Cerpen Dody Wardy Manalu (Banjarmasin Post, 01 April 2018)

Menanti Kabar Ibu ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Menanti Kabar Ibu ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Dilanda sepi sudah hal biasa bagimu. Mengalaminya sejak lima tahun silam ketika hujan baru saja berhenti turun. Halaman penuh lumpur. Kamu sedang memberi makan ketiga adikmu. Darl celah pintu kamar, kamu melihat ibumu sedang merias diri. Sebentar lagi ibumu akan berangkat kerja.

Ibumu sengaja memilih shiff malam karena gajinya lebih besar. Ia suka memakai pakaian minim meski cuaca sangat dingin. Memoles bibir dengan lipstik merah menyala. Mengenakan sepatu bertumit tinggi, ibumu berangkat pukul sebelas malam. Hingga pagi tiba. Ibumu tak kunjung pulang. Kamu duduk di tangga rumah bersimbah air mata. “Ibumu tidak akan kembali. Ia kawin lari dengan seorang pengusaha.” Seorang wanita berdandan menor, sama seperti penampilan ibumu bila berangkat kerja, menyampaikan kabar itu. Kamu hapus air mata dan masuk rumah. Sejak itu, hidupmu dihinggapi sepi tak bertepi.

Suatu malam, ketiga adikmu merengek minta makan. Kaleng beras sudah kosong. Kamu keluar tak tahu melangkah ke mana. Setangkup ragu menyergap ketika berada di depan rumah makan. Ada empat perut harus diberi makan. Kamu, anak perempuan yang dadanya masih rata dipaksa keadaan menjadi dewasa.

“Tolong berikan aku pekerjaan. Aku bisa mencuci piring, mengelap meja atau menyapu lantai. Tuan harus menerimaku untuk bekerja. Jika tidak, Tuan akan membunuh ketiga adikku serta aku karena kelaparan.”

Pemilik rumah makan enggan bertanya. Dengan gerakan kepala, ia menyuruhmu ke belakang. Segera bekerja sekuat tenaga berharap bisa membawa pulang empat nasi bungkus. Sekitar jam sepuluh malam, pemilik rumah makan menyuruhmu berhenti. “Pulanglah, beri makan adik-adikmu.”

Ia menyodorkan empat nasi bungkus dalam plastik. “Boleh aku bawa nasi sisa yang ada di ember?”

“Buat apa.” Pemilik rumah makan melotot penuh selidik. “Aku punya tiga ekor anjing harus diberi makan.”

Kebohongan dengan mudah meluncur dari bibirmu. Kamu tidak punya anjing. Hanya teringat ketiga adikmu yang kuat makan. Kamu pulang memundak nasi sisa. Sampai di rumah, segera memberi makan ketiga adikmu, lalu mencuci nasi sisa, meniriskan dan menunggu besok pagi untuk dijemur.

Mengenang ibumu, sama saja membuka kembali luka lama. Bukan tidak tahu apa yang ibumu kerjakan tiap malam. Ibumu seorang pelacur. Tiap malam melayani para lelaki hidung belang.

Pemilik rumah makan menerimamu sebagai karyawan tetap. Tugasmu mencuci piring, mengelap meja, mengiris bawang, dan menyapu lantai. Waktu kerjamu berakhir pukul lima petang. Setiap pulang kerja, kamu menyempatkan diri duduk di pinggir sungai tidak jauh dari rumah makan. Kamu bisa melihat sekumpulan pemuda bermain bola di tanah lapang seberang sungai.

Beberapa hari ini, seorang anak laki-laki ikut menikmati pergantian petang di pinggir sungai. Kalian tidak pernah saling menyapa. Anak laki-laki itu selalu membawa gitar. Ia bernyanyi dan tidak mau berhenti sebelum kamu tertawa. “Satria bergitar! Besok aku ulang tahun. Boleh menyanyikan lagu happy birthday untukku?”

Petang ini, kamu beranikan diri menyapa anak laki-laki itu untuk pertama kali. Suara cemprengnya seketika berhenti. Ia mengangguk seiring bibirnya melengkungkan senyum.

“Aku suka panggilan itu. Boleh memanggilmu bidadari sungai?”

Bidadari sungai? Kamu tertawa tak kuasa menahan lucu. Tidak ada bidadari sejelek dirimu. Hari semakin gelap. Lapangan bola di seberang sungai sudah sepi. Kamu dan Satria bergitar beranjak pulang. “Siapa namamu sebenarnya?” ujarmu.

“Lebih senang bila kamu memanggilku Satria.” Jawabnya sebelum kalian berpisah di simpang jalan.

***

Sudah terlambat tiba di pinggir sungai. Semua gara-gara tumpukan piring kotor harus kamu cuci. Di ulang tahunmu ketiga belas, seseorang akan menyanyikan lagu happy birthday buatmu.

Kamu berdiri di hadapan Satria dengan napas tersengal. Tubuhmu basah oleh keringat. Satria mempersiapkan diri sesempuma mungkin. Dari tubuhnya menguar aroma parfum. Kepala ditutupi topi kerucut terbuat dari koran bekas. “Pakai topimu.”

Satria memakaikan topi kerucut di kepalamu. Ini pertama kali ulang tahunmu dirayakan meski tanpa kue tart dan nyala lilin. Satria memetik gitar. Suara cemprengnya melantunkan lagu happy birthday. Air mata jatuh tanpa kamu sadari. “Kamu menangis karena suaraku jelek?”

