Cerpen Jamalul Muttaqin (Media Indonesia, 18 Maret 2018)

Manusia Cahaya ilustrasi Media Indonesia.jpg
Manusia Cahaya ilustrasi Media Indonesia

PADA kulit malam yang pekat. Aku temukan wajahku sendiri menatap diriku sendiri dengan titik cahaya yang berputar-putar. Cahaya itu dari langit seperti bintang yang jatuh berhamburan ke bumi. Ketika mulai mendekat aku menyapa sebuah kelebat cahaya. Terang dan sangat terang sekali.

Ya, dari balik cahaya aku belajar tentang sebuah penciptaan jagat raya. Cahaya mengajariku tentang sebuah arti dan makna kehidupan. Hidup yang dicipta dari sesuatu yang tak pernah ada, hidup yang berada dalam perdebatan seorang filsuf, dan hidup yang diajarkan dalam kitab-kitab agama.

Cahaya memberiku gambaran tentang diriku sendiri karena cahaya memang diriku sendiri. Pada dasarnya Tuhan tak pernah menciptakan kegelapan. Kegelapan tak pernah ada di dunia. Itu sebabnya banyak manusia yang takut akan kegelapan. Di sebuah kegelapan yang sangat mencekap akan ada setan-setan yang berpesta, kata manusia. Sedang setan-setan sebaliknya, akan takut ketika kegelapan telah pergi. Di sebuah cahaya yang terang manusia-manusia akan berpersat, kata setan.

Aku adalah sosok manusia yang bisa melihat dimana setan itu berada. Tidak semua setan dapat melihat manusia dan tak semua manusia bisa melihat setan kecuali hatinya telah bersih dari perbuatan-perbuatan setan. Selagi manusia tidak menyadari keberadaan setan di situlah setan akan masuk dan menggoda sampai Tuhan mengutuknya. Pekerjaan yang paling mulia menurut setan adalah bisa menggoda manusia. Raja setan bangga saat melihat Nabi Adam dilembar ke bumi gara-gara godaan yang paling dahsyat. Seperti ingin mengatakan bahwa, aku tak akan pernah lelah melemparmu ke api neraka jahanam. Begitulah setan-setan hidup.

Sudah berapa tahun aku tinggal sendiri di sebuah gua yang gelap. Manusia mengira diriku berada dalam kegelapan yang tak bisa melihat apa-apa dan hanya setan yang dapat menemani sekaligus melihat. Semua dugaan-dugaan mereka salah. Karena diriku adalah cahaya itu sendiri, maka aku mengusir gelap dan aku menjadi diriku sendiri. Kegelapan hanya karena ketiadaan cahaya. Begitu Tuhan dalam al-Qur’an menjelaskan, dan aku telah menemukan cahaya itu sendiri.

***

Malam ini adalah malam yang ke-41 tahun dan 41 bulan lebih 41 satu hari. Aku berada di ruang yang sangat sempit. Mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia yang tiap waktu selalu berkelahi dengan perdebatan-perdebatan anyir tentang salah dan benar. Aku mengasingkan diri dari dunia yang penuh dengan onak kebencian dan arogansi.

Di luar tempatku ini, pembunuhan merajalela seiring waktu yang berlari seperti kilat cahaya. Sering aku temukan pembunuhan antar manusia karena perbedaan sebuah agama, di lain waktu pembunuhan aku temukan karena perbedaan ideologi, dan pembunuhan aku temukan karena manusia menentang terhadap penguasa yang lalim. Itu sebabnya, aku ingin menjadi cahaya yang tak pernah ditemukan oleh manusia yang kelak mereka tau dengan sendirinya.

Sampai hari ini, manusia selalu bercerita tentang mitos cahaya di langit. Padahal, cahaya di langit adalah meteor yang mengejar setan dari berbagai pintu langit. Setiap detik setan-setan akan mengintip dari kegelapan tentang rahasia Tuhan di loh mahfudz. Sedang meteor akan menghantamnya dari arah manapun saat setan muncul. Aku tertawa melihat banyak setan lari terbirit-birit. Ketika meteor itu membentur tubuhnya setan akan hancur berkeping-keping.

Lalu manusia akan bertanya-tanya, bagaimana setan-setan hidup kembali, bukankah Tuhan telah mengutuknya untuk dikekalkan sampai jagat raya hancur dalam satu tiupan terompet panjang Israfil. Manusia selalu ingin tahu, bagaimana cara setan melahirkan, dan bagaimana setan bertahan hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab dengan sebuah pengalaman. Sama ketika nabi menembus langit ke tujuh dan banyak masyarakat tidak percaya. Karena semua adalah pengalaman. Pengetahuan manusia ada pada pengalaman yang tampak. Maka manusia akan semakin dibodohi oleh setan-setan yang halus.

Ada banyak cara yang aku dapatkan di tempat ini. Karena setan takut mengganggu manusia yang khusuk ketika sampai pada batas-batas baqa’ sehingga bisa melihat segala bentuk kebaikan dan kejelekan. Mulutku selalu terkunci dari perkataan-perkataan menggunjing. Mulutku selalu terbuka dengan menyebut nama Tuhan setiap hembusan nafas yang tak pernah aku hitung jumlahnya. Seandainya manusia mau membunuhku laksana darahku akan melafalkan nama-nama Tuhan yang aku sebut.

