Cerpen Abdul Karim (Fajar, 25 Maret 2018)

Amplop ilustrasi Issar - Fajar
Amplop ilustrasi Issar/Fajar

HIDUPNYA kini tak kurang sepuluh meter saja. Kamar dan teras depan. Di situ saja berputar saban hari. Itu pun kakinya tak menapak di lantai lagi. Di atas kursi roda, ia menghabisi hari-harinya.

Di rumah megah berlantai dua itu, pensiunan pejabat pemerintahan ini hidup bersama seorang pembantu setia. Istrinya, telah lama wafat akibat penyakit yang dideritanya. Tujuh orang anaknya telah berkeluarga dan tak tinggal lagi bersamanya.

Memasuki masa pensiun, berbagai penyakit menggerogotinya. Mula-mula rematik, asam urat, dan mag. Menyusul strok kemudian. Gangguan ginjal tak ketinggalan. Kolestrol dan diabetes tak absen.

Penanganan medis berulangkali ia tempuh untuk sembuh. Ia bahkan pernah berobat berkali-kali di Singapura. Namun, semua itu percuma, penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Hanya bubur dan air putih yang nyaman di tubuhnya. Sedikit saja ia menyantap makanan bergaram, bergula, lehernya terasa kaku.

Awalnya ia yakin pengobatan medis dapat mengusir sakit yang dideritanya. Tapi ternyata sakitnya tak kunjung sembuh. Tabungannya terkuras habis. Bahkan harta bendanya terjual. Dua buah mobil mewahnya melayang demi kesembuhannya. Tapi sembuh yang dinanti tak kunjung tiba.

Satu-satunya harta miliknya hanyalah rumah dua lantai yang kini ditempatinya mengisi hari-harinya dengan penyakitnya. Malangnya, tak satupun anaknya rela mengurusnya. Memang sekali-sekali anaknya datang, tetapi mereka datang untuk mendesak agar sang ayah menjual rumah itu lalu hasil penjualannya dibagi rata ke seluruh anaknya.

Untung saja pensiunan keriput ini masih memiliki pembantu setia. Mariani, sudah sepuluh tahun lebih bekerja dirumah itu. Ia bahkan sudah dianggap bagian dari keluarga itu. Bersama suami dan dua orang anaknya, Mariani menempati sebuah kamar jumbo dibagian samping di rumah itu. Kesetiaan dan kesabaran Mariani merawat pensiunan tua ini tak ternilai harganya.

***

Baru saja matahari memancarkan sinarnya pagi itu, di depan pagar terdengar suara pria memanggil Mariani. Rauf, suami Mariani bergegas ke depan membuka pagar. Di depan pagar, seorang pria berusia 45 tahun menyodorkan senyum pada Rauf. “Bapak ada?” Tanya Solihin, pria di depan pagar pagi itu.

Solihin bukan tamu asing di rumah ini. Sekali sebulan Solihin ke rumah ini menemui pensiunan tua itu. “Tunggu yah, bapak masih dikamar”, kata Mariani sambil menyuguhkan secangkir teh panas untuk Solihin.

Sebenarnya Solihin tak ada urusan dengan pensiunan tua ini. Rahmat, beranak empat, putra ketiganya yang berurusan dengan Solihin. Solihin adalah pedagang pakaian dan aksesoris impor, seperti; jam tangan, baju, celana dengan sistem kredit pada semua pelanggannya. Setiap Rahmat membeli barang pada Solihin, tagihannya diserahkan pada ayahnya.

Tak lama, pensiunan tua itu menghampiri Solihin dengan kursi rodanya. “Assalamu ‘alaikum, apa kabar?” sapa pensiunan tua ini dengan suara terpatah-patah, namun terasa akrab.

Seperti biasa, sebelum membayarkan utang kredit Rahmat, pensiunan tua ini bersenda gurau terlebih dahulu dengan Solihin. Tapi, pagi itu tema senda gurau pensiunan ini sangat pribadi. “Sakit yang kuderita ini bukan cobaan, tetapi hukuman dari Tuhan,” kata mantan pejabat ini. Raut wajahnya yang keriput tak bisa menutupi kesedihan yang dialaminya.

Solihin terdiam mendengar kalimat itu. Rasa penasarannya muncul. Tapi Solihin segan. Ingin bertanya apa sesungguhnya yang terjadi, tetapi khawatir kalau pensiunan tua ini tersinggung.

“Maksud bapak?” Solihin memberanikan diri bertanya.

“Yah, penyakitku ini hukuman dari Tuhan, saya sudah tak kuasa dengan hukuman ini. Setiap kali soalat hanya satu doaku; Tuhan, cabutlah nyawaku.”

Sesekali diselingi batuk kering, pensiunan tua ini menceritakan keadaannya pada Solihin. Ia menceritakan masa jayanya, ketika masih menjabat sebagai pimpinan Dinas dua puluh tahun lamanya. Ketika itu, uang begitu mudah diraihnya. Dalam hitungan menit saja ia bisa meraih uang jutaan rupiah setiap hari kerja. Setiap berkas yang disodorkan di atas mejanya, ia tolak menandatanganinya bila tak disertai amplop pelicin. Orang-orang yang memerlukan tanda tangannya mesti menyelipkan amplop berisi uang di dalam berkas. Belum lagi setoran dari proyek ini dan itu.

“Dengan uang begitu, saya kaya. Dan uang itulah kugunakan membesarkan anak-anakku hingga mereka berkeluarga. Istriku, apalagi,” cerita pensiunan tua ini dengan rona wajah sedih.

Solihin semakin khusyuk menyimak.

“Hasilnya, lihatlah anak-anakku, tak satupun peduli keadaanku. Memang mereka sering ke sini, tetapi bukan untuk merawatku, mereka datang malah bertengkar hendak menjual rumah ini,” lanjutnya sedih.

“Amplop telah merusak kehidupanku dan keluargaku. Penyakit dan segala derita yang kualami ini adalah hukuman dari Tuhan karena amplop-amplop itu. Saya tak kuasa menanggung derita ini”, ujarnya lagi. Sesekali pensiunan tua itu meneguk air putih digelas yang disiapkan Mariani.

Amplop telah membuat ia kehilangan segalanya. Istrinya, kasih sayang anak-anaknya, dan kesehatannya. Penderitaan itu kadangkala berlanjut di pembaringannya. Ia seringkali terbangun dari tidur lantaran bermimpi melihat dirinya dijepit oleh sebuah ampol.

“Ha..ha..ha…, kamu harus masuk di dalam sini. Tubuhmu yang ringkih itu harus kujepit. Jangan takut. Bukankah kamu akrab denganku?” kata amplop itu. Bila mimpi begitu, ia kesulitan bernafas. Badannya terasa remuk, dihimpit ampol sempit. Ia menjerit kesakitan. Ia lantas takut dengan amplop. Ia benci amplop.

Suatu siang, Mariani menaruh sebuah amplop permintaan sumbangan dari panti asuhan dimeja ruang tamu. Tak lama berselang, pensiunan tua itu menuju ruang tamu dengan kursi rodanya menanti dzuhur. Ia melihat amplop panti asuhan yang diletakkan Mariani tadi. Buru-buru ia meninggalkan ruang tamu, memacu kursi rodanya dengan kedua tangannya. Dan naas melanda, kursi rodanya menabrak pinggiran lemari besar diruang tamu. Ia terjatuh. Terkapar tak berdaya seorang diri.

Mariani yang datang kemudian bermaksud membawakan semangkuk bubur, histeris menyaksikan majikannya terkapar di lantai. Buru-buru ia menelepon ambulans.

 

Makassar, Maret 2018

Advertisements