Cerpen Basuki Fitrianto (Lampung Post, 18 Maret 2018)

Ziarah Kawan Lama ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Ziarah Kawan Lama ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Malam, di sebuah pekuburan. Nisan-nisan itu seakan sepasukan prajurit perang yang sedang tidur pada sebuah tanah lapang. Tidur yang dibalut mimpi kesunyian panjang dan dingin. Cahaya bulan menimpa hamparan nisan, seakan selimut tidur keabadian. Pohon-pohon kamboja dengan angkuhnya berdiri selang-seling di antara nisan. Seperti para penjaga ruh. Kumpulan kunang-kunang, kuku-kuku orang meninggal itu, beterbangan bercahaya.

Dalam kesunyian yang ngelangut itu, terlihat seorang lelaki sedang jongkok di samping salah satu nisan. Terlihat seperti bayangan. Hanya sebagian wajahnya terlihat agak jelas karena tertimpa cahaya bulan. Nama lelaki itu, Harto. Sudah hampir setengah jam ia jongkok di tempat itu memandangi nisan di hadapannya. Sesekali tangan kanannya menepuk-nepuk batu nisan. Kini ia perlahan berdiri. Menggerak-gerakkan kedua kakinya mencoba menghilangkan rasa kesemutan.

“Maaf, baru kali ini aku bisa menemuimu,” kata Harto pelan, seakan ia bicara pada dirinya sendiri.

“Sudah berapa tahun sejak kau meninggal aku tak menemuimu? Sepuluh tahun? Sebelas tahun?” Harto mencoba mengingat-ingat.

“Hemm, mungkin lima belas tahun? Ya, lima belas tahun. Sahabat macam apa aku ini?”

Suara burung hantu terdengar dari kumpulan pohon di seberang pekuburan, diselingi teriakan-teriakan kelelawar yang beterbangan di langit, di bawah cahaya bulan. Harto mendongak melihat tingkah kelelawar berseliweran di langit.

“Apa kabarmu hari ini?” Kembali Harto jongkok menghadapi nisan.

Sejak nisan itu diletakkan di tempat itu, ia tetap seperti semula. Dingin. Hanya kini batu nisan itu terlihat kusam. Lumut-lumut bermunculan di sekeliling, di atas batu nisan.

“Aku berharap kau berada di tempat baik di atas sana. Meski kau tahu, aku tak percaya hal-hal tak masuk akal itu. Mati adalah mati. Tak akan hidup lagi. Tapi, aku menghargai kepercayaanmu. Aku berharap, Tuhanmu menerimamu.” Sesaat Harto tersenyum. “Aku ingat, beberapa kali kau pernah membujukku agar percaya hal gaib yang meracuni otakmu itu.”

“Tak ada salahnya kau percaya hal seperti itu. Tak ada ruginya,” katamu waktu itu.

“Aku tertawa mendengar bujukanmu. Aku bukan anak kecil lagi, sobat. Aku tak tertarik dengan permen lagi.”

Harto berdiri lagi. Kali ini ia membentangkan kedua tangannya. Lalu kemudian ia mengambil bungkusan rokok dan korek api di saku jaketnya. Mengambil satu batang rokok dan menyelipkan di sela bibir dan membakar ujung rokok dengan korek api. Asap mulai mengepul.

Harto berputar mengelilingi nisan sahabatnya dan berhenti tepat di depan papan nama. Kembali Harto jongkok. Ia usap papan bertuliskan nama Karno, tanggal lahir, dan tanggal wafatnya. Beberapa kali ia usap papan itu hingga terlihat agak bersih.

“Aku tak pernah dengar lagi kabar ayah dan ibumu. Entah di mana mereka sekarang.”

Harto mengisap rokoknya dalam-dalam. “Tapi aku pernah dengar tentang penyesalan kedua orang tuamu soal kematianmu yang tak wajar. Kau anak satu-satunya. Kau harapan mereka.” Suara Harto terdengar berat. Asap rokok membuat tenggorokannya terasa kering. Harto pun menelan ludahnya mencoba membasahi tenggorokannya. Harto beranjak berdiri dan duduk di atas nisan sebelah nisan sahabatnya.

“Kala kita masih satu kampus, aku sering bertemu kedua orang tuamu. Ibumu adalah perempuan penyabar. Ia sangat mencintaimu. Ia juga menganggapku seperti anaknya.” Sebentar Harto terdiam. “Sebenarnya, aku pun menyesali kematianmu.”

***

Kini bulan mulai meninggi, tepat tegak lurus. Pohon-pohon kamboja makin terlihat angkuh. Daun-daunnya bergerak-gerak tertiup angin. Bunga-bunga kamboja beberapa berguguran, satu di antaranya jatuh di atas kepala Harto. Harto mengambil bunga itu. Mengamati, menciumi aromanya, lalu mengelupas kelopak demi kelopak, dan ditaruh di atas nisan Karno.

