Cerpen Jemmy Piran (Haluan, 04 Maret 2018)

Kisah Kera pada Minggu Pagi ilustrasi Haluan.jpg
Kisah Kera pada Minggu Pagi ilustrasi Haluan 

Menatap ladang jagung yang selama ini ia bersihkan dari rumput-rumput liar, membuat dada Teus geram. Jagung muda yang siap dipanen rebah ke tanah. Kulit-kulit jagung berhamburan ke tanah. Tongkol-tongkol jagung yang masih tertempel beberapa biji jagung mengingatkannya pada cerita Tonu Wujo Besi Pare.

Gerahamnya beradu. Darahnya mendidih.

“Sial,” umpatnya. “Kau tunggu.”

Teus memutar badan, kembali ke jalan yang mengarah ke kampung. Kadang di tanah datar ia berlari kecil, Joli dan Mimo, anjingnya nguik-nguik di belakang. Ia tidak peduli pada tajam batu sepanjang perjalanan. Bias matahari mulai tampak di langit bagian timur.

“Kenapa kau pulang awal sekali, Bang?” tanya istrinya.

Teus tidak peduli dengan pertanyaan semacam itu. Tidak penting, pikirnya. Ia langsung ke dapur. Mengambil senapan angin, anak panah, dan busur.

Melihat Teus mengambil benda-benda itu, istrinya menegur.

“Sekarang Hari Minggu, Bang.”

Teus tidak menjawab. Ia mengambil botol aqua, mengisinya dengan air, mengambil tas yang terbuat dari sak semen. Memasukkan botol air ke dalam tas.

“Joli…Joli…Mimo…mimo.” Dua ekor anjing itu menjulurkan lidah dan menggoyangkan ekor. Binatang yang setia itu pun melompat kegirangan mengikuti langkah gegas Teus. Sudah lama sekali Teus tidak menggunakan panah dan senapannya untuk membidik kera di hutan. Entah sepuluh atau belasan tahun ia mengubur naluri berburunya. Tapi hari ini, naluri itu muncul membuncah dalam dadanya.

Sebetulnya ia seorang pemburu hebat. Bakatnya membidik dan memanah babi hutan, kera, musang, rusa, babi landak, ayam hutan, diturunkan dari kakeknya. Tapi sejak binatang hutan itu berkurang, bakat itu pun sedikit menyusut.

Mata panah tampak berkarat tapi masih tergurat ketajaman. Memang selama ini ia tidak menyentuh pusaka berharga itu lantaran bekerja di Kalimantan. Namun, meskipun begitu ia yakin bahwa benda-benda itu bisa menembus kulit babi yang keras.

Ini hanya soal membidik dengan tepat, menarik panah hingga batas terakhir lalu melepaskan tali busur, begitu pikirnya. Apalagi ini hanya kera. Jika ia berada di dahan yang rendah akan ia gunakan panah agar kera-kera itu tahu rasa. Kalau berada di dahan yang tinggi ia membidik dengan senapan untuk melemahkan tubuh kera.

“Saya masih tetap pemburu,” gumamnya geram.

***

Nun di dalam hutan, segerombolan kera berlompat riang dari satu dahan ke dahan yang lain. Ada sepasang yang duduk di dahan rendah sambil mencari kutu. Di ranting yang lain seekor betina dengan anaknya yang masih menempel di dada mengantuk. Pada ranting yang agak kecil seekor penjantan muda terluka di bagian telinga kiri.

Pada sebuah pohon yang menjulang tinggi, segorombolan pejantan muda saling menunjukkan kehebatan di depan betina yang siap kawin. Yang kalah berarti siap menerima bahwa sang pemenang berhak memiliki betina.

Sang pemimpin gerombolan bersama beberapa betina duduk di dahan yang paling tinggi. Dengan bahasa yang mereka sendiri mengerti, mereka bercakap-cakap.

“Beberapa tahun lagi kita akan banyak seperti dulu,” sang pejantan membuka. Dialah pejantan tertua di hutan itu. Dia meraba bekas luka di pahanya. Dulu, dia mulai  membayangkan, suatu pagi, dari kejauhan terdengar anjing menyalak, membangunkan penguni hutan. Babi, rusa, dan semua yang bernyawa berlari menyelamatkan diri. Segerombolan kera berhamburan dan sebagian bersembunyi di pucuk tertinggi.

Saat itulah si kera melihat satu per satu temannya tumbang. Dia diselamatkan sebatang dahan besar. Tubuhnya tidak terlihat. Sebelumnya, kera-kera yang duduk di pucuk pohon itu akan selamat, karena batang pohon cukup besar dan tinggi menjulang. Tapi setelah ada senapan angin, maut begitu dekat setiap kali terdengar anjing menyalak.

