Cerpen Jemmy Piran (Koran Tempo, 10-11 Maret 2018)

Harin Botan ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo-ECB
Harin Botan ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Wanita beraroma kerang, apa kamu masih menunggu saya dalam laut?

Berdiri di bibir pantai ini sambil memandang pada kejauhan, bayangan perempuan itu memenuhi kepala saya. Pertemuan pertama, secara tidak sengaja itu, masih saya rahasiakan dari sesama teman penyelam. Memang sudah saya pikirkan, saya tetap merahasiakan dari mereka. Karena, jika saya menceritakan, mungkin sekali mereka akan memilih berhenti menjadi penyelam. Memilih bercocok tanam untuk menyambung hidup, barangkali. Atau memilih pekerjaan selain menjadi penembak ikan. Atau, jika saya bercerita, mereka akan menuduh saya tidak beres. Mereka sendiri belum tentu menerima kenyataan bahwa ada perempuan cantik yang selalu saya temui setiap kali turun menyelam. Di dalam laut di hadapan saya inilah segala cerita tentang pertemuan, percintaan, dan perayaan pernikahan yang meriah telah berlangsung. Semua tetap rahasia dan akan tetap saya rahasiakan dari siapa pun.

Hasrat saya selalu membuncah setiap menelusuri kedalaman laut dangkal, karena di sana saya berjumpa dengan perempuan itu. Yang berdagu tirus dan berbibir lembap beraroma agar-agar ketika saya telusuri dengan ciuman. Aroma asin selalu membuat saya ingin kembali dan membiarkan kepalanya bersandar di dada ringkih saya. Atau membiarkan bibirnya menghunjam sekujur tubuh saya dengan hasrat yang penuh. Tapi, kini, laut di hadapan saya ini bagai bara dan, ketika saya menyentuhnya, tubuh saya panas.

***

Mula-mula saya tertegun oleh sekelabat bayang yang melintas cepat. Dada saya bergetar, dan saya tidak bisa memastikan. Semuanya kembali seperti biasa. Saya kembali ke permukaan laut. Mengelap kacamata selam yang sudah tampak tua dan kabur, lantas kembali meluncur ke bawah dengan cepat. Saya memburu seekor ikan kakap yang terlepas dari mata panah. Saya menelusuri sisi batu dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Jika sekelebat ikan dengan gesit berlari menghindar, saya pastikan, tidak pernah bisa terlepas dari bidikan. Saya belum bisa tenang jika ikan yang pernah terlepas dari mata panah saya belum menemukan ajalnya di ujung tombak ini lagi.

Sebagai lelaki yang sudah lama menyelam, saya tahu bagaimana cara mengambil sudut terbaik untuk membidik seekor ikan yang berada di bawah terumbu karang. Itulah sebabnya mengapa jiwa ikan selalu berakhir di tangan saya.

Tapi, ada satu hal aneh yang sampai sekarang belum saya pahami. Bahwa sepertinya ikan dengan suka rela menyerahkan nyawanya tanpa harus bersusah memburunya dengan terburu-buru. Semakin ke sini, ikan-ikan tidak lagi menghindar, malah justru semakin berkitaran di sekitar saya. Dan, tak sampai sejam, tali sepanjang sedepa sudah penuh dengan ikan-ikan kakap. Saya tidak bersusah payah mengejar ikan. Atas dasar itulah hasrat saya selalu membuncah untuk turun ke laut. Dan, melihat tangkapan saya selalu melimpah, warga lantas menyandar gelar baru untuk saya sebagai penembak sejati.

Pada suatu petang, saat matahari tenggelam dalam genggaman awan. Saat memanah ikan terakhir, sebelum saya kembali ke permukaan untuk mengambil napas, seorang perempuan berdiri di sisi batu, menatap saya.

Saya terkejut. Jantung saya bergetar hebat. Saya mengumpulkan kekuatan pada kaki, lalu dengan satu hentakan, saya mengambang ke permukaan. Saya tidak percaya.

