Cerpen Syaalma Difatka Qurota’ayun (Lampung Post, 04 Maret 2018)

Membalikkan Takdir ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Membalikkan Takdir ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

“Mala, kamu sudah ngurus bidik misi untuk SNMPTN?” Sebuah suara mengagetkanku dari belakang, dan kudapati Kalma sedang menatap serius ke arahku.

“Belum Kal, kamu gimana? Bukannya kata Bu Indah sampai bulan September,” jawabku mengingat ucapan guru BK itu setiap kami tanya mengenai bantuan untuk kuliah.

“Belum Mal. Tapi, kata Mia anak IPA 1, mereka sudah selesai ngurusnya, tinggal tunggu pengumuman SNMPTN nanti. Enak banget mereka diurus semuanya sama guru-guru. Gak seperti kelas kita yang gak dianggep dan terbelakang,” ucap Kalma kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ya sudah kita tanya aja yuk ke BK!” ajakku sambil menarik tangannya dan bergegas ke luar kelas.

Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga kecil yang bisa dibilang tidak berkecukupan dalam hal ekonomi. Kakak perempuanku bekerja paruh waktu di sebuah toko swalayan, sedangkan ayahku hanyalah seorang buruh tani. Ibuku sering sakit-sakitan, tapi kami tidak tahu apa penyakitnya karena ia tidak ingin dirawat di rumah sakit dan menghabiskan banyak biaya.

Satu-satunya impianku adalah berpendidikan tinggi agar dapat membalikkan takdir dan menjadi seseorang yang sukses dan membahagiakan kedua orang tuaku. Pilihan pertamaku adalah menjadi dokter, tetapi aku tidak terlalu yakin akan kemampuanku, dan akhirnya memilih farmasi pada pilihanku yang lainnya. Namun tetap saja, apa pun itu aku menginginkan pendidikan yang dapat mengubah takdir keluarga kami.

“Assalamualaikum, Bu, ini Aksamala dan Kalma,” ucapku diiringi salam seusai membuka pintu dan memasuki ruangan BK.

“Ada urusan apa anak IPA 4 ke sini? Buat onar lagi?” suara ketus itu malah menyambut kami tidak senang. Sejujurnya kelas kami tidak setiap hari membuat masalah. Dan lagi, itu semua karena hanya kelas kamilah yang dikucilkan dan seolah tidak dianggap oleh para guru.

“Kami mau nanya soal bidik misi, Bu. Sebentar lagi pendaftaran SNMPTN tutup, tapi kami masih belum diberitahu mengenai hal itu,” jawabku dengan nada kesal.

“Kalian dari mana saja? Kenapa tidak pernah ke sini?! Memangnya kalian sanggup mengisi semua persyaratan dalam waktu yang sebentar?” Guru itu malah membentak kami dengan wajah menyebalkan.

“Bu, kami sudah ke sini berkali-kali dan ibu bilang akan memberitahu kami nanti. Bahkan kemarin saat kami ke sini lagi, ruangan ini dikunci dan kami tidak diperbolehkan masuk,” jawabku sangat kesal. Sudah berkali-kali kami ke sini tapi dengan cueknya mereka tidak menggubris kami sama sekali.

“Kalian jangan bohong, kami ada di sini terus dengan ruangan ini tidak pernah terkunci. Lagipula kalian berdua berada di peringkat 70-an di sekolah atau mungkin hampir 100. Memangnya kalian tidak malu,” jawab guru yang sepertinya salah profesi itu.

“Untuk apa kami malu, Bu, kami kan mau belajar bukan berfoya-foya,” jawabku dengan nada bergetar dan mata yang mulai berair menahan marah. Guru itu tak menjawab atau bahkan mendengar ucapanku, ia hanya berjalan meninggalkan kami entah ke mana dan tak kembali lagi hingga bel masuk berbunyi.

“Udah Mal, sabar aja. Anggap saja kita mandiri dan tidak membutuhkan bantuan guru yang seperti itu,” ucap Kalma mencoba menenangkanku. Aku hanya mengangguk kecil dan memaksakan seulas senyum untuknya.

Akhirnya pendaftaran pun ditutup, dan kami berusaha keras tanpa bantuan dari para guru yang tidak mempedulikan kami. Ujian nasional kami lewati dengan tegang disertai usaha semaksimal mungkin. Hingga pengumuman SNMPTN pun keluar dan kembali membuat kami kecewa.