***

“Hulau… lau… lau… Sigi…gii…giii…” Teus membakar hasrat anjing sebagai binatang pemburu. Mendengar kata-kata itu, Joli dan Mimo tidak sabar.

Kedua anjing tersebut mengiuk-ngiuk, menerobos semak-semak sambil menyalak. Teus berlari mengikuti suara anjingnya. Semakin menjauh ke dalam hutan, suara anjing semakin menggema. Segerombolan kera tadi berhamburan. Pemimpin kera yang sudah berpengalaman itu memimpin pelarian. Dia tahu tempat terbaik untuk bersembunyi. Ada beberapa kera yang memilih bertahan karena kekenyangan dan di perut masih bergelantungan bayi-bayi kera.

Sementara pejantan dan betina muda sudah menghilang ke dalam lembah yang jauh.

Di bawah pohon, anjing menyalak, mendongakkan kepala. Beberapa kera gemetar di dahan-dahan yang menjulur jauh. Ada niat ingin melompat ke pohon sebelah tapi terlalu jauh untuk sebuah lompatan. Jika saja lompatan itu meleset, anjing siap menyambut. Taring-taring Joli dan Mimo siap menancap ke dalam daging.

Melihat kera-kera seperti tidak berdaya, Joli dan Mimo semakin keras menyalak, berputar-putar di bawah pohon. Lidahnya menjulur-julur, liur meleleh di sudut mulut.

Begitu Teus sampai, anjing mengiuk-ngiuk. Teus mendongakkan kepala ke cecabang pohon. Ia tersenyum setelah menelusuri satu per satu cabang pohon. Setidaknya ada tujuh ekor di atas sana. Ia bergeser ke arah timur. Hanya ada sedikit celah. Ia ke selatan karena melihat seekor yang lebih besar.

Teus tahu mana yang akan ia panah terlebih dahulu. Jika menggunakan busur ia tahu berada sudut yang harus diambil. Melihat arah angin yang menerpa dedaunan. Ia tidak mau membuang percuma anak panahnya.

Seekor kera menggeliat dan seluruh badannya terlihat jelas. Teus tersenyum. Ia memasang panah, mengarahkan ke objek.

Sebelum panah dilepaskan, ia mendengar erangan Joli dan Mimo. Seperti erangan meregang nyawa. Mendengar itu ia tak jadi melepaskan panahnya. Ia letak kembali panah dan busur. Juga senapan di bawah pohon. Lalu mengambil parang, mengendap-endap ke balik gundukan tanah. Di depannya ada dua ekor kera jantan dewasa berdiri dengan mulut berlumuran darah. Joli dan Mimo meregang nyawa.

Teus menjadi geram. Ia memutar arah menuju tenggara, lewat sisi jurang. Sebelum sampai ke bawah pohon tadi ia di cegat tiga ekor kera yang tiba-tiba sudah berada di depan dan sampingnya. Mata kera-kera itu menembakan sengat bara. Mata itu semerah saga. Kera-kera berlompatan turun, berkumpul bersama kawan yang lain membentuk barisan.

Teus menggeretak tapi kera-kera bergeming. Ia mengancungkan parang ke arah kawanan kera tapi kera-kera menyeringai memperlihatkan taring-taring panjang yang berwarna kuning. Teus maju selangkah, tapi kawanan kera tetap di sana menatapnya dengan penuh. Tatapan yang melumurkan dendam panjang.

Teus meraih batu, melempar ke arah kawanan yang bergerak maju itu tapi sekilat batu, kera-kera menghindar dengan cepat. Dari belakang seekor kera berjalan tegap mematahkan anak panah.

Teus menahan napas. Dadanya bergetar hebat. Wajahnya menjadi pucat. Keringat mengalir di wajahnya. Tiba-tiba ingatannya terlempar pada cerita kakeknya. Semua binatang yang ada di hutan punya tuan. Seketika lututnya lemas.

Ia menatap sekawanan kera dengan nanar.

Barisan kera itu maju selangkah. Teus mundur. Kera-kera kembali melangkah dengan pasti. Sekali lagi Teus mundur. Ia tercekat. Ada sesuatu yang kosong di belakangnya. Kakinya persis berada di tubir tebing. Di bawahnya batu-batu seperti menganga siap menyambutnya.

“Kami punya hak hidup,” seekor kera, pemimpim gerombolan itu, berbicara dengan suara lantang. Teus melotot seperti tidak percaya, seperti sedang menunggu maut yang tidak masuk akal. Tepat saat itu di gereja orang-orang sedang menyanyikan lagu Tuhan Kasihanilah Kami.

 

Alak, April 2017

Jemmy Piran lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI Universitas Nusa Cendana, Kupang. Puisi dan cerpennya tersiar di berbagai media lokal dan nasional. Kini tinggal di Waimana 1, Nusa Tenggara Timur.

Advertisements