Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 24-25 Maret 2018)

Hari Libur Kebinasaan ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Hari Libur Kebinasaan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

SEPULUH tahun lalu Herolena yang beberapa kali disalahpahami sebagai keturunan para nabi, mengharapkan Tuhan menurunkan firman-firman baru tentang kematian. “Tidak adil Tuhan terus-menerus tidak memberi pekerjaan kepada malaikat pencabut nyawa. Tidak adil setiap saat kita menghadapi hari libur kebinasaan. Orang-orang Ranarene makin lama kian takut pada kehidupan. Mereka ingin merasakan kematian yang indah juga,” ujar Herolena kepada diri sendiri.

Saat itu ketika berjalan-jalan di perdesaan penuh rumah-rumah bertaman luas, ia melihat beberapa perempuan tua menggantung diri di pohon-pohon berdaun biru, tetapi tak ada seorang pun yang mati. Beberapa lelaki menusukkan pedang ke perut, tak seorang pun yang menjemput ajal. Kali lain dia melihat puluhan anak terjun bebas dari pohon tertinggi, tetapi mereka justru tertawa riang begitu kepala-kepala mungil itu menghujam ke tanah penuh batu-batu dan koral.

Setahun kemudian ada rombongan pedagang dari luar kota meminta izin Herolena, yang pada waktu itu dipercaya jadi Kepala Desa Ranarene, untuk tinggal di lapangan terluas di perdesaan. Mereka mendirikan tenda-tenda warna-warni.

Warga Ranarene tidak begitu tahu apa yang dilakukan para pedagang. Ketika melewati lapangan, pada saat-saat tertentu-paling tidak tujuh kali sehari-mereka hanya mendengar ada yang berteriak keras-keras melantunkan semacam aba-aba, lalu para pengembara itu berdiri menghadap ke arah selatan, membungkuk, menelungkup, menyungkurkan diri, menelungkup lagi, berdiri lagi, dan mengakhiri tindakan itu dengan menangis bersama.

Mereka baru tahu ada yang bernama Krosakbabikri ketika lelaki bercula lembut dan berjubah merah muda itu menawarkan aneka benda yang bakal menjadikan Ranarene sebagai perdesaan beradab. Menjadi tamu terhormat Herolena, Krosakbabikri memperkenalkan radio.

Tentu saja Herolena takjub mendengarkan aneka suara berupa bisikan lembut, percakapan sengau, teriakan-teriakan tak jelas, nyanyian-nyanyian keras, dan doa-doa serupa racauan yang terdengar dari kotak ajaib itu.

“Kau bisa mendengarkan apa pun yang berasal dari kawasan yang jauh dari benda yang ditemukan oleh para cendekiawan terkemuka ini,” kata Krosakbabikri.

“Apakah kami bisa mendengarkan suara Tuhan?”

“Kau bahkan bisa mendengarkan suara iblis.”

“Suara hewan-hewan di langit?”

“Tentu,” kata Krosakbabikri sambil memutar-mutar tombol, “Kau juga bisa mendengarkan suara orang-orang yang sedang menggali emas di dasar bumi.”

“Berapa harga benda ini?” tanya Herolena.

“Kau hanya perlu menukar radio ini dengan sebidang tanah dan beberapa pohon yang bisa kami gunakan untuk membangun rumah.”

Herolena menyetujui permintaan Krosakbabikri.

Beberapa hari kemudian, Krosakbabikri menawarkan topeng berbahan kulit tipis yang jika dikenakan akan membuat sang pemakai memiliki wajah yang berbeda. Pada saat sama Krosakbabikri juga menawarkan cermin seukuran wajah manusia.

“Semua benda yang kujual akan membawamu ke dunia lain. Apakah kau siap hidup dengan banyak kejutan?”

“Jangan memberiku kemustahilan,” kata Herolena.

“Justru hal-hal yang dianggap mustahil yang selalu akan kutawarkan kepadamu.”

“Kau akan memberi tahu bagaimana aku melihat segala apa pun yang akan dilakukan Tuhan?”

“Pada saatnya nanti kau akan tahu apa pun yang disembunyikan oleh pengetahuan. Kau akan tahu berapa jumlah malaikat dan apa pun yang mereka sembunyikan selama ini. Kau akan tahu berapa jumlah nabi dan apa yang tak boleh mereka lakukan di dunia.”

Herolena tampak masih hendak mendebat, tetapi Krosakbabikri lebih cepat meminta kepala desa itu segera mengenakan topeng dan menggunakan cermin. Herolena lalu memilih salah satu topeng. Dia memilih topeng pria berwajah garang. Dia kemudian bercermin.

