Cerpen Kak Ian (Fajar, 18 Maret 2018)

Lelaki yang Mencintai Buku-buku ilustrasi Fajar.jpg
Lelaki yang Mencintai Buku-buku ilustrasi Fajar

DESAS-DESUS aku mencintai buku-buku yang kumiliki kini tersebar luas. Bukan hanya sekedar kabar angin apalagi kabar burung. Semua orang-orang yang mengenalku maupun di sekelilingku sudah mulai mengetahui hal itu.

Lain hal bila kawan-kawanku di komunitas teater yang aku diami mengetahuinya. Bagiku itu tidak menjadi soal. Karena mereka satu ‘pemikiran’ denganku. Satu ‘jiwa’ pula.

Aku mencintai buku-bukuku. Jika itu memang kenyataannya bagiku itu masih wajar. Aku masih belum setaraf paling tinggi dalam keanehan! Aku masih di batas kewajaran. Aku masih belum apa-apa dibandingkan Seno.

Ya, Seno lebih ‘aneh’ bahkan lebih ‘gila’ lagi bila aku sebut. Dia adalah temanku sesama pecinta seni apapun. Entah itu seni kata, seni rupa, seni gerak maupun seni mematung. Pokoknya jika ada yang berbau seni di sana, dia selalu ada. Itulah dia!

Dia pernah mengatakan kepadaku suatu malam seusai latihan teater di atas gazebo, di mana tiap saban Jumat kami kumpul. Dia mengatakan kepadaku. Dia terkadang mencumbui puisi-puisinya tiap kali hasratnya memuncak. Edan.

Itulah bila kalian bukan ‘sekufu’ dengannya. Kalian akan menganggap dirinya freak atau nerd, silakan saja! Aku tidak melarangnya.

Sebenarnya, jujur aku katakan ketika kali pertama mendengar Seno berkata demikian aku sempat ingin mual karenanya. Ingin mengeluarkan segala isi perutku saat itu. Tapi aku tahan saja. Karena aku takut dia merasa tak diindahkan. Atau, merasa tersinggung. Akhirnya aku tahan saja sampai usai dia berkata demikian. Hingga keisenganku pun timbul untuk bertanya padanya saat itu.

“Kalau kamu sedang bercumbu bersama puisi-puisimu itu caranya bagaimana?” tanyaku jahil. “Terus apa kamu menikmatinya.”

He-he. Seno hanya terkekeh ketika aku bertanya demikian.

Ah, kamu kura-kura dalam perahu saja, Gus!”

Hei, aku benar-benar tidak tahu, Bung!” pungkasku penasaran padanya.

“Jika kamu tidak tahu. Cari tahu sajalah sendiri bagaimana caranya!” serunya. “Eh, sudah malam nih. Kita balik saja! Lagi pula anak-anak yang latihan juga sudah pada pulang. Apalagi malam ini waktunya aku bercumbu padapuisi-puisiku.” Kali ini aku benar-benar dibuat mual kembali.

Malam itu aku pulang seusai latihan teater bersamanya berlawanan arah. Aku berjalan menuju arah selatan sedangkan Seno menuju ke utara.

Dalam perjalanan pulang itu aku kembali membayangkan bagaimana cara Seno mencumbui puisi-puisinya itu. Apakah dia menikmatinya? Dan bagaimana cara dia menikmatinya? Pikirku gontai menekuri setapak demi setapak jalan yang saat itu sepi senyap. Tidak ada seorangpun berlalu lalang lagi. Hanya penerang alam yang menemaniku malam itu.

Sebenarnya apa yang dilakukan Seno bagiku tidak bermasalah. Lagi pula itu haknya. Aku sebagai temannya tidak patut mencampuri itu semua. Halnya dia tahu desas-desus aku (telah) menikahi buku-bukuku. Dia diam seribu bahasa saja. Tidak jahil sepertiku. Lagi-lagi, walaupun dia tahu kebenaran desas-desus itu.