Setelah mengambil napas, saya menenggelamkan kepala ke dalam laut. Ia masih berdiri di sana, menatap saya dan memberikan sebuah senyuman. Menawan sekali. Saya percaya, siapa pun akan luluh dan bersedia bertekuk lutut pada kecantikannya.

Begitu saja ia merentangkan tangannya, seperti hendak mengundang saya agar mendekat. Saya merasa seperti ditarik oleh sebuah kekuatan mistis, dan begitu saja diluar kendali, saya berenang ke arahnya. Saat saya hendak mencapainya, ia berenang menjauh, bersembunyi di balik batu, melongokkan kepala, lalu memberikan senyum yang begitu menawan. Senyuman mengundang.

Saya mengejarnya. Ia semakin gesit menghindar.

Ia menghilang di balik batu. Saya putus asa, dan hendak kembali ke permukaan, dari arah belakang ada tangan mungil, lembut, menangkap dan memeluk saya. Rambutnya beraroma kerang. Wangi yang menenteramkan.

“Dapat kau,” bisiknya dekat daun telinga. Ia tertawa. Saya bergidik. Tangan saya langsung memegang tangannya. Ia semakin erat memeluk saya.

“Siapa kamu?”

“Kekasihmu.” Tanpa beban ia berujar. Saya agak terkejut, tapi bisa menguasai diri. Sebelum saya menyeringai, ia sudah mencium saya. Lelaki mana yang bisa menolak sebuah ciuman dari wanita asing yang berparas menawan? Wanita yang seolah siap menyerahkan dirinya dengan utuh untuk dijamah. Saya membalas ciumannya dengan rasa gugup.

Setelah ciuman panjang, ia berujar manja, “Apa kamu mencintaiku?”

“Saya mencintaimu.”

“Apa kamu percaya bahwa ada sesosok makhluk yang menjaga segala sesuatu di dalam laut? Katakan saja seperti ini, dia yang mengendalikan alam dalam air. Hmm, ya, semacam makhluk tak kasatmata.”

Saya berpikir sejenak. “Antara percaya dan tidak, Nona. O, ya, kita belum berkenalan, nama kamu siapa? Apa saya panggil dengan sebutan nona saja?”

“La Calca. Rerata nama kami di sini menggunakan nama ilmiah. Dari nama Latin.”

“Nama yang manis.”

Kami terdiam cukup lama. Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan. Saya hanya diam dan sesekali menatapnya.

“Saya ingin memperkenalkan kamu ke orang tua.”

Usai berkata demikian, ia menggandeng tangan saya, lalu kami berenang dan terus berenang. Sesekali saya menoleh ke belakang dan menemukan segerombolan ikan mengikuti kami dari belakang. Ikan-ikan itu tampak bahagia.

“Apa yang mereka inginkan dari kita?” tanya saya sambil menunjuk ke arah ikan di belakang.

“Mereka bahagia karena kehadiran kita,” ia berkata tapi seperti ada yang tidak selesai dalam nada kalimatnya. Saya tidak sempat bertanya lagi karena sudah memasuki sebuah gerbang. Di sisi kiri dan kanan gerbang, para penjaga menghormat takzim begitu kami lewat. Mereka menyambut kami dengan wajah berbinar.

Begitu pintu dibukakan, seorang lelaki dan perempuan duduk manis di atas takhta, menyambut kami. Dari pancaran wajah, saya menduga mereka sudah mengetahui kedatangan kami. Sang lelaki segera turun dan merentangkan tangannya. Kami berpelukan, dan begitu juga dengan sang wanita.

Kami cepat akrab dengan obrolan-obrolan tentang ikan-ikan yang berada di dalam laut. Sang lelaki mengisahkan kepada saya tentang perburuannya. Ia pernah menjadi seorang pemukat dan pernah dibenci oleh orang-orang hanya karena tangkapannya selalu melimpah. Tapi ia tidak pernah membenci orang-orang yang menaruh benci terhadap dirinya. Dengan dada terluka karena cacian warga, ia masih sempat menjelaskan kepada mereka bahwa menangkap ikan itu tidak hanya menggunakan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memanfaatkan warisan turun-temurun.

