Cerpen Ana Widiawati (Radar Surabaya, 25 Maret 2018)

Penawaran yang Sia-sia ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Penawaran yang Sia-sia ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Aku sedang meneguk kopi hitam dan sepekat malam ketika ia datang membawa segelas penawaran. Ia mengambil tempat di depanku dan secara ajaib, kami mulai membincangkan sebuah rahasia. Padahal kami tidak saling mengenal. Kami bahkan tidak tahu nama masing-masing. Namun perbincangan mengalir begitu lazim, laiknya malam bergulir sampai embun menyeduh basah pada waktu subuh.

Ia memandang sejenak ke pinggir jalan melalui jendela kaca. Sementara aku menikmati caranya memaknai dini hari itu dari siluet wajahnya—kuakui memesona. Dari sisi samping, aku seolah menemukan sosoknya yang lain meskipun sesungguhnya aku tidak tahu apapun tentangnya. Pengetahuanku sebatas, ia adalah lelaki yang sering ngopi di tempat ini, entah itu bersama kawan-kawannya atau seorang diri. Kami sempat beberapa kali menyadari kehadiran satu sama lain, berpandangan, dan kembali memaknai dunia kami masing-masing.

Pukul 01.30 dan kami masih membungkam. Aku melihat wajahnya teduh dan berkali-kali aku terhempas pada kubang penasaran. Lelaki macam apa yang sedang duduk di depanku ini? Lalu aku cukup tergagap ketika ia akhirnya menatapku. Seolah menusuk dan menyudutkanku dengan mata hitamnya itu.

“Sepertinya kau menyukai kopi hitam,” celetuknya sambil melirik kopiku yang tinggal setengah dan sebentar lagi menyisakan ampas.

“Istimewa,” gumamnya, begitu singkat.

Aku menanggapi dengan senyuman kecil. Lalu kembali menuntaskan segelas kopi itu dalam sekali teguk. Sedangkan ia memandangiku dengan teguh.

Perlahan ia menyodorkan segelas kopi miliknya. “Kau mau?” tawarnya.

Aku mengernyit dan ia cukup pandai membaca raut wajahku. Dengan tenang ia menjelaskan bahwa ia sekadar membuat penawaran. “Tenang, minumlah jika kau mau. Kujamin tidak ada sianida di dalamnya.”

Ucapannya otomatis membuatku tertawa.

“Kopimu sudah habis dan malam masih panjang. Kupikir akan hambar jika malammu berakhir tanpa segelas kopi yang menemani,” terangnya.

“Kau cukup baik hati,” simpulku dengan sedikit terkekeh. Aku menerima segelas kopi yang disodorkannya. Tanpa sadar, aku sebenarnya telah mempercayainya. Sebab dengan mudah kuterima penawarannya. Lantas aku sendiri bingung bagaimana kepercayaan itu muncul, sedangkan lelaki di hadapanku ini tidak kukenal sama sekali.

“Kau tahu, bagiku kopi membuka ruang untuk berbincang,” ujarnya.

“Ah….” Aku menangkap pembicaraannya dan mengangguk pelan serta berulang. “Jadi di balik penawaran kopi ini, kau sedang merasa kesepian dan butuh teman.”

Ia memilih mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulut sebatang. Membiarkanku termenung sejenak dan ia menikmati setiap isapan dengan ketenangan yang menawan. Sementara diam-diam, aku mulai menyadari setiap gurat wajahnya di tengah keremangan warung kopi ini. Ia mempunyai kulit sawo matang, kening lebar dan kumis tipis di atas bibirnya. Aku menyukai ketika helai rambutnya jatuh menutupi keningnya dan caranya menatap segala sesuatu dengan matanya yang tajam. Ia seperti membangkitkan kenangan akan seseorang yang familiar.

“Kau pandai menyimpulkan,” ungkapnya. “Tapi sebenarnya aku ingin berbagi sebuah rahasia padamu secara cuma-cuma.”

Aku menohoknya langsung. “Mengapa aku?”

“Aku tidak punya alasan khusus,” jawabnya sambil mengendikkan bahu. “Aku hanya melihatmu saja di tempat ini. Tidak ada lagi orang selain kita berdua dan aku tidak yakin membagikan rahasia kepada pemilik warung kopi ini.”

