Cerpen Umi Rahayu (Suara Merdeka, 25 Maret 2018)

Telur Aneka Rasa ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Telur Aneka Rasa ilustrasi Suara Merdeka

Lima belas menit lagi bel masuk akan berbunyi. Di ruangan komputer, Bahrul sudah menyiapkan alat dan bahan untuk praktik. Sebutir telur ayam, perasa makanan, bor, alat suntik, dan pemanas listrik. Bahrul menggaruk-garuk kepalanya yang berambut keriting. Dia hampir terjingkat ketika pintu ruang komputer terbuka. Seorang wanita cantik masuk membawa laptop.

“Pak Bahrul, bisa minta tolong membetulkan laptop saya?”

Bahrul mengangguk-angguk. Dia memperhatikan laptop guru muda yang kini duduk di sampingnya. Wangi parfum cokelat masuk ke hidung Bahrul yang besar.

Wanda memang selalu sempurna di mata Bahrul. Cantik, muda, wangi. Meski tak banyak murid yang suka, karena Wanda dikenal terlalu disiplin.

Dengan gesit Bahrul memperbaiki peranti lunak laptop Wanda. Guru muda itu hanya melihat, karena tak paham apa yang dilakukan Bahrul.

“Ini, sudah selesai. Saya tambahkan software baru ya.”

Wanda mengangguk-angguk. Ia menaikkan kacamata yang berbingkai merah.

“Bapak mau sarapan telur?”

Mata Bahrul mengikuti telunjuk Wanda. Laki-laki berkepala setengah botak itu menelan ludah. Dia tak tahu harus menjawab apa.

Advertisements