Cerpen Adi Zamzam (Tribun Jabar, 18 Maret 2018)

Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah ilustrasi M Nurhamzah - Tribun Jabar.jpg
Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah ilustrasi M Nurhamzah/Tribun Jabar

ANGIN berembus sepoi, namun cukup kuat untuk menguarkan harum semerbak bunga-bunga yang sedang bermekaran di pucuk pepohonan depan sekolah dasar itu.

“Karena harumku, kalian lihat saja nanti, kumbang-kumbang pasti akan berebut singgah ke sini. Karena kecantikanku, kalian perhatikan saja nanti, kupu-kupu pasti takkan mau kalah untuk mencicipi maduku.”

Aku, yang sering kesepian dalam deraan umur yang sudah sekian lama ini, hanya terdiam. Drama seperti ini sebenarnya sudah sangat aku hafal. Tentu aku sadar bahwa takdir semacam ini harus bisa kami terima dengan lapang dada jika tak ingin terus-menerus merana. Toh sakit telinga ini hanya semusim.

Tapi kalian tentu bisa membayangkan seberapa kadar penderitaan telinga kami ketika musim itu tiada henti mengirimkan angin panasnya.

“Karena kami tidaklah seperti makanan hama semata.”

“Karena kami bukanlah hanya penambah kesuburan tanah sebelum punah.”

Maka ketika musim yang memekakkan telinga itu hampir tiba, kami pun harus sudah mempersiapkan mental untuk mendengarkan kalimat-kalimat menyakitkan semacam itu.

***

KETIKA itu hujan mampir lama di beranda kami. Dengan sifat sejuk dan kebeningan menerjemahkan cahaya kepada mata, ia menitipkan sebuah sajak yang entah bagaimana langsung bisa menghunjam ke dalam kalbu kami.

 

Sebab kelopak mata

butuh sekian detik untuk terbuka

dan menemukan cahaya

 

“Persoalan akrobatik bahasa memang selalu menimbulkan kerancuan dalam penyampaian makna,” gumamku, di depan serpihan hujan itu.

“Ah, bias makna itu sebenarnya adalah masalah hatimu sendiri. Segala yang terlihat pada akhirnya menjadi bias lantaran tercampur aduk dengan masalah masing-masing individu.”

Seberkas cahaya yang memancar terang dari bulir tubuhnya membuatku kesilauan, tak mampu berujar apa-apa.

“Apa?” tanyanya.

“Aku tak mengerti. Kau masih saja seperti itu. Seolah kau adalah utusan langit yang butuh kebijaksanaan level tertentu jika ingin memahami bahasamu.”

“Sabarlah,” ujarnya, :kau pasti akan mengerti maknanya, saat waktunya tiba,: jawabnya dengan gaya filosofis lagi.

“Jadi aku harus menunggu, hanya untuk memahami celotehmu yang sok tahu itu? Duh, seolah-olah perkataanmu dapat berkecambah dalam pemahaman saja.”

“Memang,” tangkisnya. Dengan nada amat yakin.

Dan aku mulai mual. Toh ia hanyalah seorang pengembara yang setelah ini akan hilang entah ke mana.

***

KAMI masih menunggu ketika musim kemarau membawa bisikan-bisikan riuh nan jahat. Kami bersorak ketika gerumbul bunga-bunga sudah mulai berguguran, mengering, dan kemudian kembali menyatu dengan tanah. Diam-diam ada doa jahat yang mengendap-endap dalam gelap—semoga bunga-bunga nan sombong itu tak pernah muncul lagi!

Tapi tentu saja aku sadar bahwa doa itu takkan terwujud jika siklus kehidupan masih berjalan seperti biasanya. Mestinya memang ada kebiasaan yang harus diubah untuk mendapatkan perubahan yang pasti.

Ketika kubisikkan hal itu kepada teman-teman, kami sepakat menamainya Revolusi untuk Perubahan Masa Depan. Musim kemarau kali ini pun menjadi musim paling berat yang harus dilewati, hingga tubuh kami terlihat mengerut lantaran kekurangan bahan makanan.

“Apa kalian tak merasa sedang menyiksa diri sendiri?” akar-akarlah yang pertama kali memprotes tindakan kami. Itu wajar saja, sebab bahan makanan yang mereka setorkan sebagiannya kami tolak—hingga konon membuat mereka “hamil palsu”. Tapi bukannya senang dengan beban kerja yang bertambah ringan, mereka justru mengkhawatirkan stamina pohon yang mereka topang.

“Tanpa makanan dan gizi yang cukup, bagaimana ia bisa menopang kehidupannya dengan baik? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?”

