Cerpen Dynna Aslikhatul Kirom (Suara Merdeka, 04 Maret 2018)

Bapak, sang Pembohong  ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Bapak, sang Pembohong ilustrasi Suara Merdeka

Kau tahu, aku lupa berapa kali sudah mengajukan kata “kenapa” kepada pria itu, pria paruh baya yang kusebut Bapak. Belasan? Puluhan? Ah, tidak! Pasti sudah ratusan. Bahkan aku pun merasa, kali pertama yang kuucapkan saat keluar dari rahim ibuku adalah kata itu. Kenapa?

“Pak, kenapa Bapak menatapku seperti itu?” ujarku sore itu.

Ia terkekeh renyah seperti biasa. “Karena matamu indah, Mbak,” ucap Bapak sambil terkekeh.

Kubiarkan saja. Luweh, batinku. Ya, hanya dalam batin. Mana berani aku mengatakan langsung pada Bapak. Bisa-bisa nanti dia kutuk jadi batu.

Aku memang terbiasa diam, bicara seperlunya jika Bapak enteng menjawab kata “kenapa”. Dari ratusan orang yang kukenal, bapakkulah yang paling ahli menjawab pertanyaan dari siapa pun, tanpa takut dan kehabisan kata-kata. Bahkan aku berani bertaruh, ia bisa menjawab pertanyaan rektor dengan enteng dan tanpa beban. Padahal, rektor paling ditakuti oleh orang sekampus tempat dia mengajar sebagai dosen luar biasa.

Tentu saja, jika tidak begitu, mana mungkin Bapak bisa mengenal banyak orang dari berbagai kalangan. Jika bukan begitu, mana mungkin temannya di Facebook mencapai 4.562—yang mungkin bisa bertambah lagi. Orang yang ingin berteman, tak bisa mengajukan permintaan pertemanan. Berbeda jika Bapak yang meminta lebih dahulu.

Bapak kembali menyeruput kopi. Begitu keras seruputan itu, hingga terdengar jelas di telingaku. Ia memang sangat menyukai air hitam pekat itu. Huek! Aku sampai malas membayangkan berapa liter air hitam yang tergenang di lambung Bapak. Mungkin cacing di perut Bapak salah mengolah makanan pokok. Bukan nasi, melainkan kopi. Ya, saking banyak kopi yang Bapak minum setiap hari. Atau, bisa saja cacing-cacing itu telah berubah menghitam karena terlalu sering berenang di kubangan kopi.

Sudahlah, namanya kesukaan. Siapa pula bisa melarang? Apa anak perempuan semacamku memiliki daya melarang seorang pria yang jauh lebih tua? Belum selesai aku menasihati, pasti sudah Bapak beri nasihat sepuluh kali lipat lebih dahulu. Bukankah betapa pun Bapak memiliki pengalaman hidup jauh lebih banyak ketimbang aku yang baru 13 tahun menghirup udara di bumi? Walau itu sebenarnya tak ada hubungan dengan bahaya terlalu sering meminum kopi.

Alasan terkuatku kenapa malas berdebat, karena Bapak jago berdebat. Sebagai penulis, mana mungkin dia kesusahan merangkai kata-kata. Meski, misalnya, hanya berdebat perkara sepele.

“Teman-teman Bapak yang baru saja datang menanyakan soal yang sama lagi lo, Mbak,” ucap Bapak tiba-tiba.

Menapa, Pak?” tanyaku. Anggap saja itu pertanyaan formal. Ya, aku paham betul apa yang akan dia katakan.

Jemari keriputnya meraih sebuah buku. Itulah salah satu buku karya Bapak yang sudah katam kubaca. Bapak membuka buku itu dan menunjuk satu baris kalimat di daftar isi. Tepat pada judul cerpen kelima.

“Mereka bersemangat menanyakan kebenaran ‘Tamu dari Masa Lalu’.”

“Ya… dan Bapak pasti menjawab dengan jawaban yang sama bukan? Macam waktu kutanya kali pertama,” sahutku. “Macam sewaktu kakak kelasku menanyakan soal itu pada Bapak pas menjemput Mbak kan?”

“Lalu Mbak mau Bapak jawab apalagi?”

Aku hanya mengangkat kedua pundak.

“Tidak ada!” jawabku dalam hati. “Karena, Bapak memang pembohong ulung.”

Bapak memang pembohong, benar-benar pembohong. Dia punya banyak hal sebagai objek kebohongan. Cerpen itu hanya satu di antara puluhan, bahkan ratusan, tulisan Bapak yang merupakan kebohongan. Memang banyak pula kebenaran dia katakan, dia wujudkan, tanpa kebohongan.

Bapak, misalnya, berkata akan menutup kedai kopi. Dan dia memang melakukannya. Berani mengambil risiko, walau kedai itu merupakan salah satu kedai yang cukup ramai di lingkungan ini. Lingkungan kami tinggal, lingkungan kampus tempat Bapak mengajar. Tak jarang pula tamu-tamu jauh dari kota atau luar kota berdatangan untuk mencicipi secangkir atau bahkan hanya seteguk kopi di sana.

