Cerpen Dadang Ari Murtono (Lampung Post, 25 Maret 2018)

Kodok Gembung ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Kodok Gembung ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Pekerjaanku adalah mendengarkan orang lain berbicara. Aku bangun pukul enam setiap pagi, membikin kopi dan tiga potong pisang goreng, lalu mandi dan berganti pakaian kebesaranku: hem motif kembang-kembang yang longgar dan celana bahan licin serta selop berwarna hitam.

Tiga menit setelah sarapan, aku mulai melangkahkan kaki. Aku tak pernah punya tujuan pasti. Aku mempercayakan semuanya pada instingku, insting yang hanya dimiliki oleh para pendengar cerita dan diturunkan secara genetik dari generasi ke generasi. Bapakku juga seorang pendengar cerita. Kakekku juga. Buyutku juga. Dan begitu seterusnya. Aku tak tahu sejak kapan tepatnya leluhurku menjadi pendengar cerita. Yang aku tahu adalah bahwa kini, aku adalah satu-satunya pendengar cerita yang masih tersisa di dunia yang fana ini.

Pada masa bapakku, ada kurang lebih dua puluh empat pendengar cerita. Mereka ting- gal dalam satu lingkungan kecil di pinggiran Surabaya. Mereka menghabiskan hari dengan menjelajahi setiap sudut kota, berupaya menemukan orang-orang malang yang ingin didengarkan, namun tak tahu kepada siapa mesti berbicara.

Mereka, para pendengar cerita itu, tak pernah memasang tarif yang pasti untuk orang-orang yang ingin ceritanya didengar. Bisa saja seseorang memberi mereka sepuluh ribu rupiah, dan tak menutup kemungkinan mereka akan menerima seratus ribu rupiah, dan sering, mereka hanya menerima segelas air putih dan ucapan terima kasih. Untuk semua itu, para pendengar cerita membalasnya dengan segaris senyum yang sama kadar keikhlasannya serta selarik doa agar masalah yang dihadapi kaum pencerita itu segera selesai dengan baik.

Selepas senja, para pendengar cerita berkumpul di warung atau teras rumah salah satu dari mereka, dan membiarkan lidah serta bibir mereka menumpahkan segala kata-kata, semacam pelampiasan atas kebungkaman seharian penuh. Pada waktu-waktu seperti itu, mereka berubah dari sosok yang hening menjadi manifestasi dari keriuhan. Masing-masing berebut bicara dan kalimat-kalimat akan meluncur tanpa menunggu satu kalimat selesai diucapkan. Bila kau berada di sana waktu itu, kau akan mendengar semacam komposisi bebunyian yang ribut dan tak beraturan, namun membetahkan.

Kata bapak, puncak kejayaan para pendengar cerita terjadi sewaktu beliau masih muda. “Presiden Soeharto tidak suka orang-orang yang terlalu banyak bicara. Maka orang-orang hanya bisa berkasak-kusuk. Dan hanya kepada kamilah, orang-orang yang sudah pasti sanggup menjaga rahasia, mereka bisa memuntahkan segala unek-unek mereka. Mereka bicara tentang keluarganya yang hilang, mereka bicara tentang keluarganya yang dicap anggota partai terlarang, mereka bicara tentang…”

Kini, masa kejayaan para pendengar cerita telah habis. Para pendengar cerita segenerasiku lebih memilih menjadi buruh pabrik atau pedagang kaki lima ketimbang mewarisi pekerjaan ini. Tentu saja aku paham alasan mereka. Berapa banyak orang di zaman sekarang yang membutuhkan orang lain untuk mendengarkan cerita mereka? Ini adalah masa di mana setiap orang bisa mengeluhkan segalanya di Facebook atau Twitter atau platform media sosial lainnya.

Itu sudah cukup bagi mereka. Mereka hanya perlu membeli kuota internet dan segalanya selesai. Mereka bisa melakukannya kapan pun mereka mau, tanpa perlu menunggu seorang pendengar cerita secara tidak sengaja lewat di depan rumah mereka. Media sosial, dengan cara yang tak pernah kusangka-sangka, berubah menjadi malaikat maut bagi para pendengar cerita.