“Kami masih menunaikan tugas kami,” kami pun berkeras dengan rencana itu. Tak peduli kepura-puraan itu telah diketahui.

***

KETIKA pertumbuhan sang pohon tersendat, angin yang lewat terdengar mengeluh sayu perihal bunga-bunga yang tak dapat lagi mereka jumpai. Kami juga bersorak tatkala mendengar lagu-lagu patah hati dari para kumbang yang terdera rindu dan rasa kehilangan.

“Andai saja mereka mau mengakui jasa kita, sedikit saja,” gumam salah seorang sejawatku.

Dan kesedihan yang mereka tanggung itu semakin kompleks tatkala beberapa manusia yang biasa memuji-muji kami (lebih tepatnya hanya memuji-muji bunga) mendadak menyatakan bahwa kami (satu pohon) hanyalah parasit lingkungan yang seharusnya disingkirkan demi kebaikan bersama. Kami baru menyadari bahwa musim ulat telah membawa sejumlah pasukan herbivora yang kembali mengingatkan kami dengan ejekan-ejekan yang amat menyakitkan itu.

Dasar makanan ulat!

Hanyalah daur ulang kotoran ulat!

Didih amarah akhirnya sempurna membakar kesabaran kami. Sampai di sini, ketika kami berhasil membuat bunga-bunga itu tak pernah lagi muncul ke dunia, kami benar-benar merasa senang dan puas. Apakah kalian masih bisa mendengar semua ejekan itu lagi, sekarang?

Seperti ada yang meletus-letus di udara, dan bingarnya memenuhi pendengaran. Diam-diam kami pun bersorak.

“Hidup, para kuli!!”

“Hidup, para budak!!”

Semacam teriakan sarkastis untuk merayakan kemenangan berhamburan tak karuan.

***

SEMUANYA berubah hampa tatkala pohon tempat kami bersemi rebah ke tanah dengan pasrah. Oksigen mulai menciut. Sekujur kulit terasa mengering dengan begitu cepatnya. Kami berlomba tersengal. Sungguh tak disangka jika akhirnya mereka benar-benar memutuskan menebang dan menghilangkan kami.

Dalam perjalanan menuju sekarat itu kami sempat mendengar alunan nyanyian merdu kaum rerumputan, yang persis berada di bawah tubuh kami yang telah tumbang.

 

Mengapa mesti risau dengan hidup

yang kembangnya hanya mekar satu pekan

Cukuplah dirimu menghirup udara segar

Dan setelah tuntas manfaat

Kematian adalah kado berbungkus biru

 

Nyanyian yang terdengar seperti ejekan. Tawaku tersulut ketika seekor kambing tiba-tiba datang melahap mereka dengan bahasa kerinduan tak terperi. Seolah nyanyian itulah yang justru memanggil para penguasa rantai makanan itu.

Hampa. Setelah itu aku benar- benar disergap perasaan hampa yang semesta. Aku merasa ada yang telah tersia-sia.

Kubayangkan, andai diriku adalah kaum rumput yang malang itu, pasti diriku sekarang akan menjalani sebuah perjalanan panjang seperti yang pernah dikatakan mereka, “Seharusnya kalian bisa melihat kebahagiaan dari sudut pandang lain. Bahwa kebahagiaan tak melulu bermuara dari pujian semu.”

Lagi-lagi kalimat itu terdengar seperti menyindir. Apalagi kemudian mereka meneruskan dengan…

“Mempersembahkan sekuntum bunga seharusnya adalah kebahagiaan paling besar bagi kita,” sembari menari bersama angin yang sependapat dengan kalimatnya. Bunga nan halus yang baru saja mekar di ujung tubuhnya terlihat seperti mahkota yang menambah keelokannya.

“Bagaimana jika bunga itu justru membuat hidupmu terasa buruk dan tak berarti?” protesku.

“Itu lantaran lagi-lagi kalian tak mau memandang segala sesuatu dari sudut pandang kedua.”

Percakapan itu menghilang seiring dengan perginya seekor kambing yang masih saja mengembik kelaparan.

Sementara dalam detik-detik menjelang padamnya penglihatanku, sebuah doa telah melesat sedemikian cepatnya ke udara. Semoga saja di kehidupan selanjutnya aku dikaruniai bunga-bunga yang tahu berterima kasih dan sadar akan asal-usulnya.

 

Banyuputih – Kalinyamatan, Jepara, 2017

Adi Zamzam lahir di Jepara, Jateng, 1 Januari 1982. Cerpennya tersebar di Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, dan lain-lain. Bukunya antara lain Menunggu Musim Kupu-kupu-Kumpulan cerpen (Basabasi/DIVA Press Grup, 2018).

Advertisements