Cerpen Mustafa Ismail (Jawa Pos, 25 Maret 2018)

Pencatat Kematian ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Pencatat Kematian ilustrasi Budiono/Jawa Pos

LELAKI itu membawa sebuah buku tulis ke mana-mana. Bukan buku tulis istimewa, tapi buku tulis seperti yang biasa digunakan anak sekolah. Sampul depannya berwarna merah dengan gambar burung garuda. Sampul bagian belakang ada rumus perkalian. Buku itu dulu dibeli untuk anaknya, tapi belum dipakai. Puteh, nama lelaki itu, mencomot begitu saja buku tulis tersebut dari tas anaknya enam bulan lalu ketika sang anak meninggal ditembak orang tak dikenal.

Puteh mencatat kisah anaknya, sejak lahir hingga ia tertembak malam itu. Kala itu, Agam pulang malam sehabis belajar bersama teman SMP-nya di kampung dekat kota kecamatan. Bocah berusia lima belas tahun itu tadinya ingin menginap, tapi entah mengapa memutuskan pulang. Pagi-pagi, ia bersama seorang temannya ditemukan telungkup di pinggir jalan berjarak sekitar setengah kilometer dari kota kecamatan. Sepeda motor yang mereka naiki teronggok beberapa meter dari tubuh mereka.

Agam terkena tembakan di kepala, adapun temannya tertembak di dada tembus ke belakang. Mendengar kabar itu, Puteh langsung pingsan. Tapi hanya beberapa menit ia sadar dan memacu sepeda motor sekencang-kencangnya menuju tempat Agam tertembak. Di sana sudah ramai orang, tapi tak satu pun yang berani mengurus jenazahnya. Kampungnya memang sedang gonjang-ganjing. Orang mati adalah biasa. Orang tertembak dan ditemukan di jalanan menjadi lazim.

Maka itu, menemukan sesosok atau bersosok-sosok mayat di jalanan adalah hal biasa. Sebab, tiap pagi bisa ada belasan sosok mayat tergeletak di pinggir-pinggir jalan kampung berjejer. Memang, ada dua kelompok yang bertikai, tapi sebagian dari mayat-mayat itu bukanlah orang-orang dari kedua kelompok tersebut. Agam dan temannya salah satu contoh. Mereka adalah siswa sebuah sekolah menengah pertama, yang tak tahu apa-apa dengan pertikaian kedua kelompok orang dewasa tersebut.

Maka itu, Puteh sangat sedih, sangat marah, sangat kecewa. Ia kecewa dengan keadaan tak normal di kampung itu. Keadaan tak normal itu telah berlangsung bertahun-tahun. Seolah tak ada yang bisa menyelesaikannya. Sehingga ia sempat berpikir: jangan-jangan kondisi itu memang dipelihara? Mungkin ini adalah pikiran yang konyol. Tapi ia sungguh-sungguh tak tahan dengan kondisi itu. Ia menyaksikan kematian demi kematian tiap hari. Seolah nyawa menjadi begitu murah. Orang-orang pun hidup dalam ketakutan. Mereka terperosok dalam kemuraman. Kampung seperti daerah mati. Sunyi.

Dan, pagi itu ia menyaksikan kematian orang yang sangat disayanginya, yakni Agam. Tapi Puteh tidak menangis. Benar ia sempat pingsan mendengar kabar itu, tapi ia bertekad tak akan menangis. Air mata tidak akan mengubah keadaan. Air mata hanya memperlihatkan kelemahan. Hidup keras harus dihadapi dengan keras juga. Setidaknya tidak boleh menyerah. Siapa yang menyerah ia akan tergilas dan hilang. Menyerah serupa kematian sebelum waktunya.

Puteh memang sempat merasa kehilangan harapan ketika anak laki-laki satu-satunya itu tewas. Tapi, sekali lagi, ia tidak boleh menyerah. Bahkan, ia sempat berpikir untuk datang ke markas kedua kelompok yang berseteru itu dan melabraknya. Sebab, gara-gara merekalah semua hal menjadi tak normal. Tapi, ia kembali menimbang-nimbang, jika itu dilakukan sama saja dengan menyetor nyawa. Serupa menyiram bensin ke dalam api yang sedang berkobar, ia akan terbakar.

Bermalam-malam Puteh tidak tidur memikirkan apa yang bisa dilakukannya. Sementara kematian demi kematian terus berulang. Ada yang mati ditembak di depan rumah, di kebun kosong, pinggir pantai, hingga di tepi jalan. Tentu saja paling banyak ditemukan orang mati di pinggir jalan. Entah apa maksudnya. Boleh jadi itu semacam ketakutan yang diciptakan oleh salah satu dari kelompok yang bertikai itu. Tapi itu tidak menyurutkan kelompok satunya untuk melakukan perlawanan. Mereka sering menghadang kelompok seterunya di jalan-jalan yang jauh dari perkampungan.

