Cerpen Imam Wahyudi (Republika, 25 Maret 2018)

Orang Gila ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Orang Gila ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Kemunculan banyak orang gila di Desa Gunung Kelir membuat Gus Sujud bertanya-tanya. Apakah hal ini datang dengan sendirinya atau memang ada yang mengaturnya dengan tujuan-tujuan tertentu. Tetapi yang jelas, kemunculan mereka mulai membuat resah warga dan suasana desa menjadi tidak nyaman.

Ingatan tokoh muda itu surut ke belakang mengenang masa kecilnya di daerah pesisir dahulu. Kala itu, ia mengenal sosok Mbah Bono, orang gila yang dipercaya oleh banyak orang mempunyai ilmu linuwih. Konon, ia menjadi gila karena tidak sempurna menuntut ilmu tinggi. Banyak orang menafsirkan segala tingkah laku dan omongan yang keluar dari mulutnya, sekalipun itu tak jelas maksudnya. Mulai dari tanda-tanda peristiwa alam yang akan terjadi, sampai nomor judi buntut yang marak saat itu.

Gus Sujud masih ingat betul, ia dan kawan-kawan kecilnya suka mempermainkan Mbah Bono sewaktu pulang mengaji. Mbah Bono sering mangkal di sebuah ruko kosong dekat masjid setelah lelah berjalan mengitari kampung dengan langkah kakinya yang diseret sehingga menimbulkan bunyi khas. Semua orang sudah bisa menduga siapa yang sedang berjalan walaupun belum terlihat orangnya, bila mendengar langkah kaki seperti itu.

Ketika orang tua tersebut terlelap, anak-anak menimpukinya dengan kerikil. Ada pula yang menyodok-nyodoknya dengan ranting kering. Mbah Bono yang kaget dan terbangun langsung uring-uringan dan mengeluarkan kata-kata tak karuan sembari mengejar anak-anak yang lari terbirit-birit. Ada yang lolos dari kejaran Mbah Bono, tetapi ada juga yang terkejar dan kena gebuk tongkatnya. Kalau sudah begitu, anak itu hanya bisa menangis keras dan berujung keributan orang tua mereka dengan Mbah Bono.

Dan Gus Sujud, walaupun masih kecil selalu niteni, setelah Mbah Bono kena damprat para orang tua, petaka-petaka kecil senantiasa melingkupi daerah pesisir itu. Entah itu terjadi gelombang tinggi di lautan, gempa, ataupun juga puting beliung yang tiba-tiba datang.

Bila hal itu ia tanyakan kepada Kiai Jahro, bapaknya yang merupakan tokoh agama di daerah itu, lelaki paruh baya yang tak pernah lepas dari kepulan asap rokok tembakau linting dari bibirnya itu hanya terkekeh dan menepuk pundaknya, “Kelak waktu akan memberitahumu sendiri, Sujud.”

Tak puas dengan jawaban bapaknya, Gus Sujud bertanya pula kepada ibunya. Ibunya pun hanya tersenyum dan menasihatinya, “Mbah Bono itu sama seperti kita, manusia ciptaan Tuhan juga, bagaimana pun itu keadaannya. Kamu tidak boleh mempermainkannya, bahkan harus menghormatinya karena ia jauh lebih tua darimu. Bisa kualat nanti kamu kalau mengganggunya!”

Gus Sujud sebenarnya tak puas dengan jawaban-jawaban itu. Dan karena nasihat ibunya tersebut, Gus Sujud perlahan-lahan mulai mendekati Mbah Bono, berusaha menunjukkan kepadanya sebagai teman yang baik.

Mula-mula ia tak acuh. Tanpa diduga, kadang Mbah Bono malah menyerang Gus Sujud. Tetapi, lama kelamaan, akhirnya ia luluh juga. Mbah Bono mulai bisa diajak bercanda walau cuma sebatas tertawa-tawa, entah apa yang ia tertawakan sebenarnya. Melihat Mbah Bono gemar merokok dari tegesan yang ia ambil di jalanan, sesekali Gus Sujud membawakan tembakau linting milik ayahnya. Mbah Bono suka sekali barang tersebut. Mereka kemudian merokok sambil tertawa, melepaskan bersama-sama asap rokok itu dengan keras ke udara. Itulah awal mula Gus Sujud merokok tanpa diketahui oleh orang tuanya.

Hingga suatu ketika, Mbah Bono hilang entah ke mana, tak ada orang yang tahu. Gus Sujud pun kebingungan mencarinya, tanpa gelagat apa pun, ia pergi begitu saja. Gus Sujud berusaha menerka, apa yang akan terjadi kemudian.