Seteguk? Ya, banyak orang datang ke kedai alih-alih membeli kopi, sebenarnya bertujuan utama tak lain menemui Bapak. Itulah salah satu dampak dari ulah Bapak sebagai pembohong besar.

Namun aku sangat menyayangi Bapak.

Bapak menutup kedai karena pertanyaanku tempo hari. “Kenapa Bapak tak punya banyak waktu untukku dan Adik?”

Hanya karena pertanyaan itu, kedai kopi fenomenal Bapak harus berganti menjadi kios buah tak beraturan. Namun layaknya tsunami, meski telah usai melanda, meski tempat yang terkena telah diperbaiki, momen tsunami itu masih begitu terikat dalam memori orang yang menyaksikan. Persis ulah Bapak, sang pembohong. Betapapun telah menutup kedai, Bapak tetap mendapatkan ratusan tamu yang menjadi korban. Setiap hari selalu ada orang datang, meski sekadar mampir.

“Masih mengira cerpen-cerpen Bapak kebohongan, Mbak?”

“Iyalah, Pak.”

“Mbak kan tahu, penulis tidak bisa menciptakan karya dari kebohongan? Semua itu dari fakta.”

“Fakta dengan kebenaran yang Bapak semukan!” sangkalku dalam hati.

“Mbak ingat coretan Bapak tentang bak kamar mandi?”

Ah, mana mungkin aku lupa. Itu berlebihan dan tak membuatku heran setengah mati. Waktu itu, memang bak kamar mandi kami bocor. Dan Bapak enjoy saja membuat coretan kecil soal bak kamar mandi yang bocor itu. Heran!

Becik ketitik ala ketara, Pak.”

Bapak tersenyum kembali. Entah menahan gemas atau hanya meledek atas pendapatku yang menurut pendapat dia merupakan wujud ketidaktahuan.

Semua orang mengatakan Bapak hebat. Penulis! Ibu yang dulu kuliah di jurusan bahasa menjadi korban Bapak setiap hari. Namun berbeda dariku, Ibu menanggapi Bapak secara biasa-biasa saja. Malah Ibu kerap kali membantu Bapak. Membantu menyikapi secara kritis karya Bapak.

Kau pasti bisa membayangkan bukan bagaimana aku dibesarkan dalam lingkungan luar biasa ini? Lingkungan tempat Bapak dan Ibu begitu kompak melakukan hal-hal semu dan palsu. Namun jangan salah. Ibuku beda. Dia lebih suka jadi penikmat.

Hampir sama dengan coretan Bapak yang kubaca siang tadi. Coretan yang sebenarnya ingin kupertanyakan saat ini. Di sana tertulis kisah cinta mereka. Bapak menulis tentang pengejaran cintanya pada Ibu. Dulu, berkali-kali Bapak datang ke rumah Ibu. Namun Ibu acuh tak acuh. Sering pula Bapak meninggalkan secarik kertas berisi puisi cinta. Romantis memang.

Namun melihat Bapak yang sekarang, dengan rangkaian ribuan kalimat yang luar biasa, aku merasa Bapak jujur saat menulis cerita itu.

“Tumben tidak belajar di kamar, Mbak?”

Suara Ibu tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ah, kebetulan Ibu datang! Kuinterogasi saja. Kurasa Ibu lebih bisa menjadi sumber tepercaya ketimbang sumber yang satu.

“Ingin menginterogasi seseorang.”

Ibu dan Bapak saling lirik. Aku meraih sebendel kertas, kuluruskan lipatan-lipatannya dan kuletakkan di meja tepat di hadapan mereka.

“Bu, benar dulu Ibu jual mahal waktu Bapak berkali-kali ke rumah?”

“Tidak.”

“Benar Bapak sering menulis puisi cinta dan Ibu menikmatinya?”

“Puisi cinta? Tidak!”

Aku mendengus lirih, “Terakhir, Bu. Benar Ibu jatuh cinta lebih dahulu pada Bapak dan karena itulah Ibu menunggu Bapak sekian lama?”

“Mana mungkin! Ibu menerima Bapak berawal dari kegeraman dan rasa kasihan, Mbak.”

Bapak yang sedang meneguk kopi tiba-tiba tersedak.

“Geram?”

“Karena Bapak mengganggu Ibu dan tak pernah bersikap romantis.”

“Kasihan?”

“Karena Bapak tidak laku-laku.”

Aku mendengus lagi. “Mbak tiba-tiba ngantuk.”

Aku berjalan ke kamar. Benar kan? Lagi-lagi kutemukan kebohongan Bapak. Padahal, hampir saja aku percaya. Sudah kuduga, bapakku memang pembohong. Kenapa? (44)

 

Dynna Aslikhatul Kirom, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Advertisements