Ia melirik lelaki itu—seorang mahasiswa, tidak lagi muda, dan memilih membuka warung kopi ketimbang merampungkan tugas akhirnya— duduk di balik meja pemesanan. Aku pun mengikuti pandangannya. Lelaki itu berambut cepak dan selalu tersenyum lebih lebar ketika aku datang. Lelaki itu pasti memanggilku ‘mbak’ dengan riang. Sesekali ia memberikan potongan harga maupun kopi gratis ketika ia sedang senang atau memang ada momen-momen tertentu yang terbilang spesial.

“Aku mengenalnya—lelaki pemilik warung kopi ini. Tetapi kupikir ia cukup banyak tahu tentangku. Jadi aku tidak ingin membagikan rahasia padanya sebab ia akan terlampau mengetahui banyak,” jelasnya dengan tawa kecil di akhir ucapannya.

“Tapi kupikir kita juga tidak cukup dekat untuk membicarakan rahasiamu. Bahkan kita dapat dikatakan sebagai orang asing. Aku pun sejujurnya tidak tertarik mendengar apapun itu rahasiamu, meski di dalam rahasiamu itu ternyata kau adalah seorang mafia, pembunuh, setengah manusia atau kenyataan apapun yang mengejutkan sekaligus menghentakkan.”

“Tidak harus saling mengenal apalagi dekat. Aku hanya ingin membagikan sebuah rahasia, sesederhana itu,” katanya.

Aku semakin tidak memahami lelaki ini. Ia seperti kembang api yang mengejutkan, muncul tiba-tiba dengan membawa segala kekaguman sekaligus kekagetan secara bersamaan. Aku masih enggan menerima pengakuan rahasianya. Bahkan sejauh ini bagiku ia sedang mencoba membuat lelucon.

“Aku memaksa,” tegasnya. Ia berubah serius. Ia sadar bahwa aku masih enggan. “Kau hanya perlu menjadi pendengar yang baik. Anggap saja ini adalah bonus dari kopiku yang kau minum tadi.”

Aku menghela napas dan mengiyakan dengan anggukan. Kuterima rahasianya. Kupikir membicarakan rahasianya lebih menggiurkan ketimbang melewatkan malam yang terasa lebih sunyi dari biasanya ini. Sebab warung kopi ini mendadak sepi padahal biasanya masih riuh dan jalanan menjadi lebih lengang.

Kami bergantian meminum kopinya. Hal itu membuatku semakin enggan memesan kopi lagi karena kupikir secangkir kopinya sudah cukup. Lantas kami saling menikmati pekat kopi sebagai orang asing. Membicarakan sebuah rahasia dan rasanya cukup menggetarkan terutama aku terus penasaran seperti apa lelaki ini. Kupikir kami saling menyimpan rasa penasaran yang meletup-letup kecil dan mencoba menyamarkannya.

Hubungan aneh kami ini kumaknai sebagai bentuk pemanfaatan. Ia memanfaatkanku sebagai teman berbincang. Malam ini ia datang sendirian, tanpa kawan yang sempat kulihat beberapa kali. Sedangkan aku memanfaatkannya sebagai teman melewatkan malam karena entah mengapa malam ini aku tidak ingin sendirian. Walaupun aku biasanya lebih nyaman dengan kesendirian daripada berbagi meja dengan orang lain. Aku menikmati segelas kopi seorang diri di warung kopi. Selain itu, aku menerima rahasianya sebagai bentuk balasan atas penawaran kopinya tadi.

“Jadi rahasia apa yang ingin kau bagi denganku?”

“Aku akan membunuh perempuan-perempuan itu.”

“Hah?”

Seketika aku meledak dalam tawa. Aku sempat terhenyak sebentar tapi kemudian terpingkal-pingkal. Lelaki ini memang sedang membuat lelucon, pikirku. Aku tidak dapat menahan ledakan tawa ini hingga rasanya perutku kaku.

“Lucu sekali,” timpalku.

Ia mengulas senyum miring. “Aku serius.”

Aku berdehem dan mencoba tenang. Aku kembali mendengarkan perkataannya.

“Akan kubunuh perempuan-perempuan itu,” tekannya.

“Tunggu! Siapa perempuan-perempuan itu?”

“Mereka yang sempat kuajak kemari sesekali.”

Ah!