Di tempat ini diriku serupa Khidir yang dicari keberadaannya oleh manusia, di antara pertemuan sungai dan laut, di antara sumur-sumur, di antara sumber mata air yang menyembur dari celah-celah batu di gunung. Saat aku temukan salah satu dari mereka terkagum-kagum pada cahayaku saat itu pula aku meminta untuk berkhalwat di sebuah tempat yang jauh dari keramaian manusia.

“Kau akan menghindar dari godaan setan selama kau disini,” ucapku kepada manusia yang berani mendekatku.

“Tuan, aku uzlah.”

“Ya, engkau harus menemukan cahaya Tuhan.”

Pada saat itu, manusia akan sadar bahwa dirinya tak pernah bermusuhan dengan setan-setan. Karena Tuhan menciptakan setan, jin, dan manusia hanya untuk menyembah kepadanya. Ketika mereka menemui Tuhannya sirnalah hatinya, ketika mereka menemui hatinya mereka kehilangan Tuhannya. Akhirnya, mereka sadar bahwa Tuhan tidak bisa dilepas dari materi-materi manusia sedang manusia adalah tempat yang paling sempurnah dimana cahaya Tuhan itu memancar.

***

Kini keberadaanku mulai tersebar ketika salah satu dari manusia yang ber-khalwat meninggalkan tempatku yang paling sunyi. Bahkan, mereka pergi membawa kemarahan dan menyampaikan kabar-kabar yang tidak benar. Mereka akan berkata kepada yang lain tentang manusia sesat yang terkutuk. Kemudian ramailah orang-orang membicarakan tentang keberadaanku.

Di sebuah pasar, di sebuah masjid, di sebuah kampus, dan di jalan-jalan raya. Manusia selalu memperdebatkan tentang manusia yang bercahaya. Anehnya, mereka mengatakan diriku adalah manusia yang mengaku sebagai Tuhan.

“Dia adalah Tuhan itu sendiri,” kata seorang ulama yang pernah menemuiku di sebuah gua.

“Dia seperti Jibril saat menyampaikan risalah kepada Nabi Muhammad di gua Hira’.”

“Itu sangat konyol. Aliran sesat yang perlu diwaspadai.” Aku melihat mereka mulai gundah. Bahkan keberadaanku selalu dijadikan tema-tema diskusi di berbagai kampus. Aku dapat melihat setiap aktivitas manusia yang membicarakan tentang nasibku di tempat ini. Bahkan aku melihat setiap ada setan-setan yang terus menggoda manusia untuk mengejarku.

“Kau bunuh Si Manusia Cahaya yang terkutuk itu.” Setan berbisik kepada salah satu ulama yang paling disegani saat itu. Setan mulai berbisik kepada para pemuda yang masih sibuk berdebat soal materi kuliah di kampus. Setan mendatangi setiap kepala manusia dan meniupkan fitnah-fitnah.

“Mari kita cari Manusia Cahaya itu.” Kemudian aku melihat masyarakat berduyun-duyun berkumpul di sebuah masjid. Dari para tokoh masyarakat, pejabat negara, mahasiswa, dan rakyat jelata, semua berkumpul membuat satu komando. Mereka mulai berjalan mendekatiku ke sebuah gua. Setan-setan berdansa berputar-putar di atas kepala mereka sembari meniupkan gairah permusuhan kepadaku. Akh, mungkin karena setan-setan tak bisa mendekatiku, pikirku dalam hati.

“Keluar kau Manusia Cahaya terkutuk,” teriak mereka. Aku mulai bisa mendengar suara keramaian di bibir gua. Ada tiga orang yang masuk ke dalam gua setelah membawa obor. Namun, mereka terkejut melihat gua dipenuhi cahaya dan tiga orang itu mematikan obornya. Mulai mendekat kepadaku dan menyeretku yang tengah bersilah di atas batu. Tubuhku direngkuh dan diseret ke luar gua. Cahaya itu membuat padangan mereka silau. Salah satu dari mereka mengangkat wajahku sembari berbisik di telingaku. “Katakan bahwa kau manusia yang berdosa,” katanya. “Bagaimana kau menyebarkan sebuah paham-paham hingga banyak manusia tidak percaya kepadaku,” lanjutnya. Aku tidak pernah menghiraukan, mataku terus terpejam.

“Orang ini penyebar fitnah permusuhan di antara kita,” ia mulai berteriak di depan orangorang yang tengah menyaksikanku.

“Kita harus membunuhnya sekarang juga. Kumpulkan kayu bakar.” Mereka pergi ke hutan dan mencari kayu bakar. Sebagian dari mereka ada yang duduk sembari menunggu kayu-kayu itu ditumpuk. Aku dipertontonkan seperti nabi Ibrahim yang dibakar oleh Raja Namrud.

“Tuan, siapa namamu?”

“Aku adalah murid Syuhrawardi.”

Api menyala berkobar-kobar sedang diriku hilang bersama cahaya api yang sampai saat ini aku tetap menjadi metos cahaya. Cahaya itu bernama cinta.

 

Yogyakarta, 2018

Jamalul Muttaqin lahir di Sumenep Jawa Timur. Menulis esai, puisi, dan cerpen. Tulisan-tulisannya terantologi bersama Penyair Kopi Dunia, The Gayo Institut (TGI), Aceh Culture Centre (ACC). Ia terpilih sebagai 10 kontributor puisi terbaik Gebyar Bulan Bahasa 2016.

Advertisements