.

“Panggil saja aku Glavo. Kalau kamu namanya siapa.”

“Kimi.”

“Nama yang buruk. Lebih suka memanggilmu nona cantik.”

Pemuda bernama Glavo hinggap di ranting pohon berukuran besar tumbuh di tepi jurang. Di setiap ranting bergelantungan ribuan kepompong.

“Kamu harus membunuh kelelawar itu sebelum ia kembali menghanguskan negeri ini. Bila pohon ini ikut terbakar, maka kaum kita benar-benar punah.”

“Apa yang harus aku lakukan.”

“Kamu harus bisa mengeluarkan sayapmu. Membunuh kelelawar raksasa itu sangat mudah. Cukup membakar gua tempat persembunyiannya.”

“Bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan sayap.”

“Kamu harus membayangkan dirimu seekor kupu-kupu. Hanya itu kuncinya.”

Langit memerah. Negeri kepompong tak ubah bagai kota mati. Aku duduk bersila di bawah pohon sembari memejamkan mata mencoba membayangkan diriku seekor kupu-kupu. Selalu gagal. Dalam khayalku, aku malah berubah menjadi cat women, melompat dari gedung tinggi seperti yang aku tonton di layar televisi.

“Ah, aku tidak bisa.”

Aku membuka mata, lalu berjalan ke sisi jurang.

“Coba sekali lagi. Nasib negeri ini ada di tanganmu.”

Aku menoleh pada Glavo tengah bertengger di cabang pohon.

“Aku tidak bisa, Glavo!”

“Jangan langsung menyerah.”

“Sudah kubilang tidak bisa. Aku bukan manusia kupu-kupu.”

Amarahku meledak. Tiba-tiba sebuah tendangan menghantam dadaku. Tubuhku jatuh ke jurang. Aku melayang di udara. Andai aku kupu-kupu seperti Galvo, mungkin aku tidak akan mati konyol. Punggungku berderak seperti pohon patah. Sakit sekali. Aku meraba punggung. Aku punya sayap?

“Cepat kepakkan sayapmu.” Teriak Glavo dari atas jurang. Aku mulai menggerakkan sayap seperti menggerakkan kedua tangan. Berhasil, aku bisa terbang!

***

Pagi masih menyisakan kabut. Aroma bumi terbakar menusuk hidung. Di bawah pohon besar, seluruh warga negeri kepompong berkumpul. Masih belum percaya bila aku manusia kupu-kupu.

“Kamu harus tiba di puncak gunung sebelum matahari terbenam, sebelum kelelawar itu keluar dari sarang.” Ujar Glavo sembari menyerahkan sebuah obor bertangkai panjang.

“Doa kami bersamamu, nona cantik!” Para warga berteriak.

Glavo memapahku ke pinggir jurang. Aku mengepakkan sayap dan tubuhku melayang di udara. Sebentar lagi aku akan bertempur melawan seekor kelelawar raksasa. Aku hinggap pada sebuah dahan pohon setelah satu jam melayang di udara. Mataku mengawasi sekeliling. Ada sebuah gua di bawah sana. Itu tempat persembunyian kelelawar raksasa. Aku menyalakan obor.

“Sebentar lagi kamu akan mati.”

Aku bakar ranting-ranting yang ada di mulut gua. Dinding gua tergoncang hebat disusul suara memekakkan telinga. Seekor kelelawar raksasa terbang dari dalam gua. Aku ketakutan melihat wujudnya. Kelelawar itu berputar-putar di udara, lalu secepat kilat terbang ke arahku.

Aku berlari ke kolong batu. Tubuh kelelawar sangat besar tidak muat masuk ke kolong. Ia menjulurkan kepala ke arahku. Mulut kelelawar raksasa itu mengeluarkan api. Kepala kelelawar kembali menyembul. Tangkai obor kucolokkan ke bola matanya. Suaranya mengerang. Ia terbang ke udara. Kesempatan itu aku gunakan untuk keluar.

Aku berlari menuju bukit berbatu. Membunuh kelelawar raksasa itu tidak semudah Glavo katakan. Suara kepakan sayap terdengar di belakang. Kelelawar telah kembali. Tak ada lagi tempat untuk sembunyi.

Kelelawar raksasa semakin mendekat. Akhirnya, aku berdiri menghadang. Mulutnya terbuka lebar siap-siap untuk menerkam. Begitu ia mendekat, aku melompat menghindari gigitannya. Tangkai obor aku tusukkan pada sayap hingga robek. Kelelawar oleng dan ter-jerembab ke tanah. Tubuhnya menggelepar dan jatuh ke jurang. Aku menggeser batu. Brakk! batu itu menimpa kepalanya.

***

Kepompong bergelantungan di pohon sudah menetas. Tanah kembali ditumbuhi bunga beraneka warna. Segerombol anak beterbangan di udara. Sesekali mereka hinggap mengecupi bunga-bunga.

“Terima kasih, Kimi! Kamu telah menyelamatkan negeri ini. Meski kamu manusia kupu-kupu, namun takdirmu tidak di sini. Kamu harus pulang ke negerimu.”

Glavo memelukku. Ini pertama kali pemuda itu memanggil namaku.

“Aku tidak tahu jalan pulang.”

“Mobil terakhir menuju negerimu akan segera berangkat. Kita harus ke terminal. Bila terlambat, kamu terpaksa menunggu sepuluh tahun lagi.”

Glavo mengepakkan sayap. Aku mengikutinya. Sayapku berwarna perak tampak berkilau diterpa sinar matahari. Kami tiba di terminal ulat bulu. Glavo menuju loket membeli tiket. Mataku asyik melihat para mami butterfly menjajahkan kembang gula.

“Kamu suka ini?”

Seorang mami butterfly menyodorkan setangkai kembang gula. Ingin sekali menerimanya. Tapi aku tidak punya uang. Uang di dompetku tidak berlaku di sini.

“Aku tidak punya uang.”

“Ini gratis untuk seorang kesatria.” Ujar mami butterfly. Aku menerima kembang gula itu.

“Kimi, cepat naik. Mobilnya akan berangkat.” Teriak Glavo.

Aku melambaikan tangan ketika mobil melaju. Segerombol kupu-kupu terbang melewati celah jendela kaca saat melewati terowongan. Kupu-kupu itu menabraki pipiku. Rasanya geli bercampur sakit. Kupu-kupu menghilang seketika. Aku menyembulkan kepala dari kaca mobil. Kupu-kupu itu tetap tidak ketemu. Yang tampak hanya lumut, pakis, dan air yang menetes dari dinding terowongan.

Mobil keluar dari terowongan. Jalan menuju kota Medan masih seperti dulu. Berlubang tak pernah diperbaiki. Bukankah aku baru saja dari negeri kepompong? Aku melawan kelelawar raksasa di Bat Mountain. Apakah ini hanya mimpi?

Kembang gula di tanganku adalah nyata. Tidak ada sayap di punggungku. Namun ada luka seperti kena sayat. Ini bukan mimpi. Aku baru saja dari negeri kepompong. Pemuda beraroma mawar tidak ada lagi di sebelahku. Petualangan ini tak akan pernah aku lupakan. n

Advertisements