“Ya, Tuhan!” Herolena melepaskan cermin, “Siapa dia?”

Krosakbabikri tak segera menjawab pertanyaan, tetapi lebih berjuang menyelamatkan cermin yang jatuh. Hup! Cermin itu terselamatkan.

“Siapa dia?” tanya Herolena.

“Itu kamu juga.”

“Dia lebih garang dari semua lelaki Ranarene.”

“Ya, tetapi dia bukan orang lain,” kata Krosakbabikri, “Tetapi sudahlah kau jangan terlalu kagum pada ilmu pengetahuan yang kuperkenalkan kepadamu. Pada akhirnya nanti semua hal menjadi biasa setelah kau ketahui rahasia-rahasianya. Yang penting sekarang, kau mau membeli topeng dan cermin atau tidak?”

“Berapa harganya?”

“Kau hanya perlu memberiku beberapa bukit dan sebatang sungai.”

Herolena tidak keberatan. Herolena akan keberatan jika para pedagang, meminta segala satwa di langit dan di sungai-sungai. Karena itu dia bilang kepada Krosakbabikri, “Kau boleh minta bukit, tetapi jangan kauminta kupu-kupu, burung-burung, segala satwa melata, dan hewan apa pun yang berkeliaran dan terbang di kawasan itu. Kau boleh minta sungai, tetapi jangan kau minta kepiting, ikan-ikan, belut atau apa pun hewan yang berada di tempat itu. Apakah kau setuju?”

Krosakbabikri mengangguk. Radio, cermin, dan topeng pun berpindah tangan.

***

SUDAH sebulan Herolena asyik masyuk dengan radio. Meskipun ada siaran tentang presiden-presiden dari negeri-negeri jauh yang tumbang akibat kudeta, ia tetap hanya terpaku pada siaran tentang danau-danau yang bisa menyedot orang-orang yang merindukan kematian cepat.

“Tempat mati yang indah ini bernama Danau Megattutek,” kata sang penyiar, “Berbondong-bondonglah menyongsong kematian dengan cara berdiri satu kilometer dari tepi danau. Tunggulah badai datang. Biarkan tubuhmu diterbangkan oleh badai itu hingga ke atas danau.”

“Setelah itu?” Herolena bertanya dalam hati.

Radio tidak menjawab. Tak lama kemudian muncul bunyi krusak-krusek. Herolena memutar tombol untuk mendapatkan sinyal. Hanya sebentar suara radio menjadi jernih kembali.

“Akan tetapi kehendak untuk mati itu racun,” kata penyiar itu, “Siapa pun sebaiknya mati secara wajar. Tidak perlu diburu-buru. Tidak perlu dinanti-nanti.”

“Enak saja bicara seperti itu,” Herolena membatin, “Kami sudah bertahun-tahun menunggu kematian tetapi Tuhan tak pernah berkenan memberikan kematian kepada kami. Tuhan mungkin sudah lupa pernah menciptakan kami. Atau Tuhan hanya memberikan kehidupan tetapi sama sekali tak memberikan kematian kepada kami. Kami takut menjadi abadi.”

Tentu saja penyiar tidak mendengarkan keluhan Herolena. Penyiar yang sepanjang waktu tidak pernah mendengarkan apa pun yang dikeluhkan oleh para pendengar itu dengan santai bilang, “Agama yang baik selalu menyediakan cara-cara menjemput kematian yang indah. Agama yang buruk selalu menganggap kematian hanyalah omong kosong.”

“Omong kosong?” Herolena membatin lagi, “Agama kami tak pernah menganggap kematian sebagai omong kosong. Kematian bagi agama kami ibarat zat asam. Ia ada meskipun kami tidak pernah melihat warga Ranarene menjemput ajal.”

“Tetapi,” kata penyiar, “Telah muncul agama baru yang disyiarkan oleh nabi baru. Agama ini khusus untuk para pemuja kematian. Siapa pun yang ingin segera mati segeralah memeluk agama yang ritualnya selalu dimulai dari berteriak keras-keras melantunkan semacam aba-aba, lalu berdiri menghadap ke arah selatan, membungkuk, menelungkup, menyungkurkan diri, menelungkup lagi, berdiri lagi, dan diakhiri dengan menangis bersama itu.”

