Cerpen Guntur Alam (Kompas, 04 Maret 2018)

Kue Itu Memakan Ayahku ilustrasi Amrizal Salayan - Kompas.jpg
Kue Itu Memakan Ayahku ilustrasi Amrizal Salayan/Kompas 

“Pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.”

Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya. Awalnya aku bingung, kok bisa ayah menjadi juru potong kue, padahal kata ibu, ayah seorang akuntan yang hebat.

“Di kantor, kita bisa menjadi apa saja,” terang ayah saat aku mengemukakan kebingunganku. “Kadang-kadang, seorang sarjana ekonomi bisa menjadi tukang ketik surat. Sarjana teknik sipil bisa jadi tukang fotocopy.” Aku ingat persis, ayah tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu padaku.

Aku melipat kening, “Kok, bisa?”

Ayah terkekeh. “Lah, namanya saja bekerja, ya tergantung bos butuh tenaga kita sebagai apa.”

“Jadi, bos ayah butuh tukang potong kue?”

Ayah mengangguk. Aku bergidik. Dalam benakku, bos ayah pasti seseorang bertubuh tambun, mempunyai pipi chubby, bibir tebal, mulut lebar yang tak berhenti mengunyah dan jari-jari tangan pendek nan gemuk. Namun, seminggu setelah itu, khayalanku tentang bos ayah buyar, saat kami secara tak sengaja bertemu dengannya di pusat perbelanjaan. Dia laki-laki kurus dengan kulit kisut, rambut beruban dengan gaya jabrik—yang kupikir tidak cocok dengan umurnya, dan selalu tertatih-tatih mengikuti istrinya yang sibuk memasuki toko demi toko, seolah di sepasang kaki perempuan itu sudah tertanam baterai dengan daya listrik full.

“Itu istri ketiganya,” bisik ayah. Dan aku hanya melongo mendengarnya. Kuharap, ibu tak pernah mendengar ucapan itu.

***

“Mula-mula, kue itu memakan otak ayah. Kemudian mata, lidah dan mulut.” Ucapan itu ayah utarakan saat kami duduk berdua di teras belakang, selepas hujan jelang magrib dan ayah baru saja menerima telepon dari bosnya. Tepat sebulan setelah ucapan pertama ayah.

“Ayah pikir, setelah itu, dia akan memakan hati dan jantung ayah.”

Aku gemetar mendengarnya, “kalau semua dimakan, ayah bisa mati,” mataku berkaca-kaca. Lututku gemetar di bawah meja.

Advertisements