Aku mulai mengingat dengan tepat perempuan-perempuan yang ia maksud. Aku menyadari beberapa perempuan yang menemaninya ke warung kopi ini. Ia membawa perempuan-perempuan itu secara bergantian, entah hanya mereka berdua atau bersama dengan kawan-kawannya yang lain. Yang pasti, ada perempuan-perempuan seperti yang ia bicarakan. Aku mulai mengerti siapa perempuan-perempuan itu. Mereka berada lingkaran kehidupan lelaki itu, tapi mungkin tidak ada satu pun di antara mereka yang benar-benar menjadi perempuannya. Dan, ia pun bukan ‘lelakinya’ salah satu perempuan itu. Kupikir, ia dan perempuan-perempuan itu sedang menjajaki hubungan yang mirip permainan menyebalkan dan melelahkan.

“Mengapa kau ingin membunuhnya? Apakah mereka mulai menggangu?” tebakku.

“Tidak—bukan itu. Justru sebaliknya,” ujarnya.

Aku mengernyitkan dahi.

“Mereka tidak lagi menggangguku. Mereka tidak lagi candu. Untuk itu, aku akan membunuh mereka sebab tidak ada alasan lagi membuat mereka bertahan di sekitarku.”

Aku tidak dapat memaknai perkataannya sebagai suatu keseriusan atau candaan. Aku hanya mendengarkan tanpa mau menyimpulkan bahwa ia pendosa atau kafir-laknat karena niatnya membunuh orang. Sesuai permintaannya, aku akan mendengarkan rahasianya ini hingga tuntas. Aku juga tidak tertarik membuat penghakiman-penghakiman setelah mengetahui rahasianya ini.

“Apa yang menyebabkan kau tidak lagi tergangggu dengan meraka?”

“Ada yang lebih mengangguku— tepatnya mengacaukanku.”

“Apa?”

“Kau.”

Aku terpaku seketika.

“Kau adalah perempuan yang mengangguku sekarang. Kau mengacaukan pikiran dan perasaanku,” jujurnya.

Ia memandangku lekat. Sementara tenggorokanku seperti disekat sehingga aku tidak mampu berkata apapun. Aku masih membeku ketika ia menyorongkan cangkir kopinya. Menyisakan sekali teguk.

“Itulah rahasiaku dan ini tawaran terakhirku. Silakan meneguk habis kopiku, maka akan kubunuh perempuan-perempuan itu dan kau menjadi satu-satunya perempuan yang mengangguku,” ucapnya.

Aku tidak berusaha mengetahui lebih jauh bagaimana ia mulai menyadariku sebagai perempuan yang ‘mengganggunya’. Aku menahan diri untuk menanyakan hal itu. Selain itu aku telah memiliki jawaban meskipun kuakui dengan sejujurnya, ia adalah lelaki yang menawan dan aku sempat gentar.

“Terima kasih untuk tawaranmu ini. Maaf aku tidak bisa menerima ini. Aku sudah mempunyai kekasih dan kupikir kami tidak mengamini adanya perpisahan. Sekadar kau tahu, kami sedang merencanakan pernikahan,” kataku.

“Iya, aku tahu. Tetapi kau sedang mempertanyakan hubunganmu dengan kekasihmu, benar kan? Aku bisa merasakannya. Aku sedang ragu-ragu.”

Aku terkejut ketika ucapannya benar. Aku tidak menyangkal. Kukagumi kemampuannya mengetahui semua itu. Akan tetapi aku cukup ngeri mendapati ia mengetahui sedetail itu padahal kami baru sekali berbincang. Itu pun malam ini. Selain itu, seberapa buruk hubunganku dengan kekasihku saat ini, aku masih memilih untuk bertahan di sampingnya dan aku belum tertarik pada penawarannya tadi.

“Aku tidak tahu kau mengetahui banyak tentangku. Jujur, aku kaget.”

“Itu cukup mudah bagiku,” katanya.

“Tetapi maafkan aku. Aku lebih suka menjadikan penawaranmu menjadi sia-sia. Aku pergi,” kataku mengakhiri perbincangan itu. Kutinggalkan ia dan kopi penawarannya. Aku tidak mau menggambarkan bagaimana wajahnya ketika mendengarkan ucapanku. Tetapi cukup jelas, ia cukup tabah menerima penolakan meski tak bisa kuselami apakah ia terluka dan seberapa dalam ia terluka.

Aku melangkah ke luar dari warung kopi itu dan pulang. Merekam setiap perbincangan itu sepanjang perjalanan, mungkin pula sepanjang ingatanku bertahan atau bisa jadi sepanjang keraguan yang bertahan sampai hari pengikraran itu datang. (*)

 

*Penulis adalah mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Perspektif.

Advertisements