Tiga hari lagi aku akan mengikuti jejak mereka; menjadi mantan pendengar cerita. Seorang kawan berbaik hati menawariku pekerjaan dengan gaji tetap yang meskipun tidak banyak, namun jelas lebih baik ketimbang menjadi pendengar cerita. Ia memiliki tiga rumah kos di kawasan Rungkut.

“Salah satu penjaga rumah kosku ingin berhenti. Dia bilang sudah terlalu tua dan mau lebih dekat sama cucu-cucunya di kampung,” katanya.

Aku segera mengiyakan tawaran itu. “Tapi tidak sekarang, seminggu lagi,” tambahnya.

“Tak masalah,” jawabku.

Seraya menunggu waktu itu, aku memutuskan berjalan lebih jauh. Aku menyusuri jalanan Surabaya dengan perasaan riang dan bersiul-siul, sekalipun ada sedikit bagian dari diriku yang terluka. Sepuluh tahun aku menekuni pekerjaan ini, dan bukan perkara gampang untuk meninggalkannya begitu saja, meski aku memang ingin meninggalkannya.

Perjalananku kali itu lebih bersifat sentimentil ketimbang hasrat untuk mencari uang. Aku berjalan seraya mengenang bapakku. Aku berjalan seraya mengenang kakekku. Aku berjalan seraya mengenang paman-pamanku. Aku berjalan seraya mengenang dongeng tentang kejayaan para pendengar cerita.

“Tidak sembarang orang bisa menjadi pendengar cerita,” kata bapak, dulu sekali.

“Kita adalah orang-orang terpilih. Orang-orang yang tahu benar kenapa Tuhan membekali kita dengan dua kuping dan satu mulut.”

Kemarin, secara tak sengaja, aku melihat seorang perempuan di bangku semen Taman Bungkul. Ia menunduk dan insting pendengar ceritaku segera memberi tahu bahwa perempuan itu sedang berduka dan berharap menemukan seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Aku mendekatinya, dan setelah sedikit basa-basi, kukatakan siapa diriku dan apa pekerjaanku. Dia memandangku lama seolah-olah memastikan bahwa orang yang duduk di sebelahnya dan bercakap-cakap dengannya ini bukanlah orang sinting. “Aku tak pernah mendengar ada pekerjaan seperti itu,” katanya akhirnya.

Aku tersenyum. “Kini kau tahu bahwa pekerjaan seperti itu memang ada,” kataku.

Ia masih terlihat ragu-ragu untuk beberapa saat. Namun pada akhirnya, ia percaya dan mulai bercerita. Dan itu adalah sebuah cerita yang tak pernah kusangka-sangka sebelumnya.

“Kau tahu,” katanya memulai, “dulu sekali ada seorang pangeran yang dikutuk menjadi kodok.”

Aku mengangguk untuk menunjukkan bahwa aku mendengar ceritanya baik-baik, tanpa perlu menyahuti dengan suara.

“Lalusua tuhari, seorang putri menyelamatkannya dan mereka hidup bahagia selama-lamanya,” lanjutnya. Aku kembali mengangguk.

“Itu yang diketahui banyak orang. Tapi aku tahu bagian yang tidak diketahui oleh banyak orang,” ia meneruskan. Ia berdehem dua kali, melonggarkan tenggorokannya.

“Pangeran itu, ketika masih berwujud kodok, kawin dengan seekor kodok betina di empang, dan mereka telah beranak pinak. Di hari ketika si pangeran kembali menjadi pangeran dan pergi dengan sang putri, kodok betina dan segenap anak-anak mereka menangis dan memohon-mohon agar sang pangeran tidak pergi. Namun pangeran itu tetap pergi. Lalu cinta berubah menjadi kecewa. Dan kecewa melahirkan kutukan. Kodok betina itu menyumpahi sang pangeran agar terus merasa lapar dan memakan apa pun yang ada di depannya. Dan itulah yang kemudian terjadi. Seminggu setelah itu, tubuh sang pangeran telah melar sedemikian rupa sehingga kamar mereka tak lagi cukup menampungnya. Namun ia terus makan. Tak peduli sebanyak apa pun yang disuguhkan, dalam hitungan menit belaka, makanan itu telah tandas. Dan ia berteriak-teriak histeris meminta makanan lain. Dan sebulan kemudian, tubuhnya telah memenuhi seantero istana, merobohkan tembok-tembok dan mengusir penghuni lain untuk menyingkir.”