Usai bercerita, saya dan La Calca berkeliling. Saya sangat takjub dengan tata ruang di tempat ini. Dengan singkat kata bisa dikatakan seperti ini: segala yang ada, yang tampak kasatmata adalah sebuah perpaduan yang memanjakan mata.

“Sepertinya kamu harus kembali dulu,” ujarnya.

“Ikutlah bersama saya.”

“Nanti ada waktunya saya akan ikut bersama kamu, Sayang.”

Sepertinya ia tak ingin melepaskan saya, ia cemberut. Tapi cepat ia menguasai diri agar terlihat biasa.

“Besok saya menunggu kamu di sini.”

***

Sejak pertemuan dalam laut yang tidak pernah saya duga itu, saya merasa ada keterikatan penuh dengan laut. Ketika saya berada di darat, saya merasa ia seperti terus mengikuti ke mana langkah bergegas. Dan, setiap kali turun menyelam, saya selalu bertemu dengan wanita itu. Ia selalu menunggu saya di tempat kami bertemu pertama kali.

Ia senang menemani saya menembak ikan. Dan, yang paling saya senang dari kehadirannya di sisi saya adalah ikan-ikan seperti begitu jinak. Ia hanya merentangkan tangan maka segerombolan ikan akan mengitari kami. Lalu selanjutnya ia akan menyuruh saya memilih untuk menembak ikan yang mana.

Sesekali ia mengajak saya berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah saya singgahi. Ia selalu berhasil memenangkan hati saya dengan keindahan bawah laut. Bahkan pernah saya tinggal bersamanya beberapa hari. Kami dibiarkan tidur bersama oleh orang tuanya.

Di tanjung, kami duduk berdua sambil memandang senja yang kuning berkilauan. Saya tidak tahu di mana tepatnya kami saat ini. Tapi, yang pastinya ini bukan dunia khayalan karena saya bisa mendengar dengan jelas debur ombak di bawah sana. Sebelum matahari tenggelam tadi bisa saya rasakan hangatnya.

La Calca melirik ke arah saya, kemudian memandang jauh ke depan, mendesah, seolah-olah ia seperti sedang menanggung beban yang amat berat. Setelah diam beberapa saat, ia menarik lengan saya lebih mendekat.

“Apa yang kamu pikirkan?”

Ia menarik napas panjang, mengembuskan, lalu bertanya, “Apa kamu percaya bahwa dalam hidup ada kebetulan?”

Saya menggangguk tapi ragu.

“Kamu tidak ingin hidup di sini? Maksudnya bersama kami dalam laut.”

Saya tercengang mendengar pertanyaannya. Kenapa sekarang ia meminta saya tinggal bersamanya di dalam laut? Kenapa? Apa karena kami telah menikah? Sebelum menemukan jawaban, ia sudah memandang ke arah mata saya. Lama sekali. Saya juga memandangnya. Dan saya menemukan sesuatu dalam liang matanya. Mata yang sarat dengan luka.

“Ceritalah apa yang ingin kamu bagikan.”

Sekali lagi ia menarik napas, mengembus ke arah wajah saya.

“Saya tidak percaya akan adanya kebetulan. Perjumpaan kita bukan kebetulan. Sejak dulu leluhurmu selalu memerhatikan kehidupan kami di sini. Dan, itu membuat kami cukup bahagia dan tetap melimpahi berkah-berkah dari laut untuk kehidupan mereka. Tapi, setelah generasi leluhurmu berlalu, perlahan-lahan orang-orang mulai melupakan kami. Itu menyedihkan.

“Dan, mungkin ini kedengaran kejam: kamu adalah hadiah atas keserakahan orang-orang terhadap laut. Itu sebabnya kenapa saya berkata perjumpaan kita bukan kebetulan. Pernikahan kita adalah perayaan terbesar yang pernah terjadi karena kamu adalah satu-satunya orang yang bersedia dengan tulus untuk dinikahkan dengan putri dari ayah saya.”