Aku belum ditakdirkan memasuki Universitas impianku hanya dengan mengandalkan nilai dan keberuntungan. Ini membuatku terpukul dan sempat berpikir untuk menyerah, tapi kuyakini ini hanyalah uji mentalku ‘tuk menjadi lebih kuat. Kali ini aku mencoba lagi dengan usaha yang melebihi sebelumnya, dan mencoba membuktikan bahwa aku bisa dengan usaha keras dan kegigihanku.

“Mala, gimana tadi soal SBMPTN-nya?” sebuah pesan singkat terpampang jelas di layar ponselku.

“Soalnya aja minta dingertiin, apalagi jawabannya. Mereka bekerja sama untuk memperkuat kepekaanku,” candaku pada Kalma yang cepat dibalas dengan emoticon cemberut olehnya.

Aku sudah belajar keras semampuku, walau merasa tidak yakin setelah melihat teman-temanku yang sangat yakin dengan bimbingan belajarnya. Kakakku bahkan sudah mengatakan padaku untuk bersiap menerima kenyataan terburuk bila aku tidak bisa kuliah tahun ini kalau aku tidak lulus pada tes kali ini.

Nilai ujian nasional kami sudah keluar dan ternyata nilaiku sangat pas-pasan. Ini membuatku semakin tidak percaya diri akan kelanjutan pendidikanku.

“Mala, pengumuman SBMPTN kapan?” tanya Kalma yang sudah merangkul bahuku dengan senyum manis terukir di wajah putihnya.

“Minggu depan Kal. Ngomong-ngomong kamu jadi kuliah di UNS?” tanyaku memastikan mengingat keberuntungannya yang dapat lulus pada SNMPTN dan masuk ke perguruan tinggi impiannya.

Dia mengangguk dan tersenyum senang,

“Tentu saja! Aku sudah mengharapkan jurusan Psikologi idamanku.” Aku hanya tertawa kecil melihat kelakuannya yang melompat kegirangan seolah baru menang undian miliaran rupiah.

***

“Udah buka pengumumannya, Dek?” Tanya kakakku membuyarkan lamunanku.

“Nanti kak, nunggu Kalma. Aku mau pinjam ponselnya untuk buka internet. Kan di poselku gak bisa.” Jawabku sambil menunjukkan sebuah ponsel tua hadiah ulang tahunku. Tepat saat kalimatku berakhir, suara ketukan diiringi seruan nyaring di pintu rumahku terdengar, dan dapat kupastikan itu adalah Kalma.

“Assalamualaikum, aku masuk ya. Ayo Mal cepetan aku penasaran!” serunya menghambur ke dalam rumahku tepat saat pintu rumah kubuka.

“Pelan, Kal, lagian kan aku yang mau lihat pengumumannya. Kenapa kamu yang histeris,” jawabku pelan sambil mengambil posisi nyaman di samping Kalma yang sudah terduduk manis di sampingku. Ia menyerahkan ponselnya dan menyuruhku untuk membuka sendiri pengumuman yang akan menentukan harapan atau kekecewaanku. Dengan mata terpejam aku menekan tombol enter dan secara perlahan menatap ponsel di hadapanku.

“MALA!” seruan Kalma seketika mengalihkan perhatianku tanpa sempat melihat pengumuman yang kutunggu.

“Masuk gak? Kalma, aku gak yakin! Gak masuk ya?” ucapku gugup dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.

“Ini lihat!” serunya sambil menyodorkan ponselnya tepat ke depan wajahku. Aku menatapnya secara perlahan dan tak dapat berkata-kata karenanya. Tanganku spontan menutup mulutku seolah takut aku akan berteriak dan mengagetkan semua orang.

“Selamat Mala! Calon bu dokter dari UI!” seru Kalma gembira sambil memeluk tubuhku erat.

“Kenapa, Nak? Keterima di mana?!” seru ibuku menghambur mendekatiku. Ia mengusap pelan wajahku yang ternyata meneteskan air mata. Sungguh aku tidak percaya, ini sebuah keajaiban.

“Mala masuk kedokteran UI, Bu,” Mala mewakiliku menjawab dengan senyum yang masih terhias di wajahnya. Ia terlihat tak kalah gembira dariku, dan aku bersyukur ia adalah sahabatku. Ibu seketika menangis haru dan memeluk erat tubuhku seolah tidak ingin melepaskannya. Aku masih tak dapat berkata-kata, lidahku kelu dan aku takut bila tahu bahwa ternyata ini hanya mimpi.

“Berarti kamu siap-siap lagi urusin persyaratan daftar ulangnya,” ucap Kalma membuyarkan semua lamunanku, dan akhirnya dapat membuatku bersuara.