Dia tidak pernah mencampuri urusanku. Apalagi bertanya. Karena itulah kepribadiannya. Tidak pernah usil dengan urusan orang lain. Sungguh aku sangat mengapresiasikan sikapnya itu. Bukan hanya untukku saja dia seperti itu. Semua pun sama rata. Dia lagi-lagi tidak pernah usil pada siapa pun. Tidak pernah ingin tahu urusan orang lain.

Tapi lain hal jikalau sudah waktunya latihan teater di atas pendepo, bila ada salah satu anggota yang ikut dalam latihan itu terlihat main-main. Dia tidak segan-segan menegurnya bahkan bisa memarahinya. Itu semua dia lakukan, tidak lain untuk memberitahukan ‘keadilan’ menurut versinya.

Kalau sudah waktunya latihan teater maka hargailah waktu dan kesempatanitu. Tentu saja para anggota yang ikut latihan saat itu hanya diam seribu bahasa saja. Tidak berani menyanggahnya dan membatahnya termasuk aku. Tidak berani melakukan apapun. Boleh jadi saat aku latihan teater bersama dia sudah sepatutnya menghargai keputusannya dan arahannya sebagai ketua teater itu. Cukup didengar lalu dipraktekkan. Aman, kan!

Itulah dia. Dia Seno, ketua teater di komunitasku yang sangat disiplin dan tegas. Namun‘aneh’dalam kehidupan yang selama ini dia lakukan. Dia masih mencumbu puisi-puisinya. Tapi aku senang memiliki teman dan juga menjadi anak buahnya dalam seni gerak sepertinya. Jadi aku bisa bertukar isi kepala masing-masing.

Akhirnya desas-desus aku mencintai buku-buku itu di dengar juga oleh Utami. Utami, kekasihku yang baru lima bulan ini aku pacari. Awalnya dia pertama kali mendengar desas-desusku seperti itu sudah menutup kuping kirinya. Tapi karena desas-desus itu makin kuat bagai angin tornado saat didengar sampai juga ke kuping kanannya yang mulai goyah. Ia termakan juga omongan-omongan dari mulut orang-orang tidak bertanggungjawab itu.

Utami tidak sanggup lagi menahan kuping kanan-kirinya mengenai desas-desusku itu. Suatu hari di siang bolong dia pun ke kosanku. Akhirnya peristiwa itu pun jadi. Peristiwa yang membuatku meledak-ledak padanya.

Di kosanku itu dia menghampiriku tanpa memberi kabar apalagi uluk salam saat memasuki kosku. Dia langsung melabrakku.

“Dasar lelaki tidak tahu diri! Apakah kau tidak puas juga denganku selama ini. Segala buku-buku yang kau beli kemarin bersamaku di toko buku itu kau masih cumbui juga!” maki Utami padaku saat itu.

Aku gelagapan. Buku yang baru saja aku buka dari plastiknya seketika itu lepas dari genggamanku. Suara lekingan Utami benar- benar mengalahkan konsentrasiku menikmati bau harum dari buku yang kubeli di kota besar bersamanya. Saat itu aku sedang menikmati harum bau yang dikeluarkan dari buku itu. Tapi kini sudah terjatuh, tergeletak di lantai tanpa daya.

Hei, tunggu dulu! Apa-apaan kau seenaknya memaki aku dengan seperti itu. Kau tidak mengaca siapa dirimu sesungguhnya. Jika bukan karena aku nyawamu sudah diangkut oleh Izrail saat kau terlalu banyak menenggak pil setan itu. Apakah kau lupa?” aku kembali memaki Utami.

Utami sejenak berhenti memaki. Dua mundur beberapa langkah. Lalu mengamati wajahku serupa Sengkuni saat itu. Dia tidak lagi menganggapku Arjuna untuknya lagi. Apalagi melihat apa yang aku lakukan untuknya saat itu. Aku diam sejenak. Kutatap wajah Utami yang mulai memias. Aku lalu menghampirinya dan mendekatinya. Aku langsung memeluknya sebagai tanda aku meminta maaf.