Satria menghentikan petikan gltarnya. “Justru aku sangat bahagia.”

“Hapus air matamu. Aku ingin memberi kado untukmu.” Satria menggapai tanganmu, lalu membawamu melompati batu-batu menyeberangi sungai. Kalian melintasi lapangan bola dan memasuki kebun karet.

“Kita mau ke mana?” tanyamu.

“Menjemput kadomu.” Begitu keluar dari kebun karet, kalian disambut hamparan rumput. Satria mengajakmu duduk di alas rumput mulai berembun.

“Di tempat ini, aku sering melukis di awan.”

“Ini kado yang kamu maksud?”

Satria mengangguk.

“Bagaimana bisa. Awan itu tinggi.” Matamu membola seperli mata kucing. “Cukup menggerakkan jarimu di udara. Bayangkan apa ingin kamu lukis. Biarkan awan mengikuti jalan pikirkanmu. Mau mencoba?”

Satria meraih tanganmu, lalu mengangkat ke udara. “Gerakkan jemarimu.” Matamu terpejam membayangkan sosok yang akan kamu lukis, menggerakkan jari di udara mengikuti bentuk khayalanmu. Sudah selesai. Kamu membuka mata. Awan menggumpal membentuk sosok dalam pikiranmu.

“Apa kamu berhasil melukis di awan?” Kepalamu mengangguk.

“Apa yang kamu lukis?”

“Ketiga adikku sedang bernyanyi. Dan kamu bermain gitar mengiringi mereka.”

Kebahagiaan itu hanya sekejap. Keesokan hari, Satria tidak muncul di pinggir sungai. Mungkin ia sibuk hingga tak bisa datang. Mencoba berpikir positif. Kamu menunggu berhari-hari. Satria tidak muncul juga. Pesona sungai mendadak tidak menarik lagi.

***

Ketiga adikmu sudah bersekolah. Mereka pergi mengumpulkan barang bekas setelah makan siang. Hari ini, kamu keluar dari rumah makan dengan lesu. Gajimu banyak dipotong untuk membayar beberapa buah piring tak sengaja kamu pecahkan. Sejenak berdiri di trotoar menatap lurus ke dalam kedai kopi seberang jalan. Seorang pemuda berambut ikal duduk dl sudut kedai. Pemuda itu lumayan tampan. Ia memiliki rahang kokoh. Saking sering melihat pemuda itu bisa menebak berapa tinggi dan ukuran lingkar pinggangnya.

Kamu melanjutkan langkah hendak pulang. Sekitar sepuluh meter di depanmu, seorang ibu membuang satu kotak kue tart ke tong sampah. Kue itu masih layak dimakan. Mungkin ia punya persediaan kue terlalu banyak hingga meja makannya tidak cukup untuk menampung. Kamu percepat langkah, lalu berhenti tepat di samping tong sampah. Kepalamu bergerak ke sekeliling, memastikan apa ada orang melihat ke arahmu. Jalan tampak sepi. Segera mengambil kue dan memasukkan dalam tas.

Keesokan hari, kembail melewati tong sampah itu, berharap ada lagi makanan bisa dibawa pulang. Kali ini, tanpa rasa malu, kamu melongok ke dalam. Seakan tak percaya, empat bungkus roti keju kamu temukan di dasar tong. Matamu berbinar ketika mengangkat roti itu. Namun seseorang menamparnya dari tanganmu hingga terjatuh. Tak menyangka, pemuda yang duduk di kedai kopi pelakunya. Wajahmu bersemu merah. Pemuda itu menarik tubuhmu lebih dekat. Tak ada kata. Mata kalian beradu sesaat. Ia menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke tanganmu, lalu pergi.

“Kamu kira aku seorang pengemis?” Kamu sangat malu ketahuan mengacak-acak isi tong sampah bagai anjing kelaparan. Pemuda itu telah berada di sisi jalan. Kalian berseberangan saling menatap.

“Ambil kembali uangmu.” Kamu lemparkan uang itu ke tengah jalan.

“Kamu bidadari sungaiku.” Ucapan pemuda itu melempar ingatanmu pada sungai, lapangan bola dan hamparan rumput.

“Kamu Satria?” ucapmu ragu-ragu. Pemuda itu mengangguk sembari mengambil secarik kertas dari kantong kemeja.

“Mengapa tiba-tiba menghilang. Sungai tak lagi indah tanpamu.”

“Aku menghilang karena ibumu.” Kamu terkejut. Meski ibumu seorang pelacur dan telah meninggalkan kalian bertahun-tahun, masih berharap ibumu kembali. Kamu ingin melihat surga di telapak kakinya?

“Di mana ibuku sekarang.”

Tiba-tiba sebuah bus melintas dan berhenti di antara kalian. Pandangan terhalang beberapa detik. Bus kembali melaju. Satria tidak ada lagi di seberang jalan. Di atas aspal, secarik kertas bergerak ditiup angin menuju ke arahmu. Kamu memungut kertas itu dan membaca tulisan yang ada di sana: Jangan mencari ibumu lagi. Aku sudah membunuhnya. Ibumu telah menghancurkan keluargaku hingga ibuku nekat mengakhiri hidup dengan mengiris kemaluannya. Mendadak pandanganmu mengabur. Kamu berdiri mengumpulkan roti kejumu yang berserak. Kalian berempat harus tetap hidup. ***

 

Dody Wardy Manalu. Guru Ekonomi SMA Negeri 1 Sosorgadong. Domisili di Sosorgadong, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Advertisements