“Iya, Kal, nanti bantuin lagi ya. Mumpung kamu belum berangkat ke Solo,” ucapku pelan dengan suara yang bergetar.

“Tentu! Lagian juga kalau aku udah berangkat ke Solo, kita masih bisa saling berkomunikasi dan kalau perlu aku akan pulang saat kamu butuh bantuan,” jawabnya cepat sambil mencubit kedua pipi tembamku.

Aku mengangguk kecil dan tersenyum senang mendengar ucapannya. Seketika kuyakini diri bahwa ini bukanlah ilusiku semata, ini nyata.

Tepat sehari sebelum waktunya daftar ulang, ibuku kembali drop karena sakitnya. Uang pas-pasan yang sudah ditabung oleh ayah dan kakakku terpaksa digunakan untuk biaya pengobatan ibuku yang ternyata mengalami stroke ringan dan terpaksa dirawat dengan biaya yang cukup besar.

“Dek, daftar ulang terakhir hari apa?” tanya kakakku tiba-tiba tepat saat aku menghancurkan celengan kecil milikku satu-satunya.

“Lusa, Kak, waktunya hanya 5 hari. Ternyata uang yang kukumpulkan bahkan tidak mencapai seperempat uang yang diperlukan. Sepertinya aku tunda saja dulu kuliahnya. Kedokteran kan mahal,” jawabku lalu memaksakan seulas senyum. Kulihat matanya berkaca-kaca, dan akhirnya ia menangis dan meminta maaf.

“Maafkan kakak dek, kakak tidak bisa berbuat apa pun untukmu,” ucapnya bergetar lalu memelukku erat. Ya, sepertinya takdirku memang seperti ini.

“Mala, ada Kalma datang!” seru ayahku dari luar membuyarkan kesedihan kami.

“Iya, Yah, Mala ke sana!” jawabku cepat menghapus bulir air mata yang masih mengalir di pipiku dan bergegas menghampiri Kalma yang sudah menungguku di depan.

“Mala, hari ini daftar ulang kan? Setahuku online kan? Ayo!” ajaknya menarik tanganku untuk bergegas mendekatinya.

“Sepertinya kuliahku ditunda, uang untuk daftar ulangnya digunakan untuk pengobatan ibuku,” jawabku pelan lalu tersenyum kecil.

“Hei jangan murung gitu! Coba dulu daftar ulang, kan ada beasiswa untuk calon mahasiswa tidak mampu. Kamu bisa mengajukannya!” serunya memukul bahuku diiringi senyum ramahnya.

“Benarkah?” tanyaku bingung, dan ia mengangguk. Aku bahkan melupakannya, dan terlalu mudah putus asa sebelum mencari tahu lebih jauh. Kalma segera saja membantuku mengisikan data diriku dan mencoba mencari tahu mengenai persyaratan untuk mendaftarkan diriku pada program beasiswa tidak mampu. Kami segera mencatatnya dan hari itu juga aku menyiapkan semua yang diperlukan.

Kalma datang keesokan harinya dan kembali membantuku mengisikan semua persyaratan hingga selesai dan menunggu hingga hasilnya tiba. Kegugupan membuat waktu terasa sangat lama. Ibuku sudah mulai pulih dan bisa melakukan kegiatan sehari-harinya, dan akhirnya kini pengumuman pun tiba. Hari ini seusai melihat pengumuman penerimaan beasiswa, Kalma akan langsung berangkat ke Solo dan meninggalkanku. Jadi kuharap, aku tidak akan membuatnya khawatir lagi.

Persis seperti saat aku membuka pengumuman SBMPTN, kini aku dengan gugup menutup mataku dan perlahan membukanya untuk menatap kenyataan di hadapan wajahku. Kalma sedari tadi sudah memukul-mukul bahuku memaksaku untuk segera membuka mata, dan kini akan kuturuti kemauannya.

“Kal, beneran kan ini? Ini gak ada kerusakan sistem kan?” tanyaku tak percaya melihat tulisan dalam ponsel di hadapanku. Kulihat mata Kalma berkaca-kaca dan ia mengangguk pelan.

“Selamat ya Mal, kamu akan bener-bener jadi bu dokter! Gak perlu takut biaya lagi, asal kamu pertahanin IPK dan kegigihan kamu, kamu pasti bisa menggapai mimpimu,” ucapnya tepat setelah tanganku spontan memeluknya.

Aku tidak tahu apakah ini hanya mimpi panjang yang menghiburku ataukah kenyataan yang membahagiakanku. Tapi kuharap, aku benar-benar bisa membalikkan takdir karenanya.

Advertisements