Kali ini Herolena agak terkejut. Dia merasa telah mengenal agama itu. “Jangan-jangan ini agama yang dianut oleh Krosakbabikri. Jangan-jangan Krosakbabikri bukan sekadar pedagang. Jangan-jangan Krosakbabikri adalah nabi baru yang disebut-sebut oleh penyiar itu?” Herolena tak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia yakin setelah bertemu dengan Krosakbabikri akan bisa menjawab pertanyaan itu.

***

SAYANG sekali justru ketika sangat dibutuhkan, Krosakbabikri tidak berada di Ranarene. Kata para pedagang lain, Krosakbabikri sedang berada di kota lain.

“Dia bersama para pedagang pengembara sedang menjemput para penemu Kitab Halali di Gua Raelling dekat Sungai Copottati.”

“Kitab Halali?” tanya Herolena sambil mengenang nama kitab yang dia dengar lima tahun lalu.

“Ya. Itu kitab untuk orang-orang yang ingin meninggalkan agama lama. Itu kitab baru yang selama 1.300 tahun menghilang dan dihalang-halangi untuk dibaca oleh siapa pun.”

“Apa keistimewaan kitab itu? Melebihi kitab berisi kisah-kisah para rasul? Berisi kisah-kisah pewahyuan?” tanya Herolena mencoba memancing pengetahuan sang pedagang agar segera menguar.

“Kitab itu mengajari siapa pun untuk mendapatkan cara mati yang indah.”

“Siapa nama nabi paling agung di kitab itu?”

“Aku belum paham benar siapa nabi atau Tuhan di kitab itu. Yang jelas, Krosakbabikri akan menjual kitab itu kepadamu.”

“Apakah Kitab Halali berbeda dari kitab-kitab lama?”

“Tidak terlalu berbeda. Namun ada rahasia-rahasia lain yang jika dibaca 1.300 tahun lalu akan membuat siapa pun tidak percaya pada Tuhan masa kini atau meledek nabi-nabi yang telah memberikan teladan-teladan indah.”

“Apa rahasia-rahasia lain itu?”

“Itu yang belum kubaca. Aku hanya mendengar dari Krosakbabikri semua agama yang kita anut hari ini salah. Diperlukan kitab baru agar orang benar-benar mendapatkan surga yang benar-benar surga.”

“Memang ada surga palsu?”

“Semua surga yang dipercayai orang-orang masa kini palsu.”

“Siapa yang bilang?”

“Krosakbabikri.”

“Dari mana Krosakbabikri tahu semua surga yang dipercayai oleh orang-orang masa kini palsu?”

“Dari Kitab Halali.”

Herolena tidak percaya pada jawaban semacam itu. Pengetahuan Herolena tentang Kitab Halali berbeda. Kata para pedagang barang antik, kitab itu sebenarnya lebih ingin menyatakan, dunia tidak diciptakan oleh satu tuhan. Karena tidak diciptakan oleh satu tuhan, tuhan lain bisa menjadikan kehidupan tanpa kematian atau kehidupan sehari dua-hari. Para tuhan juga tidak menciptakan satu surga dan satu neraka. Malah ada juga yang tidak menciptakan surga dan neraka. Adapun nabi utama kitab itu bernama Poo, saudara kembar Kain yang tidak pernah diceritakan di kitab-kitab lama.

Kitab Halali ditulis oleh Bahib Hozameh. Baib Hozameh adalah pria setinggi 2,9 meter yang mengaku mendapatkan wahyu rahasia dari Nabi Poo. Apa ajaran utama Nabi Poo? Ada 13. Pertama, semua manusia diciptakan oleh tuhan yang suka berperang. Tuhan yang meminta para umat bertikai sepanjang masa. Kedua, malaikat diciptakan dari kotoran kuda. Karena itulah derajat para malaikat tak pernah bisa setinggi manusia. Ketiga, musuh utama manusia bukan iblis. Manusia adalah raja-raja yang bertakhta di kerajaan iblis. Keempat, minta mati secepat mungkin kepada tuhan dan nabi adalah kebajikan tertinggi. Hidup sehari-dua hari merupakan tindakan suci. Kelima, Tuhan tak menghendaki manusia berkorban terus-menerus. Keenam, puncak pengkhianatan manusia terjadi jika mereka hanya percaya pada satu tuhan. Ketujuh, berdaganglah dengan orang-orang bodoh. Kedelapan, pilihlah pemimpin yang berani menista agama lama. Kesembilan, jika ingin mati cepat, matilah di bawah pohon pisang. Ke-10, teriakkan nama tuhan dan nabi keras-keras saat berperang. Ke-11, jangan bergurau ketika bercinta. Ke-12, membunuhlah sesuka hati jika agamamu dilecehkan. Ke-13, bakarlah kitabmu jika kau merasa tidak perlu beragama dan bertuhan lagi.