“Meski kita berbeda pikiran, kita tetap bersahabat,” kata Harto. “Soal kesukaan, kita juga berbeda. Soal wanita?” Harto kembali tersenyum, teringat ketika ia dan Karno masih kuliah. “Kau menginginkan seorang perempuan saleh.” Kali ini Harto tertawa geli.

“Istri adalah jalan menuju surga,” katamu di rumah kontrakanku. “Itulah alasanku, kenapa aku mengidamkan perempuan saleh.”

“Aku tertawa waktu itu mendengar alasanmu. Itu kuno, sobat. Perempuan adalah perhiasan dunia. Perempuan adalah tempat berahi lelaki.”

“Kejam sekali kau menilai perempuan seperti itu.”

“Wajahmu tiba-tiba menjadi kaku. Mungkin kau tersinggung dengan pendapatku.

Sobat, setiap manusia pasti mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Seharusnya kau menghargai setiap pendapat, sekalipun pendapat itu tak sesuai dengan pendapatmu dan terdengar kejam.”

“Maaf, aku harus pergi.”

“Mau ke mana?” tanyaku waktu itu.

“Mempersiapkan aksi demo esok hari.”

Harto mempermainkan puntung rokoknya yang tinggal separuh. Memutar-mutarkannya di sela jari. “Juga soal demonstrasi itu. Sungguh, aku tak mengerti soal demonstrasi itu. Kau sepertinya suka sekali melakukan aksi demo.”

“Demonstrasi adalah salah satu alat untuk menegakkan kebenaran,” alasanmu waktu itu. Harto membuang puntung rokoknya. Kembali berdiri dan memutari nisan sahabatnya. “Sekali lagi kita berbeda pendapat. Soal makanan, soal perempuan, soal demo…” Harto membelakangi nisan sahabatnya, menatap jau ke depan, mencoba menembus pekatnya malam.

“Demonstrasi membuat hubungan kita renggang dan akhirnya putus. Kita tak pernah bertegur sapa sama sekali.” Harto terdiam agak lama. “Dulu aku pernah memberi nasihat kepadamu, jangan kau lakukan aksi itu lagi. Itu membahayakan dirimu sendiri. Apa yang kau dapatkan dengan aksimu itu? Ketenaran? Ya, mungkin ketenaran. Kau lihat teman-temanmu yang dulu pernah getol melakukan aksi demonstrasi. Sekarang? Setelah menjadi pejabat? Kini duduk manis di kursi empuknya.” Sesaat Harto tersenyum sinis. “Ironis bukan?”

Handphone di saku celana Harto berbunyi. Harto merogoh dan mengambil handphone-nya. “Halo? Ya, mungkin lima belas menit lagi aku keluar dari tempat ini.” Harto mematikan handphone dan memasukkan handphone ke saku celananya.

“Berita kematianmu menggegerkan satu kampus. Kau ditemukan tewas tenggelam di danau buatan di tengah kampus kita. Semua berkeyakinan bahwa kau tewas dibunuh. Tapi dibunuh oleh siapa? Tak ada yang tahu sampai saat ini. Apakah kau tewas dibunuh karena aksi demonstrasimu? Tak ada yang bisa memastikan sampai hari ini.”

***

Kini bulan sudah memiringkan posisinya. Angin malam berhembus bertambah dingin. Suara teriakan kelelawar sudah jarang terdengar.

“Aku siap menghadapi akibatnya karena aksiku,” katamu dulu.

“Mendengar kematianmu, sebenarnya aku syok juga,” Harto memeluk tubuhnya sendiri, “dan kau menerima akibatnya.”

Nisan itu kini sudah terlihat basah akibat embun, atau mungkin akibat keluarnya air mata dari jasad yang ada di dalam kubur.

“Aku tak lama di kota ini. Hanya mampir saja,” kata Harto. “Soal kematianmu, aku minta maaf.” Sesaat Harto terdiam. “Aksi demonstrasimu sudah membahayakan keselamatan Ayahku. Ayah memang korup. Ayahlah yang telah menyuruh orang-orangnya menenggelamkanmu di danau itu. Dan jauh hari aku sudah tahu soal rencana pembunuhanmu itu. Bukankah aku sudah pernah memberi nasihat padamu, agar kau meninggalkan aksi demonstrasimu?”

Pelan awan bergerak menutupi bulan. Malam di pekuburan semakin pekat.

“Baik sobat, aku harus pergi sekarang. Terima kasih, kita pernah menjadi sahabat.” n

Advertisements