Cerpen Zainul Muttaqin (Radar Surabaya, 04 Maret 2018)

Ulat Mata ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Ulat Mata ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Penyakit yang menyerang Sulaep bukan penyakit biasa, semacam penyakit kiriman. Awalnya gatal biasa dari mata yang kiri hingga mata sebelah kanan. Tak dinyana, rasa gatal itu berubah jadi nanah. Lama kelamaan pecah jadi borok. Dan tiba-tiba saja ulat-ulat berdatangan secara ajaib, tanpa diketahui muasalnya.

“Penyakitnya tidak biasa.”

“Tidak biasa bagaimana?”

“Mata Sulaep digerogoti ulat. Makin hari mata itu membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap.”

“Sudah diperiksakan ke dokter?”

“Lebih tiga dokter mengobatinya. Tapi, tidak ada hasil.”

“Pasti penyakit kiriman.”

“Huss…. Jangan ngawur!”

“Aku yakin itu penyakit kiriman. Mata Sulaep menguarkan bebabuan tak sedap.”

“Allah yang memberi penyakit. Dia pula yang memberi obat. Kau tak perlu menyebar isu, biar tak ada prasangka yang bukan-bukan.”

“Orang-orang percaya kalau Sulaep kena santet. Penyakitnya tak lazim.”

Kurang lebih tiga bulan Sulaep menderita sakit mata. Tak ada yang bisa dilakukannya, kecuali terkulai di atas ranjang. Sebab sepasang matanya digerogoti ulat. Matanya bernanah dan menguarkan bebauan tak wajar. Ulat-ulat datang silih berganti menerkam dua bola mata Sulaep. Ia tidak lihai lagi memainkan persendiannya. Ulat-ulat itu melumpuhkan sekujur tubuhnya.

Pada waktu yang jauh sebelum kabar tentang santet dihubungkan dengan penyakit mata Sulaep itu menyebar. Malam sehabis waktu Isya, Sulaep berseteru dengan Arsap. Kedua lelaki itu saling menyumpal, menyerapahi satu sama lain. Gerimis jatuh di antara pertengkaran yang tak tanggung-tanggung seperti gelegar petir yang membelah angkasa. Sulaep mengayunkan celuritnya, hingga ujung celurit berlaras panjang tersebut berhasil merobek lengan kiri Arsap.

“Jaga baik-baik matamu! Aku tak suka kau lama-lama menatap istriku. Kalau tidak, kucongkel matamu!” Arsap berhasil membanting celurit tersebut. Lalu jari telunjuknya menodong mata Sulaep.

“Cuah!” Sulaep melempar ludah ke arah Arsap.

“Lihat saja. Kubuat busuk matamu! Bangsat! Awas kau!” Arsap mengancam. Nyala di matanya meradang.

“Kau ada-ada saja. Hahahah,” Sulaep melenggang pergi, meninggalkan Arsap sendirian dengan luka sabetan celurit di tangan sebelah kiri.

Hari kesekian belas sehabis pertengkaran itu. Tiba-tiba Sulaep merasakan gatal-gatal di mata sebelah kiri, lama-lama merambat ke mata sebelah kanan. Laki-laki berusia senja itu mengira kalau itu hanya penyakit mata biasa. Namun, lama kelamaan mata yang mulanya gatal berubah menjadi borok dan mengeluarkan darah berbau tak sedap.

Sulaep merasakan hebatnya sakit pada kedua matanya. Mata itu tak kunjung sembuh, malah penyakit itu semakin parah menggerogoti kedua matanya. Suatu malam yang larut, tubuh Sulaep menggigil. Mulutnya tak henti-henti mengumpat. Ulat-ulat berkeliaran di kedua matanya. Ulat-ulat itu seperti punya dendam tersendiri pada Sulaep.

“Kubalas kau Arsap!” kutuk Sulaep meledak-ledak.

“Arsap dukun santet. Awas saja kau!” mulut Sulaep kembali meradang, menyerapahi Arsap berkali-kali.

Sementara Arsap sudah lama menjadi seorang dukun. Tetapi tidak ada satu pun orang yang tahu apakah benar laki-laki pendatang biasa itu seorang dukun santet seperti yang dikoarkan Sulaep. Orang-orang hanya datang padanya bila mereka diserang penyakit gaib. Semisal kesurupan atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan persoalan jin.

Kelebihan Arsap membaca perkara gaib tidak lagi diragukan. Saat langit menggaris senja. Anaknya Lessap yang sedang bermain perang-perangan bersama kawan- kawannya seketika kejang-kejang. Tubuhnya membiru. Matanya membelalak. Tangannya mencakar-cakar. Bocah laki-laki berumur belasan tahun itu berteriak tak karuan. Mengetahui anaknya kesurupan, Lessap bersigegas mendatangi Arsap.

“Pulang saja. Anakmu sudah tiada,” kata Arsap tiba-tiba.

“Apa yang kau maksudkan?” Lessap seketika cemas. Laki-laki itu pulang.

Apa yang dikatakan Arsap mendapat pembenaran setelah Lessap tiba di rumah. Anaknya memang sudah tidak kejang-kejang lagi. Matanya benar-benar terpejam. Tubuhnya berubah dingin. Bocah laki-laki itu meninggalkan raganya saat langit tengah menurunkan gerimis.

“Tak mungkin kalau Arsap dukun santet.”