Ia memberi jeda, menelan ludah.

“Apa kamu tahu siapa saya?”

“Tahu.”

“Lantas?”

“Saya tidak peduli. Saya sudah membutakan dan menulikan mata dan telinga. Kalau kamu berkenan, kita pergi ke kampung, tinggal di sana.”

“Dunia kita tetap berbeda.”

“Bukankah kita sudah menikah?”

“Kita hanya terikat secara jiwa. Saatnya nanti, jiwamu yang telah diikatkan itu akan menyatu kembali dengan tubuhmu. Mau tidak mau, kamu akan meninggalkan sanak kerabat di kampung dan akan bergabung bersama kami di sini.

“Kami sudah melakukan pertemuan akbar membicarakanmu. Dalam pertemuan itu mereka menghendaki agar kamu menjadi seperti yang mereka inginkan. Saya keberatan. Saya meyakinkan mereka bahwa saya bisa berbicara baik-baik, mengajakmu kemari dan tinggal bersama kami selamanya. Tanpa harus membuat dirimu terseret arus, atau tali membelit sekujur tubuhmu, atau menenggelamkan tubuhmu dalam gulungan ombak sampai kamu meregang nyawa. Mereka setuju dengan usulan saya. Dan, mereka menawarkan segala kenyamanan untuk kamu. Kamu hanya perlu hilang selama-lamanya dari kehidupan di kampungmu, dari rutinitasmu sebagai manusia yang membosankan itu.”

Ia menggenggam tangan saya. Saya menatap matanya, tapi pikiran saya mengambang. Saya mengusap matanya karena matanya berair. Mungkin perasaan haru menyergap dirinya.

“Apa kamu tidak ingin hidup dan tinggal bersama kami?”

Sekali lagi saya menatap matanya. Saya temukan ada sesuatu yang pasti dari sorot matanya. Seperti sesuatu yang bisa membebaskan jiwa saya dari segala keterikatan. Di ujung bisu saya mengangguk pasti.

Setelah menghilang dua hari dari kampung dan ditemukan kembali oleh salah seorang warga di dalam tubuh pohon bakau, rumor langsung beredar. Mereka terang-terangan mengatakan bahwa jiwa saya telah “diikat” oleh harin botan. Saya tidak menjawab.

Tetua di kampung langsung melakukan ritual pembebasan jiwa saya dan menangkal agar saya dijauhi dari segala pengaruh. Saya hanya diam. Saya tahu mereka tidak bisa mengembalikan jiwa saya. Mereka membuang semua peralatan menyelam milik saya.

Kini, saya tidak lagi melaut karena hamparan laut di depan saya terlihat bagai bara dan terasa panas saat disentuh. Tapi, hasrat untuk datang ke pantai ini selalu membuncah, mengalahkan larangan itu. Walau mereka sudah menangkal dengan ritual-ritual yang tiap bulan dilarungkan ke laut, saya yakin ia, kekasih saya, akan membawa saya ke dunianya, dunia bawah air. Sebuah dunia yang tidak perlu menuntut saya untuk bekerja lebih keras karena semuanya telah disediakan. Bagaimana juga, suatu saat saya akan ke sana, sebab mereka telah mengikat jiwa saya.

“Apakah ritual yang mereka lakukan membuat jalanmu kepada saya untuk bertemu di pantai ini secara diam-diam telah tertutup? Jangan khawatir, saya akan menemuimu dengan cara apa pun, bukan hanya karena kita telah terikat, tapi sebagai hadiah agar orang-orang saya tahu bahwa ada kehidupan lain dalam air, yang selalu menjaga keseimbangan laut.”

Wanita beraroma kerang, apa kamu masih menunggu saya dalam laut?

 

Waimana I, September 2017

 

Catatan:

Harin Botan: makhluk penjaga laut yang berwujud perempuan cantik.

 

Jemmy Piran lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI Universitas Nusa Cendana, Kupang. Beberapa tulisannya, puisi dan cerpen, tersiar di sejumlah media. Kini ia tinggal di Waimana 1, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Advertisements