Setiap ada kejadian penghadangan, bisa dipastikan bakal ada orang-orang yang tak berdosa jadi korban. Bahkan, kerbau dan sapi pun bisa jadi korban. Terkadang, mereka yang bertikai itu melepas tembakan sembarangan, bahkan hingga menembak hewan ternak. Rumah-rumah di sekitarnya pun—jika ada—bisa terbakar dengan dalih untuk mencari kelompok yang meng hadang. Sementara kelompok satu nya memprovokasi dengan membakar bangungan-bangunan yang ada kaitannya dengan kelompok lawan.

Setiap malam, ada saja orang yang dijemput oleh kelompok satunya yang diduga anggota kelompok lawan, atau setidak-tidaknya mendukung atau simpatisan kelompok lawan. Puteh terus berpikir apa yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti itu. Ia tak punya kuasa untuk membungkam amarah dan dendam di hati kedua kelompok itu. Siang malam ia berpikir apa yang harus dilakukan. Tapi ia tidak menemukan jawaban. Lalu, pada ma lam ketujuh kematian anaknya, setelah semua prosesi tahlilan selesai, ia tak lagi bisa menahan kantuk hingga tertidur di bangku panjang di teras rumah.

Puteh tertidur tujuh hari tujuh malam.

Bangun dari tidur itulah, seperti ada yang menuntun untuk masuk ke dalam rumah lalu mengambil buku tulis di tumpukan buku-buku anaknya. Ia mencomot begitu saja salah satu buku kosong yang belum digunakan. Lalu, mulailah ia menulis riwayat anaknya, seperti menulis catatan diary. Ia juga menyelipkan perasaan-perasaannya, termasuk kemarahannya pada Agam ketika ia tidak menuruti perkataannya dan kegembiraannya ketika Agam dapat ranking terbaik di sekolah. Lengkap. Detail.

Itulah kematian pertama yang ia tulis. Selanjutnya, seperti ada yang menuntun pula, ia mendatangi satu per satu keluarga orang yang mati karena tertembak. Ia datangi semuanya. Ia berangkat pagi-pagi dan pulang menjelang senja turun. Ia melakukannya dengan tekun dan penuh tanggung jawab, seperti melakukan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Demi itu, ia pun mengundurkan diri sebagai guru honorer pada sebuah sekolah dasar.

Sejak itulah ia dikenal sebagai pencatat kematian. Begitu mendengar ada orang mati, ia langsung bertandang. Bahkan, terkadang, pihak keluarga atau ahli waris orang mati yang mencarinya. Mereka ingin kematian keluarga atau familinya dicatat.

Dan, Puteh tak pernah meminta upah atau apa pun. Juga tak ada yang mengupahinya. Ia melakukannya dengan rela. Ia tidak tega melihat kematian demi kematian lewat begitu saja. Kematian adalah sebuah peristiwa yang sama pentingnya dengan kelahiran. Kalau kelahiran perlu dicatat, mengapa kematian tidak. Tetapi ia kerap tidak mengerti, mengapa tidak ada orang yang secara sungguh-sungguh mencatat kematian. Seolah kematian hadir untuk dilupakan. Bahkan, di nisan pun tak dicatat. Lebih bikin miris lagi, nisan pun tak ada.

Ia sering sekali menemukan orang-orang mati tanpa nisan. Kuburan terkadang hanya sebuah lubang besar yang dijejali tubuh-tubuh yang tak berdaya. Tak jarang pula tubuh-tubuh itu sebetulnya belum mati, tapi sudah dikuburkan. Ia tidak mengerti. Memang tak ada yang bisa mengerti, mengapa kematian datang bertubi-tubi.

“Memang tak ada yang tak mungkin di negerimu,” kata seseorang entah siapa. “Terutama di kampungmu ini,” tambah suara itu entah datangnya dari mana, “Kematian seperti sebuah karnaval yang semarak dan panjang.”

Lelaki itu tercengang mendengarnya. Ia hanya menjawab singkat: “Ya, di sini kematian dirayakan.”

Karena itulah, sambung lelaki itu, aku ingin berbeda dengan mereka, orang-orang merayakan kematian orang-orang. Buatku, kematian adalah sebuah kenangan. Kenangan duka. Ketika melihat orang-orang mati, segera saja segala peristiwa tentang mereka muncul tanpa bisa dibendung: seperti siaran televisi yang bertubi-tubi. Mereka lebih berhak hidup daripada para lelaki pencabut nyawa itu sendiri.