“Jangan sentuh aku lagi! Sudah cukup kau ungkit segala apa yang telah kau lakukan untukku selama ini!” teriak Utami mendorongku hingga pelipisku terluka oleh sudut kursi.

“Maafkan aku, Utami! Aku tidak bermaksud berkata seperti itu,” lirihku sambil bangkit.

“Buang kata maafmu itu! Kau tidak bersalah. Aku yang bersalah telah menaruh kepercayaan padamu. Tapi hasilnya seperti ini. Mulai saat ini kita akhiri hubungan kita. Aku tidak ingin mempunyai kekasih seperti kau. Kau lelaki aneh yang aku kenal! Inikah hasil dari kau bersama mereka…!” Utami tidak berhenti memaki.

“Stop! Stop, aku bilang stop! Aku memang lelaki aneh. Puas kau, Utami Citra Lestari!” seruku makin berapi-api. “Kau boleh mengatakan apapun tentangku. Silakan! Asal kau jangan bawa-bawa mereka dalam hubungan kita!”

“Baiklah, hai seniman aneh! Mungkin kau lebih mengutamakan buku-bukumu itu dan mereka yang membawamu menjadi seniman aneh!” Utami makin menyudutkan.

“Sekarang kau keluar perempuan jalang!”

“Baik aku akan meninggalkan tempat busuk ini!”

“Cepat keluar…!!!”

Aku tidak tahu apalagi yang aku ucapkan pada Utami. Aku sudah gelap mata dan pikiran. Aku tidak kuasa saat itu. Aku tenggelam dalam buku-buku yang aku miliki. Usai peristiwa itu aku pun menemui Seno ke kosannya.

“Maaf aku tidak jadi. Mungkin lain waktunya saja kita bicarakan hal ini,” kataku saat aku tiba di kosan Seno. Ia ternyata sedang mencumbui puisi-puisinya kembali.

“Ayolah, masuk jangan emosi yang kau depankan! Kau janganlah terlalu rapuh menghadapi kehidupan. Apalagi soal perempuan. Seperti aku ini selalu bebas tidak seorang pun yang mengekangku apalagi sampai menghina apa yang selama ini aku lakukan. Karena aku melakukan ini bukan untuk mereka tapi untuk kehidupanku!” bujuk Seno menenangkanku.

“Kita ini berbeda dengan mereka. Kita tidak bisa memiliki masa depan menurut mereka. Tapi masa depan kita yang buat! Jadi kau jangan cengeng begitu,” lanjut Seno mengatakan begitu rupa tentang kehidupannya. Oh, bukan mungkin kehidupanku pula.

“Oya, aku punya buku baru yang aku beli di toko buku di galeri Taman Ismail Marzuki. Kalau kau mau silakan. Kita bersama-sama mencumbui masing-masing yang sudah menjadi bagian kita. Bagaimana, Bung?” Seno menawariku.

Aku tersenyum. “Terima kasih,” ucapku.

Akhirnya kuambil Orang-orang Bloomingtonnya karya Budi Dharma yang kulihat masih bersegel plastik di rak buku milik Seno. Di sanalah akhirnya kutahu apa tujuanaku sebenarnya berada di dunia ini. Membahagiakan orang lain atau untuk membahagiakan diri sendiri?

Halnya yang kulihat saat ini Seno begitu menikmati dunianya. Sedang mencumbui puisi-puisinya yang liar dibuatnya itu. Sedang aku tenggelam dalam bau harum buku Orang-orang Bloomington.

Usai itu aku diajaknya oleh Budi Dharma melayang ke sebuah negeri bermenara Jam Big Ben. Entah aku sadar atau tidak saat itu. Yang aku tahu kepalaku pusing setelah mencium bau yang dikeluarkan buku itu. (*)

 

Kak Ian, penulis Fiksi Anak dan Remaja. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

Advertisements