Selesai menulis Kitab Halali, Bahib Hozameh melarikan diri ke Negeri Gurun Muruah. Dia hendak dibunuh oleh para serdadu Kacrut Bokaah. Setelah itu Kitab Halali hilang. Bahib Hozameh juga tidak pernah kembali ke Kacrut Bokaah. Dia juga tidak pernah ke Ranarene, bagian tak penting dari Kacrut Bokaah itu.

Apakah orang-orang Kacrut Bokaah pernah membaca Kitab Halali? Sebagian ada yang membaca. Orang-orang yang tinggal di Gua Raelling dekat Sungai Copottati pernah bertemu dengan Bahib Hozameh. Mereka juga pernah membaca Kitab Halali. Kini, Krosakbabikri sedang menjemput penemuan Kitab Halali dan akan menjual aneka kisah rahasia yang termaktub di buku itu kepada Herolena.

Ada juga Kitab Halali versi Homaz Raceetha. Kitab itu ditulis oleh Raceetha dengan bahasa Hejo, bahasa kuno Kacrut Bokaah. Inti ajarannya: Pertama, tuhan hidup tetapi tidak pernah menciptakan apa pun. Apa pun yang berkait dengan dunia dikreasi oleh manusia. Kedua, kehancuran dunia tidak akibat tangan jahil tuhan melainkan oleh ulah manusia sendiri. Ketiga, manusia pada akhirnya hanya akan jadi budak dari apa pun yang diciptakan oleh manusia.

Yang mengejutkan pernah muncul Kitab Halali versi Huzum Ogreh. Huzum Ogreh menyatakan, “Semua tuhan telah mati. Semua agama telah hancur. Semua nabi hanyalah nonsens. Tuhan, agama, dan nabi bisa diciptakan siapa pun dan kapan pun.”

Hingga saat ini Herolena belum menjadi penganut agama yang disyiarkan oleh Kitab Halali.

***

SEBELUM bertemu dengan Krosakbabikri, Herolena membaca Kitab Halali versi Homaz Raceetha. Herolena heran mengapa di kitab itu tertulis, “Tuhan bersabda pada Nabi Poo: Tinggalkan agama yang sekarang ini. Aku akan memberimu rahasia-rahasia untuk mati secara cepat. Kau juga tidak perlu lagi percaya kepada surga dan neraka.”

Karena itulah begitu bertemu dengan Krosakbabikri, Herolena bertanya, “Apakah Kitab Halali berkisah tentang rahasia-rahasia untuk memperoleh kematian tercepat?”

Krosakbabikri mengangguk.

“Apakah Tuhan meniadakan dirinya sendiri di kitab itu?”

Krosakbabikri mengangguk.

“Apakah tak ada surga dan neraka di kitab itu?”

Krosakbabikri mengangguk.

“Apakah setiap orang bisa jadi nabi?”

Krosakbabikri mengangguk.

“Apakah kau akan menjual Kitab Halali versi Bahib Hozameh kepadaku?”

Krosakbabikri mengangguk.

“Berapa harganya?”

“Kau tidak perlu membayar sedikitpun untuk kitab ini. Kau hanya perlu menjadi penganut agama yang disyiarkan oleh Kitab Halali.”

“Menjadi penganut?”

“Ya, kau harus meninggalkan agama lama.”

“Kalau aku memberimu setengah Ranarene, apakah kau tetap akan memintaku menjadi penganut agama baru?”

“Kauberi satu desa pun, aku tak akan memberikan kitab itu kepadamu jika kau tidak menganut agama baru.”

“Apakah setelah membaca Kitab Halali dan menganut agama yang ditawarkan, orang-orang Ranarene akan bisa menjemput kematian dengan gampang?”

Krosakbabikri mengangguk.

Tak ada cara lain, demi kematian yang agung, Herolena menerima tawaran Krosakbabikri.

***

AKAN tetapi semua tindakan Herolena hanyalah taktik untuk mendapatkan pengetahuan tentang kematian. Meskipun demikian, Herolena tetap membaca prinsip-prinsip yang termaktub di dalam Kitab Halali. Menurut kitab itu para tuhan ada begitu saja di dunia. Para tuhan tak menciptakan apa pun karena alam semesta juga muncul begitu saja. Meskipun demikian, pada suatu masa, terjadi perang antar-tuhan. Banyak tuhan terbunuh dan muncul satu tuhan yang paling perkasa.

