Cerpen Maya Sandita (Rakyat Sumbar, 17-18 Maret 2018)

Teh Senja Ini ilustrasi Istimewa
Teh Senja Ini ilustrasi Istimewa

Kala itu, Ifah duduk di bangku depan rumahnya. Langit berwarna jingga, masih cukup hangat dan mesra untuk dinikmati hawanya. Ia tak sendiri, secangkir teh setia di atas meja setiap saat begini. Ifah suka menghabiskan senja menjelang magrib tiba, sebab senja punya banyak arti di hidupnya.

Seperti senja yang banyak dilewatinya, ia tak pernah jemu dengan kenangan yang datang tanpa diundang, seolah ingin menyesap teh dengan kue hangat yang baru matang. Entah siapa yang bercerita-senja, dirinya, teh dalam cangkir atau bahkan kenangan itu sendiri yang tak ingin dirinya dilupa. Kadang Ifah tak sanggup tika ingatan menyedihkan pulang dan merangkul tenang hatinya yang kian redup. Namun itulah yang paling sering terjadi di kala senja. Ifah menahan rasa sekuat tenaga. Rasa yang menyakitkan namun harus ia telan.

“Duduklah di dalam, Bu, masuklah. Sesekali menunggu magrib di dalam rumah,” dari arah belakang terdengar sebuah suara. Sebentar kemudian terasa di pundak Ifah telapak tangannya.

Ifah menoleh, tersenyum sekilas kemudian membalas, “Ibu suka menunggu matahari pulang. Nanti Ibu masuk kalau azan sudah berkumandang.”

Perempuan itu tidak masuk ke dalam rumah, ia duduk di samping ibunya yang selalu berwajah gelisah. Ia tak memaksa untuk masuk ke dalam rumah, sebab ini bukan kali pertama permintaannya ditolak Ifah.

“Apa yang Ibu ingat sore ini?”

Ifah tak menjawab.

“Ayah?”

Ifah tetap tidak menjawab sebab tiba-tiba ia tersedak, lalu tersenyum sejenak. “Ayahmu telah lama kulupakan. Ia seperti gula dalam teh seduhan.”

“Ibu tak bisa membuktikan dengan cara seperti itu. Kenangan Ibu siapa yang tahu? Semuanya hanya ada di kepala Ibu.”

Ifah menyesap tehnya, lebih pahit terasa.

Sebentar anak perempuannya memijit pundak Ifah lantas masuk ke dalam rumah. Ifah kembali pada lamunannya yang sangat resah.

Benar kata anak perempuannya, tidak ada yang tahu kenangan yang sedang diingat Ifah di kepala. Sepahit apapun teh yang diseduh, namun ingatannya masih memahami bagaimana rasa manis dengan utuh.

Dua puluh tahun sudah berlalu semenjak suami Ifah pergi entah kemana. Banyak tetangga bahkan orang kampung sebelah yang datang ke rumah Ifah membawa kabar tentang suaminya. Ada yang mengatakan bahwa suaminya tertembak musuh dan meninggal dunia, ada yang mengatakan suaminya tenggelam saat menyeberang ke pulau Papua, bahkan ada yang mengatakan suaminya telah menikah lagi untuk kedua atau tiga kalinya. Bagi Ifah, jika belum ditemukan jasad sang suami di hadapan, ia belum percaya atas berita kematian. Begitupun jika belum ada seorang wanita yang datang mencarinya dan mengaku bahwa ia adalah istri suaminya, Ifah tidak akan percaya berita pernikahan. Begitulah selama ini Ifah bertahan.

“Aku akan pulang sore ini, seduhkan teh hangat dengan sesendok gula. Kalau aku tidak pulang sore ini, mungkin besok sore atau lusa. Selama belum kau lihat bayanganku di ujung jalan sana, simpan gula itu, mungkin akan kita butuhkan untuk yang lain suatu waktu.”

Kata-kata demikian abadi dalam ingatan.

Sekarang gula di dalam toples sudah sering kali diganti. Anak perempuannya selalu mengisi penuh toples dengan gula yang baru setelah beberapa minggu. Ia tahu Ifah tidak pernah lagi mempedulikan gula itu.

Sampai pada sore ini, saat mikrofon dari masjid terdengar diketuk beberapa kali, sebelum azan terdengar dikumandangkan dari pengeras suara, lima orang pemuda menghampiri rumah Ifah dengan tergesa-gesa, mereka membawa selembar kain usang, seragam perang.

Tek Ifah,” ujar salah seorang dengan seragam di tangannya. Diserahkannya ke tangan Ifah dan diperlihatkannya sebuah nama, “Ali Sutan Mungko”.

Dengan tangan bergetar uluran seragam itu ia sambut, disapunya nama yang dibordir itu dengan lembut. Seragam yang tak utuh itu diperhatikannya, air bertumpuk seketika di pelupuk mata.

“Kami temukan di tepi sungai besar di Lampung,” kata seorang pemuda lain yang kaki kanannya buntung, “Awalnya kami tanyakan pada Rajo Pagang, katanya, ini kepunyaan anak buahnya yang dulu hilang.”

“Beliau menyuruh saya mengantarkan mereka ke rumah Tek Ifah. Barangkali kabar yang tak jelas selama ini cukup membuat gelisah sepanjang hari.”

Ifah tersenyum. Sulit bagi dirinya sendiri untuk memastikan apakah itu senyum bahagia-lega karena kabar suaminya telah ia ketahui, ataukah senyum itu untuk rasa rindu yang sedikit terobati lewat seragam ini? Sementara jasad tak ada di hadapannya.

Perempuan berusia empat puluhan itu berbalik arah setelah menyuruh para pemuda itu masuk dan duduk. Segera dihampiri anak perempuannya dan berkata, “Setelah salat magrib, buatkan lima cangkir teh manis dengan sesendok gula di dalamnya. Ayahmu sudah pulang.”

Lantas Ifah masuk ke dalam biliknya, menyerahkan sujudnya, menumpahkan air matanya, sembari memeluk seragam suaminya. Alfatihah diantarkannya dengan khusyuk dan berulang-ulang. *

 

Padangpanjang, 20 Maret 2017

Maya Sandita. Lahir di Pekanbaru 1994. Lulusan Prodi Seni Teater ISI Padang Panjang (2019). Saat ini tergabung dalam FPL (Forum Pegiat Literasi) Padangpanjang, KOPI TANDA (Komunitas Penulis Tanah Datar), PCRBM (Penulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau), Bagindo Rajo (Komunitas Pendongeng Batusangkar), Street Theatre dan Teater Ode Batam. Beberapa karyanya pernah diterbitkan di beberapa antologi cerpen dan beberapa media massa. Pada 2018 juara 1 Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau tingkat provinsi Sumbar.