Puteh tak sanggup lagi menghitung sudah berapa orang mati yang sudah dicatat. Ia tidak sanggup menghitung. Buku tulis setebal 40 halaman itu nyaris habis lembarannya. Nyaris semua terisi. Bahkan, saking banyaknya kematian, ia tidak kuat lagi untuk mendatangi satu per satu keluarga orang yang mati. Ia cukup mendengar berita dari orang-orang atau berita koran dan televisi. Tetapi kalau bisa dijangkau, ia tetap datang sendiri, melihat sendiri jasad orang mati, dan turut berbaur dengan pelayat lainnya untuk menyampaikan duka cita.

Orang-orang pun kemudian pelan-pelan makin merasa penting untuk mencatat kematian. Orang-orang menjadi sadar bahwa sebuah catatan itu sangat penting. Mereka sangat sadar catatan itu pada suatu saat akan diperlukan dan dicari orang. Catatan itu akan menjadi bukti sejarah, sekaligus bagian dari sejarah itu sendiri. Catatan itulah yang akan bicara kepada dunia tentang berbagai peristiwa kematian, tentang kegelisahan dan kedukaan orang-orang.

Itulah yang terus mendorong lelaki itu untuk terus menekuni profesinya, meskipun tak digaji. Ia tidak pernah memikirkan lagi hidupnya. Ia percaya apa yang dia lakukan mendapat tempat di hati Tuhan. Selagi berbuat baik, Tuhan selalu memberi rezeki dan pendapatan. Terbukti, ada saja yang menyumbang untuk lelaki itu. Bukan dari keluarga orang yang mati, tetapi dari orang-orang yang tak pernah dikenalnya.

Ia terus membawa catatan itu ke mana pun dia pergi. Ia tidak pernah meninggalkannya. Dan makin hari kesibukannya makin bertambah. Belakangan, ia bahkan tidak bisa lagi tidur. Karena malam pun ia kerap dijemput untuk datang ke rumah orang-orang yang anggota keluarganya meninggal. Ia tidak pernah menolak datang.

Seiring kesibukan, waktu istirahatnya pun menjadi sedikit. Pelan-pelan, tubuhnya makin aus. Istrinya sempat memperingatkan agar ia menjaga kesehatan, tetapi lelaki itu tidak peduli. Ia langsung pergi begitu tahu ada orang mati. Lama-lama tubuhnya makin kurus dan wajahnya menjadi pucat. Kumisnya makin tebal dan jambangnya makin panjang. Ia mirip lelaki tak terurus.

Kali ini bukan hanya istrinya yang merasa tak nyaman dengan ketidakpedulian lelaki itu pada dirinya sendiri maupun keluarga. Diam-diam ada juga orang lain yang merasa tak aman dengan keberadaannya. Lelaki itu menyadari ada orang-orang yang tak suka padanya. Tetapi ia tidak peduli.

Pada suatu tengah malam, seseorang mengetuk pintunya. Lelaki itu segera bangun dan berlari ke pintu. Ia memastikan sang pengetuk pintu adalah orang yang menjemputnya untuk datang mencatatkan sebuah kematian. Ia sempat geleng-geleng kepala, mengapa ada saja orang mati di tengah malam begini?

Ketika pintu dibuka, ia melihat beberapa lelaki menyambutnya: “Kami mohon Bapak bisa ikut kami,” kata salah seorang di antara mereka. Suara yang berat, tegas seperti memerintah.

“Siapa lagi yang mati?” Begitulah pertanyaan pertama yang selalu ia lontarkan.

“Tidak ada yang mati.”

“Lalu?”

“Pokoknya ikut saja.”

Lelaki itu tercenung sejenak, menarik napas dan berkata: “Kalau begitu tunggu sebentar. Saya ganti pakaian dulu.”

Tanpa menunggu persetujuan, lelaki itu berbalik arah, masuk ke kamar. Ia memakai baju dan celana, lalu mengambil buku catatan kematian yang kerap dibawa ke mana-mana. Ia membuka halaman terakhir buku itu dan menulis sesuatu di dalamnya, yang tak lain namanya sendiri. ***

 

Mustafa Ismail. Lahir di Aceh, 1971. Buku puisinya Tarian Cermin (2007), Menggambar Pengantin (2013), dan Tuhan, Kunang-kunang & 45 Kesunyian (2016). Sedangkan buku kumpulan cerpennya, Cermin (2009) dan Lelaki yang Ditelan Gerimis (Mei 2017).

Advertisements