Namun, tetap saja ia tak mampu membaca tanda-tanda hilangnya Mbah Bono, sampai kemudian gelombang besar meluluhlantakkan desa pesisir itu. Banyak jiwa yang hilang dan yang selamat pun tercerai-berai ke berbagai penjuru tempat. Untung bagi Gus Sujud, dapat selamat dan berkumpul dengan orang tua serta beberapa gelintir warga desa lainnya. Bersama-sama, mereka membuka permukiman baru nun jauh di utara, di sebuah lereng pegunungan yang hijau dan asri, hingga terkenal dengan nama Desa Gunung Kelir sekarang ini.

Cobaan yang begitu berat, membuat warga asal pesisir itu seperti tersadar atas tingkah laku mereka yang gemar merusak alam dan lama terlupa dari sang pencipta. Mereka membaur dengan penduduk asli, kembali religius dan mengolah alam dengan penuh rasa syukur. Di bawah bimbingan Kiai Jahro, yang kini telah tiada, desa itu berkembang menjadi daerah yang penuh dengan kedamaian dan kemakmuran.

Sampai kemunculan orang-orang gila itu membuat risau hati Gus Sujud. Setiap malam tak henti ia berdoa dan meminta petunjuk kepada Yang Mahakuasa, agar desanya dijauhkan dari segala marabahaya.

“Gus, orang-orang gila itu sudah keterlaluan. Mereka mulai menjamah rumah ibadah dan mendekati para pemuka agama.”

Suatu hari beberapa muridnya beserta warga desa melapor kepadanya. “Kita harus mengusir mereka, entah ke mana. Yang penting desa kita ini terbebas dari orang-orang kotor itu!”

“Tunggu dulu. Jangan gegabah bertindak sampai kita tahu ada apa dengan semua ini. Mereka juga makhluk Tuhan, perlakukan dengan baik dan selayaknya!” cegah Gus Sujud kepada orang-orang yang mulai terbakar emosi.

Untuk sementara waktu, keadaan masih dapat dikendalikan. Hingga malam itu, Gus Sujud mendapat petunjuk dari alam bawah sadarnya. Ia seperti bertemu kembali dengan sosok Mbah Bono, tapi kini sungguh lain, Mbah Bono memimpin shalat berjamaah di masjid utama desa. Di belakangnya, ia mengenal sosok-sosok yang menjadi makmumnya.

Ya, mereka adalah orang-orang gila yang banyak berkeliaran di jalanan desa. Di luar masjid pun, semua sudah bersalin rupa. Situasi dan keadaan dikendalikan oleh orang-orang yang dianggap tak waras itu. Lalu di manakah warga dan murid-muridnya?

“Hehe, kamu mencari warga dan murid-muridmu, Gus?” tiba-tiba Mbah Bono menghampirinya setelah selesai shalat. Gus Sujud terdiam tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Mereka sekarang terusir ke jalanan. Kami menjaga desa ini agar terhindar dari segala sesuatu yang tak diinginkan. Wargamu telah lupa dengan masa lalu, kembali ke zaman kegelapan. Mereka mengolah alam dengan rakus hingga bukit-bukit itu menjadi gundul dan melupakan tempat ibadah, padahal mulut mereka setiap waktu berkata tentang kebaikan dan kesucian….” kata-kata Mbah Bono berdengung di telinga Gus Sujud, hingga ia kembali ke alam sadar.

Namun, semuanya terlambat. Di luar, warga desa beramai-ramai mengusir, bahkan ada yang sampai membunuh orang-orang gila tersebut. Mereka tak sadar, bahaya mengancam dari atas. Tanah perbukitan itu mulai longsor ke bawah, meluncur deras seperti bah segera menerjang Desa Gunung Kelir.

Gus Sujud menangis. Untuk kedua kalinya ia melihat kuasa Tuhan tanpa bisa berbuat apa-apa.

 

Catatan istilah Bahasa Jawa:

1) niteni: memperhatikan, mengamati

2) tegesan: puntung rokok

 

(PGP 06, 19 Maret 2018)

Imam Wahyudi Lahir dan menetap di Kulon Progo, Yogyakarta. Cerpen-cerpennya dipublikasikan di beberapa media cetak, seperti Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Lampung Post, Jurnal Medan, Jurnal Nasional dan Magelang Ekspres. Buku antologi yang memuat karyanya, antara lain Kumcer Joglo 7 (Mengeja September), Tiga Peluru (Kumpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi), Kota Tanpa Wajah (Antologi Cerpen Bengkel Sastra Surakarta), Tepung (Antologi Cerkak Dinas Kebudayaan DIY).

Advertisements