Aku mengangguk.

“Pada akhirnya, keserakahan membunuhnya. Tubuhnya meledak. Dan segumpal hatinya terlempar begitu jauh hingga ke empang di mana istri kodok dan anak-anak kodoknya menunggu untuk menuntaskan dendam yang membatu. Kau tahu bagaimana akhirnya binatang-binatang malang itu melampiaskan dendamnya?” Aku menggeleng.

“Mereka memakan jantung itu. Namun tentu saja kau bisa melihat peristiwa itu dari sudut pandang lain. Misalnya, bahwa ibu dan anak-anak kodok itu ingin si pangeran kembali kepada mereka, terus hidup dalam tubuh mereka, dan karena itulah mereka memakan segumpal jantung itu bersama-sama. Cinta, kau tahu, seringkali memang tidak masuk akal.”

Aku kembali mengangguk meski tak tahu arah dari ceritanya.

“Dongeng tak pernah lahir dari ruang kosong, kau tahu itu,” tambahnya. Matanya menerawang ke langit biru akhir Januari.

“Selalu ada peristiwa nyata yang melatarinya. Dan peristiwa semacam itu, bisa terulang di kemudian hari.”

Aku masih belum menangkap maksud ceritanya. Namun aku kembali mengangguk.

“Aku hanya ingin kau tahu, bahwa beberapa hari lagi, akan ada seorang laki-laki yang tubuhnya melar karena kebanyakan makan. Dan dia tetap makan. Tetap makan. Sebab itulah satu-satunya hal yang bisa dikerjakannya.”

Aku nyaris melanggar prinsip profesionalismeku sebagai pendengar cerita dengan menanyakan siapa lelaki yang ia maksud. Untung aku segera menyadarinya dan yang keluar dari tenggorokanku hanyalah desisan panjang.

“Kalau kau mendengar berita itu, ingatlah aku. Dan jangan sekali-kali jatuh iba kepada lelaki itu. Sebab ia memang pantas untuk itu, sebab ia meninggalkan seorang perempuan dan anak-anaknya demi perempuan lain,” lanjutnya sebelum tiba-tiba berdiri dan berjalan pergi. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah terima kasih kepadaku.

Hari ini aku mengkhianati kebiasaanku untuk mempercayakan rute yang hendak kujelajahi kepada instingku dengan cara kembali ke Taman Bungkul. Aku berharap bertemu perempuan itu lagi. Namun dia tidak ada. Begitu juga esok harinya. Dan esok harinya lagi. Aku ingin melupakannya seperti aku melupakan siapa-siapa yang pernah bercerita kepadaku. Tapi tidak gampang.

Ceritanya yang aneh dan terkesan meninggalkan teka-teki terus mengganggu otakku. Dan gangguan itu kian terasa menyiksa sewaktu pada hari kedua aku menjalani pekerjaanku sebagai penjaga kos, salah satu penghuninya, seorang perempuan tiga puluhan tahun yang baru pulang kerja berteriak-teriak panik.

“Aku tak bisa membuka pintunya,” katanya dengan napas terengah-engah. Baju yang ia kenakan tampak basah oleh keringat.

Aku membantu mendorong pintu itu, dan memang betul-betul susah. Aku memutuskan mengintip dari kirai jendela, dan di sanalah, di dalam kamar itu, tampak seorang laki-laki dengan tubuh melar memenuhi kamar kos tersebut, dan mengganjal pintu sehingga tidak bisa dibuka.

Advertisements