Cerpen Hazwan Iskandar Jaya (Kedaulatan Rakyat, 18 Maret 2018)

Perempuan Surga ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Perempuan Surga ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

Sakinah: Ibu (1)

Tak ada yang lebih membahagiakan, kecuali melihat ia tersenyum sembari mengusap seluruh rambutku. Senyum itu adalah sekaligus doa untukku dan juga anak-anaknya. Sebagaimana sudah digariskan Tuhan, restunya adalah restu Tuhan di dunia ini. Balasan Syurga bila merajuk padanya. Karena, seluruh alam bertakzim pada senyumnya.

Ia membimbingku dengan sepenuh jiwanya. Merangkai segala keinginan, kebutuhan dan pengalaman hidup untuk mengabdikan diri pada cinta. Ya, cinta! Malaikat pun akan bersimpuh, jika ia telah membisikkan kata:

“Hiduplah sederhana, sesederhana aku mencintaimu,” desahnya dengan amat ringan. Tanpa beban.

Aku merunduk malu. Sadar jika tak mampu mengucap satu kata pun.

“Maka jika mencintai, cintailah dengan sederhana. Dengan kesederhanaan jiwa seorang pengembara merebahkan seluruh lelahnya pada waktu dan tempat yang tepat. Jangan ada nafsu untuk menguasai. Karena kekuasaan itu yang akan meruntuhkanmu,” ucapnya datar dengan senyuman yang dikulum.

Beberapa bulan aku mencucup darahnya. Juga air susunya yang berlimpah. Hingga semua hasrat dapat kutumpaskan bersamanya. Ia merebahkan dendamku sampai batas pengasingan yang dalam. Di rahim kegelapannya. Dibelenggu dalam garba. Dan dipatrikan pada dinding keniscayaan.

Namun, hampir seluruh mimpi-mimpiku ditangkup dalam genggaman tangannya yang lembut nan hangat. Membangkitkan gairah kelelakianku. Bagai kuda yang hendak berlari menunggangi seluruh hasrat.

“Tidurlah dalam dekapanku. Kan kunyanyikan lagu nina bobo untukmu.”

Bisiknya syahdu. Mengecup keningku. Mengusap seluruh rambutku yang mulai tumbuh.

Aku terlena. Aku beranjak menapaki waktu. Bayang-Bayang memanjang di sepanjang perjalanan yang penuh deru dan debu. Jumpalitan aku mencari jati diri dalam rindu.

Ialah yang mengajariku arti pengorbanan, kerelaan dan keikhlasan cinta. Dalam deru doa-doa sepanjang waktu. Pun di setiap mimpiku.

Mawaddah: Ibu (2)

Justru yang aku takutkan bosan itu akan menghampirimu. Dan akan menghempaskanku dalam resah yang berkepanjangan. Dan aku bisa mati berdiri dibuatnya. Jika kau sudah tak peduli, untuk apalagi hidup dalam pengembaraan yang beronak duri ini. Seluruh jiwaku sudah tergores. Luka-luka ini membentuk gambaran hidup yang terpatri di atas batu cadas. Membekas di saban kenangan yang mengharu biru.

Dialah yang mengusap setiap tetesan air mata dan keringat dengan sepenuh kasih. Walau terkadang mimpi buruk kerap menghampiri. Mimpi yang senantiasa mengejarku, bagai bayang-bayang kelam masa lalu.

Ketika ia menyihirku menjadi ulat bulu, maka tak ada lagi daya upaya untuk menggeliat. Setiap mahluk yang kutemui semua bergegas menyingkir. Ekspresi menjijikkan dari raut wajah mereka. Bahkan ada yang hendak membunuhku dengan kekejaman zaman perang. Aku hanya menghindar dari keramaian dan hiruk pikuk dunia. Aku pun kembali menepi, menjauh dan mengembara ke entah arah.

Pengembaraan ini amatlah panjang. Telah bertahun-tahun tak putus-putusnya dirundung segala kemungkinan. Ketidakpastian yang langgeng dalam haribaan. Bagai suratan garis takdir di telapak tangan. Dan suatu ketika, saat angin berhembus lembut, engkau pun membisikan kata:

“Rebahlah dirimu bagai kain yang jatuh di lantai,”

Aku hanya menarik nafas panjang dan dalam. Dialah yang membungkusku, menyuntikkan tonikum zikir sebagai cadangan santapan rohku, dan kegelapan ini telah merenggutku dari gemerlap cahaya dunia. Aku pun menyerah pasrah.

Entah berapa lamanya aku taffakur, tazakkur dan taddabur. Aku tak peduli lagi akan menjadi apa dan berapa lama akan usai pertapaan ini. Akupun tak hendak tahu, apakah kelak akan menjadi kupu-kupu, kumbang, lebah atau bahkan harus tumpas. Biarlah dia yang menyihirku dengan senyum dan tatapan tanpa ratapan.

Kucintai waktu berlalu, saat terjaga dan tidurku.

Rahmah: Ibu (3)

Seorang Kembara tak pernah letih mencari “kebenaran” yang hakiki. Ia tak peduli dihadang onak dan duri. Hanya keteguhan hati dan kesabaran dalam diri. Menyangga cintanya sampai mati! Sekali layar dikembangkan, pantang surut biduk dikayuhkan!

Begitulah kata Engkau padaku di suatu senja. Saat kita bercengkerama dengan jarak dan waktu…

Tapi wahai, Cintaku, aku bukanlah Musa yang mampu membelah lautan. Bukan pula Nuh yang bisa menantang dan menaklukkan gelombang dan ombak demi membawa segala bekal kehidupan. Aku hanyalah pengembara biasa yang sederhana saja. Kadang merasa lelah dan renta. Kadang menangis sejadi-jadinya. Kadang harus bersandiwara untuk sekadar bermuka-muka. Betapa susahnya mencari ‘dada’ sekadar untuk tempat bersandar. Merebahkan kepenatan kata-kata yang kadang menyesak dalam jiwa.

Aku ingin tidur segera. Lalu bermimpi yang indah-indah saja…

Dan Engkau hadir di tengah kegalauan malam. Hampir pada batas akhir pengembaraan. Kini baru kusadari, Engkau telah mencuri separuh jiwaku! q-g

 

Yogyakarta-Bengkulu, 2017

(Inspirasi di rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu)

Hazwan Iskandar Jaya, lahir di Palembang (Tanjung Raja OKI), 27 Agustus 1969. Beberapa karya tulisan berupa puisi, cerpen, esai dan opini. Beberapa karya masuk antologi bersama Momentum, Alif Lam Mim, Aku Ini, Begini-begini dan Begitu (Esai FKY 1997), Tamansari (FKY 1998), Embun Tajjali (FKY 2000), Lirik Lereng Merapi (FKY Sleman, 2000), Rumpun Bambu (Teater Sila Bantul, 1999). Tinggal di Desa Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Advertisements