“Tapi, tak mungkin juga kalau Sulaep berbohong apalagi memfitnah.”

“Memangnya apa yang dikatakan Sulaep?”

“Katanya, Arsaplah yang menyebabkan matanya membusuk. Ia mengaku kalau Arsap yang menyantet dirinya.”

Mata Sulaep mengucurkan darah dengan bau busuk yang sangat menyengat. Ulat-ulat berdatangan satu demi satu memenuhi mata tersebut. Mata itu dimakan ulat, mulai mata sebelah kiri hingga mata sebelah kanan. Sulaep menahan hebatnya rasa sakit. Ia menjerit berkali-kali. Tetapi ulat-ulat itu seperti semakin buas mencabik mata Sulaep.

Belakangan ini Suminah, istri Sulaep itu berencana meminta Arsap mengobati suaminya. Tidak ada jalan lain. Satu-satunya dukun sakti yang belum dicoba hanya Arsap. Sudah banyak dokter dan dukun sakti dari semua pelosok angkat tangan pada penyakit yang terus bersarang di kedua mata Sulaep. Semua menyerah. “Bukan penyakit biasa!” kata mereka setelah berulangkali memeriksa mata Sulaep yang justru tambah membusuk itu.

“Arsap itu tukang santet. Jangan pernah kau memohon padanya!” kata Sulaep kepada Suminah sambil menahan nyeri di kedua matanya.

“Tak ada pilihan lain. Hanya Arsap harapan kau sembuh. Kalau pun ia tak bisa menyembuhkan, setidaknya Arsap memiliki jalan keluar atas penyakitmu itu.” Suminah membersihkan darah yang merembes lagi dari mata Sulaep. Selalu ada bau busuk setiap mata itu mengeluarkan darah.

“Lebih baik berkalang tanah dari pada harus berobat sama Arsap,” tukas Sulaep bengis. Bara dendam meletup-letup di dadanya. Pikirannya menuduh ulat-ulat yang menggerogoti matanya tak lain adalah kiriman dari Arsap.

Menjelang petang, Sulaep tertidur di atas ranjang. Suminah melangkah hati-hati menembus hujan yang baru saja turun. Kakinya melangkah begitu lekas menyibak genangan air yang setumit orang dewasa. Tujuannya cuma satu, rumah dukun sakti bemama Arsap. Setelah kurang lebih lima belas menit susah payah melangkah, ia tiba di halaman rumah Arsap. Dari ambang pintu Arsap mempersilahkan istri Sulaep itu masuk.

“Mata Sulaep kian hari semakin membusuk. Mungkin kau bisa menyembuhkannya. Semua sudah menyerah pada penyakit gaib tersebut. Hanya kau satu-satunya harapan Sulaep sembuh,” kata Suminah menjelaskan. Matanya berkaca-kaca. Air matanya tertahan.

“Separah apa penyakitnya?”

“Sangat parah. Mata Sulaep diserang ulat bertubi-tubi, ulat-ulat itu tak henti-henti menerkam,” suara Suminah terdengar merinding.

“Itu bukan penyakit biasa,” tukas Arsap enteng.

“Apa itu penyakit kiriman?”

“Ya, betul,” tukas kembali Arsap dengan nada ringan.

“Siapa yang menyantetnya?”

“Bukan. Bukan santet. Itu penyakit kiriman. Kiriman dari Allah.” Arsap menegaskan.

“Bukankah semua penyakit datangnya memang dari Tuhan?”

“Ya, betul.”

“Lantas, bagaimana menyembuhkan penyakit mata Sulaep? Ulat-ulat itu tak kunjung hilang. Selalu datang tiba-tiba. Menyerang dan terus menyerang tanpa rasa ampun,” suara Suminah bergetar. Ia menjatuhkan air matanya. Pada malam-malam tertentu, ulat-ulat itu memang datang memakan daging di bagian mata tersebut. Setelah merasa kenyang ulat-ulat itu tiba-tiba saja menghilang. Dan akan datang lagi pada malam-malam yang tak bisa diduga.

Sulaep tergolek kaku di atas ranjang. Mata itu tak habis-habisnya mengeluarkan darah. Sulaep merinding karena luka di kedua matanya adalah perkara amat besar baginya. Bukan masalah hebatnya sakit yang kerap menyerang, tapi lebih karena seolah tak mungkin bisa disembuhkan dengan apa pun dan siapa pun.

Tidak ada yang tahu bagaimana ulat-ulat itu datang. Tiba-tiba saja ulat-ulat yang ukurannya lebih kecil dari semut itu ada setelah malam ketiga penyakit itu tumbuh. Ulat yang tidak biasa. Ulat yang tiba-tiba datang, dan tiba-tiba pula menghilang.

“Ulat-ulat itu hanya suka menyerang mata yang selalu menggoda istri orang. Tak ada obat, kecuali taubat,” demikian kata Arsap, tanpa punya perasaan apapun.

Setibanya di rumah. Istri Sulaep tersebut kaget bukan kepalang. Matanya terbelalak. Urat di tubuhnya seketika melumpuh bersamaan dengan ulat-ulat yang mengoyak mata sang suami. Dua bola mata Sulaep dibanjiri ulat-ulat buas yang jumlahnya ribuan dan tak henti-henti menerkam. (*)

 

Pulau Garam, 2017

Penulis adalah lulusan Studi Tadris Bahasa Inggris STAIN Pamekasan.

Advertisements