Tuhan yang paling perkasa itu kemudian bersabda kepada Nabi Poo. “Poo kau adalah juru selamat orang Yoalhude yang dikirim oleh Tuhan orang Yoalhude untuk menggenapi Kitab Halali. Kau dan umatmu dari belahan dunia mana pun harus beribadah sesuai yang dilakukan oleh orang Yoalhude. Tak patuh pada ayat-ayat di Kitab Halali akan membuat siapa pun tak bisa mendapatkan kematian yang indah.”

“Mengapa Tuhan orang-orang Yoalhude merupakan tuhan yang mengancam?” pikir Herolena.

Di Bab Horombale Pasal 1 Ayat 12 juga terdapat ancaman. “Aku (Poo, nabimu) tidak menyukai orang-orang yang lemah. Berperanglah demi agamamu. Berperanglah demi nabi dan tuhanmu.”

Herolena tak nyaman membaca ayat-ayat semacam itu. Karena itulah setelah mempelajari ayat-ayat yang berkait dengan cara cepat memperoleh kematian, dia punya gagasan menghilangkan pengaruh Kitab Halali. Pertama, dia tak akan mensyiarkan kitab itu di Ranarene. Kedua, dia akan membunuh Krosakbabikri. Dia tidak akan menusuk jantung Krosakbabikri tetapi hanya akan meracun lelaki bercula lembut itu dengan sorareh, yakni minuman keras khas Ranarene, sebanyak-banyaknya.

***

APAKAH Krosakbabikri bisa mati di Ranarene? Herolena yakin hari libur kebinasaan hanya berlaku untuk warga Ranarene. Karena itulah sebelum Krosakbabikri bertamu ke rumah, Herolena sudah mempersiapkan sorareh. Namun, di luar dugaan, Krosakbabikri datang ke rumah Herolena bersama 13 pedagang berobor yang kini lebih tampak sebagai serdadu itu.

“Aku tahu kau tak akan mensyiarkan Kitab Halali kepada warga Ranarene. Aku sejak dulu tahu kau lebih setia pada agama lama yang dianut oleh warga Ranarene. Tetapi ketahuilah, aku datang ke desa ini bukan untuk berdagang. Aku ke sini untuk menyebarkan agama baru. Aku akan membunuh siapa pun yang menghalangiku,” kata Krosakbabikri, “Aku sendirilah yang akan menyebarkan segala ayat yang termaktub di dalam Kitab Halali.”

Herolena kaget. Meskipun demikian, Herolena menantang Krosakbabikri. “Aku tak takut mati. Mati adalah kebajikan tertinggi warga Ranarene.”

“Kami akan membakarmu,” kata Krosakbabikri.

“Aku tak takut pada apimu. Aku tak takut pada apa pun yang akan kaulakukan kepadaku.”

Lalu, tak menunggu lama, tanpa disuruh oleh Krosakbabikri, sebagian pedagang memborgol tubuh Herolena di tiang dengan tali, sebagian lagi memukul kepala Herolena dengan linggis, sebagian lagi segera membakar kaki, tangan, dan seluruh tubuh Herolena.

Juga tidak perlu menunggu lama, Herolena mulai terbakar. Saat itu Herolena mulai tidak yakin apakah hari libur kebinasaan masih berlaku di Ranarene. Herolena hanya mendengar Krosakbabikri berteriak, “Bunuh tuhan lamamu! Bunuh Tuhan lamamu! Aku akan mengampunimu.”

Membunuh Tuhan? Herolena tidak yakin apakah dia bisa membunuh Tuhan. Meskipun demikian, Herolena masih punya hasrat. Mati atau tak mati, Herolena menentang apa pun yang akan dilakukan Krosakbabikri. Herolena sama sekali tidak takut meskipun dalam gemuruh 13 pedagang yang berteriak-teriak menyebut nama tuhan dan nabi mereka, api terus menjalar ke tubuhnya yang rapuh.

“Aku hanya takut pada keabadian, ya Tuhan. Aku hanya takut jika tak mati-mati sepanjang waktu yang Kauciptakan untukku.”

 

Triyanto Triwikromo adalah peraih Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa dan Tokoh Seni 2015 Pilihan Majalah Tempo. Ia antara lain menulis kumpulan cerita Ular di Mangkuk Nabi dan Surga Sungsang.

Advertisements